Monday, November 9, 2009

Reuni Reuni Reuni...........

Kangennya.... Udah lama banget aku gak blogging!!
Ok. Kali ini aku melanjutkan cerita terdahulu. Masih tentang reuni. (^.^v)

Hampir setiap tahun memang ada saja acara reuni bareng kawan-kawan sekolah dulu. Tapi, tahun ini jadi tahun reuni paling banyak dan akbar semenjak kelulusanku dari bangku sekolah. Reuni akbar alumni SMP 6 Dahlia Banjarmasin lah, reuni alumni SMPP 28 – SMAN 7 Banjarmasin yang bertajuk “Bajinguk ka Sakulahan Baimbai Kakawanan” lah, dan yang terakhir aku dan kawan-kawan SD merencanakan reuni alumni SDN Melayu 12 Banjarmasin tahun 1998. Oich, gak lupa juga reuni-reuni kecil seperti reuni dua tahunan aku, Yoan, dan Hana, serta reuni bubuhan MPK-OSIS 2002-2003 sewaktu jurid malam LDK 2009 SMAN 7.


Reuni. Banyak kawan yang bela-belain ikut acara ini (termasuk aku!). Mulai dari yang cuma jadi peserta sampai jadi panitia (termasuk aku! Hehe...). Alasannya, biar bisa temu kangen, menyambung silaturahim sama kawan-kawan (termasuk kakak dan adik kelas) juga para guru. Tapi banyak juga yang ‘belum’ tertarik untuk ikutan. Alasannya,
“Ntar deh, kalau aku sudah jadi orang”.
Hmmm.... Aku sih agak gak sepaham sama alasan ini. Secara, silaturahim kok nunggu sudah jadi orang. Aku lebih suka alasan dari kawan-kawan (terutama yang masih pengangguran) yang optimis dengan ikutan reuni bisa buat nambah link.
“Sekolah kita kan sekolah ternama. Alumninya juga banyak yang ‘jadi orang’. Kalau saja bisa bantu kita untuk mengikuti jejak mereka, ‘jadi orang’”. Plus minus begitu lah harapannya.


Tahun depan alumni SMA angkatanku mau mengadakan reuni. Gara-garanya, di reuni kemarin banyak kawan yang gak datang bahkan gak tahu. Well, persiapan reuni yang gak sampai 3 bulan (beda dengan reuni akbar SMP 6 Dahlia yang persiapannya lebih dari 1 tahun) memang bikin publikasi acara reuni kurang bergema. Acaranya berlangsung gak di waktu ‘libur’ pula. Jadi, kawan-kawan yang masih kuliah dan bekerja (terutama di luar Kalsel) gak bisa ikutan reuni.

Semoga reuni alumni SMAN 7 Plus Banjarmasin angkatan 2004 bisa terwujud dan sukses deh!! Oich, reuni alumni SD angkatanku juga terlaksana dan sukses. Habisnya, 11 tahun gak ngumpul bikin panlak (termasuk aku) kesulitan untuk menghubungi mereka karena lose contack!!

Monday, September 28, 2009

Reuni Akbar SMPN 6 Dahlia Banjarmasin

Alhamdulillah, walaupun kerjaan di sekretariat masih ada tapi acara puncak reuni akbar SMPN 6 Dahlia, SMP tercinta selesai telah digelar. Terbayar sudah kerjaan berat para panitia (sampai harus begadang dan nginap di sekretariat) karena acara reuni ini sukses berat!! (we think. Hehehe...).

Flash back dikit tentang acara reuni. Jum’at, 25 September 2009 pembukaan pameran foto SMPN 6 tempoe doloe di Taman Budaya Kalsel (yang jujur aku belum lihat sama sekali karena selalu jadi CS di sekre), Sabtu pagi, 26 September 2009 gerak jalan santai PP SMPN 6 Dahlia (yang baru), dan Minggu, 27 September 2009 di Gedung Sultan Suriansyah (live on Banjar TV) yang ketiganya dibuka oleh Bapak Rudi Arifin yang juga alumni SMPN 6 Dahlia.

Reuni ini diprakarsai oleh sejumlah alumni angkatan 70an (kalau gak salah, lupa tepatnya alumni tahun berapa!!) dengan sasaran mengumpulkan alumni SMPN 6 Dahlia Banjarmasin tahun 1966 sampai 2006 (40 angkatan). Data panitia pada H – 1 reuni sih yang mendaftarkan diri untuk mengikuti reuni sekitar 2500 alumni. Tapi kami masih belum tahu berapa jumlah tepatnya yang datnag pada hari H karena datanya belum selesai direkap ulang (we need rest after be romusha :p).




Yach, walau kawan sekelasku gak semuanya datang, kawan seangkatanku yang datang juga gak sebanyak adik-adik alumni 2005, tapi senang euy!! Aku bertemu kawan-kawan yang udah lama..... banget gak bertemu. Ada yang + ndut, + kurus, + bungas, udah punya baby, udah mau merit, jadi eksmud, ........ Hepi juga coz bertemu kakak dan adik kelas yang ternyata masih mengenaliku (aku kan terkenal di sekolah, hohoho.....). Tapi tentu saja yang paling hepi tuh karena bisa bertemu dengan guru-guru yang telah mentrasfer ilmunya kepadaku. Bertemu Pa Darani (killer teacher but he’s my best biology’s teacher on SpenSix!), Bu Ambariah (wali kelasku kelas 1), Pa Usman (wali kelasku kelas 3), Pa Nurhadi (fav Physic’s teacher on SpenSix), Pa Etry (my fav Math’s teacher), Bu Syarifah Sidah (PAI’s teacher ), etc!!

But, Pa Yahya mana ya(He’s my fav Geography teacher on earth!!)?! Kenapa selama kegiatan kepanitian dan reuni gak kelihatan?! Kalau Bu Sri Wahyuni (my mom on Spensix) dan Mama Eny walau gak hadir tapi beliau masih jadi guru aktif di SMPN 6. Semoga Pa Yahya masih sehat wal’afiat. Amin.

Hmmm...... selesai reuni SMP, mau ada reuni SMA niy. Wah, asik euy reuni teruz...... ^_^

Cerita Lebaranku Tahun ini

Berhubung masih dalam suasana Idul Fitri, aku mau ucapin Minal Aidin wal Faidzin, Mohon Maaf Lahir Bathin. Selamat Idul Fitri 1430 H. Semoga kita semua kembali kepada kesucian. Amin. :)

Merayakan Idul Fitri dimana nih? Semoga Idul Fitrinya penuh hikmah dan warna (^_^).

H-1 Idul Fitri aku sekeluarga mudik ke Barabai, kampungnya ortu. Berangkatnya sih sore (coz sebelumnya ading sempat-sempatnya minta temenin beli baju ke distro dan DM),tapi seperti biasa, mampir dulu ke rumah nenek di Tambarangan, Tapin. Habis buka puasa di sana baru deh lanjut ke Barabai.

Jalan Trans Kalimantan malam itu terasa lenggang. Secara, malam lebaran udah banyak yang sampai di kampung halaman. Tapi, coba deh tengok ke dalam kota. Macetnya nauzubillah! Kalau di Tapin masih enak, ada by pass. Jadi, kalau mau ke Barabai gak perlu lewat dalam kota (Rantau). Sedangkan di Kandangan, mau gak mau pemudik harus melebur dengan masyarakat yang ingin bermalam hari raya di pusat kota. Terjebak macetlah kami di sana sekitar 1 jam! Sayangnya, bukannya malam itu kayak malam lebaran, bisa dengar atau lihat orang takbiran, malah kayak malam tahun baru. Soalnya, langit dihiasi dengan berbagai warna dari ledakan kembang api....

Malam itu sedikit miris. Soalnya, di saat merayakan malam kemenangan malah terjadi kebakaran. Waktu kejadian kami masih di Kandangan, baru keluar dari kemacetan. Kata petugas pom bensin kebakarannya di Bulau. Hmmm.... Gak jauh dari rumah tuh! Alhamdulillah, ternyata gak dekat-dekat amat (^.^v). Yang bikin sedih sih keesokan harinya (Idul Fitri hari pertama) kebakaran kembali terjadi di dua tempat. Salah satunya terjadi di seberang rumah acil di Banua Hanyar. Mana mereka masih ada hubungan kekerabatan dengan abah! Waktu kejadian kami tuh lagi di rumah nenek di Kayu Rabah. Trus adik sepupu SMS, bilang rumah di seberang rumah acil kebakaran. Kami pun bergegas kembali ke rumah acil. Ketika kami sampai, api sudah berhasil dipadamkan. 3 rumah terbakar. Rumah acil pun akhirnya jadi pengungsian. Semoga mereka diberi ketabahan. Insya Allah, Allah akan memberi rezeki yang lebih atas ketabahan dan kelapangan mereka. Amin.


Selasa siang (Idul Fitri hari ketiga) kami sekeluarga pulang ke Banjarmasin. BTnya, perjalanan pulang kami diwarnai dengan insiden matinya AC mobil secara mendadak. Buka kaca mobil, debu dan terancam masuk angin. Tapi, kalau ditutup alamat bakal jadi pais, pengap karena suhu udara Kalsel yang lagi gak bersahabat. Akhirnya, mau gak mau kaca mobil dibuka sedikit deh daripada seisi mobil menderita dehidrasi dan kegerahan. Sampai di daerah Kandanga, mama lihat orang jualan gitaan. Mupenk... Tapi MG! Harga jual gitaannya mahal banget!! 1 biji dihargai sepuluh ribu rupiah. Hmmm.... Berhubung udah lama banget pingin makan buah yang tergolong langka itu, dibeli juga deh itu buah (walau gak banyak!).


Cerita lebaran tahun ini yang paling seru adalah kabar tentang Padil, adik sepupuku, yang baru menikah. Terakhir ketemu dia masih pecicilan (sekarang juga masih sih!). Eh, pas lebaran ngumpul bukannya cuma mengenalkan pacar ke keluarga malah mengenalkan cewek yang sudah jadi istrinya! Sempat protes sih kenapa dia gak kasih kabar. Katanya sih gara-gara Hpnya hilang dia jadi kehilangan nomorku dan memang gak semua keluarga dikasih tahu waktu dia nikah. Pas ngumpul lebaran inilah keluarga yang lain diberi tahu sekalian kasih kabar soal resepsinya ntar.

Padil is getting maried?! Aku iri atau terkejut ya?! Soalnya, adik sepupuku ini baru berusia 18 tahun. Cowok pula! Aku, Ifit (adikku), dan Wiwi (kakak sepupuku) saja masih lajang. Tega-teganya dia melangkahi kakak-kakaknya yang cantik tapi jomblo ini (wkwkwk...). Well, adikku ini cakep sih (hitam manis) tapi bandel! Kami sampai heran kenapa Rini (istrinya) mau sama dia (^.^v). Yach, semoga saja dengan menikah dia bisa jadi cowok yang bertanggung jawab dan dewasa. Gak bandel lagi, gak urakan lagi, dan bisa agak gemukan (soalnya dia tuh kurus banget!!). Bisa jadi suami yang bertanggung jawab deh! Ka doakan pernikahan kalian tuntung pandang ruhui rahayu. Ka doakan kalian menjadi pasangan yang membina keluarga yang sakinah, mawaddah, warahmah. Amin.

Friday, September 4, 2009

Nafsu Ramadhan

Puasa merupakan masa dimana kita harus menahan hawa nafsu. Nafsu makan-minum, nafsu amarah, nafsu ngerjain orang, nafsu ngerumpiin orang, dan nafsu-nafsu lainnya. Hmmm, yang sering susah ditahan tuh nafsu makan-minum kali ya.... Soalnya, kalau puasa sering kepingin makan sesuatu yang kadang susah dicari atau udah lama banget gak dimakan. Mirip-mirip orang ngidam gitu deh!

