Friday, April 21, 2017

Setengah Hari City Tour Malang

Senin, 17 April 2016
Mumpung Anggun (sahabat baper bareng, hahaha…) lagi di Malang, kami berencana untuk merealisasikan satu per satu travel bucket list kami. Sebenarnya, ada beberapa objek yang ingin kami datangi. Namun, karena sesuatu dan lain hal, hanya tempat yang akan kuceritakan ini yang bisa kami datangi bersama. (T.T)
Kalau ingin city tour di Kota Malang asyiknya kemana saja? Aku, Anggun, dan Dewi yang sebelum ini pernah tinggal di Malang setidaknya selama 4 tahun (kuliah) cukup memutar otak. Setelah makan siang di Warung Orem-orem Jalan Blitar, samping kampus a.k.a Universitas Negeri Malang gerbang Jalan Semarang (yang ternyata terkenal di kalangan teman-teman kuliah semasa S1 namun aku tahunya baru-baru saja), kami memutuskan untuk pergi ke Kampung Wisata Jodipan (kampung warna-warni) + Kampung Tridi, lalu ke Museum Musik Indonesia (MMI).
Anggun memang belum pernah ke Kampung Wisata Jodipan dan Kampung Tridi yang beberapa waktu ngehits banget di dunia maya (sekarang bermunculan kampung serupa, termasuk Kampung Pelangi di Kemuning, Banjarbaru, Kalimantan Selatan). Untuk MMI, kami bertiga belum pernah berkunjung kesana.

Kampung Wisata Jodipan dan Kampung Tridi dilihat dari Jembatan Jalan Gatot Subroto
Kampung Wisata Jodipan dan Kampung Tridi


Kampung Wisata Jodipan (KWJ) atau lebih dikenal dengan nama Kampung Warna-warni merupakan “pemukiman padat” yang sekarang menjadi cantik dan menjadi salah satu objek wisata terkenal di Kota Malang. Pemukiman ini menjadi banyak didatangi wisatawan setelah di cat warna-warni di seluruh sisi termasuk atapnya. Pada dinding-dindingnya pun terdapat berbagai lukisan mural yang membuat kampung ini semakin indah dilihat dan dipotret.
Berdasarkan cerita dan hasil googling, inisiatif menjadikan kampung ini jadi warna-warni berasal dari sejumlah mahasiswa Ilmu Komunikasi Universitas Muhammadiyah Malang yang tergabung dalam kelompok Guyspro. Tujuannya, agar terlihat indah dipandang dan mengubah perilaku membuang sampah sembarang warga yang tinggal di bantaran sungai. Jodipan dipilih karena memiliki landskap yang bagus jika dilihat dari kejauhan (jembatan Jalan Gatot Subroto atau dari jalur rel kereta yang berada di atasnya).



KWJ dilihat dari Jembatan Jalan Gatot Subroto
Begitu juga dengan Kampung Tridi. Setelah banyak yang berkunjung ke KWJ, kampung ini pun turut berbenah. Selain di cat warna-warni, dinding-dinding rumah di kampung ini juga dilukis gambar-gambar mural dan 3 dimensi. Meski kampung ini lebih “baru” dibandingkan KWJ, Kampung Tridi lebih panjang (luas). Jadi, pengunjung akan benar-benar harus melewati jalan gang dan lorong antar rumah penduduk agar bisa menemukan lebih banyak lukisan 3D yang unik-unik dan spot berfoto yang bagus.
Menemukan lokasi kedua kampung yang berada di Kelurahan Jodipan, Kota Malang ini terbilang mudah karena berada tidak terlalu jauh dari Balai Kota Malang dan Stasiun Kereta Api Kota Malang. Lokasi KWJ dan Kampung Tridi berseberangan. Keduanya dipisahkan oleh aliran Sungai Brantas. Untuk mengunjungi keduanya, jika menggunakan motor bisa parkir di KWJ atau Kampung Tridi lalu jalan kaki melintasi jembatan Jalan Gatot Subroto. Kalau menggunakan mobil atau bus sebaiknya tanya penduduk sekitar karena aku gak tahu dan lokasi kedua kampung ini memang berada di area padat penduduk dan pembangunannya memang tidak diperuntukkan untuk objek wisata (memiliki parkir yang luas dan nyaman).



Kampung Tridi dilihat dari KWJ

Jika bisa mengatur waktu kunjungan ke tempat ini, lebih enak datang di hari kerja sih karena pastinya akan lebih sepi. Jadi, kalau ingin foto-foto lebih nyaman memilih spot dan tidak terganggu dengan pengunjung lain yang juga ingin menikmati keunikan kampung ini.
HTM untuk masing-masing kampung ini murah: Rp 2.000,- belum termasuk parkir.




Museum Musik Indonesia

Saat di perjalanan pulang setelah mengikuti PLPG di Solo beberapa bulan lalu, aku satu travel dengan seorang seniman musik (lupa namanya). Beliau bilang alasan pergi ke Malang karena ada acara di Museum Musik Indonesia (MMI). Itu adalah kali pertama aku mendengar di Malang ada museum seperti ini. Akhirnya, kesampaian juga mengunjungi museum musik yang ternyata masih satu-satunya di Indonesia.
Kami mengandalkan google map untuk sampai ke MMI. Sempat berbelok ke arah yang salah di perempatan Jalan Nusa Kambangan, saat mampir ke minimaret untuk beli minum sekalian nanya lokasi MMI ke pegawainya (tapi ternyata gak tahu), kami diberitahu oleh seorang bapak kalau MMI berada di Gedung Kesenian Gajayana.
ruangan Gedung Kesenian Gajayana
Museum Musik Indonesia bertempat di lantai 2 Gedung Kesenian Gajayana yang berlokasi di Jalan Nusa Kambangan No.19, Kelurahan Kasin, Kecamatan Klojen, Kota Malang. Saat sampai disini, suasananya sepi. Tidak ada seorang pun di lantai dasar. Kami menaiki tangga dan akhirnya menemukan ruangan dimana koleksi MMI terpajang.
Kami disambut mas Ari dengan ramah. Sesekali kami mengobrol sambil melihat-lihat koleksi MMI yang saat ini sudah berjumlah sekitar 21 ribu item yang terdiri dari kaset, piringan hitam, majalah, instrumen musik, poster, tiket, busana yang pernah dipakai penyanyi kenamaan saat konser, dan alat pemutar piringan hitam. 80% koleksi ini berupa kaset dan piringan hitam yang beraasl dari hasil perburuan dan sumbangan penghobi musik, musisi, juga masyarakat di tanah air dan mancanegara. Disini juga terdapat panel sejarah musik, photo booth, dan kios souvenir.



koleksi buku MMI
Kami juga berkenalan dengan Pak Hengki Herwanto, ketua sekaligus founder Museum Musik Indonesia yang saat itu sedang asyik menempeli lemari pajangan berisi koleksi kaset dengan label berisi keterangan penyanyi/band dan negara asal produksinya. Koleksi MMI memang berasal dari berbagai negara di semua benua di dunia. Aku saja heboh sendiri melihat kaset Jose Mari Chan, Christian Bautista, dan penyanyi asal Filipina lainnya yang terpajang (aku lagi demam all about Filipina, meski kedua penyanyi ini lagu-lagunya memang sudah lama ada di playlist lagu favoritku). Kata Pak Hengki, MMI awalnya berlokasi di Griya Santa, Jalan Soekarno Hatta. Pindah ke Gedung Kesenian Gajayana karena jangka sewa rumah yang digunakan untuk museum sudah habis dan tidak dapat diperpanjang.

