Masih ingat dengan komunitas pengumpul koin (duit receh) untuk membantu pendidikan anak-anak kurang mampu bernama Koin untuk Banua (KUB)? Beberapa bulan lalu aku pernah posting blog tentang komunitas yang aku bentuk bersama adik-adik kelasku ini. Alhamdulillah, memasuki Hari Perhitungan Koin (HPK) atau kalau merujuk Coin a Chance yaitu kegiatan Coin Collecting Day (CCD) ke-6, KUB udah banyak kemajuan.
Komunitas kecil yang kami bentuk pada 28 Mei 2011 ini sekarang punya 3 adik asuh. KUB telah beberapa kali melakukan bakti sosial (ke Yayasan Anak Bangsa dan Sekolah Bawang). Dropzone dan donatur KUB juga terus datang silih berganti. Bahkan, KUB telah beberapa kali tampil di media massa (koran, radio, juga TV lokal!). Keren ya?! Hehe…
Tadi pagi, setelah melakukan HPK #6 di car free day Sabilal/Siring Sudirman, tim KUB pergi bareng ke rumah Iman, salah satu adik yang menjadi target KUB (cerita tentang Iman bisa dibaca di sini) untuk survei. Setelah mengetahui lebih banyak tentang kondisi keluarga Iman dan tahu Iman perlunya sepeda baru atau cukup memperbaiki sepedanya yang rusak, kami sepakat untuk membelikan Iman sepeda baru serta memperbaiki sepedanya yang rusak dengan uang donasi dari para coiners (sebutan kami untuk para donatur baik yang nyumbang pakai duit receh ataupun duit kertas) yang telah terkumpul.
Kenapa selain memperbaiki sepeda Iman kami juga membelikannya sepeda baru? Soalnya, sepeda pemberian temannya di sekolah itu meski masih layak pakai tapi sudah kekecilan untuk Iman. Sepeda itu kami perbaiki agar bisa dipakai oleh adik Iman, yang sekarang ke sekolah memakai sepeda lungsuran Kakak Iman -> Iman. Alhasil, terjadi kehebohan kecil saat kami pergi ke toko untuk membelikan Iman sepeda baru. Kami jadi ikut mupenk beli sepeda! Ibnu, Ifit, dan Riani bahkan bergiliran ‘mehanyari’ sepeda baru Iman (maafkan kakak-kakakmu ini, ya Iman). Hahahaa…
oich, ada cerita mengharukan tentang kakaknya Iman. Kakak Iman juga salah seorang siswa yang cerdas di sekolahnya. Ketika akan melanjutkan ke bangku SMA, kakak Iman mendaftarkan diri ke SMF. Dia lulus tes masuk. Juara kedua malah! Akan tetapi, karena diharuskan membayar uang daftar ulang sebesar 5 juta rupiah, dia pun mengurungkan niatnya untuk bersekolah di sana. Sekarang kakaknya Iman bersekolah di SMA PGRI 2. Karena tergolong siswa yang tidak mampu, dia tidak dibebankan untuk membayar uang pendaftaran. Bahkan, untuk meringankan pembayaran iuran sekolah, sepulang sekolah kakaknya Iman bekerja dulu menyapu sekolah, baru pulang. *terharu*
Bagiku, KUB tidak hanya sebuah komunitas yang terinspirasi dari gerakan Coin a Chance yang sudah tersebar di banyak provinsi/kota di Indonesia, juga di Eropa, untuk memberi kesempatan kepada anak-anak tidak mampu untuk mengakses/memperoleh pendidikan dengan lebih baik. Tidak juga sekadar komunitas yang kadang jadi ajang temu kangen para anggotanya (karena terbentuk dan berkembang lewat jejaring sosial). Bagiku, KUB adalah keluarga.
Kami, baik sesama tim, para coiner/donatur, juga adik-adik asuh adalah keluarga. Aku belajar untuk lebih peka dengan keadaan sekitar (meski masih kesulitan menemukan calon adik asuh, hikss!!). Tentunya, aku juga belajar untuk lebih bersyukur serta berbagi nikmat yang diberikan oleh-Nya. Oleh karena itu, aku berharap KUB makin solid dan eksis. Berharap, makin banyak orang Banua yang membantu KUB agar dapat memberikan lebih banyak lagi sumbangsih bagi pendidikan di Banua kita yang tercinta ini.
blog Koin untuk Banua (klik di sini)
Being FA
Colouring My Life with any Kind Story
Sunday, January 29, 2012
Koin untuk Banua: Tidak Sekadar Komunitas
| Reaksi: |
Weekend on Malang
Saat adingku bilang dia dan kawan-kawan sekantor mau berlibur ke Malang saat long weekend (21-23 Januari 2012), tanpa pikir panjang aku bilang kepadanya, “Aku ikut ya!” Apalagi ketika itu mereka berencana untuk singgah ke G. Bromo, tempat yang pernah punya kenangan cukup manis untukku bersama seseorang (meski akhirnya batal karena erupsi G. Bromo yang akhir-akhir sering terjadi).
Setelah menyelesaikan studiku di FMIPA Universitas Negeri Malang jurusan Geografi dan kembali ke Banjarmasin, belum pernah sekalipun aku kembali ke Malang. Jadi, tentulah aku mupenk buat ikutan, apalagi segala akomodasi dari keberangkatan sampai kembali lagi ke Banjarmasin ada yang nanggung (hehe..!!). 2,5 tahun berlalu, ternyata banyak perubahan wajah Kota Malang. Aku pangling! Sampai-sampai ketika mau mampir ke Asrama Kayuh Baimbai Putri (asrama mahasiswa milik PemKo Banjarmasin, salah satu tempat yang pernah kuhuni selama di Malang) kami kelewatan gang! Gerbang gangnya berubah. Di seberang gang yang dulunya rumah dan warung pun sekarang berubah menjadi supermarket. Pusat perbelanjaan semakin banyak, pilihan tempat buat makan dengan harga terjangkau kantong mahasiswa namun tetap bisa kenyang dengan suasana cozy makin beragam, kampus-kampus semakin megah, bahkan toko buku diskon langgananku pun semakin luas. Huuuaaaa….. mupenk pingin kuliah lagi di Malang!