Setelah hampir kayak orang ngidam karena mupenk makan pisang ijo, waktu ke pasar wadai (untuk kedua kalinya), eh ada stand yang jual makanan Makasar. Langsung deh inderaku menangkap adanya pisang ijo. Alhamdulillah, setelah sekian lama, makan pisang ijo lagi deh. Waktu dibeli sih penampakannya kayak pisang ijo lazimnya. Trus, biar agak rame, sesampainya di rumah aku tambahin aja low fat milk, kolang-kaling, dan cendol sagu-cendol beras. Mmm, yummy! Jadi deh pisang ijo selera gue (^.^v).


Besoknya, aku ke pasar wadai (lagi). Gak sendirian kayak yang kemarin-kemarin, tapi sama acil yang barusan datang dari Tambarangan. Ngajak dia ngabuburit gitu skalian cari martabak Arab (karena gak tau apa namanya yang benar, salah satu panganan favorit kalau Ramadhan) dan kurma buat berbuka. Eh, di salah satu stand ada yang jualan buah stroberi. Waah...., udah lama euy gak makan salah satu buah favoritku ini. Selain buat dimakan, bisa dibikin milk shake stroberi nih buat berbuka. Tanpa pikir panjang, aku pun beli satu kotak.


Pisang ijo sudah. Martabak Arab sudah. Milk shake stroberi sudah. Pingin apa lagi ya?! (^.^v)

Wednesday, August 26, 2009

Merdunya Suara Imam (^.^v)

Melanjutkan kisah warna-warninya tarawih yang kujalani di Ramadhan tahun ini.

Tarawih tadi malam tuh agak beda. Yang biasanya di mesjid itu tarawih rakaatnya 4-4, sebelum sholat si imam bilang tarawih kali itu rakaatnya 2x4. Jamaah yang udah tahunan, belasan, bahkan mungkin puluhan tahun sholat tarawih di sana jadi kagok deh. Termasuk aku. Padahal, beda tempat yang kuhampiri untuk tarawih juga beda tatacaranya. Ada yang 21 rakaat (2-2 trus witir terakhir 1 rakaat) dengan kecepatan ekstra, 11 rakaat yang bilangannya 2-2 trus witir terakhir 1 rakaat dengan kecepatan lumayan, dan 11 rakaat yang bilangannya 4-4-3 dengan kecepatan sedang. Tapi, tarawihnya nikmat euy! Suara imamnya merdu. Udah berasa sih sejak sholat Isya coz imamnya sama. Jadi, walau surah yang dibacakan si imam aku gak hapal, tetap bisa menghayati ayat-ayat yang dia bacakan. Tambah khidmat ketika dia membacakan surah yang aku bisa (walau gak hapal). Nah, pas dia naik mimbar untuk ceramah, Subhanallah. Ternyata gak cuma suaranya yang merdu, orangnya juga cakep. Masih muda pula! (udah nikah apa belum ya?! ^.^v).

Ah, aku selalu ngiri dengan orang-orang yang selain pintar ngaji, suaranya merdu pula! Di Duta TV sering kan kalau habis adzan magrib diputar tayangan anak kecil ngaji (lupa namanya!). Aku suka banget ngikutin dia ngaji sambil melototin teks ayatnya (soalnya tulisannya rada gak jelas). Aku juga ngiri banget dengan seorang sahabatku, kawan sebangku ketika kelas 1-2 SMA. Kalau dia mengaji, aku selalu pasang telinga baik-baik untuk mendengarkannya. Sahabatku itu memang sudah terkenal sebagai qoriah sejak kecil. Matching dengan hari lahirnya, 17 Ramadhan, nuzulul Quran. Jadi hepi banget kala SMA, kalau dia dapat job dari sekolahan untuk ngaji, dia pingin aku yang jadi partnernya. Dia jadi qoriah, aku jadi saritilawahnya. Aku tambah iri ketika dia bilang dia sedang belajar menghapal Qur’an. Udah dapat separuh lebih sekarang! Trus, salah seorang ading (ketemu gedeku) karena ‘tersesat ke jalan yang benar’, gak lama-lama amat, dia udah hapal 5 juz. Argh.... Kapan aku bisa begitu?! Menghapal juz Amma aja aku tertatih. Al Mulk yang sering kubaca aja gak hapal-hapal. Semoga Allah memberiku hidayah agar bisa seperti mereka. Amin.

Kembali ke si imam bersuara merdu. Aku suka cara dia berceramah. Gaul gitu. Sopan pula (ustad masa gak sopan?!). Kayaknya sih dia baru aja balik ke Bejeem. Gak tau juga sih dulunya dia mondok dimana. Di Gontor kah, Madinah atau Cairo kah. Aku gak niat mencari tahu. Cukuplah hal yang begituan (mengetahui nama imam, penceramah, trus mencatat ceramah agama yang diberikan) menjadi kerjaan selama Ramadhan sebagai tugas sekolah semasa SD-SMP dulu (^.^v).

Walau terpesona dengan suara imam yang merdu, entah kenapa aku jadi merindukan suara seseorang. Aku rindu suara Kk Menyebalkan mengaji (oke, aku juga rindu suara Kk kalau mengomentari orang. Terlebih, aku rindu suara Kk kalau lagi ngomong ‘baik-baik’). Memang gak semerdu suara si imam. Tapi aku berharap dapat kembali mendengarkan suara itu. Sepanjang hari. Sepanjang hidupku. Is it possible?! I hope. Amin.

Banjarmasin, 24 Agustus 2009

Puasa dan Warna-warni Tarawih

Sebelumnya, Marhaban Ya Ramadhan ya Akhi, ya Ukhti.... Semoga Ramadhan tahun ini kita menjalaninya dengan lebih baik. Amin. Semoga Ramadhan tahun ini membawa keberkahan yang berlipat bagi kita. Amin. Semoga kita dapat berjumpa lagi dengan Ramadhan tahun depan dan tahun-tahun berikutnya. Amin. (^_^)

Ramadhan tahun ini alhamdulillah aku gak menyandang predikat anak kost/anak asrama lagi. Jadi, dari hari pertama sudah puasa di rumah deh. Karena udah 4 (apa 5x ya?!) Ramadhan gak puasa di Banjarmasin, jadinya pingin aja tuh merasakan buka puasa hari pertama dengan ngabuburit dulu. Ngabuburitnya apalagi kalau gak ke pasar wadai (^.^v).

MG! Mentang-mentang pembukaan jalanan menuju pasar wadai macet! Dari jembatan Merdeka aja udah kelihatan parkiran mobil sampai ke depan Siring Sudirman dan Sabilal. Muter deh, lewat rute pasar lama. Ternyata sama aja! Tapi entah kenapa walau macet abis tetap aja aku gak patah semangat demi bisa ngabuburit di pasar wadai. Akhirnya ambil rute ke barat, berharap di sekitar Tarakan bisa menemukan tempat parkir. Alhamdulillah, parkiran luas terhampar di halaman kantor gubernuran! Akhirnya, jadi juga ke pasar wadai tanpa perlu berkhayal bisa ke pasar wadai lewat rute terakhir yaitu sungai Martapura (:p).

Separaan. Dua paraan. Sendirian ke pasar wadai aku jadi kayak orang hilang. Untung akhirnya ketemu juga 1-2 kawan lamayang emang sudah lama banget gak ketemu. Jadi, walau gak ada yang dibeli, ngabuburitku ada juga hasilnya (hee....). Habis, mau beli makan, mama masak. Wadai, abah beli bingka. Niat dari rumah sih mau beli minuman. Jus melon, mangga, tomat, atau jus pepaya kah. Tapi pas lewat di depan stand yang jualan jus, jadi malas beli. Aku malah jadi pingin es pisang ijo. Haduh haduh.... Di Bejeem di mana ya ada orang jualan es pisang ijo?! Kalau di pasar wadai, keliling 100x juga gak bakalan ada. Hiks!! Ujung-ujungnya aku buka puasa minum teh hijau hangat (^.^v).

Semangatku untuk tarawih tuh biasanya naik turun. Apalagi jarak rumah-mesjid cukup jauh (harus ke kampung sebelah!). Berhubung awal Ramadhan, aku juga gak ada kesibukan, mantapin hati supaya tarawih rajin deh. Trus, karena di Bejeem aku jarang banget kemana-mana jalan kaki, mantapin niat juga buat ke mesjid jalan kaki (asumsinya kan jalan kaki ke mesjid lebih banyak pahalanya daripada naik motor! Hee...). Lagian, selain malas markir, sekalian bakar lemak lah habis berbuka. Walau gak sampai sepuluh ribu langkah, paling gak dalam sehari aku menyempatkan diri untuk jalan kaki dan gak buang polutan dari motor metikku (walau ternyata ada saja yang nebengi aku pergi/pulang tarawih ^.^v).

4x tarawih aku mengalami kemajuan. Hari pertama di shaf ke-4. Hari ke-2 maju 1 shaf. Begitu seterusnya. Habis, kalau agak kebelakang sering dekat sekelompok anak kecil yang ke mesjidnya rajin tapi tarawihnya gak! Apalagi mereka gak sama mamanya. Jadi kerjaannya merotet.... mulu!! Kalau di depan, dekat ibu-ibu, kan lebih tenang. Tapi yang namanya sholat berjamaah, ada.... aja kejadian lucu atau nyebelin. Sempat ada anak kecil, pas lagi sholat dia bolak-balik melulu. Jadi, sehabis sholat ditegurlah si bocah itu. Eh, gak taunya bilut. Trus dia nangis sambil mengitari hampir separuh shaf perempuan. Umanya mana?! Kalau gak, pas sholat ternyata imamnya santai (menuju lambat) dalam membacakan surah. Ujung-ujungnya, banyak jamaah didera rasa kantuk yang amat sangat (^.^v). Yang cukup berkesan tuh tadi malam. Suara imam sholatnya merdu euy! Kisah tentang si imam ini aku bikin kisah tersendiri aja deh! Hee...

Banjarmasin, 24 Agustus 2009

Monday, August 10, 2009

Puncak Reuni

Puncak reuni kala itu adalah dengan berkumpulnya sejumlah pengurus MPK-OSIS periode kami (aku, Yoan, Yanti, Fuad, Rizqy, Prima, Aban, Ahdiat, Edo) dan lagi-lagi Eko di jurid malam LDK SMAVEN pada Sabtu malam (8/8). Jadi, malam minggu itu kami habiskan di skulah.

Intinya kan kami ngumpul mengenang masa-masa menjadi pengurus MPK-OSIS juga masa sekolah. Kebetulan beberapa orang guru yang pernah mengajar kami juga hadir. Sekalian silaturahim deh! ^_^ Berhubung kami merupakan undangan, jadinya kami kebagian job menjadi panitia LDK dadakan di posko bayangan.


Kami bertugas di posko bayangan 1. Berhubung sudah lama gak ikut di acara begituan, tumpul juga kreatifitas kami dalam hal 'mengerjai' peserta LDK. Tapi, kami niatnya serius tapi santai kok. Sebagai posko pembuka dan yang paling senior di acara malam itu kami ingin memotivasi dan meninggalkan kesan yang gak terlupakan (kayak tema posko bayangan kami gitu deh, unforgetable moment! ^.^v). Hmmm.... Walau yang mencalonkan diri jadi penerusku (koord. V OSIS) cuma 1 orang, ternyata yang pingin jadi anggota sekbid V banyak, euy! Berkebalikan dengan LDK di masaku (alasannya sekbid V tuh kerjaannya banyak dan berat banget! Pertama bertugas saja aku nangis!)