bersama Pak Hengki Herwanto, Ketua dan Founder MMI
koleksi kaset penyanyi/band manca negara
Kami sempat bertanya apakah Gedung Kesenian Gajayana masih dipergunakan untuk pertunjukan seni. Jawabannya adalah jarang. Gedung ini malah lebih sering disewa untuk acara resepsi perkawinan. Entah kenapa jadi jarang digunakan sehingga kondisinya saat ini menurut kami kurang terawat dan hal ini cukup disayangkan. Setidaknya, adanya MMI membuat gedung ini jadi lebih ramai dan bermanfaat.
Meski baru diresmikan pada tahun 2016, MMI sudah ada sejak 8 Agustus 2009 dengan nama Galeri Malang Bernyanyi. Hal menarik di MMI adalah pengunjung bisa mendengarkan koleksi lagu dalam bentuk digital melalui wifi di situs internet menggunakan ponsel atau tablet. Namun, lagu-lagu ini tidak dapat diunduh atau dibagikan karena alasan hak cipta. Sayang, waktu itu baterai ponselku habis sehingga aku tidak dapat mencobanya. MMI juga mendigitalisasi koleksi-koleksi yang dimilikinya sehingga nanti akan semakin banyak lagu yang dapat kita dengarkan disini, terutama lagu-lagu tempo dulu yang kala itu masih berupa piringan hitam. 
koleksi piringan hitam dari berbagai daerah di Indonesia
*yang di rak Kalsel (Tragedi) itu ada yang tahu siapa?! penasaran!
heboh sendiri menemukan koleksi kaset Aaron Carter, hahaha
Kami bertiga yang merupakan generasi kelahiran tahun 1980an dan remaja di tahun 1990an merasa bernostalgia berkunjung ke museum ini (ketahuan deh usia kami sekitaran berapa :p). Kami heboh sendiri saat menemukan kaset dari penyanyi atau band idola. Backstreet Boys, Spice Girl, Westlife, Aaron Carter, Arkarna, Padi, Dewa, banyak!!! Hal lumrah jika bertemu kaset pun aku lakukan: buka kotak kaset, ambil cover albumnya, lihat list dan teks lagu yang disajikan kemudian menyanyikan lagu yang disuka. Sungguh menyenangkan!



rak berisi koleksi piringan hitam dari berbagai negara
MMI buka dari jam 8 pagi sampai jam 10 malam. HTM: Rp 5.000,- parkir gratis!
souvenir yang kudapat saat membayar tiket masuk KWJ, Kampung 3D, dan MMI

Tuesday, December 27, 2016

Kisahku di Haratai 3, Dusun Kadayang, Loksado

Liburan yang berkesan itu ketika pergi ke tempat-tempat yang unpridectable. Hampir terisolir karena akses jalan yang memerlukan skill berkendaraan yang oke, no signal telepon selular, syukurnya ada listrik yang bersumber dari kincir air karena wilayah ini dialiri riam-riam berair jernih yang berhulu di Pegunungan Meratus.
Penduduk yang ramah dan bersemangat membenahi dusunnya agar bisa menjadi tujuan wisata membuat kami merasa nyaman dan tak jera untuk kembali ke dusun ini.

Belum puas! Itu yang kami rasakan sekembalinya dari Haratai 3, Dusun Kadayang, Desa Haratai, Kecamatan Loksado, Kabupaten Hulu Sungai Selatan. Belum banyak yang bisa dijelajahi saat berada disana karena keterbatasan waktu dan kondisi cuaca. Padahal, ada beberapa tempat yang ingin kami datangi sembari membantu mempromosikan dusun ini agar menjadi salah satu tujuan wisata yang bisa dipilih ketika berlibur ke Loksado.
Perjalananku kesana dalam rangka ikut liburannya kakak-kakak dari Kelas Inspirasi Banjarmasin. Mengapa ke Haratai 3? Karena meski pernah mendengar namanya, kami belum pernah kesana. Apalagi Dikun, Pengajar Muda Indonesia Mengajar (PM IM) yang bertugas disana sangat bersemangat menyambut kami.

