Sunday, September 18, 2016

Jatuh Cinta Kepadaku Itu Mudah, Seandainya Kamu Mau


Seandainya kamu mau, kamu bisa mencintaiku
Cukup ada keinginan untuk mengenalku lebih jauh
Bercakap denganku lebih banyak
Membagi cerita keseharianmu kepadaku lebih sering

Maka kamu akan tahu,
Aku menanti kamu untuk berbagi sesuatu denganku
Entah tawamu, sedihmu, harapanmu, masalahmu
Segala hal dari yang penting sampai amat penting
Segala hal dari yang tak penting sampai amat tak penting, mungkin
Seandainya kamu mau
Karena aku akan ada disini, mendengarkan ceritamu

Seandainya kamu mau, kamu bisa mencintaiku
Cukup ada keinginan untuk mengenalku lebih jauh
Bercakap denganku lebih banyak
Membagi keseharianmu kepadaku lebih sering

Maka kamu akan tahu,
Aku menanti kamu untuk berbagi sesuatu denganku
Entah bahagiamu, keletihanmu
Segala hal tanpa perlu kamu sungkan untuk membaginya denganku
Seandainya kamu mau
Karena aku akan ada disini,
Turut gembira pada semua pencapaianmu
Memberi senyum termanisku untuk meredakan kegundahanmu
Takkan berlari meninggalkanmu. Aku ikut, kemanapun kamu pergi.

Aku berusaha menarik perhatianmu, tahukah kamu?
Menanyakan banyak hal tentangmu
Menceritakan banyak hal padamu
Sambil berharap, kamu pun melakukan hal sama kepadaku

Aku berusaha menunjukkan bahwa aku mencintaimu, sadarkah kamu?
Karena jatuh cinta kepadamu itu mudah
Seandainya kamu mau
Jatuh cinta kepadaku itu mudah

(Malang, 18 September 2016)


-----------------------
Sebagian dari kita mungkin ada yang mencintai seseorang karena keadaan sesaat. Karena dia baik, karena dia pintar, even mungkin karena dia kaya. Tidak pernah terpikir apa jadinya, kalau dia mendadak jahat, mendadak tidak sepintar dahulu, atau mendadak miskin.

Will you still love them, then?
That’s why you need commitment.
Don’t love someone because of what/how/who they are.
From now on, start loving someone,
because you want to.
(kutipan dari novel Test Pack, Ninit Yunita)

Sunday, July 31, 2016

Mendaki Halau-halau, Menjarai tapi Rami!

memasuki Kampung Kiyu
“Let us live with our customary forest. We know how to manage and protect it properly and we do not destroy it. We, the Kiyu Dayak, and our forest belong together. To destroy the forest is to destroy our existence. We want to continue to manage our forests sustainably, as we have done for many generations, according to the culture we have in herited from our ancestors. (Biarkanlah kami hidup bersama hutan adat kami, kami tahu cara yang arif dalam menjaga hutan adat kami, kami bukanlah peladang berpindah, pengrusak hutan-hutan. Kami masyarakat Dayak Kiyu adalah satu, rusaknya hutan berarti berakhirnya kehidupan kami. Kami ingin hutan tetap lestari. Biarkan kami hidup secara turun temurun sesuai dengan budaya kami yang kami warisi dari nenek moyang kami terdahulu)”.[1]


Mudik hari raya Idul Fitri kali ini amat berkesan bagiku. Sejenak melupakan tugas-tugas kuliah dengan berlibur di kampung halaman, berkumpul dengan orang tua, saudara, keluarga besar, juga teman-teman kesayangan. Makin seru ketika diajak untuk mendaki Halau-halau, titik tertinggi yang ada di Provinsi Kalimantan Selatan setelah Idul Fitri. Meski bukan anak gunung, pengalaman naik gunung selalu menjadi unforgetable moment bagiku. Hipotermia di Panderman. Baper di Penanjakan-Bromo. Kedinginan di Ijen. Itu saja sih pengalamanku naik gunung. Selebihnya pengalaman mendaki kudapat dari naik bukit* yang memang banyak terdapat di rangkaian Pegunungan Meratus. Capek tapi seru!

Pegunungan Meratus terletak di antara 115°38’ BT – 115°52’ BT dan 2°28’ LS – 20°54’ LS, seakan-akan membelah Provinsi Kalimantan Selatan menjadi dua, membentang sepanjang ± 600 km² dari arah tenggara dan membelok ke arah utara hingga perbatasan Kalimantan Timur. Pegunungan ini berada di wilayah 8 kabupaten di Provinsi Kalimantan Selatan, yaitu: Hulu Sungai Tengah (HST), Hulu Sungai Utara (HSU), Hulu Sungai Selatan (HSS), Tabalong, Kotabaru, Tanah Laut, Banjar dan Tapin.
Pegunungan Meratus merupakan kawasan berhutan yang bisa dikelompokkan sebagai hutan pegunungan rendah dengan keanekaragaman hayati yang tinggi. Beberapa vegetasi dominan, yaitu: Meranti Putih (Shorea spp), Meranti Merah (Shorea spp), Agathis (Agathis spp), Kanari (Canarium dan Diculatum BI), Nyatoh (Palaquium spp), Medang (Litsea sp), Durian (Durio sp) Gerunggang (Crotoxylon arborescen BI), Kempas  (Koompassia sp), Belatung (Quercus sp).
Berdasarkan tipe penutupan lahan, lahan di kawasan Pegunungan Meratus dapat dibagi menjadi tiga, yaitu: Hutan Dataran Tinggi (+ 11.345 ha), Hutan Pegunungan (+ 26.345 ha) dan Lahan Kering tidak Produktif (+ 8.310 ha). Sedangkan berdasarkan pengamatan okuler, sebagian besar tataguna lahan di sekitar hutan lindung Pegunungan Meratus adalah areal perladangan, hutan sekunder hingga semak belukar serta perkebunan rakyat.
Lokasi kawasan hutan yang sebagian besar menjadi hulu Daerah Aliran Sungai (DAS) menjadikan Pegunungan Meratus sebagai kawasan resapan air yang sangat penting bagi Provinsi Kalimantan Selatan. Akan tetapi, kondisi lereng pegunungan yang cukup terjal dan jenis tanah yang peka erosi menjadikannya memiliki nilai kerentanan (fragility) yang tinggi. Oleh karena itu, kawasan hutan Pegunungan Meratus harus dipertahankan sebagai hutan lindungdan dijauhkan dari perusakan.[2]