Malam itu lagi-lagi kami lewati dengan berfoto-foto ria. Narsis dan gokil abiz! Soalnya, kapan lagi kami bisa kayak ini. Tahun depan belum tentu (atau gak bakalan yach?!) kami diundang coz kami sudah ketuaan (sekarang aja udah tahun kelima kami jadi alumni!). Tahun depan juga pasti kami sudah lebih disibukkan dengan berbagai hal. Kerjaan, keluarga (bagi yang merit), dan atau kuliah (lagi!).

Saturday, August 8, 2009

Reuni berlanjut…

Reuni 2 tahunan aku, Yoan, dan Hana berlanjut dengan menambah Aban dan Eko. Tempat nongkrong kami juga pindah. Semula di DM pindah ke Jagung.


Juma’at sore kami kumpul lagi dengan personil yang lebih banyak di SMA kami tercinta, SMAVEN. Aku, Yoan, Hana (plus adingnya, si Lala), Yanti, Eko (ading kelas yang doyan kumpul ma kami ^.^v), Edo, dan… Aban (tokoh utama). Kok Aban jadi tokoh utama? Soalnya, acara kumpul kami ini terkait dengan Aban (sori, Ban. Acara mahapaki kam berlanjut di blog! He…). Ceritanya, di skulah lagi ada LDK. Little sistaku jadi peserta. Dia minta aku datang ke skulah, liat dia LDK. Dia juga bilang,
”Bawai Ka Aban kah jua.”
Waktu kukonfirmasi ke Aban, semangat ’45 lah dia menerima ajakanku! Secara, udah lama Aban mau bertemu lagi dengan little sistaku ini ^.^v (yang merasa ceweknya Aban jangan jeles! Aban kada bakal selingkuh. Kayak Ekok yang kada direstui Hana to PDKT ma Lala, aku juga begitu! :p).

Daripada berdua aja, ajak yang lain deh! Habis, gak seru juga kalau cuman berdua. Lagipula sudah lama gak kumpul-kumpul di skulah. Kebetulan, personil yang berhadir ini adalah para pengurus MPK-OSIS di zamannya. Jadi, pinginlah liat kayak apa LDK sekarang... Kumpul-kumpul seru itu juga diwarnai dengana acara foto-foto seru pakai kamera HP! Waktu liat sie. Dokumentasi LDK pakai kamera yang ada LSR-nya, suer kami mupenk! (mantap, euy! Zaman kami LDK masih pakai kamera-roll film sekarang pakai kamera mahal. Dahsyat!). Merasa senior, minta tolonglah kami yang lagi nongkrong ’di atap’ skulah di foto pakai tuh kamera. Hehe...





Acara kumpul sore itu kembali berlanjut di malam harinya. Tempatnya, estede lah. Jagung! (^.^v). Tapi, personilnya berkurang (tanpa Hana dan Lala, juga Eko). Aku sendiri datang belakangan coz ada jadwal ngajar malam di bimbel. Kumpul malam itu kembali diwarnai dengan acara foto-foto. Kecanggihan teknologi (camdig, kamera HP) memang mampu mengabadikan segala suasana!


Hmmm... Kumpul-kumpul kami kayaknya bakal berlanjut. Soalnya, panitia LDK mengundang demisioner MPK-OSIS (termasuk angkatan kami) to hadir di jurid malam. Undangannya sih to 5 orang. Tapi kami bakal cuek bebek aja deh kalau yang hadir lebih dari itu. Namanya juga mau kumpul sekalian mengenang masa kami jadi peserta-panitia LDK. Makin banyak yang datang kan makin seru. Apalagi kalau ikutan nginap di skulah. Bisa ikutan ‚mahajapi’ peserta LDK di posko deh! Aku bisa jagain little sista juga...

Selain kumpul sama kawan-kawan SMA sebenarnya dalam minggu ini juga ada rencana kumpul sama kawan-kawan SMP. Honestly, karena sesuatu dan lain hal, kumpul-kumpul kami itu dipending dulu. Semoga pas reuni akbar SPENSIX September ntar kami bisa kumpul...

Thursday, August 6, 2009

Reuni 2 Tahunan

Aku, Hana, dan Yoan akhirnya kumpul bertiga lagi setelah dua tahun terpisah. Yap. Terakhir kami bertiga kumpul memang dua tahun yang lalu. Saat itu, aku yang kul di Malang, Hana yang kul di Jakarta, dan Yoan yang kul di Yogya lagi sama-sama pulkam ke Banjarmasin dalam rangka liburan. Moment itu kami ulang lagi dengan kondisi yang sedikit berbeda. Sekarang, aku sudah jadi orang Banjarmasin lagi, Hana sedang ambil cuti dari kerjaannya di Tanjung, dan Yoan sedang penelitian skripsi. Kebetulan, Hana barusan merayakan hari jadinya yang ke-23. Trus, walau paling muda, Hana yang sempat terminal karena 'berlibur' ke Jepang juga lebih beruntung daripada aku dan Yoan karena berhasil lebih dulu jadi sarjana dan punya kerjaan 'mapan'. Jadi, sekalian saja kami 'bajak' makan-makan ^.^v. Lain waktu kan belum tentu bisa begini. Lain waktu kan bisa saja giliran aku dan atau Yoan yang 'dibajak!'. Apalagi rencananya tahun depan Hana mau melepas masa lajangnya (u/ urusan cinta, lagi-lagi Hana lebih beruntung! Hiks!!). Kami bertiga bakal makin susah saja bertemu karena semakin disibukkan dengan kehidupan masing-masing.


Aku, Hana, dan Yoan pernah bersekolah di TK yang sama. Garis nasib mempertemukan kami kembali di sebuah SMA favorit di Kota Banjarmasin. Walau beda kelas, kami bertiga ikut serta di ekskul dan intra sekolah yang sama (gak juga dink! Aku dan Hana di OSIS, paskib, teater; Yoan di MPK, PMR, teater ^.^v). Kami semakin solid saja. Sudah banyak suka dan duka kami lewati bersama. Bahan rumpian kami pun semakin beragam. Dulu merumpikan kecengan atau kegiatan di sekolah, sekarang merumpikan karir dan kriteria suami idaman. Dulu ngerumpi di kelas atau ruang OSIS, sekarang ngerumpi di mall (secara, dulu belum ada mall! Hehehe...).

Gak terasa waktu membawa persahabatan kami yang kalau dihitung sejak menjadi peserta pra MOS SMA sudah berjalan selama 9 tahunan. Semoga gak perlu menunggu dua tahun lagi kami bertiga kembali kumpul. Tentunya kami bertiga berharap, our friendship will never end.


Banjarmasin, 5 Agustus 2009

Thursday, July 30, 2009

Sekolah Gratis Ada dimana-mana*

Dua tahun yang lalu saya mengikuti Kuliah Kerja Nyata (KKN) Percepatan Penuntasan Wajib Belajar Pendidikan Dasar (WAJAR DIKDAS) 9 Tahun di salah satu kecamatan di Jawa Timur. Ketika kelompok KKN kami menggelar seminar hasil di tingkat kecamatan, saya sempat berbicang dengan seorang kepala sekolah yang menghadiri kegiatan kami itu. Hal yang tidak pernah saya lupa dari perbincangan kami itu adalah pernyataan beliau bahwa sangat sulit mengadakan pendidikan gratis di Indonesia. Lebih mudah mewujudkan pendidikan yang bersubsidi. Artinya, pemerintah memberikan subsidi kepada lembaga pendidikan seperti halnya pemerintah memberikan subsidi BBM. Orang tua siswa yang kaya menyubsidi siswa yang miskin. Soalnya, selain jumlah penduduknya yang sangat besar, negara ini pun bukanlah sebuah negara yang makmur.

Selama KKN, saya pun sempat berbincang dengan para orang tua siswa dan guru. Tidak sedikit dari mereka mengeluhkan pendidikan gratis yang memang sudah diterapkan di kabupaten tempat saya KKN itu. Kata para orang tua siswa, SPP memang gratis, tapi biaya yang dikeluarkan untuk membelikan si anak seragam sekolah, buku-buku pelajaran, dan keperluan lainnya termasuk uang jajan jauh lebih besar daripada biaya SPP. Kata para guru, kalau sekolah tidak meminta pungutan, hanya berharap mendapatkan bantuan dari pemerintah, sekolah kesulitan untuk meningkatkan kualitas pembelajaran karena bantuan yang diberikan sangat terbatas. Kesulitan itu semakin bertambah ketika sekolah tersebut dari awal sudah minim sarana dan prasarana pembelajaran. Akibatnya, seperti buah simalakama. Meminta pungutan orang tua siswa keberatan, tidak meminta pungutan sekolah tidak bisa berkembang.

Sekolah gratis ada dimana-mana. Begitu jargon iklan yang sudah akrab di telinga masyarakat karena sering ditayangkan di berbagai stasiun televisi. Pertama kali mendengarnya saya sempat bingung. Gratis seperti apakah yang diberikan oleh pemerintah seperti yang dimaksud pada iklan tersebut? Gratis SPP kah atau gratis tanpa pungutan sepeser pun dalam artian orang tua tinggal memasukkan anaknya ke sekolah yang sesuai dengan minta dan prestasi akademik yang dimiliki si anak? Padahal, di lapangan, orang tua tetaplah harus mengeluarkan uang cukup banyak agar anaknya bisa sekolah. Iklan itu pun memiliki cacat karena apa bisa anak yang hanya mengecap pendidikan dasar 9 tahun bisa menjadi pilot? Jika pun diwajibkan mengecap pendidikan dasar 12 tahun hal itu pun masih susah untuk diwujudkan karena untuk menjadi pilot dia harus belajar dulu di akademi penerbangan.

Hal-hal yang menjadi pertanyaan tersebut akhirnya terjawab ketika saya menonton sebuah dialog di Metro TV pada 16 Juli 2009. Nara sumber dialog malam itu adalah Arif Rahman Hakim, praktisi pendidikan yang sudah sangat dikenal masyarakat Indonesia dan Angelina Sondakh, artis yang juga anggota DPR. Mereka berdua sepakat menyayangkan penayangan iklan layanan masyarakat mengenai pendidikan gratis yang katanya ada dimana-mana itu. Soalnya, iklan itu memiliki banyak kekurangan. Seharusnya kata gratis pada iklan tersebut ditambahi kata SPP sehingga menjadi sekolah gratis SPP ada dimana-mana. Begitu kata Pak Arif Rahman Hakim. Angelina Sondakh juga menyatakan bahwa pemerintah tidak akan sanggup memberikan pendidikan yang benar-benar gratis kepada masyarakat dengan alasan yang kurang lebih seperti yang telah saya paparkan.

Saya pernah mengalami sistem sekolah bersubsidi ketika sekolah dulu. Besarnya SPP (atau BP3) antara saya dengan teman bisa saja berbeda. Siswa yang orang tuanya kaya dianjurkan membayar uang SPP lebih besar daripada yang seharusnya dibayarkan agar dapat menutupi uang SPP yang tidak bisa dibayar penuh oleh siswa lainnya. Sekolah pun biasanya meminta sumbangan kelas secara rutin. Seminggu sekali anggota OSIS akan berkeliling ke kelas-kelas untuk meminta sumbangan saudara asuh. Uang yang dikumpulkan digunakan untuk membantu siswa yang lainnya. Pada akhir tahun ajaran, terutama kepada siswa yang lulus diharapkan memberikan seragam layak pakainya dan buku-buku pelajaran ke sekolah agar dapat dipergunakan oleh adik-adik kelasnya. Jika hasil sumbangan masih tersisa, maka sekolah akan menyalurkannya kepada sekolah lain yang memerlukan. Jadi, tidak hanya orang tua yang turut serta membantu. Para siswa pun dilatih untuk membantu siswa lainnya.