Sabtu, 24 Desember 2016
Sekitar pukul 7.30 WITA, aku dan Didiel berangkat dari pal 7 (Banjarmasin) menuju Kota Kandangan menggunakan taksi colt. Sepinya penumpang membuat perjalanan kami terasa lama karena supirnya sempat ngetem untuk mendapatkan penumpang dan menjalankan taksinya dengan perlahan. Pak Utar, supir taksi pedesaan yang direkomendasikan Dikun sudah berada di Loksado. Taksi pedesaan lain pun tak terlihat. Alhasil, kami tidak mendapatkan angkutan menuju Loksado yang jumlah dan jam operasionalnya terbatas (hanya hingga sekitar jam 11 pagi).
Ini kali kedua aku mengalami hal ini. Beberapa tahun yang lalu, karena tidak tahu, aku dan ketiga siswaku terpaksa menyinggah pick up yang melintas agar kami bisa sampai di Loksado. Saat itu hari Jum’at. Niat hati ingin naik setelah melaksanakan sholat Jum’at, tak tahunya tidak ada lagi angkutan menuju Loksado. Setelah menunggu cukup lama, alhamdulillah, ada taksi pedesaan menuju Batulicin yang bersedia membawa kami dan berjanji mencarikan angkutan menuju ke Loksado di perjalanan.
“Mampir ke pendopo dulu saja,” kata Darwin, PM IM asal Jakarta yang saat itu berada di Kandangan. Darwin kemudian menjemput di tempat kami turun dari taksi colt. Karena jalur kendaraan umum sudah tidak diizinkan lagi untuk memasuki kota, kami tidak dapat lagi minta turunkan supir taksi di depan pendopo kabupaten.
Gunung Kentawan dari Bukit Langara
foto setahun yang lalu
Setelah beristirahat dan makan siang (hasil membajak alias minta belikan makan pada Kak Ilyas, Kepala Sekolah SMPN 6 Daha Selatan, kakak tingkatku di kampus, heheee…), kami berangkat ke Loksado. Kak Ilyas yang batal ikut karena ada acara keluarga, meminjamkan motornya kepada kami. Alhamdulillah, aku, Didiel, dan Darwin akhirnya bisa berangkat ke Loksado tanpa perlu naik ojek atau carter taksi colt/pick up. :D
Lama perjalanan dari Kandangan ke Loksado sekitar satu jam. Kondisi aspal yang cukup bagus dan kelokan rawan kecelakaan sudah diperbesar agar tidak ada lagi kendaraan yang terjun ke jurang, memudahkan perjalanan kami. Jalur Kandangan – Loksado memang sedikit berbeda dengan wilayah Kalimantan Selatan pada umumnya yang bertopografi datar. Jalurnya yang turun naik dan berkelok membuat pengendara harus berhati-hati saat melewatinya.
Pemandangan yang terlihat juga mempesona. Selain pemukiman penduduk, dapat juga dinikmati pemandangan Cagar Alam Gunung Kentawan yang dilewati aliran Sungai Amandit. Loksado memang bagian dari Pegunungan Meratus yang membentang sepanjang + 600 km2 dari arah tenggara Kalimantan dan membelok ke utara hingga perbatasan Kalimantan Timur.
Sesampainya di Loksado, kami singgah di mess guru yang menjadi posko PM IM. Kami disambut Dikun, Dika, Jajang, dan Asri. Semuanya adalah PM IM yang ditugaskan di Loksado. Para pemuda dari berbagai wilayah di Indonesia yang mengabdikan dirinya selama satu tahun untuk mengajar di wilayah-wilayah terpencil demi menginspirasi dan turut mencerdaskan anak bangsa. Ada juga Row, alumni Sarjana Mendidik di daerah Terluar, Terdepan, dan Tertinggal (SM3T) penempatan Kabupaten Timor Tengah Utara, Nusa Tenggara Barat, asal Kandangan yang juga turut serta menjadi bagian dari Kelas Inspirasi Banjarmasin. Senang dan bangga bisa mengenal mereka dengan baik. Para pemuda penuh semangat dan dedikasi.
riam hanai. sayang saat itu debit sungainya besar
sehingga kami takut menyeberang agar bisa lebih dekat
dengan air terjun yang cukup sering memakan korban jiwa ini
Kami tidak langsung pergi ke Haratai 3. Masih menunggu adikku (ifit) dan Mel yang menyusul berangkat ke Kandangan sepulang mereka bekerja. Besok pagi, dari Kandangan, baru mereka naik ke Loksado.
Mumpung masih sore, aku, Didiel, dan Darwin berjalan-jalan menikmati suasana Loksado yang nyaman. Melihat aktivitas penduduk yang sedang membuat gelang simpai, mengikis kulit batang kayu manis, juga berkunjung ke riam hanai dan riam barajang yang berada di Loklahung.
Aku terbawa suasana, bernostalgia mengenang keseruan kunjungan-kunjunganku sebelumnya ke Loksado. Dua kali sewaktu SMP dengan rombongan PMR SMPN 6 Dahlia Banjarmasin, membolang bersama ketiga siswaku ditemani kak Ughaw dan Roni, dan terakhir saat ikut Festival Bamboo Rafting dengan kawan-kawan South Borneo Travellers dua tahun yang lalu.
riam barajang. foto sewaktu SMP.
pembina PMR kami (alm) Bpk. Etryani suka mengajak kami liburan bersama ke Loksado.
kenangan membolang bersama Ade, Lengga, dan Cahyo.
kangen kumpul berempat karena selain Cahyo, kami sedang sama-sama kuliah di Malang
Malamnya, aku, Didiel, Darwin, dan Dikun menginap di mess Nusantara Sehat yang berada di areal Puskesmas Loksado. PM IM yang lain kembali ke desa mereka sehingga kami hanya berempat. Jadi, tidak apalah sesekali merepotkan Gino, salah satu petugas kesehatan asal Kendari yang saat itu memang lagi sendirian di mess. Berbeda dengan IM dan SM3T yang masa tugasnya selama satu tahun, Nusantara Sehat masa tugasnya lebih lama, yaitu dua tahun.
Saat kami datang, Gino sedang asyik menyiapkan bingkisan kegiatan sunatan massal untuk siswa SD se-Kecamatan Loksado. Gino bercerita, kegiatan ini merupakan bakti sosial yang didanai oleh berbagai pihak sebagai salah satu cara pemerataan akses kesehatan bagi anak-anak yang tinggal di berbagai pelosok desa di Kecamatan Loksado. Kegiatan ini merupakan kerjasama antara Nusantara Sehat, PM IM, dan masyarakat Loksado. Meski saat itu donasi yang masuk belum mencapai target, mereka tetap semangat melaksanakan kegiatan. Sayang, aku tidak bisa menyaksikan kegiatan yang dilaksanakan pada hari Rabu (28/12) karena sudah kembali ke Banjarmasin.

Minggu, 25 Desember 2016
Ifit dan Mel sampai di Loksado dengan menumpang taksi pedesaannya pak Utar. Mereka diturunkan di depan Puskesmas Loksado. Sambil menunggu Dikun kembali dari Kandangan, kami rujakan di teras mess bersama teman-teman Nusantara sehat lainnya.
Kak... belikan rujak! request Darwin pada Ifit dan Mel sebelum mereka naik ke Loksado
Dikun kembali bersama Budi, teman (entah kenal dimana :p), yang juga ingin ikut ke Haratai 3. Gino yang bilang tidak ada rencana kemana-mana libur long weekend ini pun sukses kami ajak ikut serta. Padahal, dia sudah pernah ke sana dan masih akan sering ke sana selama masa tugasnya. :D
Lepas tengah hari, kami berangkat naik motor menuju Haratai 3. Karena jumlah motor yang ada cukup, kami batal minta tolong penduduk untuk mengantarkan. Dikun-aku, Didiel-Ifit, Bayu-Mel, Gino-Darwin. Perjalanan yang kata Dikun akan cukup berat untuk dilalui ini pun kami mulai. Lets go!!!
isi bahan bakar dan cek kekencangan ban motor sebelum berangkat
Ini bukan kali pertama bagi aku, Ifit, dan Didiel pergi ke tempat dengan jalur  yang wow seperti ini. Salah satunya adalah ketika kegiatan Seragam Semangat saat membagikan donasi seragam dan perlengkapan sekolah ke Desa Datar Batung, sekitar satu tahun yang lalu.
Meski cukup lebar, tidak semua jalur menuju Haratai 3 bisa dilalui dengan nyaman. Jarak yang katanya hanya sekitar 7 km tidak dapat dilalui dengan mudah. Jangankan dijalan yang masih berupa tanah berbatu dan tanah liat, jalan semennya pun tidak bisa dianggap enteng. Ini karena jalurnya turun naik ditambah kelokan yang cukup tajam. Kami juga harus melewati beberapa jembatan gantung. Beruntung, saat itu cuaca cerah. Meski hujan turun semalaman, jalan yang kami lalui tidak terlalu becek. Dikun yang sudah sering bolak-balik pun beberapa kali memintaku turun agar kami tidak terjatuh (kalau penduduk sini, boncengan tiga tanpa turun dari motor pun tidak masalah, ckckck).