Jum’at malam (8/7) Sari, Rima, Hendra, dan Ryan sampai ke rumah (Barabai) disusul Arinal dan Arifin. Mereka rombongan dari Banjarmasin yang akan ikut ke Halau-halau. Tak lama setelah kedatangan mereka, kawan-kawan dari Barabai yang akan menemani kami ke Halau-halau berkumpul di rumahku untuk membicarakan teknis keberangkatan besok pagi. Siapa yang jalan di depan, tengah, belakang, juga siapa yang bawa tenda, logistik, dan keperluan lainnya. Rencananya kami akan pergi selama 3 hari meski tidak menutup kemungkinan menjadi 4 hari, tergantung kondisi saat pendakian nanti.
Jam 8 pagi keesokan harinya kami kembali berkumpul di rumahku. Perjalanan ke Kampung Kiyu akan ditempuh sekitar 1 jam perjalanan menggunakan sepeda motor. Total 15 orang yang berangkat. Andry, Arif, Fani, Budi, Rizky, Ocay, Jaraw, Kai, Sari, Rima, Hendra, Ryan, Arinal, Arifin, dan tentunya aku. Kak Asul, Yudi, dan Atus tidak bisa ikut karena ada acara keluarga. Begitu juga adikku dan Didiel yang tidak bisa ikut karena senin harus kembali masuk kerja.

Barabai – Kiyu – Sungai Karuh (Sabtu, 9 Juli 2016)
proses pembuatan gelang simpai
Perjalanan kami sempat terhambat karena motor Andry mogok ditanjakan menuju Kampung Kiyu. Kondisi jalan yang tidak mulus dan berbukit-bukit memang mewarnai perjalanan menuju Kampung Kiyu yang merupakan titik awal pendakian menuju Halau-halau. Sambil menunggu motor Andry diperbaiki, kami beristirahat di rumah Rudi/Dinur, pemuda setempat yang juga guide pendakian ke Halau-halau. Dinur dan saudaranya juga pintar membuat gelang simpai loh. Kami pun menyempatkan diri untuk dibuatkan gelang simpai yang terbuat dari alang am dan rotan. Setelah makan siang dan sholat Zuhur barulah pendakian kami mulai. Saat berada di rumah Dinur, jam tangan Andry yang memiliki pengukur ketinggian menunjukkan angka 91 mdpl.

Gelang simpai merupakan anyaman khas Dayak Meratus yang bisa digunakan pria dan wanita. Pembuatan gelang simpai umumnya langsung dibuat di tangan sehingga jika ingin melepas, gelang harus dipotong terlebih dahulu. Gelang simpai biasanya merupakan salah satu bukti pernah menginjakan kaki di Pegunungan Meratus. Bahan bakunya adalah serat tanaman pakis (biasa disebut Alang Am) yang tumbuh di dalam hutan Pegunungan Meratus. Selain digunakan untuk aksesoris, gelang ini konon dipercaya membawa keberuntungan dan melindungi dari gangguan makhluk halus. Anyaman ini merupakan simbol hubungan atau keterikatan yang menjalin secara bersamaan dan melengkapi satu sama lain yang tidak ada putusnya.
Wilayah Balai Kiyu berada di kawasan kaki pegunungan Meratus sebelah utara, sepanjang Sungai Panghiki dan kaki Taniti (bukit) Calang. Balai Kiyu merupakan satu wilayah adat seluas ±7.632 hektar pada DAS Alai. Secara administratif termasuk dalam wilayah Desa Hinas Kiri, Batu Kambar, Kecamatan Batang Alai Timur, Kabupaten Hulu Sungai Tengah, Provinsi Kalimantan Selatan. Kondisi hutan adat yang ada di wilayah masyarakat adat Balai Kiyu, secara fisik cukup bagus dan kaya akan keragaman hayati. Saat ini sebagian kondisi hutan Adat di Balai Kiyu sedang dalam proses pemulihan. Sebelumnya, kawasan yang merupakan Hutan Adat Kiyu ini menjadi wilayah konsesi perusahaan pengusahaan hutan PT. Daya Sakti. Eksploitasi oleh perusahaan tersebut menyebabkan rusaknya hutan adat. Sejak 1987 perusahaan sudah tidak lagi beroperasi di wilayah Kiyu dan Kabupaten HST setelah berhasil diusir keluar oleh masyarakat.[1]

Perjalanan dimulai dengan menyeberangi jembatan ayun (gantung). Pada awal pendakian ini, jalur yang dilewati sudah berupa jalan yang disemen meski tidak seluruhnya masih dengan kondisi bagus. Kata kawan-kawan, jalur yang kami lewati saat naik merupakan jalur yang relatif baru. Lebih landai meski sedikit lebih jauh dibanding jalur yang relatif lama (pulangnya kami lewat jalur lama, selain lebih curam jalan setapaknya pun lebih sempit).