Sekolah gratis dapat saja diwujudkan. Saya pernah melihat tayangan telivisi dimana siswa benar-benar diberikan pendidikan gratis. Sekolah tidak meminta pungutan sepeser pun bahkan siswanya diberi seragam sekolah, perlengkapan pembelajaran, dan sekolahnya pun memiliki sarana dan prasarana pembelajaran yang terbilang lengkap. Sekolah tersebut kalau tidak salah dikelola oleh badan amil dan zakat. Tapi, siswa yang berkesempatan mendapatkan segala kemewahan itu hanya siswa yang orang tuanya benar-benar tidak mampu. Andaikan sekolah serupa muncul lebih banyak tentunya penuntasan WAJAR DIKDAS 9 Tahun tidak lagi menjadi masalah. Namun, jangan karena ingin menikmati pendidikan gratis para orang tua yang mampu membeli pakaian bagus dan banyak perhiasan walau sepuhan berkata tidak mampu untuk membiayai sekolah anaknya. Kata adalah doa. Takutnya, Tuhan mengabulkan perkataan anda.

* Artikel ini sempat aku kirim ke rubrik opini di salah satu harian di Kalsel seminggu lalu. Berhubung gak dimuat, daripada mubazir, yach mending aku posting di mediaku sendiri. Makanya, bahasa lebih formal dibandingkan postingan yang lainnya ^.^v

Monday, July 20, 2009

Festival Budaya Pasar Terapung

Selama menuntut ilmu di Kota Malang, banyak even tahunan yang terlewatkan olehku. Salah satunya festival budaya pasar terapung. Jadi hepi karena akhirnya tahun ini, 18 – 20 Juli 2009, aku bisa menikmatinya. Ada Kampoeng Banjar, berbagai atraksi kesenian daerah (madihin, musik panting, balumut, bakurung-kurung, bajapin, ada bakuntaw jua!), perahu hias (klotok dihiasi-dilampui, stand-stand wadai-wadai Banjar jua ada! Nyam-nyam… Asa titik air liur melihat wadai bingka yang pacah di ilat, hula-hula, sasunduk lawang, kuih lam, surabi, macam-macam dah. Rame pokoknya! Yach, walau kupikir festival budaya pasar terapung tuh artinya selama kegiatan ada pasar terapungnya di areal festival. Ternyata gak yach ^.^v

Kebetulan ada camdig. Foto-foto deh. Yach, walau hasilnya gak sebagus kalau pakai kamera kayak para penggermar fotografi/fotografer yang gak ketinggalan untuk mengabadikan festival ini. Sayang, dalam festival kali ini sempat dihebohan dengan tenggelamnya seorang anak di Sungai Martapura. Aku dan ading yang saat itu mau ikutan naik klotok (perahu pintar) gratisan jadi batal deh :”( Perjalanan naik klotokdihentikan sebentar karena di sungai orang sedang sibuk melakukan pencarian anak yang tenggelam itu. Besoknya, masih belum menyerah untuk naik klotok gratisan lagi, lagi-lagi batal. Soalnya, ada kabar bahwa anak yang tenggelam kemarin telah ditemukan. Jadi, tim SAR dan para penjaga perahu pintar. Untung sudah sempat berfoto-foto di atas kelotok ^.^v

Semoga event ini dapat berlangsung setiap tahun dan semakin meriah. Gak perlu menunggu agenda visit South Kalimantan, semoga setiap tahun menjadi tahun kunjungan ke Kalimatan Selatan. Ah, Banjarku bungas banar euy!

Friday, June 19, 2009

Finding Him...

Banjarmasin, 17 Juni 2009

Sedih, karena saat aku merasa menemukannya, dia malah pergi. Argh…!!! Lelah rasanya bertahan. Jenuh rasanya melewati hari dengan masih terpaku pada seseorang. Tapi juga berat rasanya jika harus kembali memulai dari awal.

Menemukan seseorang yang kuanggap close to perfect membuatku sulit untuk berpaling. Close to perfect menurutku itu seperti apa sih?! Jawabannya, aku merasa nyaman bersamanya. Aku selalu merindukannya. Aku bias menerima kekurangan dan kagum akan kelebihannya. Aku pun berusaha menjadi lebih baik karena (bukan demi) dia, tanpa diminta. Berlebihankah jika perasaan seperti itu membuatku terjebak pada sebuah harapan, yaitu bisa bersamanya?!

Finding him. Apakah aku memang telah menemukan dia? Apakah dia memanglah ‘dia’? Atau dia hanyalah seseorang yang hanya singgah sebentar sebelum ‘dia’ datang?!


- Welcome home, Kk menyebalkan -

Thursday, June 4, 2009

I'm Join to Banjar Film Community: ScreenDocs! Traveling 2009

Aku tuh penikmat film, baik fiksi ataupun dokumenter. So, senang rasanya bisa gabung di Banjar Film Community. Sudah alam aku ingin belajar jadi script writer. Semoga dengan gabung di Banjar Film Community keinginanku itu bisa tercapai. Amin. :)

Cerita awal mula aku bergabung di Banjar Film Community cukup lucu. Gara-gara motor Aban kehabisan bensin tepat di depan komplek rumahku, dia berinisiatif mampir to pinjam duit (btw belum kam bayar lagi, Ban ^.^v). Terus dia cerita kalau Banjar Film Community lagi - personil to jadi panitia ScreenDocs! Pengangguran kayak aku yang emang suka film jelas mupenk. Apalagi aku sudah lama tau ada Banjar Film Community (secara, Jelek, Fuad, Eko, n K Upik juga orang Banjar Film Community).

5 - 7 Juni 2009 Banjar Film Community punya kegiatan yang dipelopori oleh In-Docs. Nama kegiatannya ScreenDocs! Traveling 2009. Acaranya berupa pemutaran film dan diskusi dengan para pembuat film dokumenter. So, bagi yang suka film datang aja ke Taman Budaya. Bakal 3 hari nonton film dokumenter gratis!! Ada kelas pengenalan film dokumenter dan bazar juga loh...

Film" dokumenter yang akan ditayangkan a/l 5 film MEtro TV Eagle Awards 2008 (Prahara Tsunami Bertabur Bakau, Pulau Bangka Menangis, ...), Football Undercover (tentang tim sepakbola wanita BSV Al-Dersimspor di BErlin & tim sepakbola nasional wanita Iran), ... dan yang bikin aku penasaran nonton tuh The Birthday (NL, 2006). The Birthday ini bercerita tentang lelaki muda yang berubah menjadi wanita melalui operasi transeksual di Iran. PAcarnya juga seorang transeksual (wanita menjadi laki"). Film ini akan menjadi film pertama yang ditayangkan di ScreenDocs! Traveling 2009 yang juga diikuti dengan diskusi transgender. BIkin penasaran kan?!

Di ScreenDocs! aku jadi seksi acara (hmm..., kerjaan berat euy!!). Wish me luck yap! Doakan juga ScreenDocs! Traveling 2009, Banjar Film Community ini sukses. Amin. :)

Monday, June 1, 2009

Longing to Traveling

Sebenarnya udah lama ngonsep narasi buat postingan kali ini. Tapi, berhubung di rumah gak ada laptop atau kompie dan gak mood ngetik narasi panjang di warnet, kapan-kapan ajah ya narasi panjangnya ^.^v
semoga foto-foto ini dapat bercerita....
Selasa (26/5) lalu aku traveling ma sohib. Planing awalnya traveling berdua, truz berkembang menjadi reuni SMP kecil-kecilan. UUJ, akhirnya, kembali cuma berdua (Puff!!).

at Wasaka Museum....

Museum Wasaka Tutup! Gak buka tiap hari ya?!



Museum Wasaka Port juga sepi. Foto-foto ah.... ^.^v



vandalisme = apatis + ego + gak bertanggung jawab!

Oich! Kami sempat ditraktir pama pentol loh. Beliau terharu kali yach sama ketulusan hati kami dalam membantu sesama. Andaikan saat itu merupakan adegan dari reality show 'Tolong", bakalan dapat duit deh. hehe.... ^.^v


at Barito Bridge

Coba letaknya di tengah kota, pasti + keren!!



Kelas 3 SMP aku tenggelam di sungai ini waktu kemah bakti PMR. Nasip orang gak bisa berenang. hiks!!




Obyek wisata Jembatan Barito tinggal cerita. Sarananya rusak semua!! Tapi tetap aja dipungut biaya masuk 5ribu (ough!!)



Pulau Bakut (terletak di bawah Jembatan Barito) tergenang! (Ada yang punya foto Pulau Bakut yang dipotret dari udara atau yang terlihat jelas kalau dia ada di tengah-tengah Sungai Barito gak?!)



Mencari rezeki dari masyarakat yang lewat...



Me on Barito Bridge. Oich!! Yang mau tau rasanya gempa bumi kecil nongkrong aja di sini. Pas ada truk lewat, rasakan sensasi getarannya.... (suer, bikin aku parno!!)


Di perjalanan pulang kami diguyur hujan. Kasihan, motor baruku jadi kebasahan! ^.^v

Thursday, May 21, 2009

Negeri van Oranje & Traveling Impianku

Selain The Naked Traveler, Travelers Tale, Ciao Italia!, Akar (trilogi Supernova), Sang Pemimpi (tetralogi Laskar Pelangi), The da Vinci Code, Angel and Demon (belum nonton filmnya, hiks!), Kambing Jantan, .... (gak ketinggalan Atlas Indonesia dan Dunia), satu lagi buku yang bikin aku mupenk abiz to traveling ke banyak tempat di bumi tercinta ini. Bikin aku mupenk to study abroad juga (I hope it become true, but I must make My English well first!).

Negeri van Oranje. Cetak pertama April 2009. Adingku beli ni buku 15 April 2009 di toko buku diskon favorit kami. Kebetulan gak lama setelah dia selesai baca ada kawan yang mau pulkam ke Banjarmasin. Dititipkannyalah Negeri van Oranje ini agar bisa segera aku baca. Yach, walau gara-gara kawanku itu sibuk dan aku pulkam ke BArabai cukup lama barusan 2 malam yang lalu ni buku sampai di tanganku. Bukunya cukup tebal (walau cuma separuhnya HP 7 yang mencapai 999 hal). Tapi dari awal ni buku sudah keliatan kalau kisahnya keren, lucu, fun, inspiratif (sejalan dengan komentar Trinity, Raditya Dika, Andrea Hirata, n Luigi yang ngasih komennya bs dibaca di sampul novel ini lah!).

Buku ini membawa berkeliling walanda (bahasa Banjar = Belanda) dan mengenal budaya serta kehidupan mahasiswa Indonesia di sana kayak travel guide gituh (lebih dari sekadar peta wisata kan?!). Kisah-kisah yang menampakkan idealisme dan nasionalisme anak muda Indonesia pun gak ketinggalan. Tentunya, kisah roman ikut menghioasi jalan cerita buku ini :) Apalagi salah satu tokohnya, si Banjar, dikisahkan sebagai urang Banjar, eksmud lulusan ITB, anak saudagar bawang. Bikin + mupenk mu ikutan kuliah disana d! (jadi ingat Pa Komang, dosen favoritku, yang dulu nyaranin aku to ambil S2 Manajemen Desaster di BElanda. Pa kabar Pa? Masih di Malaysia?!).

Tapi....
Belanda yang terkenal dengan kincir angin, bunga tulip, kanal-kanal, klompen, Ajax Amsterdam, zona legal to perkawinan sesama jenis & perdagangan ganja, red light district (tau gara-gara dulu sering nonton acara tv tengah malam yang hostnya Lia Waroka -lupa judulnya-), .... berada di bagian Eropa yang suhu udaranya dingin (banget?!). Pinggiran kota Batu aja dinginnya nauzubile apalagi disana yang jauh banget dari garis khatulistiwa. Jangan-jangan kerjaanku kalau winter berhibernasi mulu (hoho..).