Aku mengobrol dengan Dikun selama perjalanan. Salah satu isi obrolan kami adalah pertanyaanku ini:
“Sebelum ini, Dikun pernah kah motoran dengan jalur yang kayak ini?”
Dikun berasal dari Palembang. Jadi tidak salah kan ya kalau aku bertanya seperti ini? Meskipun belum setahun di Kalimantan Selatan, Bahasa Banjarnya sudah cukup bagus. Begitu juga Darwin dan Gino.
“Enggak, kak. Disana jalannya datar-datar aja. Paling berlumpur. Jadi, terlatihnya ya disini. Awalnya takut. Tapi, karena sering bolak-balik, sekarang sudah terbiasa,” begitu jawabnya.
Dia juga cerita, kata penduduk, sebenarnya kalau ingin muncak (ke Halau-halau), jauh lebih dekat lewat Haratai 3 dibandingkan lewat Kiyu (Desa Hinas Kiri, Kabupaten Hulu Sungai Tengah). Mungkin karena jalan menuju Haratai 3 masih susah dan bukan jalur yang umum dilewati, jarang ada yang ke Halau-halau lewat sini. (Belakangan baru aku tahu kalau Dikun sudah menginjakkan kakinya di puncak Halau-halau. Keduluan dia, hikss!).
Mel dan Budi sempat terjatuh di salah satu kelokan (yang meski sudah ada namanya, kami menamakannya kembali menjadi “tanjakan iphone” karena iphone Darwin sukses lecet saat menolong Mel). Alhamdulillah, mereka tidak sampai terluka. Kami sampai di Haratai 3 dengan selamat setelah menempuh perjalanan sekitar satu jam.
kalau sudah bertemu dengan jembatan pink ini, tandanya sudah berada di Dusun Kadayang
wajib berfoto disini yaaa.... :D
Tidak lama setelah kami sampai, terlihat rombongan penduduk Kadayang yang baru kembali dari bukit. Hari itu mereka memang melakukan kerja bakti. Bersih-bersih jalur menuju puncak Uyayah yang ingin mereka kembangkan menjadi obyek wisata. Salah satu dari mereka menunjukkan padaku video kegiatan kerja bakti dan pemandangan dari puncak Uyayah. Mereka juga baru selesai membangun sebuah pondok untuk bersantai menikmati keindahan Pegunungan Meratus di jalur menuju puncak Uyayah. Wah, berarti kami pengunjung pertama nih!
Kami sempat disarankan untuk ke puncak Uyayah besok saja. Namun, kami takut besok pagi turun hujan. Belum lagi besok, kami juga harus kembali ke Banjarmasin. oleh karena itu, kami tetap saja pergi menuju puncak. Ingin menyaksikan sunset di puncak, begitu alasan kami.
Akhirnya, kami berangkat menuju puncak Uyayah ditemani Nadia, Iwus, Yudi, dan Sandi. Mereka berempat adalah siswa SDN Haratai 3, sekolah tempat Dikun mengajar. Tidak lupa kami membawa headlamp agar tidak kesulitan berjalan di hutan ketika pulang nanti.
Trekking bersama anak-anak penduduk lokal?! Aku sih sudah bisa menebak bakal tertinggal jauh dengan mereka. Yupz, ini ketiga kalinya aku trekking seperti ini. Sebelumnya, ketika trekking ke puncak Bukit Ambilik di Desa Batu Panggung dan ke Gua Batu Sawar. Saat aku berjalan dengan ngos-ngosan di tanjakan atau berjalan perlahan agar tidak terpeleset di jalan menurun, bisa-bisanya anak-anak ini melewatinya dengan berlari dan tertawa riang gembira. Mereka yang sejak baru lancar berjalan sudah ikut orang tuanya berhuma di ladang ini memang tidak diragukan lagi kecepatan dan kekuatan kakinya. Kadang, aku merasa tawa mereka mengejek kelambananku.
Setelah melewati hutan, kebun karet, dan huma (sawah di perbukitan), bukit-bukit karst Pegunungan Meratus semakin dekat di depan mata. Kami sampai di depan mulut gua yang katanya menjadi salah satu tempat persembunyian Brigjen Hassan Basry saat perang gerilya. Brigjen Hassan Basry memang pahlawan kemerdekaan Indonesia yang berasal dari Kandangan. Beliau pula yang memproklamasikan kedudukan Kalimantan sebagai bagian dari Republik Indonesia yang kemudian dikenal sebagai Proklamasi 17 Mei 1949 (Proklamasi Kalimantan).
salah satu mulut gua Hassan Basry
Gua Hassan Basry, begitu penduduk Haratai 3 menyebutnya. Berbeda dengan gua Batu Hapu, Sawar, atau Kudahaya yang memiliki ruangan berukuran besar dan langit-langit yang tinggi, gua ini lorongnya pendek dengan ruang yang tidak terlalu besar. Mulut gua masuk berukuran kecil, membuat setiap orang yang ingin memasukinya harus merayap terlebih dahulu. Mulut gua keluar juga kecil, bahkan harus memanjat. Jika tidak hati-hati dan masuk tanpa alat pengaman, bisa saja kepala tersantuk, bahkan membuat ornamennya patah.
Akses masuk dan keluar gua bisa dilewati dengan mudah dengan menyisir sisi bukit. Tanpa perlu masuk ke dalam gua, ornamen-ornamen gua yang berupa stalagtit dan pilar batu tetap bisa dilihat. Meski bau guano (kotoran kelelawar) tidak menyengat, terdapat guano di lantai gua yang lembab dan basah.
Ketika aku mengobrol dengan penduduk Haratai 3, mereka sendiri ternyata tidak banyak yang pernah memasuki gua ini. Oleh karena itu, menurutku sayang jika gua ini nantinya dimasuki banyak orang. Gua Hassan Basry cukup dinikmati dari luar dengan diberi papan informasi mengenai kisah sejarah yang pernah terjadi di gua ini. diperlukan juga papan informasi untuk mengedukasi warga dan pengunjung akan pentingnya menjaga kelestarian kawasan karst dan gua agar tidak rusak. Apabila ingin memasukinya untuk kepentingan tertentu, misalnya untuk pemetaan dan identifikasi gua, dapat menghubungi kepala dusun untuk meminta izin.
Gua Hassan Basry memang bukan gua Altamira, Spanyol, yang harus ditutup agar lukisan-lukisan prasejarah di dinding guanya tetap terjaga dari nafas dan sentuhan manusia. Tapi, tindakan preventif perlu dilakukan sebelum terlambat. Selain gua Hassan Basry, bisa saja masih banyak gua-gua yang lebih besar di sekitar Haratai 3 yang cocok dijadikan gua wisata atau gua minat khusus.
Kalimantan Selatan memiliki kawasan karst yang cukup luas, termasuk di dalamnya gua-gua yang masih perlu diidentifikasi. Perlindungan kawasan karst dan gua-gua yang ada di Kalimantan Selatan pun perlu dilakukan. Ini karena gua memiliki peran penting bagi kehidupan manusia, baik sebagai gudang air tanah potensial, fasilitas penyangga mikro ekosisten yang sangat peka dan vital bagi kehidupan makro ekosistem di luar gua, laboratorium ilmiah, obyek sosial budaya, maupun sebagai indikator perubahan lingkungan karena gua sangat sensitif dengan perubahan kondisi lingkungan di sekitarnya.
mehanyari pondok :D
Hari mulai gelap. Kali ini, kami tidak ingin memaksakan diri ke puncak Uyayah dan memilih untuk pulang. Kami mampir sebentar di pondok yang baru dibangun penduduk saat kerja bakti tadi. Sayang, harinya mendung. Padahal, dari pondok, selain bisa melihat Bukit Kentawan dan bukit-bukit lainnya, juga bisa menikmati matahari tenggelam. Perjalanan pulang kami pun sempat diwarnai hujan. Untunglah hanya rintik. Jadi, kami tidak sampai basah kuyup saat sampai di rumah.
Sesampainya di rumah, kami mandi, makan malam, dan mengobrol dengan Pak Mudin sekeluarga juga beberapa warga yang mampir. Mereka menanyakan pendapat kami tentang pondok buatan mereka dan kesan setelah pergi ke puncak tadi.