Sebenarnya weekend kali ini lebih banyak kami habiskan di Batu (Jatim Park 1, villa keluarganya Pak Topan yang ga jauh dari pemandian air panas Cangar, dan Cangar). Tapi, karena aku punya misi ingin borong buku di toko diskon langgananku dan mampir ke dojo tempat aku dulu berlatih aikido, aku pun bela-belain numpak angkot dari terminal Batu untuk turun gunung. Fiuh, rasanya naik angkot dari dulu sampai sekarang ga berubah! Sesak, pengap, apalagi karena long weekend Batu jadi macet ga ketulungan. Sukses bikin aku ngantuk dan menjadi teramat lapar!
Aku dijemput Didik (rekan traveling & kuliner di Malang) di depan komplek Bumi Asri (aku sempat tinggal selama enam bulan di sana). Hahaha… saat aku bilang lapar dan mau makan, Didik tahu betul kemana harus membawaku ngisi perut sampai kenyang. SS di SoeHat jadi pilihan. Ini sukses bikin adingku yang tetap bersama rombongan di Batu ngiler abis. Soalnya, warung steak ini salah satu tempat favorit kami berkuliner selama kuliah dulu.
-- kalap belanja buku --
Cuma beberapa jam di Malang tentu ga akan mengobati rasa rindu dengan kota yang kadang dingin banget (terutama ketika musim MABA –mahasiswa baru-) kadang terik banget (sampai harus sering mengoleskan handbody lotion untuk menjaga kelembaban kulit) ini. Meski begitu, aku sukses kalap sampai bangkrut karena borong buku di Toga Mas (mission complete jika saja ada stok buku Manusia Setengah Salmon yang selain aku, siswa-siswaku juga nitip beli karena di sana harganya jauh lebih murah daripada di toko buku di Banjarmasin). Sayangnya, selama di sana aku cuma bisa bertemu dengan Didik, Zami, dan melepas kangen dengan ading-adingku di asrama putri (Wenda, Ovie, Eza, Gitya). Ga ketemu arek-arek volcano community, apalagi dengan dosen-dosen. Semoga secepatnya aku bisa kembali lagi ke Malang. Baik sekadar berlibur atau kuliah lagi di sana. Amin.
-- sebenarnya ini kali pertama aku ke Jatim Park, hahaa... --
Setelah menyelesaikan studiku di FMIPA Universitas Negeri Malang jurusan Geografi dan kembali ke Banjarmasin, belum pernah sekalipun aku kembali ke Malang. Jadi, tentulah aku mupenk buat ikutan, apalagi segala akomodasi dari keberangkatan sampai kembali lagi ke Banjarmasin ada yang nanggung (hehe..!!). 2,5 tahun berlalu, ternyata banyak perubahan wajah Kota Malang. Aku pangling! Sampai-sampai ketika mau mampir ke Asrama Kayuh Baimbai Putri (asrama mahasiswa milik PemKo Banjarmasin, salah satu tempat yang pernah kuhuni selama di Malang) kami kelewatan gang! Gerbang gangnya berubah. Di seberang gang yang dulunya rumah dan warung pun sekarang berubah menjadi supermarket. Pusat perbelanjaan semakin banyak, pilihan tempat buat makan dengan harga terjangkau kantong mahasiswa namun tetap bisa kenyang dengan suasana cozy makin beragam, kampus-kampus semakin megah, bahkan toko buku diskon langgananku pun semakin luas. Huuuaaaa….. mupenk pingin kuliah lagi di Malang!
Sebenarnya weekend kali ini lebih banyak kami habiskan di Batu (Jatim Park 1, villa keluarganya Pak Topan yang ga jauh dari pemandian air panas Cangar, dan Cangar). Tapi, karena aku punya misi ingin borong buku di toko diskon langgananku dan mampir ke dojo tempat aku dulu berlatih aikido, aku pun bela-belain numpak angkot dari terminal Batu untuk turun gunung. Fiuh, rasanya naik angkot dari dulu sampai sekarang ga berubah! Sesak, pengap, apalagi karena long weekend Batu jadi macet ga ketulungan. Sukses bikin aku ngantuk dan menjadi teramat lapar!
Aku dijemput Didik (rekan traveling & kuliner di Malang) di depan komplek Bumi Asri (aku sempat tinggal selama enam bulan di sana). Hahaha… saat aku bilang lapar dan mau makan, Didik tahu betul kemana harus membawaku ngisi perut sampai kenyang. SS di SoeHat jadi pilihan. Ini sukses bikin adingku yang tetap bersama rombongan di Batu ngiler abis. Soalnya, warung steak ini salah satu tempat favorit kami berkuliner selama kuliah dulu.
-- kalap belanja buku --
Cuma beberapa jam di Malang tentu ga akan mengobati rasa rindu dengan kota yang kadang dingin banget (terutama ketika musim MABA –mahasiswa baru-) kadang terik banget (sampai harus sering mengoleskan handbody lotion untuk menjaga kelembaban kulit) ini. Meski begitu, aku sukses kalap sampai bangkrut karena borong buku di Toga Mas (mission complete jika saja ada stok buku Manusia Setengah Salmon yang selain aku, siswa-siswaku juga nitip beli karena di sana harganya jauh lebih murah daripada di toko buku di Banjarmasin). Sayangnya, selama di sana aku cuma bisa bertemu dengan Didik, Zami, dan melepas kangen dengan ading-adingku di asrama putri (Wenda, Ovie, Eza, Gitya). Ga ketemu arek-arek volcano community, apalagi dengan dosen-dosen. Semoga secepatnya aku bisa kembali lagi ke Malang. Baik sekadar berlibur atau kuliah lagi di sana. Amin.
-- sebenarnya ini kali pertama aku ke Jatim Park, hahaa... --
| Reaksi: |
Sunday, January 15, 2012
Ikatan Geograf Indonesia (IGI) Regional Kalimantan Selatan
Tidak banyak yang aku ketahui tentang Ikatan Geograf Indonesia (IGI) meski pernah bertemu dengan Ketua IGI Pusat (Bapak Prof. Dr. H. Suratman, M.Sc) ketika mengikuti kongres Ikatan Mahasiswa Geografi Indonesia (IMAHAGI) di Universitas Gajah Mada 22-24 Februari 2008, hampir 4 tahun yang lalu. Dibenakku, mayoritas anggota IGI pastilah para dosen atau praktisi geografi. Jika pun ada anggotanya yang guru geografi, jumlahnya tidaklah banyak. Untuk mencari informasi tentang keanggotan IGI ini pun relatif sulit.