Setelah cukup penat mendaki, kita akan melihat pondok peristirahatan di lokasi yang cukup luas dan datar. Lokasi ini bernama Puncak Peniti Ranggang. Sinyal telepon selular masih bisa didapat di lokasi ini meski terbatas (setidaknya bisa untuk berkirim SMS dan telepon). Selain mendapati jalur menuju puncak Halau-halau, di Peniti Ranggang ini kita juga mendapati jalur menuju Desa Juhu* yang merupakan desa dengan lokasi tertinggi di Kalimantan Selatan.
salah satu pohon besar yang sering jadi
latar berfoto di pendakian Halau-halau
Perjalanan kembali dilanjutkan. Mendaki dan menuruni bukit, memasuki hutan tropis Pegunungan Meratus dengan pepohonan yang beragam jenis, termasuk melewati padang paring (kumpulan pohon bambu), serta menyeberangi beberapa sungai kembali menjadi jalur yang harus dilalui. Meski ketinggian Halau-halau hanya 1901 mdpl (Panderman 2045 mdpl, Ijen 2799 mdpl, Semeru 3676 mdpl yang tahun kemarin mereka daki, dan Rinjani 3726 mdpl yang pada bulan Mei tadi mereka daki), jalur menuju puncak Halau-halau tidak bisa dianggap remeh. Normalnya, pendakian ditempuh dalam 4 hari. Kampung Kiyu – Sungai Karuh, Sungai Karuh – puncak (PP). Lama waktu tempuh tentu tergantung stamina masing-masing. Karena kami start dari Kiyu sudah kesiangan (sekitar jam 1), aku baru mencapai Sungai Karuh sekitar jam 8 malam. Saat itu aku bahkan sempat berucap: cukup sekali ini naik ke Halau-halau. Capeknya pakai banget!!


Meski masih suasana lebaran, ternyata banyak yang memanfaatkan libur lebaran ini untuk naik ke Halau-halau. Ada yang mendaki dalam rombongan kecil (sekitar 4 orang), sedang (sekitar 10 orang), serta kami  yang mendaki dalam rombongan besar (15 orang). Untungnya di Sungai Karuh kami mendapat tempat yang nyaman untuk mendirikan tenda. Tenda sudah berdiri, acara memasak makan malam pun dimulai. Lapar!!

Sungai Karuh – Penyaungan (Minggu, 10 Juli 2016)
Camp Sungai Karuh merupakan pos/shelter 1 pada jalur pendakian ini. Kita bisa mendirikan tenda juga mendapatkan air bahkan membersihkan diri (mandi) di sungai yang mengalir tidak jauh dari lokasi camp. Terdapat sebuah pondok sederhana yang dapat dimanfaatkan sebagai tempat berkumpul dan beristirahat (di pendakian kami kemarin, sebagian lantai pondok sudah dalam kondisinya mengenaskan/jabuk).
air terjun Sungai Karuh
Kata kawan-kawan, jika musim pendakian (terutama saat agustusan) akan ada beberapa warung makanan yang buka disini. Berada di Sungai Karuh tentu sayang melewatkan kesempatan menikmati keindahan air terjunnya. Entah berapa tepatnya ketinggian air terjun ini. Mungkin sekitar 80 meter. Meski tergolong waterfall addict, sebelumnya aku tidak terpikir bisa sampai ke air terjun ini mengingat jauhnya lokasi dan perjuangan untuk mencapainya. Alhamdulillah, akhirnya aku berkesempatan menikmati langsung air terjun Sungai Karuh yang merupakan salah satu ikon pendakian Halau-halau. Selain berfoto, kami menyempatkan diri membuat video ucapan selamat ulang tahun untuk South Borneo Travellers** yang ke-3.

behind the scene video ucapan ultah 3 tahun SBT
Selesai sarapan dan beres-beres, pendakian dilanjutkan. Pada pendakian hari sebelumnya aku sempat ragu bisa sampai ke puncak mengingat betapa ngos-ngosannya aku trekking untuk mencapai Sungai Karuh. Setelah kakiku dipijat dan istirahat yang cukup, bismillah, pendakian hari kedua pun kami mulai tanpa ada seorang pun yang tinggal di Sungai Karuh. Jam 10 pagi perjalanan menuju puncak dilanjutkan.
Ulalaaaa… baru trekking sebentar kami sudah dihadapkan dengan tanjakan yang seakan tak habis-habisnya. Jalur pendakiannya memang lebih melelahkan dibandingkan jalur Kiyu-Sungai Karuh. Pohon berukuran besar pun semakin banyak terlihat. Selain hutan tropis yang heterogen, lebat, dan berlumut karena lembab, melewati sungai, menyisir jurang, melewati jalur yang turun naik tetap menjadi jalur yang harus kami lalui di pendakian hari kedua ini. Capek pakai bangetnya jadi dua kali lipat!