makan malam. baras gunungnya harum dan nyaman banar, jar Didiel!
Kami menginap di rumah Pak Mudin, keluarga angkat Dikun. Pak Mudin memiliki seorang anak laki-laki bernama Pani. Meski di desa ini hanya terdapat sebuah SD, Pani bersekolah hingga jenjang sarjana. Anak-anak dusun Kadayang memang harus berjuang jika ingin bersekolah ke jenjang yang lebih tinggi. SMP terdekat berada di Loksado, ibukota Kecamatan. SMK terdekat memiliki jarak yang lebih jauh lagi. Jika ingin melanjutkan ke perguruan tinggi, minimal ke Kandangan, ibukota kabupaten. Pani bagi kami adalah pemuda yang hebat. Pani merupakan Sarjana Pendamping Desa yang bertugas di Desa Haratai, desanya sendiri. Semoga nantinya lebih banyak lagi pemuda Haratai 3 yang dapat bersekolah tinggi dan membangun desanya.
Dusun Kadayang berpotensi menjadi destinasi wisata. Hanya saja, dengan kondisi jalan yang penuh tantangan untuk melaluinya, memerlukan kerja ekstra untuk mengembangkannya. Ada baiknya dibuatkan paket ekowisata dengan melibatkan penduduk desa. Jadi, produk wisata yang dijual sudah sepaket mulai dari penjemputan di Loksado, guide, akomodasi, beragam destinasi (alam, budaya, dan kehidupan sehari-hari penduduk), oleh-oleh (gelang simpai, kayu manis), hingga kembali lagi ke Loksado. Ketika kondisi jalan sudah bagus dan aman untuk dilewati pengunjung seperti halnya jalur menuju Haratai 1, maka semakin mudah menjadikan Dusun Kadayang sebagai desa wisata yang banyak dikunjungi wisatawan.
“Bawaan kalian banyak sekali. Kayak orang mau pindahan. Kalau kesini lagi cukup bawa pakaian ganti. Ada banyak bantal dan selimut disini,” kata istri Pak Mudin melihat carier/backpack kami yang selain berisi pakaian juga kantung tidur, jaket tebal, bahkan bantal tiup.
Mandi malam dan bolak-balik ke pejijipan ternyata tidak membuat kami menggigil. Bahkan, meski semalaman hujan, suhu udara di desa ini tidak sedingin yang kami bayangkan (membandingkannya dengan pedesaan di sekitar Bromo, Ijen, atau Dieng sih… hehehee).
sedang libur sekolah, jadi bisanya ya berfoto di halaman sekolah bersama salah satu gurunya :D
foto by Iwus, bocah yang antusias menyambut kami selama berada di Haratai 3
Keesokan paginya, kami berjalan-jalan di sekitar dusun. Mampir ke SDN Haratai 3 yang jumlah siswa seluruhnya hanya 36 orang, melihat huma salah satu warga dan berfoto disana, juga menyapa penduduk yang kami lewati. Disini juga ada air terjun. Tapi, berbeda dengan air terjun haratai, riam barajang, riam hanai, atau rampah manjangan. Oleh penduduk, air terjun di desa ini tidak dibuka untuk kegiatan wisata karena menjadi sumber air bersih bagi mereka.
Nyaman rasanya bisa menikmati suasana pedesaan yang sejuk, tenang, dan jauh dari kemacetan. Kami bertanya pada Dikun apakah dia betah tinggal di Haratai 3. Jawabnya, “Betah, kak. Bahkan, kalau nanti balik ke Jakarta atau pulang ke Palembang, aku harus adaptasi lagi karena sudah terbiasa dengan kehidupan di sini.”
bersama Pak Guru Dikun, guide Dusun Kadayang :D
Aku pernah melakukan pengabdian seperti ini. Tapi hanya tiga bulan, sewaktu mengikuti KKN percepatan penuntasan WAJAR DIKDAS 9 Tahun di Kecamatan Kalipuro, Kabupaten Banyuwangi. Itu juga seringnya tinggal di Kalipuro, ibukota kecamatan yang hanya selama 15 menit perjalanan ke Kota Banyuwangi. Hanya sesekali tinggal di rumah “induk semang” yang amat telaten mengurusi keperluan hidup kami sehingga, setiap kali kembali ke posko di kecamatan, badan terlihat lebih montok karena tidak pernah kekurangan makanan. Hahahaa…
sebelum pulang, berfoto bersama tuan rumah yang sudah
menyambut kami dengan ramah
kalau berkunjung kesini jangan lupa isi buku tamu, yaaa.... :)
Jauh dari keluarga, tinggal di tempat yang asing, beradaptasi dengan budaya, dan berusaha disukai masyarakat agar program yang direncanakan dapat berjalan, semua itu tidaklah mudah. Tapi, jika dijalani dengan enjoy, suka duka itu jadi cerita hidup yang penuh kesan dan takkan terlupa. Namun, jika harus menetap dalam waktu yang lama di daerah 3T, sepertinya aku akan berpikir seribu kali. Menurutku, akan jauh lebih baik jika pemuda seperti Pani lah yang disekolahkan setinggi mungkin untuk kembali dan membangun kampung halamannya.
Perjalanan kami kali ini bukan mengejar obyek wisata. Obyek hanya bonus. Utamanya, kami berkunjung ke tempat ini untuk bersilaturahmi dan refreshing. Menghirup udara sejuk Pegunungan Meratus dan melihat kehidupan penduduk setempat. Syukur-syukur kunjungan kami memberi kesan bagi penduduk Haratai 3, seperti kami mendapat kesan yang baik atas sambutan mereka selama kami disana. Terima kasih.

Traveling – it leaves you speechless, then turns you into a storyteller.
Traveling – it offers you a hundred roads to adventure and gives your heart wings!

Kata-kata Ibnu Batuta ini memang benar adanya. Ada banyak cerita dan pengalaman hidup yang bisa didapat dengan kita melakukan perjalanan. Hal-hal yang kita temui inilah yang memperkaya hidup, mendewasakan, juga membuka wawasan. Dusun Kadayang, Haratai 3, menambah ceritaku akan hal ini.
quote by Pak Altaman, mantan Kepsek SDN Haratai 3 yang dipajang di dinding ruang guru
 Pesan moral yang ingin kusampaikan dalam perjalanan kali ini adalah jangan pernah meremehkan kendaraan dinas (plat merah) dan pengendaranya. Lucu juga menyadari empat buah motor yang kami pakai semuanya adalah motor dinas. Dua diantaranya (motor dinasnya Dikun dan Gino) sudah menjelajahi berbagai wilayah Loksado, termasuk Haratai 3 yang jalurnya termasuk yang paling wow. Dua diantaranya (motor dinasnya Dikun dan Darwin) adalah motor yang dibelinya entah kapan karena modelnya keluaran lama. Hahahaaa…. Tapi motor-motor inilah yang setia menemani pengendaranya menjalankan “tugas negara” demi mencerdaskan anak bangsa dan menjaga kesehatan seluruh warga dalam segala cuaca dan suasana.
puncak Uyayah yang belum sempat kami datangi
Kami berencana melakukan kegiatan bakti sosial berupa penggalangan dana dan buku untuk membangun taman baca Dusun Kadayang. Resminya akan kami informasikan nanti setelah persiapan untuk kegiatan ini direncanakan dengan baik. Nanti kalian ikut berdonasi, ya! J

Tuesday, November 22, 2016

PLPG di Surakarta

Tuhan memiliki cara sendiri untuk menemukanmu dengan orang-orang baru yang mampu membuatmu tersenyum dan laugh uncontrollably*

sayang gak semuanya terkumpul buat foto bareng
Surakarta. Ini kali kedua aku menginjakkan kaki disana. Meski lagi-lagi bukan untuk berwisata.