Ikatan Geograf Indonesia sebenarnya sudah familiar di telinga. Bagaimana tidak, salah satu definisi geografi yang dirujuk di buku-buku perkuliahan/pelajaran berasal dari hasil semiloka Ikatan Geograf Indonesia di Semarang tahun 1988 (Geografi adalah ilmu yang mempelajari persamaan dan perbedaan fenomena geosfer dengan sudut pandang kewilayahan atau kelingkungan dalam konteks keruangan). Tapi yang aku ketahui hanya sampai disitu.
Beberapa waktu lalu aku mendapat join invite menjadi member di facebook IGI Kalsel. Tidak lama kemudian, kawan sesama guru geografi yang alumni Universitas Lambung Mangkurat (UNLAM) mengabariku bahwa kepengurusan IGI Kalsel telah dibentuk dan aku diajak ikut ‘meramaikan’. Tentu saja aku semangat, apalagi aku bukan alumni UNLAM. Menjadi anggota IGI Kalsel membuka kesempatan untukku mengenal ‘geograf’ yang ada di tanah kelahiranku ini.
IMAHAGI membuatku memiliki kawan-kawan sesama mahasiswa geografi dari berbagai daerah di Indonesia (meski aku ikutnya ketika hampir menyelesaikan studi Pendidikan geografiku di Universitas Negeri Malang. Fiuh!). Harusnya aku juga memiliki banyak ‘kawan seperjuangan’ di kampung sendiri kan ya?! Hee… Makanya ketika mendapat tugas mengikuti BIMTEK guru Geografi se-Kalsel aku semangat sekali untuk ikut (meski harus merelakan separuh masa liburan kenaikan kelas. Hikss!). Alhamdulillah, sampai sekarang aku masih saling kontak dengan beberapa kawan sesama guru Geografi pasca BIMTEK tersebut.
Gebrakan dari IGI Kalsel yang baru terbentuk, pada Pertemuan Ilmiah Tahunan (PIT) IGI XV di Universitas Pendidikan Singaraja (UNDIKSA) Bali, 21–23 Oktober 2011 lalu, Pak Nasruddin Luthfi selaku Ketua DPW, salah satu dosen prodi Pendidikan Geografi FKIP UNLAM, memberanikan diri menjadikan IGI Kalsel tuan rumah PIT IGI berikutnya (tahun 2013). Menurutku dan kawan-kawan sih ini nekat. Tapi, semoga PIT IGI XVI ini menjadi pemicu semangat dan optimisme geograf Kalimantan Selatan untuk menghidupkan IGI Kalsel dan ikut serta memberikan sumbangsih terbaik bagi Banua. Semangat yang pernah kulihat ketika kawan-kawan berjuang menghidupkan kembali IMAHAGI Regional dan IMAHAGI Pusat yang mati suri hingga bisa eksis seperti sekarang.
Bagi kawan-kawan alumni yang ingin bergabung dan mendapatkan kartu keanggota IGI Kalsel bisa menghubungi Pak Arif Rahman Nugroho (dosen prodi Pendidikan Geografi FKIP UNLAM). Info lebih lanjut bisa join di dengan meng-add akun facebook IGI Kalsel atau facebook grup IGI Kalsel
Foto-foto kenangan bersama kawan-kawan IMAHAGI
Field Trip to Lab. Alam Parang Tritis on Kongres IMAHAGI 22-24 Februari 2008 di Yogyakarta
Pelantikan Pengurus IMAHAGI Pusat di Universitas Negeri Semarang, 11 April 2008
Bakti Lingkungan menanam pohon bakau dan nyamplung di Kab. Kendal Jawa Tengah, 12 April 2008
Serunya menanam bakau di pantura Kab. Kendal Jawa Tengah bersama kawan-kawan IMAHAGI, 12 April 2008
Ikatan Geograf Indonesia sebenarnya sudah familiar di telinga. Bagaimana tidak, salah satu definisi geografi yang dirujuk di buku-buku perkuliahan/pelajaran berasal dari hasil semiloka Ikatan Geograf Indonesia di Semarang tahun 1988 (Geografi adalah ilmu yang mempelajari persamaan dan perbedaan fenomena geosfer dengan sudut pandang kewilayahan atau kelingkungan dalam konteks keruangan). Tapi yang aku ketahui hanya sampai disitu.
Beberapa waktu lalu aku mendapat join invite menjadi member di facebook IGI Kalsel. Tidak lama kemudian, kawan sesama guru geografi yang alumni Universitas Lambung Mangkurat (UNLAM) mengabariku bahwa kepengurusan IGI Kalsel telah dibentuk dan aku diajak ikut ‘meramaikan’. Tentu saja aku semangat, apalagi aku bukan alumni UNLAM. Menjadi anggota IGI Kalsel membuka kesempatan untukku mengenal ‘geograf’ yang ada di tanah kelahiranku ini.
IMAHAGI membuatku memiliki kawan-kawan sesama mahasiswa geografi dari berbagai daerah di Indonesia (meski aku ikutnya ketika hampir menyelesaikan studi Pendidikan geografiku di Universitas Negeri Malang. Fiuh!). Harusnya aku juga memiliki banyak ‘kawan seperjuangan’ di kampung sendiri kan ya?! Hee… Makanya ketika mendapat tugas mengikuti BIMTEK guru Geografi se-Kalsel aku semangat sekali untuk ikut (meski harus merelakan separuh masa liburan kenaikan kelas. Hikss!). Alhamdulillah, sampai sekarang aku masih saling kontak dengan beberapa kawan sesama guru Geografi pasca BIMTEK tersebut.
Gebrakan dari IGI Kalsel yang baru terbentuk, pada Pertemuan Ilmiah Tahunan (PIT) IGI XV di Universitas Pendidikan Singaraja (UNDIKSA) Bali, 21–23 Oktober 2011 lalu, Pak Nasruddin Luthfi selaku Ketua DPW, salah satu dosen prodi Pendidikan Geografi FKIP UNLAM, memberanikan diri menjadikan IGI Kalsel tuan rumah PIT IGI berikutnya (tahun 2013). Menurutku dan kawan-kawan sih ini nekat. Tapi, semoga PIT IGI XVI ini menjadi pemicu semangat dan optimisme geograf Kalimantan Selatan untuk menghidupkan IGI Kalsel dan ikut serta memberikan sumbangsih terbaik bagi Banua. Semangat yang pernah kulihat ketika kawan-kawan berjuang menghidupkan kembali IMAHAGI Regional dan IMAHAGI Pusat yang mati suri hingga bisa eksis seperti sekarang.