Pada jalur ini kita juga akan melewati lokasi yang bernama Jumantir. Disini terdapat aliran sungai kecil yang dapat kita gunakan untuk keperluan memasak, wudhu/berseka, dan mengisi botol air minum yang sudah kosong. Pohon-pohon yang tumbang atau berukuran besar menjadi lokasi yang banyak dimanfaatkan untuk beristirahat sejenak. Untungnya kami beriringan dengan pendaki lainnya. Perjalanan hari itu jadi semakin ramai karena ada teman mengobrol lebih banyak. Sesekali kami juga berpapasan dengan pendaki lain yang telah sampai puncak atau penduduk yang pulang dari berburu.
Pendakian kami terhenti di sekitar Simpang Tiga Haraan. Titik ini merupakan persimpangan jalan menuju Halau-halau dari jalur Kiyu (HST) dan Loksado (HSS). Pendakian kami terhenti karena ada hal yang kalau dilogikakan tidaklah masuk akal. Meski kejadian seperti ini mungkin tidak sering terjadi, berada di hutan, gunung, pedalaman Kalimantan pula, sering kali memang menyimpan hal-hal yang sulit diterima dengan akal sehat. Salah seorang anggota kami hilang. Saat aku sampai disana, waktu menunjukkan sekitar pukul 3 sore. Pencarian dilakukan hingga hari mulai gelap. Kami bermalam di Penyaungan, tidak jauh dari Simpang Tiga Haraan untuk kembali melanjutkan pencarian pada esok hari.
Camp Penyaungan merupakan lokasi yang dijadikan pendaki tempat beristirahat bahkan berkemah. Penyaungan merupakan lokasi terakhir untuk mendapatkan sumber air. Ketinggian lokasi camp Penyaungan sekitar 1310 mdpl. Suhu dingin terasa di tempat ini. Jika di camp Sungai Karuh aku yang tidak terlalu tahan dengan suhu dingin bisa tidur hanya menggunakan sleeping bag tanpa mengenakan jaket, menjelang petang, di Penyaungan aku sudah berkostum lengkap (jaket dan kaos kaki, malamnya ditambah mengenakan sarung tangan) untuk menghalau dingin :D

ngecamp di Penyaungan
Kami menghibur diri sambil berdoa supaya anggota kami yang hilang tidak mengalami hal-hal yang tidak diinginkan dan sesegera mungkin dapat ditemukan. Kami juga memutuskan untuk mengakhiri pendakian. Puncak gunung tidak akan lari kemana-mana. Kapan-kapan masih bisa didaki. Namun kehilangan teman merupakan pukulan berat untuk kami.

Penyaungan – Sungai Karuh (Senin, 11 Juli 2016)
Tidak jadi ke puncak, kami membagi rombongan menjadi dua kelompok. Kelompok pertama tetap tinggal di Penyaungan sambil melakukan pencarian. Sisanya kembali ke camp Sungai Karuh sambil mencari lokasi yang terdapat sinyal telepon seluler untuk menghubungi kawan-kawan yang ada di Barabai. Untunglah meski telah kehabisan logistik dia dapat ditemukan dengan kondisi sehat. Sekitar pukul 11 malam, rombongan kami telah kembali lengkap berkumpul di camp Sungai Karuh, ditambah Kak Asul, Dodon, Yudi, Ichunk, dan kakaknya Rudi yang menyusul kami setelah dapat info bahwa kami kehilangan seorang anggota.

Sungai Karuh – Kiyu – Barabai (Selasa, 12 Juli 2016)
Setelah sarapan dan berkemas, kami melanjutkan perjalanan pulang. Kami sempat beristirahat (ngopi-ngopi) di pondok yang ada di Peniti Ranggang. Dari Peniti Ranggang, perjalanan pulang kami sempat diwarnai hujan. Untungnya hujan tidak turun terlampau lama dan lebat.

sebelum hujan turun (at pondok Peniti Ranggang)
Sama seperti di perjalanan turun dari Penyaungan ke Sungai Karuh, lagi-lagi lututku cidera sehingga memperlambat perjalanan kami. Thanks God, kawan-kawan tetap menghiburku selama perjalanan. Mereka bahkan tak jera mengajakku untuk kembali mendaki Halau-halau. Aku yang sempat berujar jera pun jadi ingin kembali lagi ke sini, tentu dengan persiapan yang lebih baik agar tidak lagi mengalami cidera. (o^.^o)v


katanya ini jalur bekas perusahaan kayu yang pernah beroperasi di Kiyu
beristirahat di rumah Rudinur sebelum pulang ke Barabai
Kata kawan-kawan yang sudah pernah ke puncak (Halau-halau), trek dari Penyaungan menuju puncak lah yang paling berat meski waktu tempuhnya tinggal 1-1,5 jam perjalanan lagi. Jika dari Kiyu sampai ke Penyaungan puncak gunung tidak terlihat akibat lebat dan tingginya pepohonan, pepohonan di jalur menuju puncak lebih rendah sehingga puncak gunung dan pemandangan di sekitarnya dapat terlihat. Apabila kita merujuk pada peta, gunung tertinggi di Kalimantan Selatan bernama Gunung Besar. Penamaan Halau-halau konon menurut kepercayaan Suku Dayak Meratus karena gunung ini merupakan tempat dihalaunya roh-roh penganut ilmu hitam agar tidak mengganggu manusia.
Penyaungan tingginya sekitar 1310 mdpl dan Halau-halau ketinggiannya 1901 mdpl. Fiuh, masih hampir 600 meter lagi! Bukit Batas saja ketinggiannya tidak sampai segitu. Terbayang bagaimana beratnya pendakian mencapai puncak. Trek menjadi berat karena tanjakan yang dilalui semakin curam. Oleh karena itu, disarankan tidak membawa banyak barang saat pendakian ke puncak. Bawa seperlunya saja. Sisanya bisa ditinggal di Penyaungan demi kenyamanan saat mendaki ke puncak.
Beberapa waktu lalu, ketika Ega (woodywoodfvcker) ke Halau-halau, dia sempat mengukur ketinggian puncak menggunakan GPS. Saat pengukuran dilakukan, didapat ketinggian Halau-halau tidak mencapai 1901 mdpl, hanya 1765 mdpl. Sedangkan menurut wikipedia, ketinggian Halau-halau adalah 1892 mdpl. Kami tidak bisa turut mengukur ketinggian Halau-halau karena tidak sampai ke puncak. Diperlukan pengukuran lebih lanjut tentang ketinggian Halau-halau. Jika memang ketinggiannya tidak lagi 1901 mdpl, perlu dilakukan penelitian lebih lanjut mengenai penyebabnya.
Oh ya, tidak afdol ke Halau-halau jika tidak bertemu pacat (lintah). Katanya sih begitu. Kalau melihat saja sih lumayan. Tapi kalau digigit?! Ntah kenapa saat itu hanya aku yang digigitnya, padahal aku memakai sepatu dan celana panjang (yang lain pakai sendal gunung dan celana pendek!). Untungnya bukan musim hujan sehingga jumlah pacat yang ada saat itu tidak banyak. Selain pacat, ada lagi hewan yang sering bikin heboh kalau kemping di hutan. Katikih atau salimbada (Lasius fuliginosus). Semut besar satu ini kalau menggigit sakitnya bikin nyeri. Salimbada lebih sering terlihat di malam hari, terutama di sekitar lokasi kita memasak. Pagi hari pun semut ini sering bikin heboh sehingga harus berhati-hati jika membuka tenda, kalau-kalau permukaan tanah di sekitar tenda yang kita dirikan merupakan jalur aktivitas semut ini.