Rabu (9/11) subuh, travel yang membawa aku, kak Ilham, dan Wahyu sampai di Riyadi Palace Hotel, tempat kami akan mengikuti Pendidikan dan Latihan Profesi Guru (PLPG) sebagai prasayarat mendapatkan sertifikasi guru selama sepuluh hari. Karena belum bisa check in, kami beristirahat di musholla hotel untuk sholat subuh dan rebahan sebentar.
Pagi itu, kami mendapat pemandangan cukup unik dari jendela musholla. Ada lokomotif lewat di depan hotel. Padahal, Jalan Slamet Riyadi merupakan jalan besar namun di sisi jalannya terdapat rel kereta api yang masih difungsikan (maklum, keberadaan alat transportasi berupa kereta api baru akan ada di Kalimantan Selatan beberapa tahun lagi).
Belum bisa check in, jadi kami pun belum dapat sarapan hotel. Kami bertiga menyisir jalan di sekitar hotel untuk mencari warung yang buka, sambil menikmati pagi di Kota Surakarta (kalau di Malang jam segitu masih mamadar* karena jadwal kuliah kami kebanyakan dimulai jam 8.45 wib, hahahaa….). Sayangnya, belum ada warung yang buka (._.”). Gerobak nasi kucing akhirnya jadi perhentian kami untuk sarapan kala itu. Excited juga sih karena itu kali pertama aku makan nasi kucing. Seingatku, Wahyu habis tiga bungkus. Kak Ilham dua bungkus. Aku sih kalem, satu bungkus (tapi plus bakwan, gorengan, dan milo panas :p).
Tidak lama setelah kami balik ke hotel, resepsionis mempersilakan kami check in. Karena sekamar diisi bertiga, rombongan/kontingen PLPG Kalsel yang terdiri dari empat perempuan dan dua laki-laki akhirnya harus berbagi. Mba Fe, Azimah, dan ka Latifah yang sudah terlebih dahulu datang tetap bertiga. Wahyu dan ka Ilham berdua (yang kemudian sharing kamar dengan pak Andi), aku yang awalnya sendirian kemudian mendapat kawan sekamar yaitu mbak Poni dan mbak Chris.
Pembukaan berjalan dengan lancar. PLPG UNS tahap 3 ini ternyata terdiri dari tiga rombel/kelas. Dua kelas mapel Bahasa Inggris, satu kelas mapel geografi. Kami menjadi satu-satunya kontingen dari luar Jateng-DIY. Berasa spesial sekaligus grogi. Tapi berdoa semoga bisa berbaur dengan peserta lainnya dan dapat mengikuti PLPG dengan baik.
Day by day…. Mengikuti PLPG ternyata tidak semenegangkan yang dibayangkan sebelumnya. Kala itu, aku teringat obrolan dengan mama lewat telepon saat mengetahui bukannya dapat di ULM atau UM, malah PLPG-ku LPTKnya dapat di UNS.
Curhatku ke mama waktu itu: kalau dapat di ULM, aku bisa sekalian pulkam (seperti Anisah, Hayuna, dan Linda). Instruktur/dosen pengajarnya pun aku kenal, jadi tidak mengalami kesulitan untuk berinteraksi dengan mereka. Kalau dapat di UM, selain gak perlu pergi ke luar kota, dosen pengajarnya pun aku kenal karena yang ngajar pastinya dosen-dosen yang pernah mengajariku selama kuliah di UM. Tapi mama malah bilang: ah kamu, pulang melulu yang dipikir. Kan bagus, bisa jalan-jalan ke Solo. Lagian, kamu kan belum pernah belajar di UNS. Kan asyik dapat pengalaman baru.
Mom’s right! (why she always right?!). Mungkin kalau curhat ke abah dijawabnya juga sama. Semakin banyak memiliki tempat untuk belajar, semakin banyak pengalaman yang didapat. Semakin banyak punya guru, semakin banyak ilmu yang didapat.
PLPG ini memberiku hal tersebut. Saat mengikuti kegiatan pendalaman materi (dari Pak Gamal, Bu Rahning, dan Pak Singgih), aku merasa seperti sedang mengikuti perkuliahan. Alhamdulillah, dapat ilmu dari dosen yang luar biasa. Pak Joko yang awalnya kutakuti pun ternyata saat peer teaching amat memudahkan. Peer teaching yang kutakuti pun akhirnya dapat kulalui dengan nyaman. Terima kasih, pak, bu. Senang bisa mendapat ilmu dari kalian meski hanya sebentar.

suasana belajar yang serius tapi santai (^_^)




Berbeda dengan PLPGnya kawan-kawan di ULM yang berasa reunian kuliah, PLPG-ku diisi dengan wajah-wajah yang baru kukenal (selain sesama Kalsel tentunya). Jangankan kawan kuliah (sesama UM), kawan kenal di IMAHAGI pun gak ada. Aku  malah terbilang peserta termuda di kelas karena yang lainnya ternyata banyak berasal dari jalur K2. PNS-nya baru sebentar tapi masa kerjanya (honorer) sudah dimulai bahkan ketika aku masih duduk di bangku sekolah. Lagi-lagi aku diingatkan untuk bersyukur. Ada banyak kemudahan diberikan kepadaku sejauh ini (meski menjalaninya juga gak semudah kelihatannya, hee…). Bahkan, meski sedang tugas belajar, kami diberi izin untuk mengikuti PLPG.
Selama mengikuti PLPG, alhamdulillah gak ada yang jahat sama aku (hehehee…). Selama disana, aku lupa dengan tugas kuliah (termasuk proposal tesis yang belum rampung, hiksss…) dan kerjaan yang deadinenya sebentar lagi. Sukses juga lupa dengan seseorang yang sepertinya ingat kepadaku pun tidak (ngenes!). Kerjaanku di PLPG ya duduk manis mendengarkan instruktur, menahan kantuk (hehehee….), belajar sambil nonton tv/internetan (kalau di kamar), tekun mengerjakan RPP dan media yang akan dipakai untuk peer teaching (halah), dan berbagi cerita, pengalaman, juga ilmu bersama peserta lainnya J. Alhamdulillah, semua baik dan sayang sama aku (kalaupun ada yang gak juga tak mengapa). Bahkan, aku sering digoda karena statusku yang masih single (entah harus senang atau sedih). Pas aku sakit, beberapa orang bahkan menawarkan diri untuk mengeroki punggungku supaya cepat sehat. Thanks untuk semua yang sudah perhatian saat aku sakit (terharu). Spesial thank to mbak Poni, kawan sekamarku, yang tiap pagi bangunin aku dan ngeroki aku dikala sakit. Maaf, mestinya mbak fokus belajar, gara-gara aku nonton film akhirnya keikutan fokus lihat tv. Maaf, meski janjinya menemani belajar akunya malah ketiduran. Heee… (^o^v)

setelah ujian peer teaching geografi rombel 1.3


Seringnya memang saat mau berpisah atau sudah berpisah harga kebersamaan itu baru terasa. Mungkin karena pas awal bertemu masih beradaptasi, saling mengenal, masih jaim-jaiman. Tapi, semoga meski sudah kembali ke daerah masing-masing, berkumpul dengan keluarga dan kembali sibuk dengan rutinitas, silaturahim dapat terus terjaga. Semoga semuanya sukses menjadi guru profesional yang menjadi teladan dan inspirasi tak hanya bagi murid-muridnya, tapi juga bagi banyak orang.

Ulun pasti kaina karindangan lawan bubuhan pian J
Saya pasti akan rindu dengan kalian semua J J J

PLPG Geografi tahap 3 Universitas Sebelas Maret. Surakarta, 9 – 19 November 2016.