Bagi kawan-kawan alumni yang ingin bergabung dan mendapatkan kartu keanggota IGI Kalsel bisa menghubungi Pak Arif Rahman Nugroho (dosen prodi Pendidikan Geografi FKIP UNLAM). Info lebih lanjut bisa join di dengan meng-add akun facebook IGI Kalsel atau facebook grup IGI Kalsel
Foto-foto kenangan bersama kawan-kawan IMAHAGI
Field Trip to Lab. Alam Parang Tritis on Kongres IMAHAGI 22-24 Februari 2008 di Yogyakarta
Pelantikan Pengurus IMAHAGI Pusat di Universitas Negeri Semarang, 11 April 2008
Bakti Lingkungan menanam pohon bakau dan nyamplung di Kab. Kendal Jawa Tengah, 12 April 2008
Serunya menanam bakau di pantura Kab. Kendal Jawa Tengah bersama kawan-kawan IMAHAGI, 12 April 2008
| Reaksi: |
Wednesday, December 28, 2011
Holiday Trip so Fun, Tired, Lelempoan
Awal liburan sekolah ini aku ikut serta holiday tripnya para guru SMA PGRI 6 ke Kotabaru. Senang banget karena meski ga kenal dengan mereka semua (aku kenalnya cuma sama Helmi -> sesama tentor di PG, dan Ancoy -> sesama guru geografi), mereka welcome banget, menerima aku dalam rombongan holiday trip mereka.
bersama mereka inilah aku berlibur ^_^
Cukup kaget sih pas Helmi sms bilang kalau aku akan dijemput skitar jam 4 pagi. Ckckck… Jadi ingat zaman-zaman kuliah di Malang dimana kalau dapat flight pagi untuk pulang ke Banjarmasin supir travel bakal jemput sepagi buta itu. Alasannya sih biar bisa nyantai di jalan. Bisa mampir-mampir sehingga tidak tergesa-gesa untuk sampai ke tujuan. Kotabaru memang cukup jauh dari Banjarmasin, belum lagi kalau harus menunggu fery penyeberangan untuk menyeberang ke Pulau Laut, tempat Kota Kotabaru berada. Banjarmasin -> Batu Licin = 7 jam. Menyeberang Selat Laut dari pelabuhan di Batulicin (aku lupa nama pelabuhannya) -> Pelabuhan Tanjung Serdang = 45 menit. Tanjung Serdang -> Kotabaru = 1,5 jam. Kalau kata Orang Banjar, rapai tu pank awak (badan terasa amat lelah) selama perjalanan itu. Mana tumben-tumbennya aku mabuk darat di perjalanan (fiuh!).
Karena tidak satu pun dari kami orang Kotabaru, tidak banyak obyek wisata yang Pulau Laut yang kami ketahui. Sepulangnya pun (saat menulis postingan ini), dari internet tak banyak informasi yang bisa aku dapat. Sebenarnya aku pingin ke Pulau Burung (Tanah Bumbu) dan Pulau Sebuku. Tapi, karena rencana liburan ini cuma selama 3 hari, sepertinya tidak cukup untuk menjangkaunya karena letak satu tempat dengan tempat lainnya berjauhan. Jadinya, jika hanya Pantai Sarang Tiung dan Siring Laut Kotabaru dalam daftar trip kami.
*gaya itik lempo (^o^v
Meskipun holiday trip ini melelahkan, syukurnya kawan-kawan travelingku kali ini gokil abis. Ada saja kelakuan atau perkataan mereka yang bikin kami semua tertawa. Makin hepi lagi ketika di Kotabaru aku bisa bertemu kawan-kawanku semasa SMA: sahabatku (Rini twin) yang sekarang jadi guru di sana, si kembar Fadhil dan Washil yang sedang liburan di rumah om-nya. Jadi, holiday trip ke Kotabaru kali ini so fun, so tired, excited (ada horor & tegangnya juga soalnya), juga lelempoan. Pingin cerita lebih banyak tentang trip lelempoan ini sih. Tapi nulisnya capek! (hahaha… padahal karena ada sumting happen juga selama holiday :p). Pokoknya liburannya BERKESAN.
Sedikit info tentang Pantai Gedambaan dan Siring Laut Kotabaru.
1) Pantai Gedambaan (Sarang Tiung)
Pantai Gedambaan terletak sekitar 14 km dari kota Kotabaru, atau tepatnya di Desa Gedambaan, Kecamatan Pulau Laut Utara. Aku pertama kali ke pantai ini 14 tahun lalu dan ternyata ekspektasiku belum jauh berubah tentang pantai ini. Pantainya masih sebersih dahulu.
Saat kami ke sana hujan turun cukup deras. Selain kondisi jalannya rusak (berlubang-lubang), topografinya yang berbukit-bukit cukup menyulitkan perjalanan, terutama jika tidak andal mengendarai motor/mobil. Pantai ini telah difasilitasi dengan cottage (harganya terjangkau kug dan luas satu cottage cukup menampung rombongan berjumlah 10 orang yang oke aja tidur 'numplek' ala pengungsi), mushola, warung makan yang jumlahnya cukup banyak, area parker yang luas, tempat duduk di sepanjang pantai, juga tentunya kamar mandi umum untuk membersihkan diri setelah bercebur.
Dari pantai ini kita bisa melihat banyak bagang-bagang para nelayan di hamparan selat yang terbentang. Jika air surut, akan terlihat laguna-laguna kecil bermunculan. Topografi Pantai Gedambaan memang landai. Saat kami berenang (saat itu air masih pasang), sampai beberapa meter jauhnya dari bibir pantai ketinggian air masih sebatas dada orang dewasa. Makanya ombak di pantai ini kecil karena breaker zone-nya cukup jauh, ratusan meter dari bibir pantai. Asalkan tidak habis hujan lebat disertai angin kencang, anak-anak kecil cukup aman untuk berenang di pantai ini. Kalau dari sisi yang agak mistis, dari banyak orang yang bilang ke aku, daerah ini merupakan daerah kerajaan/kota alam gaib yang bernama Saranjana). Jadi tidak mengherankan kalau beberapa di antara kami ada yang melihat penampakan makhluk alam sebelah meski aku ga tau penampakan yang mereka lihat itu 'penduduk Saranjana' atau bukan.