Ada banyak lagi keanekaragaman hewan dan tumbuhan yang ada di jalur pendakian ke Halau-halau. Selain melakukan pendakian memang ada baiknya jika diikuti dengan kegiatan penelitian, ntah mengenai kondisi fisik, keanekaragaman hayati, juga kehidupan masyarakat suku Dayak yang tinggal di wilayah Pegunungan Meratus. Semoga dengan ramainya pendakian ke Halau-halau selain memperkenalkan keindahan Pegunungan Meratus juga membuat kita semakin termotivasi untuk mengeksplorasi dan menjaga kelestariannya.


*Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), gunung adalah bukit yang sangat besar dengan ketinggian lebih dari 600 meter.
**South Borneo Travellers (SBT) merupakan wadah untuk saling berbagi atau bertukar informasi tentang potensi wisata dan budaya yang ada di Indonesia, khususnya di Kalimantan Selatan. Sharing informasi ini terutama melalui media sosial dan juga kopdar SBTers. SBT terbentuk pada 25 Juli 2013.

Referensi:
[1] Andy Syahruji. 2009. Forests for the Future: Indigenous forest management in a changing World. Chapter 5: The Kiyu Dayak Indigenous Community, Meratus, South Kalimantan.
[2] Yasir Al Fatah & Betty Tio Minar/LPMA. 2004. Menggali Kearifan di Kaki Pegunungan Meratus.

Monday, July 25, 2016

Goa Kudahaya, Keindahan yang Tersembunyi dalam Gelap

Minggu, 23 Maret 2016 lalu (late post nih ceritanya), aku bersama beberapa orang teman mendatangi goa Kudahaya. Waktu diajak ke goa Kudahaya, kukira goanya tidak terlalu besar meski terdapat aliran sungai di bawahnya. Bayanganku, di goa ini bisa main air dan tubing seperti di goa Liang Tapah, Jaro, Tabalong, yang kulihat di foto-foto yang ada di sosial media. Ternyata, goa ini punya daya tarik yang lebih besar dari itu.
bentang alam karts yang terlihat dari jalan raya
jalur yang dilewati
 Goa kudahaya berada di Gunung Kudahaya yang menjadi bagian dari Pegunungan Meratus, tepatnya di Desa Cukan Lipai, Kecamatan Batang Alai Selatan, Kabupaten Hulu Sungai Tengah. Tidak banyak informasi yang bisa kudapat tentang goa ini karena memang bukan goa wisata seperti halnya goa Batu Hapu. Katanya, dahulu goa ini pernah menjadi tempat persembunyian  para pejuang dari penjajah Belanda.
Akses menuju goa Kudahaya terbilang sulit karena harus trekking sekitar 1 jam melewati kebun karet dan hutan Pegunungan Meratus. Selain warga sekitar, goa ini umumnya hanya dikunjungi oleh pecinta alam atau pejalan yang suka petualangan. Pengetahuan tentang goa yang masih cetek, pengetahuan fotografi yang seadanya untuk memotret isi goa, ditambah ketiadaan sinyal provider telepon seluler membuatku tidak bisa mencatat koordinat lokasi dan ketinggian goa menggunakan aplikasi android yang aku punya (gak punya GPS), juga mengabadikan keindahan goa ini dengan maksimal.

jalur yang dilewati menuju goa Kudahaya
 

jamur kecil di sekitar mulut goa
Goa Kudahaya memiliki 3 buah ruangan besar dengan sebuah mulut goa di masing-masing ruangannya. Ruangan pertama paling besar dan memiliki banyak stalagtit dengan genangan air di dasarnya. Kusebut genangan karena dinding goa tertutup. Airnya mengalir di bawah permukaan dan muncul lagi di luar goa. Mungkin ada celah kecil di dinding goa tapi tidak terlihat karena saat itu airnya keruh sehabis hujan yang turun seharian pada hari sebelumnya. Bau goano tercium cukup menyengat serta terdapat jamur kecil yang tumbuh berkelompok di  tebing goa. Pada ruangan pertama ini, sinar matahari masih bisa menyinari seisi ruang sehingga tanpa menggunakan penerang tambahan kita tetap dapat menikmati pesona goa ini sambil main air.