Terima kasih untuk keluarga, SMATENERS, GeoSong, kawan-kawan, dan semua yang turut mendoakanku selama mengikuti PLPG. Alhamdulillah, dapat menjalani PLPG dengan baik dan lulus! Love you, all :* J


*laugh uncontrollably (potongan quote pajangan yang ada di AM-PM Café Purwosari, gak jauh dari hotel.
*mamadar (melanjutkan tidur pagi, bangun untuk sholat subuh kemudian tidur lagi, mbangkong lah kalau Bahasa Jawa-nya, heee….)

Geografi Piknik: Pantai Gua Cina, Pantai 3 warna, Kebun Teh Wonosari

Saat itu, di kelasnya profesor cantik, beliau bertanya tentang alasan kami mengikuti program beasiswa yang sedang kami jalani ini. “Piknik!” begitu jawaban salah satu dari kami. Hahahaa…. Jawaban anak geografi banget! Siapa sih anak geografi yang tak suka piknik? *yang jelas bukan aku*
Jawaban tersebut tentu hanya candaan untuk menghidupkan suasana kelas yang mulai diisi pertanyaan: Tesismu tentang apa? Proposalnya sudah sampai mana? Kapan maju presentasi? *langsung speechless.*
Tentu tak ada satu pun dari kami yang mau terbang dari Kalsel ke Malang, pisah dengan keluarga untuk kembali ke bangku kuliah, hanya agar bisa piknik. Tak akan ada yang namanya begadang mengerjakan tugas, panas dingin sebelum presentasi, memutar otak ketika ada diskusi kelas, gelisah karena tugas belum selesai, dan menahan agar mata tak terpejam saat kantuk melanda di tengah berlangsungnya perkuliahan, jika kami tidak serius menjalani program ini. Tapi hari-hari kami juga tak melulu diisi dengan belajar belajar belajar. Ada kalanya kami ‘piknik’ untuk me-recharge semangat dan tenaga, meski tak semua anggota kelas dapat ikut serta.

Pantai Gua Cina
Malang, 24 Juli 2016

Geosong at Pantai Gua Cina
Pantai Gua Cina di Kabupaten Malang, Jawa Timur, tepatnya di Desa Sitiarjo, Kecamatan Sumbermanjing Wetan. Lokasi pantai ini berjarak sekitar 60 km dari Kota Malang dengan waktu tempuh sekitar 2 jam. Untuk menuju Pantai Gua Cina, maka arah yang ditempuh adalah arah menuju Pantai Sendang Biru karena pantai ini berada sekitar 5 km sebelum Pantai Sendang Biru. Petunjuk arah menuju Pantai Sendang Biru cukup mudah ditemui di sepanjang perjalanan dengan kondisi aspal yang cukup baik. Namun karena melewati bukit-bukit maka sebagian perjalanan akan melalui jalan yang berkelok-kelok dan sempit. 
Ini trip pertama kami. Meski tidak semua dapat ikut karena jumlah motor yang ada tidak sebanyak jumlah kami sekelas. Ini pun pertama kalinya aku ke pantai ini setelah sebelumnya hanya menikmatinya dari foto kawan-kawan yang sudah pernah kesana. Pantainya cantik. Bersih. Tapi not recomended untuk berenang karena ombaknya yang besar. Pantai Gua Cina memang menghadap langsung ke laut lepas, Samudera Hindia.
Pantai ini dinamakan Gua China karena di bukit tepi pantai terdapat sebuah gua yang menurut cerita masyarakat setempat digunakan oleh seorang pertapa China untuk bersemedi. Pertapa tersebut katanya meninggal di gua itu. Hal itu diketahui ketika seseorang masuk, hanya ada tulang belulang sang biksu dan tulisan Mandarin di langit-langit gua. Mitosnya, gua ini juga sering dijadikan tempat mencari ‘nomor keberuntungan’, hingga saat ini. Kami tentu tak melewatkan untuk memasuki gua ini. Tapi karena guanya kecil dengan langit-langit yang rendah, kami hanya masuk sebentar kemudian kembali asyik menikmati birunya pantai selatan dengan debur ombaknya yang besar.
Keberadaan tiga pulau yang berada di pantai Gua China membuat pemandangan semakin indah. Tiga pulau itu adalah Pulau Bantengan, Pulau Gua China, dan Pulau Nyonya. Selain berfoto-foto, aku menikmati segarnya angin pantai dengan menggantung hammock. Ah, nikmat rasanya.
Perjalanan kami lanjutnya. Kali ini kami mengunjungi pantai sendang biru yang letaknya tidak berjauhan dari pantai gua Cina. Pantai ini merupakan pelabuhan bagi nelayan tradisional. Perut yang sudah kelaparan membawa kami mampir ke warung makan yang memang banyak terdapat di pantai ini. Sebagai pantai tempat bersandarnya kapal para nelayan, menu yang terdapat di warung-warung sekitar pantai sendang biru apalagi kalau bukan ikan laut! Nyaaaammm…
lanjut ke pantai sendang biru
kelaparan. akhirnya pesta ikan bakar di pantai sendang biru
Menjelang sore, kami kembali ke Malang. Perjalanan kami tutup dengan mampir ke mesjid Tiban di Turen untuk sholat magrib. Masjid ini terkenal dengan sebutan masjid jin. Masjid ini dibangun oleh Romo KH Ahmad Bahru Mafdlaluddin Shaleh Al-Mahbub Rahmat Alam pada tahun 1976. Lokasinya berada di Jalan KH Wahid Hasyim, Gang Anyar, Desa Sanarejo, Kecamatan Turen, Kabupaten Malang. Sebenarnya, bangunan megah ini bukanlah sebuah masjid melainkan Pondok Pesantren yang bernama Pondok Pesantren Salafiah Bihaaru Bahri Asali Fadlaailir Rahmah. Yap, disini selain berwisata religi kita juga bisa menyaksikan kehidupan para santri yang tinggal di pondok pesantren ini.
pulangnya mampir ke mesjid Turen, sekalian sholat magrib

Pantai 3 Warna (Konservasi Clungup)
Malang, 17 September 2016

pantai tiga warna
Pantai tiga warna berada di kawasan Clungup Mangrove Conservation (CMC), Malang selatan yang dikelola oleh lembaga Bhakti Alam, Sendang Biru. CMC ini meliputi pantai tiga warna sebagai obyek wisata utama / pantai pathuk pantai watu pecah / pantai weden rusak pantai savanna pantai mini / pantai toronto pantai gatra pantai clungup pantai teluk asmoro pantai bangsong / juga pantai tomen.  Satu lokasi dengan banyak pantai menjadikan perjalanan ini tidak tanggung-tanggung mengingat lokasinya cukup jauh dari pusat Kota Malang. Sekitar 60 km atau lebih kurang 2,5 jam perjalanan.
Pertama ke tempat ini, aku pergi bersama adik dan adik-adik di asrama Kayuh Baimbai Putra pada 17 Juni 2015 lalu. Karena kami baru sampai di CMC lewat tengah hari, ditambah acara foto-foto, saat itu kami hanya dapat mengunjungi pantai clungup, gatra, tiga warna, dan watu pecah. Beruntung, meski saat itu air sedang surut sehingga terumbu karangnya terlihat di permukaan, kami dapat menikmati keindahan gradasi pantai tiga warna dan dapat mengeksplor bibir pantai lebih luas. Kunjungan keduaku kesana, selain sempat kehujanan di perjalanan, CMC yang semalaman diguyur hujan membuat air pantai keruh dan sampah “kiriman” banyak terdampar di pantai tiga warna.