2) Siring Laut Kotabaru
Posisi siring ini strategis. Tepat di depan pusat pemerintahan Kabupaten Kotabaru. Standar tempat-tempat bersantai keluarga yang ada di Kalsel lah, pasti di sekitarnya bertaburan warung-warung makan. Siring ini memang tidak jauh berbeda dengan Siring Sudirman (depan Sungai Martapura Banjarmasin), siring depan kantor Walikota Banjarmasin (Pelabuhan Lama), siring depan kantor bupati Kab. Batola, atau siring (pelabuhan barang) yang ada di Kuala Kapuas. Tapi, kalau siring-siring yang kusebutkan di atas untuk menahan abrasi/gelombang sungai, siring di Kotabaru ini berfungsi untuk menahan abrasi gemburan ombak laut (selat).
Menurutku, obyek wisata di Kalsel memang belum digarap dan diekspos sebagus obyek wisata di provinsi lain yang pernanh kudatangi (Bali, Jawa Timur, Yogyakarta). Tapi, rasanya belum pas jika kita sering jalan-jalan ke ‘kampung orang’ sedangkan ‘kampung sendiri’ tidak masuk ke dalam list destinasi kita jika ingin mengisi masa liburan.
bersama mereka inilah aku berlibur ^_^
Cukup kaget sih pas Helmi sms bilang kalau aku akan dijemput skitar jam 4 pagi. Ckckck… Jadi ingat zaman-zaman kuliah di Malang dimana kalau dapat flight pagi untuk pulang ke Banjarmasin supir travel bakal jemput sepagi buta itu. Alasannya sih biar bisa nyantai di jalan. Bisa mampir-mampir sehingga tidak tergesa-gesa untuk sampai ke tujuan. Kotabaru memang cukup jauh dari Banjarmasin, belum lagi kalau harus menunggu fery penyeberangan untuk menyeberang ke Pulau Laut, tempat Kota Kotabaru berada. Banjarmasin -> Batu Licin = 7 jam. Menyeberang Selat Laut dari pelabuhan di Batulicin (aku lupa nama pelabuhannya) -> Pelabuhan Tanjung Serdang = 45 menit. Tanjung Serdang -> Kotabaru = 1,5 jam. Kalau kata Orang Banjar, rapai tu pank awak (badan terasa amat lelah) selama perjalanan itu. Mana tumben-tumbennya aku mabuk darat di perjalanan (fiuh!).
Karena tidak satu pun dari kami orang Kotabaru, tidak banyak obyek wisata yang Pulau Laut yang kami ketahui. Sepulangnya pun (saat menulis postingan ini), dari internet tak banyak informasi yang bisa aku dapat. Sebenarnya aku pingin ke Pulau Burung (Tanah Bumbu) dan Pulau Sebuku. Tapi, karena rencana liburan ini cuma selama 3 hari, sepertinya tidak cukup untuk menjangkaunya karena letak satu tempat dengan tempat lainnya berjauhan. Jadinya, jika hanya Pantai Sarang Tiung dan Siring Laut Kotabaru dalam daftar trip kami.
*gaya itik lempo (^o^v
Meskipun holiday trip ini melelahkan, syukurnya kawan-kawan travelingku kali ini gokil abis. Ada saja kelakuan atau perkataan mereka yang bikin kami semua tertawa. Makin hepi lagi ketika di Kotabaru aku bisa bertemu kawan-kawanku semasa SMA: sahabatku (Rini twin) yang sekarang jadi guru di sana, si kembar Fadhil dan Washil yang sedang liburan di rumah om-nya. Jadi, holiday trip ke Kotabaru kali ini so fun, so tired, excited (ada horor & tegangnya juga soalnya), juga lelempoan. Pingin cerita lebih banyak tentang trip lelempoan ini sih. Tapi nulisnya capek! (hahaha… padahal karena ada sumting happen juga selama holiday :p). Pokoknya liburannya BERKESAN.
Sedikit info tentang Pantai Gedambaan dan Siring Laut Kotabaru.
1) Pantai Gedambaan (Sarang Tiung)
Pantai Gedambaan terletak sekitar 14 km dari kota Kotabaru, atau tepatnya di Desa Gedambaan, Kecamatan Pulau Laut Utara. Aku pertama kali ke pantai ini 14 tahun lalu dan ternyata ekspektasiku belum jauh berubah tentang pantai ini. Pantainya masih sebersih dahulu.
Saat kami ke sana hujan turun cukup deras. Selain kondisi jalannya rusak (berlubang-lubang), topografinya yang berbukit-bukit cukup menyulitkan perjalanan, terutama jika tidak andal mengendarai motor/mobil. Pantai ini telah difasilitasi dengan cottage (harganya terjangkau kug dan luas satu cottage cukup menampung rombongan berjumlah 10 orang yang oke aja tidur 'numplek' ala pengungsi), mushola, warung makan yang jumlahnya cukup banyak, area parker yang luas, tempat duduk di sepanjang pantai, juga tentunya kamar mandi umum untuk membersihkan diri setelah bercebur.
Dari pantai ini kita bisa melihat banyak bagang-bagang para nelayan di hamparan selat yang terbentang. Jika air surut, akan terlihat laguna-laguna kecil bermunculan. Topografi Pantai Gedambaan memang landai. Saat kami berenang (saat itu air masih pasang), sampai beberapa meter jauhnya dari bibir pantai ketinggian air masih sebatas dada orang dewasa. Makanya ombak di pantai ini kecil karena breaker zone-nya cukup jauh, ratusan meter dari bibir pantai. Asalkan tidak habis hujan lebat disertai angin kencang, anak-anak kecil cukup aman untuk berenang di pantai ini. Kalau dari sisi yang agak mistis, dari banyak orang yang bilang ke aku, daerah ini merupakan daerah kerajaan/kota alam gaib yang bernama Saranjana). Jadi tidak mengherankan kalau beberapa di antara kami ada yang melihat penampakan makhluk alam sebelah meski aku ga tau penampakan yang mereka lihat itu 'penduduk Saranjana' atau bukan.
2) Siring Laut Kotabaru
Posisi siring ini strategis. Tepat di depan pusat pemerintahan Kabupaten Kotabaru. Standar tempat-tempat bersantai keluarga yang ada di Kalsel lah, pasti di sekitarnya bertaburan warung-warung makan. Siring ini memang tidak jauh berbeda dengan Siring Sudirman (depan Sungai Martapura Banjarmasin), siring depan kantor Walikota Banjarmasin (Pelabuhan Lama), siring depan kantor bupati Kab. Batola, atau siring (pelabuhan barang) yang ada di Kuala Kapuas. Tapi, kalau siring-siring yang kusebutkan di atas untuk menahan abrasi/gelombang sungai, siring di Kotabaru ini berfungsi untuk menahan abrasi gemburan ombak laut (selat).