Ough!!
Rasayna udah lama banget gak traveling (pas di Barabai kemarin kawan-kawan PB IMAHAGI bikin aku 'panas' coz mereka pada kumpul di Bandung, hiks!). Padahal masa menganggur adalah masa yang paling pas to traveling. Tapi menganggur bikin aku gak punya pemasukan (include uang jajan) to traveling. Belum lagi masih harus izin ortu (walau gak sulit amat c asal gak traveling sendirian).

Oich, 2 minggu lalu ada c jalan ma ortu ke Marabahan. Jalanin ritual keluarga yang udah lama gak dijalanin (walaupun minus ading), yaitu menghabiskan sore dengan nongkrong di dermaga. Biasanya c dermaga Kuala Kapuas. Tapi, berhubung aku belum pernah liat jembatan Rumpiyang dan ke Marabahan, sekalian main ke rumah uwa Ati di Sungai Gampa, jadi ritualnya berubah tempat d! Tapi sayang gak ada kamera. Padahal lewat Rumpiyang pas sunset, indah banget!

Ambisi travelingku c sebenarnya gak muluk (walau mengunjungi banyak t4 di Indonesia dan dunia adalah impian terbesar). Aku ingi..n banget menjelajahi KalSel. Berjalan di titian panjang di Danau Panggang, liat kerbau rawa, ber-rafting bamboo di Sungai Amandit, menapaki Pegunungan Meratus, dan mendatangi pulau-pulau kecil yang ada di KalSel. Ada yang bisa bantu mewujudkan impianku?

Mmm..., jadi pingin posting foto-foto waktu traveling ma kawan-kawan dulu. Mengingat masa-masa itu. hehe...

Bromo, I'm in Love



Road to Blitar



Touring barat JaTim



Pingin traveling dan foto-foto lagi...

Wednesday, April 8, 2009

Pulau Galesnjak, pulau kecil berbentuk hati

Pas iseng browsing artikel buat bacaan, aku ketemu sama artikel menarik ini. Tentang sebuah pulau kecil di lepas pantai Kroasia yang luasnya 13 ribu meter persegi. Pulau ini begitu menarik karena berbentuk amor alias hati. Lihat saja foto udara yang di dapat oleh satelitnya google earth ini. Benar-benar kayak amor kan?!

Pulau Galesnjak, begitu nama 'pulau hati' itu. Pulau ini dimiliki oleh keluarga Vlado Juresko. Keluarga ini sendiri awalnya tidak sadar kalau pulau mereka itu berbentuk amor. "Itu luar biasa. Kami pikir itu adalah pulau berbentuk hati paling sempurna di dunia," begitu kata Juresko.

Percaya atau tidak, Juresco malah mengetahui bahwa pulaunya berbentuk hati setelah pihaknya kebanjiran permintaan para pasangan dari seluruh dunia, yang ingin tinggal di sana. "Kami selalu berpikir itu sedikit berbentuk seperti hati. Tapi sejak tampil di Google Earth dan semua orang bisa melihat, seluruh dunia tampaknya ingin tinggal di sana," imbuhnya. "Tidak ada orang yang tinggal di sana, jadi kalau sepasang kekasih ingin menghabiskan waktu sendiri, itu adalah pulau yang sempurna," promosi Juresco. Berminat?!

Subhanallah… Ciptaan Allah memang begitu menakjubkan.

Tempat aku temuin artikel ini (klik di sini)

Saturday, April 4, 2009

Farewell error...

Sebenarnya c berharap bisa farewell ma kawan-kawan semuanya... Pas kumpul di kost Inggit..., pas main ke Selerejo... Tapi lagi-lagi orangnya itu-itu doank!! So, sorry banget ya frenz, kalau foto-foto di album kenangan kita orangnya itu-itu mlu ^.^v



Dilema Lipstik Pink

Waktu make up buat WISUDA, hampir saja aku jadi korban lipstik pinknya mamaku. Pasalnya, kupikir mama bawain lipstik yang senada sama warna pakaian wisudaku (gold). Warna coklat atau atau jingga gitu. Pokoknya gak yang ngejreng (termasuk pink) lah coz aku pinginnya minimalis. Apalagi aku kan gak doyan warna pink. Ternyata gak! Serasa menor banget lah jadinya. So, mpung masih sempat, habis berpakaian (dan makin merasa gak sreg), akhirnya aku lari ke K Eka (make up artistnya anak asrama putri ^.^v), buat ganti warna lipstik. Lipstik pinknya mama kuganti sama lipstikku yang warnanya agak pucat (gak ngejreng pokoknya!!). Puff, selamat deh (o^.^o)


Walau dandananku bukan kreasinya juru rias salon tapi lumayan.. Daripada aku harus ngantri dari jam 3 pagi buat macak!! Ough.. Gak deh.. So, wisudaanku kemarin benar-benar minimalis. Pakaian (kebaya dan rok sasirangan) mamaku yang bikin, make up made in Ka Eka, jilbab pasang sendiri.

Wisuda...

Cenang..., akhirnya 28 Maret tadi aku di wisuda juga!! yach, walau datangnya telat (MIPA udah masuk barisan wisudawan aku baru datang!! ^.^v)
cenang cenang enang... 4,5 tahun perjuanganku akhirnya terbayar :)
Mu cerita apa yach?! lagi OL c, jadi mu cepat-cepat!! udah 2 minggu lebih juga aku gak OL!! up load foto-foto sehabis gladi bersih wisuda dan habis wisuda ma sahabat-sahabatku aja yach!!




oich, buat kawan-kawan yang kemarin diwisuda bareng aku, selamat ya gals!! buat yang masih berjuang, tetap semangat yach!! semoga wisuda Oktober kalian jadi peserta wisudanya :)

Geografi Hijrah ke FIS

Karena gak ikut forum diskusi Geografi, aku jadi dengar sepenggal kisahnya doank dari kawan..

Jurusan Geografi UM resmi pindah dari FMIPA ke fakultas baru (FIS) sama Sejarah, PKn, dan Psikologi ya?! Aku harus ngucapin selamat atau turut berbelasungkawa niy? Soalnya aku dengar banyak yang gak pingin jurusan tercinta ini dipindah ke FIS. Sampai-sampai gak ada satu pun mahasiswa Geografi yang tepuk tangan ketika Geografi resmi dipindah ke FIS, ya?! Wah, keren! Euy, yang kemarin ikutan forgis berbagi cerita lebih banyak dunk sama aku..

Apa kabar HMG?! Ikut mendukung kepindahan geografi ke FIS? Kalau gak, ada rencana biar Geografi ‘dikembalikan’ ke FMIPA?! HMG kan wadah aspirasinya mahasiswa Geografi UM. Mmm, sudah dapat ucapan selamat (atau turut berbelasungkawa) dari IMAHAGI dan komisariat Geografi lainnya? Kali aja bisa sharing sama mereka karena akhirnya jurusan kita sama kayak kebanyakan jurusan Geografi di Indonesia, berada di lingkungan ilmu sosial. Jurusan tercinta ini kembali ke kayak anggapan banyak orang, ilmunya anak IPS. Soalnya, gak sedikit yang menganggap keberadaan Geografi di MIPA tuh ‘aneh’, kayak albino gitu..

Sayang gak ada survei berapa persen mahasiswa (dan warga geografi lainnya di UM) yang mau hijrah ke FIS dibanding ingin tetap di FMIPA. Andai Geografi dijadikan fakultas sendiri semuanya semangat kali ya.. Mungkin ada banyak alasan kenapa ada mahasiswa yang gak pingin (atau pingin) Geografi pindah ke FIS. Dosen-dosen dan pihak kampus juga pastinya punya alasan tersendiri kenapa memindahkan jurusan Geografi ke FIS.

Aku sendiri merasa bersyukur lulus sebagai anak FMIPA ^.^v. kalau 4,5 tahun lalu Geografinya UM ada di IPS, gak bakalan aku terdaftar sebagai mahasiswa jurusan Geografi UM. SPMB kan aku ikut IPA doank, bukan IPS atau IPC. Jadi, andai aku lulus sebagai anak FIS, menyesal banget deh karena dulu gak ikut IPC. Saat itu kan aku lagi naksir berat sama jurusan psikologi dan kriminologi (IPAnya aku milih PWK). Cuma malas ikut tes 2x. hee..

Well, buat kawan-kawanku yang belum lulus, adik-adik kelasku tercinta, aku serius niy.. Mau aku kasih ucapan selamat atau turut berbelasungkawa (o^.^o)v

Tuesday, March 10, 2009

I Dreamed him

– Apabila salah seorang di antara kamu bermimpi dengan impian yang disukainya, maka sesungguhnya impian itu dari Allah Ta’ala, oleh karena itu hendaknya ia memuji kepada Allah dan menceritakannya kepada orang lain –

Apakah sering bermimpi indah tentang dia, cowok yang aku suka juga termasuk? Kalau iya, aku jadi bingung sebenarnya apa rencana-Mu dibalik mimpi-mimpi itu? Apakah ketika saatnya tiba Engkau akan menyatukanku dengannya? I hope so…

Perkenalan kami berlangsung begitu cepat. Perasaan itu pun datang begitu cepat. Tapi begitu cepat juga dia pergi. Meninggalkan rasa yang tidak terhapus olehku, entah sampai kapan.

Kehadirannya membuatku bahagia. Membuatku lupa rasanya patah hati. Tapi ternyata aku kembali terluka. Kalimat itu meluluhlantakkan perasaanku.

– Kamu gak akan kuat bersamaku. Sebaiknya kita akhiri saja, mumpung belum kita mulai –

Aku mengerti saja tidak apa maksud kalimat itu. Yang aku pahami, cowok berwatak keras itu masih tinggal di palung hatiku. Entah aku berada di sudut mana di dalam pikirannya.

Dedicated to Kk Menyebalkan


Lagi-lagi aku memimpikanmu

Kambing Jantan on the Movie

Udah pada nonton Kambing Jantan belum?! Film yang diangkat dari blog dan buku best sellernya Raditya Dika…

Sabtu sore (7/3)kemarin aku nonton Kambing Jantan berdua adingku. Dia semangat banget mau nonton. Secara, dia ‘pelahap’ buku-bukunya Raditya Dika. Aku sendiri sampai BT kalau dia lagi asik baca buku-buku itu. Walaupun udah berkali-kali, kayaknya volume suaranya pas ketawa tetap aja gila-gilaan. Mulai dari ‘Kambing Jantan’, ‘Cinta Brontosaurus’, ‘Radikus Makankakus’, ‘Babi Gesot’, Mmm…, Kambing Jantan yang versi komik c belum beli. We will!! ^.^v

Gara-gara kisahnya gokil abis apalagi kisahnya itu diangkat dari kisah hidupnya Si Kambing sendiri, aku jadi ikut-ikutan suka deh! Kadang mampir juga ke kambigjantan.com buat cari tau berita terbaru tentang Si Kambing. Jadinya penasaran deh mau nonton kayapa Kambing Jantan versi film. And I think…

Filmnya gak segokil novelnya c, tapi dibanding film-film lain yang diangkat dari novel, niy film menurutku gak akan bikin penggemarnya Kambing kecewa. Habis ceritanya lucu dan sweety banget!! Kamar khayalan, bulan yang sama, egoisnya cewek kalau lagi minta disayang, …, belum lagi adanya Edrik yang berperan sebagai Hariyanto menambah hidup film ini (baju I Love Kediri bikin anak-anak Kediri wajib nonton tuh. Dapat ide dimana c?! haha…).