untuk masuk ke kawasan pantai, terlebih dahulu kita akan melewati hutan mangrove Clungup
pantai gatra
Ada beberapa hal yng perlu diketahui jika ingin berkunjung ke pantai ini.
1.       Harus reservasi/booking terlebih dahulu
Reservasi ini berlaku jika ingin ke pantai tiga warna. Kalau hanya ingin ke pantai clungup dan pantai gatra, tidak perlu reservasi. Reservasi minimal 2 minggu sebelum hari kunjungan dan mereka tidak melayani pemesanan apabila kuota perhari (100 orang pengunjung) telah terpenuhi.
2.       Kamis libur.
3.       Tiket yang dibayar adalah parkir IRD 5k dan donasi untuk 1 bibit mangrove sebesar IDR 10k.
4.       Harus didampingi local guide.
Jika hanya berkunjung ke pantai clungup dan gatra, selain tidak perlu reservasi, juga tidak perlu menyewa local guide. 1 local guide mendampingi maksimal 10 orang (1 kelompok) dengan biaya IDR 100k. Kenapa harus pakai local guide? Karena kawasan konservasi ini luas! Jarak antar pantai harus ditempuh dengan trekking di jalan setapak melewati hutan mangrove, hutan pantai, kebun-kebun. Sebelum memulai perjalanan, local guide akan menanyai apakah ingin rute short trek (langsung ke pantai tiga warna) atau long trek (dapat banyak pantai). Mereka juga yang mengerti kondisi CMC apakah air sedang pasang/surut dan trek yang dilalui aman atau berbahaya (terutama jika datang sehabis hujan lebat).
5.       Batas kunjungan maksimal 2 jam
Selain untuk menunjukkan jalan, fungsi local guide lainnya adalah mengingatkan setiap pengunjung agar tidak melewati batas waktu kunjungan. Hal ini dilakukan untuk menjaga ekosistem pantai tiga warna.
Selama di pantai 3 warna, ada beberapa aktivitas yang bisa dilakukan. Foto-foto (pastinya) di bibir pantai atau dari bukit karang yang ada di sisi pantai. Dari bukit ini kita bisa melihat pantai sendang biru dari kejauhan. Hammocking sambil menikmati angin pantai atau menontoni pengunjung lainnya. Juga snorkeling! Pantai 3 warna memiliki terumbu karang dan ikan-ikan kecil yang cantik. Untuk snorkeling, pengunjung diwajibkan memakai pelampung agar tidak menyentuh terumbu karang. Kedalaman airnya yang cetek (dangkal), bahkan kalau air surut terumbu karangnya ada yang terlihat di permukaan (seperti yang kusebut di awal) menjadikan peraturan ini memang diperlukan. Terumbu karang merupakan ekosistem yang rapuh dan amat penting. Kamu tidak ingin jadi orang yang dicap merusak lingkungan kan tentunya?!
Terdapat persewaan snorkel dan pelampung. Jadi kalau malas bawa alat sendiri bisa sewa di tempat ini melalui local guide.
6.       Tidak boleh camping
Pengunjung yang ingin camping di kawasan CMC tidak diperbolehkan mendirikan tenda dan bermalam di Pantai Tiga Warna. Spot khusus untuk camping adalah Pantai Gatra. Biaya untuk camping/sewa lahan IDR 25k/nite. Jika tidak membawa tenda, disediakan persewaan dengan harga IDR 25k/nite.
with ading-ading FKMB at pantai 3 warna
pantai batu pecah
atas: bersama ading sewaktu pertama kali ke 3 warna
bawah: kedua kali ke 3 warna, sayang pantainya lagi keruh
Apa yang kamu bawa masuk ke Pantai Tiga Warna, itu pulalah yang harus kamu bawa pulang kembali. Termasuk sampai kecil berupa bungkus makanan ringan sekalipun. Begitulah aturan yang ada di CMC terkait dengan sampah. Semua barang yang kita bawa akan di-checklist secara detail oleh petugas. Jadi, ada baiknya untuk membawa kantong kresek untuk menaruh sampah-sampah kecil bungkus makanan atau semacamnya. Aturan sampah di Pantai Tiga Warna sangatlah ketat Jika melanggar aturan ini bersiap-siaplah untuk menerima konsekuensinya. Bisa disuruh kembali ke pantai untuk mengambil sampah atau denda sebesar Rp 10.000 per item (sampah).
Alur untuk memasuki area CMC:
parkir → silahkan berdonasi → checklist barang bawaan → masuk area konservasi → checklist pulang sampah → ambil kendaraan → pulang.


Kebun Teh Wonosari
Lawang, 14 Oktober 2016

kolase foto-foto narsis kami di kebun teh Wonosari
Kebun Teh Wonosari terletak sekitar 6 km dari Kota Lawang dan berada di lereng Gunung Arjuna. Lokasi tepatnya di Desa Toyomarto, Kecamatan Singosari, Kabupaten Malang. Jika dari pusat Kota Malang berjarak sekitar 30 km ke arah utara. Kebun teh ini merupakan agrowisata perkebunan teh seluas 1.144 hektar dengan panorama alam yang indah. Berada di dataran tinggi dengan rentang 950 mdpl hingga 1.250 mdpl, agrowisata ini merupakan satu-satunya kebun teh di Jawa Timur yang dikelola sebagai destinasi wisata.
Akses menuju kebun teh Wonosari cukup mudah meski jalan yang dilalui sedikit menanjak dan berkelok. Perjalanan dapat dilakukan dengan menggunakan kendaraan pribadi maupun kendaraan umum. Jika memilih menggunakan kendaraan umum, rutenya dari Kota Malang yaitu ke arah Surabaya dan turun di terminal Lawang kemudian naik angkot jurusan Wonosari. Saat itu, kami pergi kesana beramai-ramai menggunakan sepeda motor. Sekalian mampir ke rumah kakaknya kak Opy yang berada tidak jauh dari lokasi kebun teh.

mampir di rumah kakaknya kak Opy, disuguhi makanan...nyam :D
Fasilitas yang dimiliki kebun teh Wonosari terbilang lengkap. Bagi yang ingin menginap, terdapat pilihan mulai dari hotel hingga vila dan bungalow. Wahana dan terdapat disana pun beragam. Saat itu, kami bertemu anak-anak dari SDIT yang berasal dari Tuban. Mereka melakukan kegiatan outbond disana. Jauh-jauh dari Tuban, tentu agrowisata ini memiliki kelebihan tersendiri untuk didatangi. Menarik bagi kami tentu saja karena di Kalimantan Selatan tidak terdapat perkebunan teh. Kalau kebun karet, kebun durian, atau kebun kelapa sawit mah banyak!

nge-gym gratisan :p
Selain foto-foto narsis di kebun teh, kami juga mampir menikmati teh di kedai yang ada di sana. Penasaran, aku mencoba teh putih yang dikenal memiliki banyak khasiat. Tak lupa membelikan teh putih siap saji untuk mama yang memang sudah lama minta carikan teh ini (tapi di Banjarmasin gak ketemu). Kami juga memesan seteko teh hijau. Rasanya? Coba sendiri saja deh! J

Jam Buka dan Tiket Masuk Kebun Teh Wonosari
Jam buka: 07.00 WIB
Jam tutup: 17.00 WIB
Tiket Masuk Hari Senin Sabtu: Rp 8.000/orang
Tiket Masuk Hari Minggu/Hari libur: Rp 12.000/orang