Menurutku, obyek wisata di Kalsel memang belum digarap dan diekspos sebagus obyek wisata di provinsi lain yang pernanh kudatangi (Bali, Jawa Timur, Yogyakarta). Tapi, rasanya belum pas jika kita sering jalan-jalan ke ‘kampung orang’ sedangkan ‘kampung sendiri’ tidak masuk ke dalam list destinasi kita jika ingin mengisi masa liburan.
| Reaksi: |
Wednesday, December 7, 2011
MGMP Geography Banjarmasin Trip to Pulau Kaget
Sudah lama aku ingin berkunjung ke Pulau Kaget. Akhirnya, Rabu (23/11) kemarin aku bersama beberapa kawan di MGMP Geografi Banjarmasin sampai juga ke pulau itu. Tidak mampir sih, hanya mengelilingi pulau menggunakan kelotok (perahu bermotor) karena di pulau itu memang sengaja tidak dibuatkan dermaga untuk kelotok bersandar.
Pulau Kaget tidak sepopuler Pulau Kembang yang letaknya tidak begitu jauh dari pasar terapung Kuin. Padahal, Pulau Kaget merupakan habitat bekantan (Nasalis larvatus), monyet berhidung panjang yang menjadi maskot Provinsi Kalimantan Selatan. Mungkin karena jaraknya yang cukup jauh, sekitar 1,5 jam perjalanan naik klotok dari pusat Kota Banjarmasin. Jadi, cukup banyak yang tidak mengenal pulau ini.
Berdasarkan SK Menteri Pertanian No. 788/Kptsum11/1976, Pulau Kaget ditetapkan sebagai kawasan cagar alam. Dalam perkembangannya, kawasan ini mengalami degradasi dengan matinya seluruh pohon rambai sebagai pakan utama bekantan sehingga dilakukan rehabilitasi kawasan. Oleh karena itu, maka kawasan Pulau Kaget dirubah fungsi menjadi Suaka Margasatwa pada 27 September 1999.
Pulau yang terletak dekat muara Sungai Barito ini memiliki flora dan fauna khas hutan mangrove, seperti rambai (Sonneratia caseolaris), nipah (Nypa fructicans), bakung (Crinum asiaticum), jeruju (Acanthus ilicifolius), juga habitat bagi monyet ekor panjang (Macaca fascicularis), elang laut perut putih (Heliaetus leucogaster), elang bondol (Haliastur indus), serta raja udang biru (Halycon chloris). Pulau Kaget sendiri merupakan sebuah delta yang terletak di tengah-tengah Sungai Barito dan masuk ke dalam wilayah Kecamatan Tabunganen, Kabupaten Barito Kuala.
Ada yang bilang cukup sulit menemukan sekawanan bekantan jika hanya menyisir pulau itu dari sungai. Apalagi, bekantan terkenal pemalu jika bertemu dengan manusia. Mereka akan memilih lari dan bersembunyi. Berbeda dengan para monyet yang justru ingin terlihat eksis jika bertemu dengan manusia. Alhamdulillah, kami beruntung. Ada sekelompok bekantan berjumlah sekitar sepuluh ekor sedang bermain dengan riang terlihat dari tepian. Sayangnya, karena hanya bermodal kamera saku, kami tidak berhasil mendapatkan foto yang bagus dan jelas karena jarak kawanan bekantan dari kelotok memang cukup jauh.
“Tidak dapat dipastikan berapa jumlah populasi bekantan di Pulau Kaget saat ini karena tidak ada yang melakukan perhitungan populasi bekantan”, kata salah satu kepala desa (aku lupa namanya) yang aku tanyai ketika kami singgah di Kecamatan Tabunganen. Jumlah kasar populasi bekantan yang ada berkisar (lupa nyatat! Seratus apa lima ratus ekor, ya?! Heee…..). Areal Pulau Kaget pun masih banyak yang dimanfaatkan sebagai lahan pertanian. Jika terus dibiarkan, hal ini akan mengganggu kehidupan para satwa endemik Kalimantan yang berstatus diambang kepunahan ini.
Semoga habitat bekantan di Pulau Kaget juga daerah lainnya di Kalimantan dapat terus terjaga sehingga aku dapat melihat mereka kembali, begitu juga anak cucu dan generasi kita berikutnya, masih dapat melihat kawanan bekantan sedang bermain dengan gembira di habitat aslinya.
Bacaan:
- Bekantan
- B E K A N T A N (Nasalis larvatus)
- Ekspedisi Pulau Kaget 2008
Pulau Kaget tidak sepopuler Pulau Kembang yang letaknya tidak begitu jauh dari pasar terapung Kuin. Padahal, Pulau Kaget merupakan habitat bekantan (Nasalis larvatus), monyet berhidung panjang yang menjadi maskot Provinsi Kalimantan Selatan. Mungkin karena jaraknya yang cukup jauh, sekitar 1,5 jam perjalanan naik klotok dari pusat Kota Banjarmasin. Jadi, cukup banyak yang tidak mengenal pulau ini.
Berdasarkan SK Menteri Pertanian No. 788/Kptsum11/1976, Pulau Kaget ditetapkan sebagai kawasan cagar alam. Dalam perkembangannya, kawasan ini mengalami degradasi dengan matinya seluruh pohon rambai sebagai pakan utama bekantan sehingga dilakukan rehabilitasi kawasan. Oleh karena itu, maka kawasan Pulau Kaget dirubah fungsi menjadi Suaka Margasatwa pada 27 September 1999.
Pulau yang terletak dekat muara Sungai Barito ini memiliki flora dan fauna khas hutan mangrove, seperti rambai (Sonneratia caseolaris), nipah (Nypa fructicans), bakung (Crinum asiaticum), jeruju (Acanthus ilicifolius), juga habitat bagi monyet ekor panjang (Macaca fascicularis), elang laut perut putih (Heliaetus leucogaster), elang bondol (Haliastur indus), serta raja udang biru (Halycon chloris). Pulau Kaget sendiri merupakan sebuah delta yang terletak di tengah-tengah Sungai Barito dan masuk ke dalam wilayah Kecamatan Tabunganen, Kabupaten Barito Kuala.