Film ini menghibur banget!! Seperti kata Radit, dia dan kisah hidupnya memang ada untuk menghibur banyak orang. Jarang-jarang aku semangat nonton film Indonesia, apalagi sampai nontonnya di 21 (biasanya nonton VCDnya doank). Sepulangnya dari 21, aku langsung cerita d ke sahabatku di Banjarmasin. Dia yang juga suka ma Kambing jadi mupenk banget to nonton niy film (semoga kamu bisa nyuri kesempatan to nonton ya, mba suster…). Kambing Jantan sayang banget deh untuk dilewatin… Apalagi bagi penggemarnya Si Kambing (yang semakin lama diliat ternyata semakin manis. Hahaha…!!). Hidup Kambing!! ^.^v

Go to BNS

1 Maret kemarin, selain menerima ucapan met ultah dari ortu juga sahabat-sahabatku dan stay at my bed (bikin album kenangan Geografi ‘04) hampir seharian, pergi ke Batu Nigth Spectacular (BNS) bikin hari ultahku cukup berkesan. Secara, itu kali pertama berkunjung ke sana. Begitu juga dengan adingku, Ka Eka, dan Gitya.

Ada banyak wahana di sana. Yang pertama kami kunjungi adalah taman lampion. Ada bermacam tema lampion di sana. Ada yang akuarium, 7 kurcaci, wedding, jemuran (baju dan underwear, he…), …, tapi yang paling menarik tentulah miniatur icon suatu negara. Ada tugu Monas dan Mesjid Istiqlal (Indonesia punya niy…), Twin Tower (Petronas kan tuh?! -Malaysia-), Eiffel (French), juga Great Wall (RRC).

Habis dari taman lampion, kami masuk ke rumah kaca (yang didesain kayak labirin, cuma gak susah). Sayang banget kan kalau udah ke sana gak nyoba main di wahana-wahana yang ada?! Akhirnya kami milih naik kursi terbang. Rasanya?! Ngeri euy!! Rasanya sayang kalau adrenalin lagi naik gak dibarengi dengan teriakan. Tapi lucunya, kebanyakan yang teriak tuh yang gede. Anak-anak kecil yang naik wahana itu biasa-biasa aja tuh. Apa mereka gak takut ya?!

Ada banyak wahana lagi c. Kebanyakan diperuntukkan buat anak-anak. Yang bisa dimainin sama yang gede, kayaknya aku mikir-mikir dulu deh tuk nyoba. Liatnya aja ngeri!! ^.^v Lagian, berhubung belum dapat kiriman, jadi lebih milih buat liat-liat aja. Ntar deh balik lagi ke sana kalau saldo rekening banyakan. Ke cinema 3D, main gokart, naik sepeda udara, … dan mungkin naik kursi terbang lagi :)

Walau wahananya gak sebanyak Dufan atau Jatim Park (sepertinya c gitu coz aku belum pernah ke sana) apalagi jika dibandingkan dengan obyek wisata buatan yang ada di Kalsel yang minim banget, BNS oke tuk jadi tempat rekreasi keluarga (juga pacaran). Cuma, kalau benar-benar ingin menikmati BNS jangan lupa bawa duit yang banyak dan kamera!! Biar bisa nyoba wahana-wahana yang ada (food court, café, pool, pasar malamnya juga ada) dan foto-foto sepuasnya di sana! Kalau malam, kerlip lampu-lampu dari daerah di bawahnya (Kota Batu dan Sekitarnya) juga bikin suasana makin indah (dan romantis).

Skripsiku akhirnya dijilid juga!!

Setelah perjuangan panjang (saat pengerjaan proposal, penelitian, revisi, ujian, revisi lagi), mulai dari bolak-balik bimbingan, semangat yang up n down, jatuh bangun pas penelitian, dikasih buah-buahan buat dibawa pulang sehabis penelitian, bolak-balik beli kertas dan ke cartridge refill center (cartridge printerku kecil jadi cepat abis!!), kehujanan, … (banyak deh suka dukanya!!), akhirnya skripsiku dijilid juga. Kayaknya c udah bisa ditemukan di perpust bagian skripsi, tesis, desertasi, dan TA. Hehe…


Puff, satu kasusuban lagi tacabut!!

oich, siapa pun yang jaga perpust jurusan, skripsian yang kuambil dulu udah aku balikin loh!! Gals, sapa yang belum balikin ayo ngaku... ^.^v

Monday, March 2, 2009

23 th

1 Maret 1986 - 1 Maret 2009


Happy birthday to me…
Happy birthday to me…
Happy birthday, happy birthday
Happy birthday to me…

Ya Allah, jadikanlah saya hamba-Mu yang selalu meningkatkan kualitas diri dan ketaqwaan terhadap-Mu. Berikanlah hamba jodoh yang sholeh. Jadikan hamba muslimah yang sholehah, berbakti kepada orang tua, sukses (berkeluarga, berkarir, bermasyarakat), bahagia dunia akhirat. Amin.

Depression

Komunikasi yang baik harus terjalin di dalam sebuah keluarga. Sepasang suami-istri haruslah saling mencintai dan menjaga walau kehidupan berumah tangga gak selalu adem ayem. Ortu haruslah penuh perhatian kepada anak-anaknya dan sebagai anak haruslah berbakti kepada ortunya walaupun silang pendapat kadang terjadi. Sebagai manusia, kita juga gak bisa hidup sendirian. Memerlukan interaksi dengan orang lain. Kalau ada masalah, kadang memang perlu untuk disisakan sedikit, tapi ada baiknya dibagi dengan orang lain agar bisa dicarikan solusinya. Jadi gak dipendam sendiri, apalagi sampai menumpuk dan menimbulkan depresi.
---------------

Sabtu siang kemarin aku dan adikku berkunjung ke rumah keluarga kawan abah. Beliau mengundang kami, terutama adingku untuk menjenguk ‘bule’ beliau yang sedang sakit, depresi. Ini tentu terkait dengan studi adingku di psikologi. Setelah melihat keadaan bule (lebih pasnya c kusebut nenek), beliau berharap adingku bisa ngasih masukan atau bahkan bantu menerapi. Adingku mahasiswa psikologi semester 8 (sedang mengerjakan skripsi) dan pernah magang di RSJ. Sedikit-sedikit punya ilmunya lah walau adingku ngambil psiko industri sebagai kuliah mayor dan klinis sebagai kuliah minor.

Awalnya c aku sempat takut. Secara, aku parno berada di dekat orang yang mengalami gangguan kejiwaan. Apalagi saat itu bule sedang ‘kumat’. Kalau yang gak ngerti c mungkin menganggap bule tuh pengidap psizoprenia. Tapi kata adingku, seseorang tuh dibilang mengidap psizoprenia kalau memenuhi 4 dari 6 gejalanya. Kalau melihat keadaannya, bule tidak masuk kategori itu.

Kesimpulan yang kami dapat, bule tuh mengalami depresi akibat masalah pekerjaan dan kehidupan rumah tangganya. Beliau tidak siap menghadapi masa pensiun, mungkin akibat tidak memiliki aktivitas di luar pekerjaannya. Suami beliau sibuk, anak-anaknya pun sudah berkeluarga dan dua dari tiga anak beliau tinggal di luar daerah. Beliau sepertinya kecewa dengan keadaan rumah tangganya. Soalnya, setiap kali mengungkit masalah pekerjaan dan keluarga beliau langsung ‘kumat’.

Selama beliau ‘diungsikan’ ke Malang (sebelumnya beliau tinggal di Sulawesi), katanya c hampir bisa dibilang tak ada kontak dengan suami dan anak-anaknya. Pernah c seorang anaknya yang berprofesi sebagai dokter dan sedang dinas di RS di Malang menjenguk, tapi itu juga cuma sekali dan sebentar. Yang bikin BT, saat pamit anaknya tuh bilang +- gini,
‘Saya pamit dulu soalnya saya lagi banyak pasien.’
Memangnya ibu dia yang sakit dia anggap apa?!
Mana ketika ‘mengungsikan’ bule suaminya berpesan supaya istrinya gak dirawat di RSJ lagi! Emang bule gila apa?! Emang RSj buat orang gila aja?! Apa salahnya kalau bule dirawat di RSj jika disana beliau mendapat perawatan intensif? Kenapa bule gak dirawat di ‘rumahnya sendiri’ malah diungsikan ke saudaranya? Bukan cuma adingku dan keluarga disini yang bilang kalau penyakit bule tuh bersumber dari keluarga dan cuma keluarganya yang bisa bikin bule lebih baik, tapi dokter juga.

Gak banyak informasi yang bisa digali akibat sifat bule yang introvert dan jarang bergaul. Apalagi dengan keadaan bule yang seperti sekarang. Kalaupun harus diterapi, sepertinya family therapy yang paling cocok diterapkan. Jadi, keluarga bule bisa saling terbuka satu-sama lain terhadap permasalahan yang terjadi di keluarga mereka. Kalau sudah tahu akar permasalahannya kan lebih mudah untuk dicarikan solusinya. Masing-masing pihak juga jadi gak harus saling menyalahkan.

Dalam hal ini yang jadi korban tentulah keluar dari saudara bule. Bukannya menolak kehadiran bule, tapi saudaranya kan juga punya kehidupan. Semenjak bule datang, cucu-cucu saudara beliau pada gak berani berkunjung karena takut sama bule. Anak dan cucu yang tinggal serumah sama saudara bule pun kadang terganggu dan gak bisa sabar menghadapi bule kalau sedang ‘kambuh’. Gimana bisa belajar dengan tenang kalau di rumah ada orang yang teriak-teriak? Gimana bisa nyaman kalau tengah malam ada yang bikin keributan? Belum lagi rumah beliau yang berada di lokasi yang padat. Rumah yang satu dengan yang lain saling dempet. Noisy banget kan?! Walaupun saudara, kenapa harus saat sakit bule baru berada di antara mereka?! Dimana dan ngapain aja suami dan anak-anaknya? Apa yang terjadi di antara mereka?!

Semoga bule bisa bahagia lagi. Bisa menangis juga ketawa lagi.

Friday, February 27, 2009

Bromo I'm in Love

Rabu, 2 Juli 2008
Setelah 3 tahun di Malang, akhirnya aku menginjakkan kakiku di Gunung Bromo. Aku ikut anak AMKS Mandastana yang sedang kedatangan tamu dari jauh. Nikki Law dari Hongkong dan Andy Barker dari Inggris. Setelah Nikki dan Andy diajak ke Pantai Bale Kambang dan makan di warung acil (Rindang Dandam), sayang banget kan kalau gak berkunjung ke salah satu obyek wisata andalan Jatim yang banyak memikat hati turis mancanegara itu?!

Kami ke Bromo nyarter ELF. 14 orang + 1 supir. Gak semua anak Mandastana ikut. Selain mereka, bubuhan ‘Latik Kelambu’ juga ikutan. Berangkat dari Mandastana jam 1 malam. Kami ambil rute lewat Purwodadi (Pasuruan). Sesampainya di sana, walau gak hari libur ternyata banyak wisatawan yang datang. Lokal maupun mancanegara. Untungnya Zulis meminjamiku jaket untuk menambah pakaian yang telah kukenakan. ‘’Kurang tebal, Ka!’’ gitu katanya. Soalnya, suhu disana rendah banget! Bisa mencapai 10 bahkan 0 derajat Celcius ketika menjelang pagi. Malu dan bikin repot aja kan kalau sampai kena hipotermia. Jadi gak bisa menikmati pemandangan Mahameru yang indah banget juga ntar!!