Goa Kudahaya
mulut gua di chamber pertama

Sedikit menaiki dinding goa, kita akan memasuki ruangan kedua. Ruangan kedua menurutku yang paling panjang. Ruangan ini terdiri dari zona fotik dan afotik. Pada zona afotik terdapat flowstone yang cukup besar dan masih basah sehingga mengalirkan titik-titik air. Kita juga harus hati-hati melangkah karena dasar goa bagian ini berupa lubang besar dan dalam dengan aliran sungai di bawahnya. Untuk sampai ke zona fotik kita harus berjalan di bagian pinggir lubang. Pada zona fotik, dasar goa berupa tanah kering sehingga kita bisa beristirahat di bagian ruangan ini.

mulut goa Kudahaya chamber kedua
mulut goa Kudahaya chamber ketiga
aliran sungai di dalam goa Kudahaya
Ruangan ketiga yang paling rendah. Untuk sampai ke ruangan ini meski tidak perlu merunduk tetap harus hati-hati dan tetap menyalakan alat penerang karena terdapat banyak stalagtit di langit-langitnya yang rendah. Di ruangan inilah aku melihat flowstone yang tingginya bahkan melebihi tinggi badanku. Aku langsung kegirangan karena ternyata ini adalah flowstone yang fotonya pernah ditunjukkan oleh salah seorang teman cuma dia tidak bilang bahwa fotonya itu diambil di goa ini.
“Aku gak mau bilang nama goanya. Pokoknya kakak ke Barabai dulu, nanti aku ajak kesana,” begitu katanya saat itu. Membuat aku penasaran saja. Ternyata sampai juga aku di goa yang dia maksud meski bukan dia yang menemani aku ke goa ini.

beberapa ornamen gua yang terdapat di goa Kudahaya

  



Dekat mulut goa di ruangan ketiga terdapat depresi dengan aliran sungai yang terhubung dengan sungai di ruangan kedua dan bagian luar goa. Pasti seru kalau bisa menyusuri sungai ini, menggunakan kayak misalnya. Tapi sebelum ada yang terjun kesana dan mengukur kedalamannya, aku cukup berpuas hati melihatnya dari bagian goa yang lebih tinggi dan tidak dialiri air.

coretan yang terdapat di dinding goa
Aku sempat mengabadikan beberapa macam ornamen goa (speleotem) yang ada di goa ini. Kondisi speleotem di goa ini masih bagus. Sayangnya, meski lokasinya cukup terpencil, tidak membuatnya terbebas dari vandalisme. Pada dinding goa di ruangan pertama sudah terdapat coret-coretan menggunakan pilok. Tak habis pikir memang. Jauh-jauh masuk hutan, naik turun tanjakan, melewati genangan air dan batuan kapur, menyisir sungai, belum lagi terinjak, tergores, atau terpegang duri, ranting, juga tanaman jelatang, sempat-sempatnya berpikir untuk meninggalkan jejak yang bukannya membuat goa ini terlihat makin indah tapi justru merusaknya.
Keindahan goa Kudahaya membuatku ingin kembali lagi kesana. Inginnya sih tidak sekadar berkunjung, tapi juga mengeksplorasi/mempelajari lebih jauh tentang kondisi goa ini. Mempelajari ornamen-ornamennya, hidrologinya, biota yang ada di dalamnya, juga potensi dan kebermanfaatan goa ini bagi lingkungan sekitar. Pasti seru! Karena akses menuju goa ini tidaklah mudah, diperlukan persiapan sebelum mendatanginya. Selain bawa perbekalan, jangan lupa bawa perlengkapan caving agar kita safety saat memasuki goa. Pakaian yang dikenakan pun haruslah yang nyaman dipakai beraktivitas di alam bebas, dalam hal ini untuk dikenakan saat caving.

membersihkan diri setelah eksplor goa Kudahaya
Ingat! Bawa kembali sampah yang dihasilkan saat mendatangi goa. Jangan mencoreti ornamen/dinding goa, apalagi merusak/mematahkannya. Goa perlu dilindungi karena dinding, lantai, langit-langit, dan habitat goa mudah rusak. Goa merupakan ekosistem yang rapuh, fitur alam dan budaya yang tak tergantikan, termasuk sumber daya air bawah tanah yang vital bagi sumber kehidupan. Kita perlu menghentikan kerusakan goa yang disebabkan oleh perusak (vandal) dan pengunjung yang belum mendapatkan informasi tentang konservasi goa.

Monday, May 16, 2016

Eksotisme Pulau Sembilan, Kotabaru (part 3)

Perjalanan kami di Kecamatan Pulau Sembilan belum berakhir. Masih ada pulau-pulau yang ingin kami datangi sebelum kembali ke Banjarmasin. Belum juga pulang, perjalanan ini sudah memberikan “oleh-oleh” yang amat berkesan bagi kami. Wajah yang hitam eksotis akibat terbakar matahari saat berjemur di pantai Pulau Pamalikan. :p
Sebelum membaca part 3 ini, yang belum baca part 1 dan 2 silakan dibaca dulu agar dapat mengikuti kisahku dengan komplit. :D


Sabtu, 7 Mei 2016
Kembali ke Pulau Marabatuan

Pulau Marabatuan difoto dari Pulau Payungpayungan
Selain merepotkan Timor, ternyata malam itu kami juga membangunkan bapak dan ibu kost-nya yang mendengar suara orang mandi di kamar mandi bersama di bagian belakang rumah. Kami ber-11 yang saat itu “mengungsi” ke kost Timor memang sedang antri mandi, tengah malam, tanpa kembang! Alhamdulillah, beliau tidak keberatan dengan kedatangan kami bahkan meminjamkan banyak bantal agar kami bisa tidur dengan nyaman malam itu. Aku yang antri paling akhir tertidur tanpa sempat mandi karena kelelahan. Jadi, aku baru mandi pada pagi hari.
Kost Timor cukup unik. Rumah bagian atas menjadi tempat tinggal Pak Haji Sindang, pemilik kost, dan keluarganya. Rumah bagian bawah dibagi menjadi tiga, salah satunya rumah kost Timor. Kusebut rumah karena kost ini terdiri dari satu kamar, dapur, dan ruang tamu. Kalau istilah orang Banjar kost seperti ini disebut bedakan. Kontur pulau yang tidak rata menjadikan pemukiman di pulau ini dibangun mengikuti garis kontur sehingga ada rumah yang berada di bagian atas, tengah, dan bawah pulau. Model rumahnya juga bertiang tinggi khas suku Bugis dan Mandar yang memang menjadi penduduk mayoritas di pulau-pulau berpenghuni di Kecamatan Pulau Sembilan.
Sekitar pukul 7 pagi, setelah pamit dan mengucapkan terima kasih pada Timor, Pak Haji Sindang, dan istri beliau, kami kembali ke dermaga. Tidak jauh dari dermaga ada warung nasi kuning. Kawan-kawan yang tadi malam tidur di kapal telah lebih dahulu berada di sana untuk sarapan. Syukurlah sebagian dari kami tidur di daratan (meski sebenarnya akan jauh lebih baik kalau semuanya tidur di daratan) karena tadi malam angin kencang dan gelombang tinggi disertai hujan yang turun dengan lebat. Jika tidak, akan sulit bagi kami untuk berbagi tempat di kapal.