Ada yang bilang cukup sulit menemukan sekawanan bekantan jika hanya menyisir pulau itu dari sungai. Apalagi, bekantan terkenal pemalu jika bertemu dengan manusia. Mereka akan memilih lari dan bersembunyi. Berbeda dengan para monyet yang justru ingin terlihat eksis jika bertemu dengan manusia. Alhamdulillah, kami beruntung. Ada sekelompok bekantan berjumlah sekitar sepuluh ekor sedang bermain dengan riang terlihat dari tepian. Sayangnya, karena hanya bermodal kamera saku, kami tidak berhasil mendapatkan foto yang bagus dan jelas karena jarak kawanan bekantan dari kelotok memang cukup jauh.
“Tidak dapat dipastikan berapa jumlah populasi bekantan di Pulau Kaget saat ini karena tidak ada yang melakukan perhitungan populasi bekantan”, kata salah satu kepala desa (aku lupa namanya) yang aku tanyai ketika kami singgah di Kecamatan Tabunganen. Jumlah kasar populasi bekantan yang ada berkisar (lupa nyatat! Seratus apa lima ratus ekor, ya?! Heee…..). Areal Pulau Kaget pun masih banyak yang dimanfaatkan sebagai lahan pertanian. Jika terus dibiarkan, hal ini akan mengganggu kehidupan para satwa endemik Kalimantan yang berstatus diambang kepunahan ini.
Semoga habitat bekantan di Pulau Kaget juga daerah lainnya di Kalimantan dapat terus terjaga sehingga aku dapat melihat mereka kembali, begitu juga anak cucu dan generasi kita berikutnya, masih dapat melihat kawanan bekantan sedang bermain dengan gembira di habitat aslinya.
Bacaan:
- Bekantan
- B E K A N T A N (Nasalis larvatus)
- Ekspedisi Pulau Kaget 2008
| Reaksi: |
Saturday, October 15, 2011
Confusion on Satnight (Remembering You)
Malam minggu... waktunya untuk 'memanjakan' diri sendiri. Maaf tumpukan lembar jawaban UTS siswa, aku lagi tak minat mencoretimu dengan berbagai tulisan dan angka yang kadang membuatku mengurut dada. Jadi, aku melewati malam ini dengan kembali mengulang membaca satu dari trilogi Supernova: Petir. Membacai lagi kisah tentang Mpret dan metamorfosis Elektra sambil mendengarkan mp3 playlist yang memutar lagu-lagu pilihanku, mulai yang dinyanyikan J-Flow, Efek Rumah Kaca, sampai romantis love songs tahun 90an.
Aku mulai dilanda kegalauan (hahahaa....). Maka, kurangkailah entah apa namanya yang akan tersaji di bawah ini. Aku sendiri kurang yakin apakah ini perasaanku yang nyata atau hanya sekadar mengarang cerita. Kubiarkan saja, mumpung jemariku sedang rukun dengan sudut otak yang mendektekan kata-kata.
Remembering You (again)
Membicarakanmu entah kenapa tak pernah ada bosannya bagiku. Mungkin karena di semestaku kau lah yang terindah meski tak tergapai. Sesekali kita beriringan. Sesekali aku melihatmu di sudut jalan. Namun, tak pernah lagi mata kita berpandangan. Tak lagi sungging senyum terkembang. Hanya seribu diam yang ada. Mungkin, bagimu, aku tak lagi nyata.
Banyak yang datang dan pergi, bahkan tak kembali. Beberapa kusesalkan, beberapa kubiarkan. Tentunya banyak dari mereka kuharapkan tetap tinggal atau kembali suatu hari. Karena tanpa mereka, aku bukanlah siapa-siapa. Tanpa mereka, aku merana mengenangmu.
Teruntuk dirimu, aku masih di sini, berharap kamu kembali. Kurindu tatapanmu yang angkuh namun ramah. Kurindu tawa sinismu yang terdengar renyah. Kurindu senyummu, kurindu genggaman tanganmu. Aku rindu menjadikanmu alasan kebahagiaanku.
Aku mulai dilanda kegalauan (hahahaa....). Maka, kurangkailah entah apa namanya yang akan tersaji di bawah ini. Aku sendiri kurang yakin apakah ini perasaanku yang nyata atau hanya sekadar mengarang cerita. Kubiarkan saja, mumpung jemariku sedang rukun dengan sudut otak yang mendektekan kata-kata.
Remembering You (again)
Membicarakanmu entah kenapa tak pernah ada bosannya bagiku. Mungkin karena di semestaku kau lah yang terindah meski tak tergapai. Sesekali kita beriringan. Sesekali aku melihatmu di sudut jalan. Namun, tak pernah lagi mata kita berpandangan. Tak lagi sungging senyum terkembang. Hanya seribu diam yang ada. Mungkin, bagimu, aku tak lagi nyata.
Banyak yang datang dan pergi, bahkan tak kembali. Beberapa kusesalkan, beberapa kubiarkan. Tentunya banyak dari mereka kuharapkan tetap tinggal atau kembali suatu hari. Karena tanpa mereka, aku bukanlah siapa-siapa. Tanpa mereka, aku merana mengenangmu.
Teruntuk dirimu, aku masih di sini, berharap kamu kembali. Kurindu tatapanmu yang angkuh namun ramah. Kurindu tawa sinismu yang terdengar renyah. Kurindu senyummu, kurindu genggaman tanganmu. Aku rindu menjadikanmu alasan kebahagiaanku.
Confusion on Saturday night:
Dear someone… Could I to be with you?!
| Reaksi: |
Sunday, October 9, 2011
Latah berBisnis Online
Bisnis online? Dengar kata ini sih kayaknya seru. Soalnya ga perlu punya toko, ngurus perizinan ini itu sudah bisa berbisnis (apalagi kalau skalanya masih keci-kecilan). Tinggal manfaatin facebook, twitter, blog, BBM, atau kalau yang bermodal banyakan bikin web buat jualan.