Kalau ke Bromo di larut malam, tujuan pertama tentulah menikmati sunrise dari puncak Gunung Pananjakan. Untungnya jalur trekkingnya gampang. Habis mampir di warung yang banyak tersedia di sekitar track menuju puncak Gunung Pananjakan, kami pun nyari posisi yang bagus untuk menikmati sunrise. Erornya, saat matahari udah mulai tersenyum, satu per satu cowok Mandastana dan latik kelambu lepas baju dan berfoto bersama di tepian pagar pembatas. Padahal saat itu udaranya masih dingin banget!! Gak semuanya c lepas baju. Tapi aksi itu menarik hati para turis untuk mengabadikannya lewat jepretan kamera mereka. Karena saat itu kami tuh rame banget, sampai ada turis lokal yang mengomentari kami.
‘’Bubuhan Banjar niy dasar heboh!’’ begitu ucap beliau yang mengenali identias daerah kami dari bahasa yang kami ucapkan.
‘’Bapak Banjar juga?’’ tanya Ka Yongki yang saat itu ada di samping aku, gak ikutan lepas baju.
‘’Gak. Tapi aku pernah tinggal di sana. Makanya aku ngerti.’’

Ketika matahari sudah meninggi, sudah memandang Bromo-Batok dan Semeru dari kejauhan, sudah berfoto-foto di Puncak Gunung Pananjakan juga! kami pun pergi ke tujuan berikutnya, Gunung Bromo. Setelah melewati lautan pasir, duduk sebentar di dekat pura yang menjadi tempat ibadahnya suku Bromo Tengger, mulai nih track yang paling sulit. Tracking untuk melihat kawah Gunung Bromo… Panas, berdebu, jauh lagi! Apalagi saat menaiki anak tangganya yang berjumlah 250 anak tangga. Sambil menghitung, sesekali aku saling melempar senyum atau bertegur sapa dengan bule-bule yang melintas, untuk mengungkapkan rasa capek kami melewati track itu.


Bau belerangnya menyengat banget! Akhirnya, setelah menikmati sebentar pemandangan yang disuguhkan kawah Bromo aku menikmati view lain. Gunung Batok yang berdiri gagah di samping Gunung Bromo, pura Hindu Kesodo di antara lautan pasir, … Lagi-lagi cowok-cowok Mandastana berfoto sambil lepas baju. Lucu c, tapi tetap aja gilani ^.^v Andy, Nikki, Ka Batur, Ka Wandi, … menikmati pemandangan dari sudut lain di puncak Gunung Bromo. Aku sempat ngikutin, tapi akhirnya kembali gara-gara sempat takut terpeleset -> jatuh ke lereng ketika melewati daerah yang sempit (makanya turis jarang ke sana). Tapi ternyata setakut-takutnya aku, Ka Yongki dan Ka Zaki akhirnya mengakui bahwa mereka agak takut ketinggian. Jadi, mereka ngajakin untuk segera turun gunung.

Gak seperti waktu naik, aku dengan mudahnya menuruni setiap anak tangga sambil berlari. Beruntung, kami berhasil menawar harga yang murah (25 ribu) untuk menaiki kuda menuju parkiran. Itu pertama kalinya aku naik kuda. Kalau melihat orang c kayaknya gampang. Tapi ternyata susah, nakutin lagi! Aku pun gak pintar-pintar amat untuk menyuruh kudaku berlari. Jadi aku memilih ngobrol d sama penarik kuda yang usianya beberapa tahun di atasku. Seorang pemuda suku Bromo Tengger.

Gak lama kemudian kawan-kawan seangkatanku di Geografi ngajakin untuk liburan, ke Bromo!
‘’Yach, sayang banget! Aku malas ikutan coz barusan dari sana.’’
Alasanku itu sempat diprotes kawan-kawan.
‘’Kemarin kan kamu pergi sama kawan-kawan sesama Banjar. Sekarang kan sama kami. Jadi ceritanya pasti beda,” begitu kata mereka. Apalagi aku tuh personil cewek yang jarang banget gak ikutan kalau Geography Error Adventure travelling.
Tapi tetap saja aku bilang ‘’gak!’’ Kalau ngajakinnya ke tempat lain (Pulau Sempu misalnya), ayoh!! Walau gak banyak yang ikutan, 20 Juli mereka pergi ke Bromo.

Kenapa posting ini kuberi judul ‘’Bromo I’m in Love’’?! Soalnya aku jatuh cinta dengan cowok yang selama perjalanan itu duduk di sampingku. Dia yang menjagaku dan gak membiarkanku jauh dari sisinya (daripada hilang dimakan keramaian wisatawan, susah nyarinya!! ^.^v). Mungkin saat itu adalah satu-satunya kenangan indahku bersamanya. Karena setelah itu, semuanya berakhir sebelum sempat kami mulai T.T


About Mounth Bromo

Gunung Bromo (dari bahasa Sansekerta: Brahma, salah seorang Dewa Utama Hindu), merupakan gunung berapi yang masih aktif dan paling terkenal sebagai obyek wisata di Jawa Timur. Gunung Bromo mempunyai ketinggian 2.392 meter dpl, berada dalam empat wilayah, yakni Kabupaten Probolinggo, Pasuruan, Lumajang, dan Kabupaten Malang.

Bentuk tubuh Gunung Bromo bertautan antara lembah dan ngarai dengan kaldera atau lautan pasir seluas sekitar 10 kilometer persegi. Gunung Bromo mempunyai sebuah kawah dengan garis tengah ± 800 meter (utara-selatan) dan ± 600 meter (timur-barat). Sedangkan daerah bahayanya berupa lingkaran dengan jari-jari 4 km dari pusat kawah Bromo. Selama abad ke-20, Gunung Bromo meletus sebanyak tiga kali, dengan interval waktu yang teratur, yaitu 30 tahun. Letusan terbesar terjadi pada 1974, sedangkan letusan terakhir terjadi pada 2004.


Bagi penduduk Bromo, suku Tengger, Gunung Brahma (Bromo) dipercaya sebagai gunung suci. Setahun sekali masyarakat Tengger mengadakan upacara Yadnya Kasada atau Kasodo. Upacara ini bertempat di sebuah pura yang berada di bawah kaki Gunung Bromo utara dan dilanjutkan ke puncak gunung Bromo. Upacara diadakan pada tengah malam hingga dini hari setiap bulan purnama sekitar tanggal 14 atau 15 di bulan Kasodo (kesepuluh) menurut penanggalan Jawa.

Thursday, February 26, 2009

Angin Puting Beliung

Akhir-akhir ini sering banget terjadi bencana angin puting beliung. Walau aku anak geografi, tapi hal-hal yang seperti ini aku benar-benar angkat tangan deh. Gak paham blas!! Gak kepikiran juga kenapa pas ikut mata kuliah meteorologi dan klimatologi aku gak bertanya tentang angin puting beliung, tornado, dkk :’’( Jadi, darpada penasaran aku browse aja via Mr. google dan menemukan informasi yang menurutku cukup untuk menjelaskan tentang angin puting beliung.

Bencana alam angin puting beliung itu bersifat lokal, tapi sanggup mengangkat atap rumah dan memporak-porandakan permukiman. Hal ini disebabkan karena kecepatannya hingga 120 km/jam, dan berlangsung antara 1-5 menit. Pergerakan angin akan lebih cepat sampai ke daratan jika di wilayah daratan memantulkan panas dan bertanah lapang tanpa bebukitan. Gedung-gedung di perkotaan dan tanah tandus lapang menyumbang terjadinya angin itu.

Adapun ciri - ciri dari angin puting beliung, yaitu:
- Terjadi terutama di daerah yang kurang vegetasi dan kota yang banyak gedung-gedung penyebab panas di daratan
- lebih sering terjadi pada peralihan musim kemarau ke musim hujan
- lebih sering terjadi pada siang atau sore hari, tapi terkadang pada malam hari
- Awan itu ketebalannya bisa mencapai 9 kilometer, dan puncak awan bisa berupa es. Ciri-ciri selanjutnya, sesaat sebelum kejadian puting beliung, biasanya berembus angin sepoi yang berasa dingin disekitar tempat kita berdiri.
- Kejadiannya singkat, antara 3 hingga 10 menit, setelah itu diikuti angin kencang yang kecepatannya berangsur melemah.
- Terjadi di tempat dengan radius jangkuan 5 hingga 10 km.

Tanda - tanda yang mendahului :
- Satu dua hari sebelumnya udara pada malam hari hingga pagi hari terasa panas/pengap
- Sekitar jam 10 pagi terlihat awan cumulus (awan berlapis-lapis). Diantara awan tersebut ada satu jenis awan yang mempunyai batas tepinya sangat jelas berwarna abu-abu menjulang tinggi seperti bunga kol (awan cumulunimbus).
- Selanjutnya awan tersebut akan cepat berubah warna menjadi hitam gelap.
- Jika ranting pohon bergoyang, maka hujan dan angin kencang akan datang.
- Terasa ada sentuhan udara dingin di sekitar tempat kita berdiri.
- Biasanya hujan yang pertama kali turun adalah hujan yang tiba-tiba deras, apabila hujannya gerimis maka kejadian angin kencang jauh dari lingkungan kita berdiri.
- Terdengar sambaran petir yang cukup keras, yang merupakan pertanda hujan lebat dan angin kencang akan terjadi.
- Pada musim penghujan, jika 1 hingga 3 hari berturut-turut tidak ada hujan, kemungkinan hujan deras yang pertama kali turun akan diikuti oleh angin kencang baik yang termasuk dalam kategori puting beliung atau angin kencang yang memiliki kecepatan lebih rendah.


Dirangkum dari blognya Irmanator (Irmante Astalavista) dan Tony A. Wijaya.
Sumber:
* Rudy Teguh Imananta
Pusat Gempa Nasional - Pusat Sistem Data dan Informasi Geofisika
Badan Meteorologi dan Geofisika (BMG)
Jl. Angkasa I No 2, Kemayoran Jakarta Pusat
* website pelajaran dari NASA tentang badai tropis.

Lajang - Menikah

Saat aku dinyatakan menjadi penggemarnya Lajang – Menikah oleh facebook, aku sempat digodain sama Mas Eddy, wartawan sebuah harian dimana waktu SMA aku pernah sekolah jurnalistik dan part time di sana, yang lagi chatting sama aku via facebook.

Pertama aku lihat Lajang – Menikah pas buka situsnya Okke ‘’Sepatu Merah’’ (aku suka banget sama novelnya yang berjudul ‘Istoria da Paz, Perempuan dalam Perjalanan’. Saat itu lagi ada lomba cipta jawaban ‘FAQ’. Aku tertarik aja pingin ikutan. Pingin nyumbang cerita tentang si lajang ^.^v Sayangnya, aku telat! Lombanya ditutup tanggal 14 Februari, aku baru baca 20 Februari. Akhirnya cuma bisa jadi fan di facebooknya dan pengikut di blognya :’’(

Pas chatting Mas Eddy kasih saran to aku. Kenapa kamu gak nulis aja Rin. Dasarnya kan sudah ada, tinggal dikembangin. Aku memang bercita-cita menjadi penulis novel (belum atau gak kesampaian ya?!). bikin novel kelihatannya gampang. Tapi pas dikerjain, kenapa ya bikin novel yang ceritanya asik itu susah?! Apa resep JK. Rowling ya jadi bisa nulis Harry Potter setebal 999 halaman?! Nulis 100 halaman aja aku jungkir balik!! Ujung-ujungnya paling jadi cerpen. Kalau gak ya novel mini :’’( Aku juga gak pede sama tulisanku. Makanya, kalau gak kukonsumsi sendiri paling sahabatku yang baca!

Entah kenapa malam Senin kemarin aku serasa dapat wangsit. Berhubung gak bisa tidur, iseng aja nulis di belakangnya lembar data base Geografi 2004 yang sedang kukumpulin biar walau udah pisah sama kawan-kawan kami masih bisa saling kontak. Tanganku mengalir menulis kata-kata yang terangkai di otakku. Setelah sekian lama (aku sampai lupa kapan terakhir kali bikin cerpen), tata…!! Akhirnya gak sampai 2 jam jadi deh cerpen berjudul ‘Kisah Si Lajang’.

baca: ‘Kisah Si Lajang’

Kisah Si Lajang

Namaku Rina. Umur 24 tahun.