berfoto bersama masyarakat P. Marabatuan di dermaga
Setelah sarapan, kami bersantai di dermaga. Aku merebahkan badanku menghadap ke perairan untuk melihat berbagai macam jenis ikan yang hilir mudik. Kami juga memanfaatkan kesempatan ini untuk berfoto bersama para penduduk yang bersantai di dermaga. Interaksi dengan penduduk lokal memang hal yang menyenangkan saat berkunjung ke suatu daerah. Dari mereka lah kita akan mendapat beragam kisah dan informasi tentang kondisi daerah tersebut.
Cuaca cerah, laut tenang. Perjalanan kami dilanjutkan. Kali ini tujuannya adalah Pulau Payungpayungan.
Melanjutkan perjalanan ke Pulau Payungpayungan

Pulau Payungpayungan


disebut Pulau Payungpayungan karena bentuknya seperti payung 
P. Payungpayungan
Paket komplit! Kata ini cocok disematkan pada Pulau Payungpayungan yang tidak hanya memiliki perairan jernih bergradasi biru-hijau, tapi juga pantai berpasir putih diselingi batu-batu besar, terumbu karang yang beraneka ragam, serta berbagai biota laut seperti bintang laut, bulu babi, dan berbagai jenis ikan. Namun, lagi-lagi ukuran kapal kami tidak memungkinkan untuk merapat ke pantai. Kami singgah di bagian utara pulau. Jangkar diturunkan di bagian yang lebih dalam dan tidak ditumbuhi terumbu karang.
Untuk mencapai pulau harus ditempuh dengan berenang. Karena cukup jauh, mayoritas dari kami hanya snorkeling di sekitar kapal. Dengan kemampuan berenang seperti yang sudah aku ceritakan, meskipun ingin namun aku memilih untuk snorkeling di sekitar kapal saja.
Penamaan Payungpayungan berasal dari bentuk pulau yang menyerupai payung. Terdapat mercusuar di bagian puncak pulau. Pulau ini menjadi lokasi favorit penduduk lokal untuk berwisata, apalagi lokasinya memang dekat dengan Pulau Marabatuan. Pulau ini dapat didatangi dari Pulau Marabatuan menggunakan kelotok (perahu bermotor). Ukuran kelotok yang tentunya jauh lebih kecil dari kapal nelayan yang kami tumpangi memungkinkannya untuk merapat ke pantai.

underwater P. Payungpayungan
underwater P. Payungpayungan
underwater P. Payungpayungan
Selain Pulau Payungpayungan, posisi kapal kami juga menghadap ke Pulau Anak Payungpayungan dan Pulau Batu Tengah yang letaknya persis bersebelahan dengan Pulau Payungpayungan. Teman-teman yang berenang ke daratan mengabadikan keindahan kedua pulau kecil ini. Hasilnya bikin gigit jari karena cantik banget! Airnya yang dangkal dan jernih membuat seolah-olah sedang berada di kolam alami. Batu-batu berukuran besar ditumbuhi beringin laut menambah pesona keindahan pulau kecil ini.

P. Anak Payungpayungan yang persis bersebelahan dengan P. Payungpayungan
Pulau Anak Payungpayungan
Sambil menunggu teman-teman yang berenang ke darat dan ABK yang juga berenang ke darat untuk memetikkan buah kelapa, kami mendapat kejutan yang sungguh tidak disangka. Dua rombongan lumba-lumba melintas tak jauh dari kapal. Tiap rombongan lumba-lumba tersebut mungkin berjumlah 5-7 ekor. Jumlah ini jauh lebih banyak dibanding yang kami lihat saat menuju Pulau Kalambau.

bonus perjalanan kami, bertemu dengan kawanan lumba-lumba bermigrasi
foto underwater ala-ala berburu putra duyung sebelum melanjutkan perjalanan