Aku lajang yang beruntung. Bekerja sebagai staf pengajar di sebuah SMA berstandar internasional (PNS) dan bimbingan belajar terkemuka membuat hidupku terbilang mapan. Beruntungnya lagi, bagi orang tuaku, umurku yang hampir seperempat abad ini tidaklah mengkhawatirkan apabila masih berstatus lajang, bahkan tidak punya pacar! Padahal, mamaku menikah di usia yang cukup belia. 18 tahun.

Kalau diusut lebih lanjut, tidak hanya aku gadis berumur lebih dari 22 tahun yang masih lajang di keluargaku. 1, 2, 3, 4, …, ternyata ada 7 orang! Bahkan 3 diantaranya hampir berumur 30 tahun.

Betah? Sebenarnya tidak juga. Gak laku? Gak tuh! Terlalu pemilih? Let we see…
----------

Mas Dian. 28 tahun. Wartawan di sebuah harian surat kabar di Kota Malang. Kami berkenalan saat aku magang jadi wartawan di sana. Kami sempat hang out beberapa kali (aku gak suka pakai istilah ngedate karena bagiku saat itu kami tidak sedang berkencan). Makan, nonton, dan rekreasi. Betenya, selalu dia yang menentukan kami akan makan apa dan dimana, nonton film apa, dan akan pergi kemana. Kalau selera kami sama sih oke. Sayangnya tidak!

Dia suka makan masakan pedas. Jadi, kalau gak di rumah makan Padang ya kami makan di warung-warung yang dia sudah tahu betul menu dan seberapa pedasnya masakan yang tersaji di tempat itu. Sedangkan aku? Sebiji cabai rawit saja dijamin membuat perutku langsung terasa perih. Aku benci film horor, film yang banyak pembunuhan sadisnya, thriller gitu lah! Eh, tanpa bertanya terlebih dahulu padaku dia langsung menyodorkanan tiket 21 dengan film bergenre seperti itu. Dia bilang drama romantis itu hiperbolis. Bilang saja mengajakku nonton thriller dengan harapan aku akan berteriak ketakutan lalu memeluknya sepanjang film berlangsung. Berharap dengan pelukan itu aku akan merasa terlindungi oleh sang pangeran. Sayangnya, bukannya ketakutan aku malah ketiduran.

Dia bukan Arema sih. Tapi tetap saja dia tinggal di Malang, bukan di Banjarmasin. Jadi, kalaupun kami punya selera yang sama, dia tetaplah bukan pilihan untuk hatiku berlabuh. Aku tidak pernah berniat tinggal di Malang selain untuk kuliah. Lulus kuliah ya aku pulang ke Banjarmasin.

Kenapa aku oke saja dia ajak hang out? Entahlah. Mungkin sebagai refreshing setelah aku menjalani rutinitas kuliah dengan tugas yang setumpuk, berbagai kegiatan organisasi ekstra kampus yang kuikuti, dan magangku sebagai wartawan yang melelahkan. Ketiga hal itu mengharuskan aku pintar-pintar membagi waktu agar kuliahku tidak keteteran. Jadi, bisa ditebak kan apa jawabanku saat Mas Dian nembak? Right!

“Sori, Mas. Hidupku bukan untuk menjalankan pilihan orang lain.”
----------

Arya. 24 tahun. He’s my first love. Pacarku semasa SMA.

Setelah putus hubungan kami tetap terjalin dengan baik. Kalau sedang berkomunikasi, kadang kami bisa SMS-an dari jam 10 malam sampai larut. Untill after midnight. Isi SMSnya? Cerita tentang tugas kuliahku yang setumpuk, seberapa seru dan melelahkannya organisasi ekstra kampus yang kuikuti, tugas sebagai wartawan magang yang membuatku menemui banyak hal yang tidak terkira, banyak hal lah! Lebih banyak aku yang bercerita. Rian tetap seperti dulu, lebih suka menjadi pendengar yang menyebalkan. Cerita tentang dia paling hanya seputar kegiatannya berlatih futsal, pementasan teater, dan penggarapan film indie. Itupun disampaikan layaknya sekilas info.

Selain SMS-an, kalau bertemu kami tetap jalan bareng sih. Kadang beramai-ramai, kadang hanya berdua. Gak jauh beda dari masa pacaran kami yang berjalan sekitar setahun. Bisa dibilang kami tuh menjalin hubungan teman tapi mesra.

Hey, I’m a single girl. Jadi boleh dong kalau hang out atau ngedate dengan siapa pun, termasuk dengan mantan pacar? Sedangkan Arya? Sepertinya dia masih asyik dengan dirinya sendiri. Tidak sedikit gadis yang dipacarinya minta putus akibat sifatnya yang cuek dan terkesan gak betahan. Kalau bete sama pacarnya itu, kalau gak dia diamin berhari-hari ya dia jalan sama cewek lain.

“It’s over!” itu katanya.

Tidak banyak yang berubah dari dirinya setelah kami putus. Entah kenapa dia tetap ada saat aku perlu seseorang untuk curhat. Satu hal yang masih dilakukannya sampai sekarang adalah…

Kalau dia tiba-tiba kirim SMS setelah sekian lama (bahkan setelah tidak satu pun SMS dariku dia balas), itu artinya dia sedang jomblo. Kalau aku ada di Banjarmasin, itu artinya dia perlu seseorang untuk diajak makan, nonton, rekreasi, atau sekadar berbincang.

Aku mencintainya. Dia tahu itu. Kami pun punya selera yang sama. Tapi ternyata itu belum cukup untuk membuatnya berkata,
“Kita jadian lagi, yuk!”

Atau kata-kata sangat gak romantis yang diucapkannya saat nembak aku,
“Kau tahu kan aku mau ngomong apa?”

Tidak lama setelah aku lulus kuliah dan kembali ke Banjarmasin gantian Rian yang pergi ke Malang untuk mengambil gelar master di bidang hukum kenotariatan. Sebelum pergi aku sempat bertanya kepadanya,
“Adakah yang mau kamu katakan kepadaku?”

Dia tersenyum lalu berkata, ”Let it flow.”
----------

Selain Rian dan Mas Dian sebenarnya masih ada lagi sih tapi… sudahlah! Aku lagi enjoy berkarir.mengisi waktu senggangku dengan belajar masak dan menjahit, mengisi hari liburku dengan travelling, dan tentunya menghadiri pesta pernikahan sahabat atau kawan-kawanku yang satu-persatu meninggalkan masa lajangnya. Beberapa bahkan sudah memiliki anak.

“Kapan merit, Rin?”
“Aku tunggu undangan perkawinanmu loh!”
“Aku harap kamu sudah menikah sebelum aku punya anak kedua.”

Gals, kenapa malah kalian sih yang ribut? Keluargaku fine saja tuh dengan statusku sebagai single happy.

“Kalau mau menikah jangan asal pilih suami. Kata orang Jawa, lihat 3Bnya. Bibit, bebet, bobot. Masalah jodoh Allah yang paling tahu. Mintalah petunjuk dari-Nya agar dipersatukan dengan orang yang tepat diwaktu yang tepat,” Mamaku justru mengatakan itu. Abahku juga. Julakku juga. Acilku juga. Bahkan kai dan niniku pun mengatakan hal yang sama. Beruntunglah aku dan 6 gadis lajang lainnya di keluargaku yang gak perlu hidup dengan tuntutan untuk segera menikah.
----------

Hari ini umurku tepat 25 tahun.

Aku pernah berharap di usia inilah aku menikah. Aku sudah pintar memasak, pintar menjahit (aku perlu lemari yang lebih besar untuk semua pakaianku!), yach, walau masih kurang suka mencuci piring.

Hari ini menjadi hari Minggu yang membahagiakan buatku.

Sejak lepas tengah malam satu-persatu sahabat dan kawanku mengucapkan selamat ulang tahun. Via telepon, SMS, e-mail, facebook, via apapun deh yang bisa membuat mereka menyampaikan ucapan selamat ulang tahun padaku (termasuk datang ke rumah dengan membawa kado ulang tahun). Tapi yang membuatku sangat bahagia adalah kedatangan sepasang suami-istri (dan ketiga anaknya yang menunggu dengan harap-harap cemas di teras rumah).

Keluarga Rian? Aku memang dekat dengan keluarganya. Tapi Rian hanya dua bersaudara. Rian pun masih di Malang, dalam proses menyelesaikan tesisnya. Lalu siapa?

“Rina belum terikat dengan pemuda mana pun kan?” tanya Sang Mama kepada orang tuaku, terkhusus kepadaku.
“Belum, Ma.”

Well, semenjak kenal aku memang memanggil Sang Mama dengan sebutan “Mama”. Akupun pernah berharap beliau akan menjadi mamaku. Mama mertuaku. Tapi harapan itu sempat kukubur dalam-dalam. Rasanya seperti ingin menjangkau bintang apa daya tangan tidak sampai. Bintang itu berjuta tahun cahaya jauhnya dari bumi. Sedangkan tanganku sepenggalah saja tidak sampai (^.^v). Kedatangan keluarga itu ke rumahku tepat di hari ulang tahunku untuk membicarakan hal yang sangat serius benar-benar memekarkan harapan itu lagi.

“Kami kesini dengan harapan dapat meminang Rina untuk anak kami, Rahman,” beitu kata Sang Abah.

Ka Rahman. 26 tahun. Eksekutif muda yang karirnya sedang melejit. Hobi olahraga (sama kayak Rian), cakep (Rian jelek!), santun (Rian tuh agak urakan, tapi keduanya sama-sama gokil), sholeh (Rian juga c!).

Kisah kami berawal di Malang, 3 tahun yang lalu. Saat itu kami sedang sama-sama berjuang agar judul skripsi yang kami ajukan diterima. Aku kuliah di jurusan geografi, Ka Rahman di jurusan teknik industri, di perguruan tinggi yang berbeda. Kami dikenalkan oleh seorang kawan. Kawan kami itu bilang seperti ini waktu itu,
“Kalian kan satu daerah. Karena sebelumnya tidak saling kenal, alangkah baiknya kalau kalian menjadi saling kenal.”

Hubungan kami baik dan cukup akrab. Apalagi kawan kami itu begitu niat menjodohkan kami. Tapi lama-kelamaan hubungan kami hambar. Mungkin Ka Rahman tidak merasa cocok denganku, padahal disaat yang bersamaan aku jatuh cinta kepadanya. Terasa konyol jika aku menutup hatiku hanya karena berharap dapat bersatu lagi dengan Rian. Aku bahkan membuang jauh harga diriku dengan mengatakan “Aku mencintai Kakak” pada seorang pemuda yang baru kukenal sebulan. Tapi cintaku tidak berarti baginya. Bahkan sampai 2 tahun setelah kejadian itu.

Beruntung, aku sempat berkenalan dengan adiknya. Kami menjadi akrab karena sering saling curhat. Ketika ada kesempatan, kami pun menyempatkan untuk bertemu. Makan, nonton, hingga akhirnya aku berkenalan dengan kedua orangtuanya. Mungkin adiknyalah yang bilang bahwa sampai saat ini aku masih lajang. Masih menanyakan keadaannya. Masih mencintainya.

“Bagaimana, Rin?” tanya orang tuaku. Tanya orang tua Ka Rahman.

Walau tidak berucap sepatah kata pun, aku yakin orang tuaku dan orang tua Ka Rahman tahu jawabannya. Pipiku yang bersemu merah dan senyum bahagia yang kusunggingkan malu-malu menjadi tandanya.

“Rina mau menikah dengan Ka Rahman.”
“Alhamdulillah.”