Pulau Danauwan

Pulau Danauwan
Sebelum kembali ke Pagatan, kami singgah sebentar di Pulau Danauwan. Pulau ini hanya dihuni oleh penjaga pulau dan merupakan tempat persinggahan penyu untuk bertelur. Karena sudah lelah, hanya Atie yang bercebur untuk snorkeling. Mas Eko, Fathur, Fadhil, bersama kapten kapal dan ABK-nya berenang ke darat untuk bertemu penjaga pulau dan melihat kondisi lokasi peneluran penyu.
Sepenglihatan kami, terumbu karang di perairan ini kurang beragam dan jarang. Pantainya berpasir putih dan jernih. Tiba-tiba Atie berenang cukup cepat. Kami sampai heran hingga akhirnya dia bilang telah melihat hiu yang berukuran cukup besar. Mendengar hal tersebut tentu membuat kami semakin enggan untuk bercebur.
Sebagai pulau konservasi, semoga saja kepentingan ekologi tidak dikalahkan oleh kepentingan ekonomi mengingat pulau seluas 43 ha ini memiliki potensi pasir besi. Jika ingin berkunjung ke Pulau Denawan, bisa ditempuh dengan kelotok karena lokasinya berada tidak jauh dari Pulau Marabatuan.
Sebenarnya ada 2 pulau lagi yang ingin kami kunjungi, yaitu Birahbirahan dan Pandangpandangan yang pada perjalanan kami setahun yang lalu juga tidak dapat didatangi akibat kondisi gelombang laut yang tidak mendukung. Karena lokasinya yang jauh dari wilayah Pulau Sembilan dan keterbatasan waktu yang kami miliki, kedua pulau ini dihapus dari daftar pulau yang akan dikunjungi pada perjalanan kali ini.
Dari Pulau Danauwan, sebelum kembali ke Kota Pagatan kapal singgah sebentar di Pulau Kunyit untuk menambah persediaan air tawar yang menipis. Pulau Kunyit dan Teluk Tamiyang merupakan destinasi perjalananku bersama kawan-kawan South Borneo Travellers tahun lalu. Malam semakin larut, kapal bergerak santai untuk kembali merapat ke Pulau Kalimantan. Karena sudah kelaparan, para chef SBTers selama perjalanan ini kembali beraksi menyiapkan makan malam untuk kami semua.

Minggu, 8 Mei 2016
Pagatan

Saat aku terbangun, kapal sudah merapat di dermaga Pagatan. Saat itu waktu menunjukkan pukul 4 pagi. Bang Ferdy memintaku mengangkut barang bawaan karena setelah ini kami akan beristirahat dan mandi di kediaman Bang Eko sambil menunggu taksi colt yang telah disewa untuk mengantar jemput kami di perjalanan ini.
Paginya kami jalan-jalan di sekitar kediaman Bang Eko yang tak jauh dari pantai. Tujuannya apalagi kalau bukan untuk sarapan. Tengah hari, taksi colt sampai di Pagatan untuk menjemput kami. Meski sempat diwarnai insiden pecah ban salah satu taksi colt dan kami sempat dituduh tidak bayar saat makan siang (di waktu sore) di warung yang tarif harga makanannya pun tidak jelas, kami semua sampai di kediaman masing-masing dengan selamat.
Perjalanan kali ini bagiku amat berkesan. Berkunjung ke pulau terpencil di selatan Kalimantan, bersilaturahim dengan para penduduk dan menikmati keindahan alam yang disajikannya menjadikan perjalanan 4 hari di kapal ini menjadi kisah yang begitu berwarna. Tak peduli hujan, badai, lelah, lapar, susah, senang, bahkan wajah gosong akibat berjemur di pantai semua dilewati bersama SBTers dengan penuh drama, seperti biasanya. :D

Pulau-pulau kecil di Kabupaten Kotabaru memang menarik untuk digali potensinya, baik untuk wisata, konservasi, dan edukasi. Perjalanan beberapa hari saja tidak akan cukup untuk mengeksplorasi pulau-pulau kecil yang tersebar di berbagai wilayah di Kabupaten Kotabaru yang diapit Pulau Kalimantan, Pulau Laut sebagai pulau utama, Laut Jawa, dan Selat Makassar. Semoga potensi ini menjadi perhatian banyak kalangan dan pesonanya selain akan semakin dikenal juga semakin terjaga kelestariannya.

Bagi yang ingin tahu budget kami explore Pulau Sembilan, kami ber-25 sharing cost sebesar Rp 750.000/orang. Biaya itu meliputi sewa taksi colt PP (Banjarmasin-Pagatan), sewa kapal nelayan (Pagatan-Pulau Sembilan), logistik, dan hal-hal tidak terduga seperti bayar kelotok saat kapal tidak dapat merapat ke pulau karena perairannya terlalu dangkal. Untuk peralatan snorkeling, kami yang tidak punya peralatannya sewa pada Bang Ferdy.



SBTers Explore Pulau Sembilan:
Leader dan penyedia perlengkapan snorkeling: Ferdy Aditya (sagita84).
Tim di Dapur, tanpa mereka apalah kami: Stefanus Geslauw (stevengeslauw), Dwi (dwiputri_02), Aulia Meong (auliahasa), Dayat (dayatborneo5).
Deddy Rifaini (deddyrifaini), Adi (adimurdani), Eko Prio Raharjo dan istri, Atie (diyank_atie), Alfian (al_sky), Hafiz (hafizbiru), Lesnie (lesniehartika), Dewi (dewia.ha), Farina (fa_amelia), Fathur (fathur.forester), Zacky (zackichoi), Ayu (sriwahyun11), Faisal, Arif, Ryan (daunhijau__), Azmi, Sintya, Fadhil (f.ausat), Alvin (alvinnulyakin).


Big Thanks to:
Hananto Timor Perdana yang bersedia menjadi host dadakan kami di Pulau Marabatuan, masyarakat Pulau Marabatuan, Pulau Matasirih, dan penjaga Pulau Denawan yang telah menyambut kami dengan ramah.

Dokumentasi cerita ini berasal dari dokumentasi pribadiku dan SBTers Explore Pulau Sembilan.


Bahan bacaan:
Kompas. 2015. Ensiklopedia Populer Pulau-pulau Kecil Nusantara: Kalimantan Selatan Antara Laut Jawa dan Selat Makassar. Jakarta: PT. Kompas Media Nusantara.
KSK Pulau Sembilan. 2015. Pulau Sembilan Dalam Angka 2015. Kotabaru: Badan Pusat Statistik Kabupaten Kotabaru.