Bisnis online sudah bukan hal baru sih. Aku aja yang barusan nyoba (hahahaa..). Sebenarnya udah lama pingin nyoba mengadu peruntungan di dunia ini tapi baru aja kesampaian. Itupun masih belajar dan kecil-kecilan. Semoga aku beruntung dah! Amin. \(^_^)/
Apa aja bisni online yang sedang aku kerjain? Agak maruk sih, tiga sekaligus. Ada MLM produk kecantikan, tas-tas impor (baju juga ada sedikit-sedikit), sama media pembelajaran geografi. Ketiganya bersumber dari sahabat & kawan. Tanpa mereka ya usaha dagangku ini ga akan ada :D
Oriflame
Kayaknya produk asal Swedia ini udah ga asing di telinga, terutama kaum hawa. Produk-produk kecantikan berbahan alami ini memang sudah lama masuk pangsa pasar Indonesia. Gara-gara itu juga jadi berasa ternyata sulit nyari downline atau pelanggan. Soalnya banyak kawan dan saudara yang sudah jadi membernya (langsung diketawain Ka Ella -> uplineku dan dapat komentar, “Kamu telat ikutan berarti, Rin…”). Selain itu, produk kosmetik kan banyak beredar di pasaran. Jadi, tinggal ke toko kosmetik, mini market, super market, bisa langsung dibeli trus dipakai.
Enaknya jadi member, kita bisa beli produk dengan harga yang lebih murah (diskon 30%), dapat point, dapat bonus, dan kalau pointnya banyak level kita juga bisa naik. Jadi ada semacam jenjang karir gitu. Enak kan? Aku sendiri walau baru jalan 3 bulan gabung sudah punya 2 downline & level 3% (alhamdulillah ya….). Semoga bisa awet di bisnis ini dan bisa mengikuti jejak para senior yang asli bikin mupeng! Gimana ga mupeng, cukup kerja di rumah tapi bisa punya penghasilan jutaan (bahkan puluhan juta), dapat bonus mobil, jalan-jalan ke Eropa gratis! Ckckck. Mupeng lah…
So, yang mau ikutan jadi member bisa daftar di sini (^_^)p
Shop Addict
Begitu aku memberi nama untuk lapak jualan tas-tas impor dan baju yang bermula dari seringnya aku ambilin pesanannya kawan sekerjaan dan berujung pada anjuran sahabatku, “Rin, daripada kamu melulu ambilin pesanan orang, mending kamu yang jualan.”
Setelah dipikir-pikir boleh juga idenya. Bermodal beberapa kontak BBM, akhirnya aku bikin BBM groupnya. Masih sepi sih.. tapi adalah 1-2 yang order. Trus, ada lagi yang kasih komen. Kalau ga punya BB ga bisa dunk lihat. Kenapa ga di share ke Facebook juga. Okelah, akhirnya bikin album foto yang isinya barang-barang dagangan. Semoga daganganku laku & banyak pelanggannya. Amin. :D
Media Pembelajaran Geografi
Sejauh ini bisnis ini yang paling rame (hehe…). Kerja sama ambe’ konco sa-kelas waktu kuliah, katanya, “Aku ga mau untung sendiri, Rin. Jadi, kalau bantu aku memasarkan ini kamu kecipratan juga pastinya.” And yes, setelah aku jadikan PP BBM, share di facebook, dan bawa sampelnya ke pertemuan MGMP Geografi Banjarmasin, lumayan banyak yang pesan. Yeyee…
Oich, setiap pieces media pembelajaran yang terjual Rp 1000,- aku sumbangkan ke @koinuntukbanua. Semoga bisa bantu pendidikan adik-adik/anak-anak bangsa. Amin.
Bisnis online sudah bukan hal baru sih. Aku aja yang barusan nyoba (hahahaa..). Sebenarnya udah lama pingin nyoba mengadu peruntungan di dunia ini tapi baru aja kesampaian. Itupun masih belajar dan kecil-kecilan. Semoga aku beruntung dah! Amin. \(^_^)/
Apa aja bisni online yang sedang aku kerjain? Agak maruk sih, tiga sekaligus. Ada MLM produk kecantikan, tas-tas impor (baju juga ada sedikit-sedikit), sama media pembelajaran geografi. Ketiganya bersumber dari sahabat & kawan. Tanpa mereka ya usaha dagangku ini ga akan ada :D
Oriflame
Kayaknya produk asal Swedia ini udah ga asing di telinga, terutama kaum hawa. Produk-produk kecantikan berbahan alami ini memang sudah lama masuk pangsa pasar Indonesia. Gara-gara itu juga jadi berasa ternyata sulit nyari downline atau pelanggan. Soalnya banyak kawan dan saudara yang sudah jadi membernya (langsung diketawain Ka Ella -> uplineku dan dapat komentar, “Kamu telat ikutan berarti, Rin…”). Selain itu, produk kosmetik kan banyak beredar di pasaran. Jadi, tinggal ke toko kosmetik, mini market, super market, bisa langsung dibeli trus dipakai.
Enaknya jadi member, kita bisa beli produk dengan harga yang lebih murah (diskon 30%), dapat point, dapat bonus, dan kalau pointnya banyak level kita juga bisa naik. Jadi ada semacam jenjang karir gitu. Enak kan? Aku sendiri walau baru jalan 3 bulan gabung sudah punya 2 downline & level 3% (alhamdulillah ya….). Semoga bisa awet di bisnis ini dan bisa mengikuti jejak para senior yang asli bikin mupeng! Gimana ga mupeng, cukup kerja di rumah tapi bisa punya penghasilan jutaan (bahkan puluhan juta), dapat bonus mobil, jalan-jalan ke Eropa gratis! Ckckck. Mupeng lah…
So, yang mau ikutan jadi member bisa daftar di sini (^_^)p
Shop Addict
Begitu aku memberi nama untuk lapak jualan tas-tas impor dan baju yang bermula dari seringnya aku ambilin pesanannya kawan sekerjaan dan berujung pada anjuran sahabatku, “Rin, daripada kamu melulu ambilin pesanan orang, mending kamu yang jualan.”
Setelah dipikir-pikir boleh juga idenya. Bermodal beberapa kontak BBM, akhirnya aku bikin BBM groupnya. Masih sepi sih.. tapi adalah 1-2 yang order. Trus, ada lagi yang kasih komen. Kalau ga punya BB ga bisa dunk lihat. Kenapa ga di share ke Facebook juga. Okelah, akhirnya bikin album foto yang isinya barang-barang dagangan. Semoga daganganku laku & banyak pelanggannya. Amin. :D
Media Pembelajaran Geografi
Sejauh ini bisnis ini yang paling rame (hehe…). Kerja sama ambe’ konco sa-kelas waktu kuliah, katanya, “Aku ga mau untung sendiri, Rin. Jadi, kalau bantu aku memasarkan ini kamu kecipratan juga pastinya.” And yes, setelah aku jadikan PP BBM, share di facebook, dan bawa sampelnya ke pertemuan MGMP Geografi Banjarmasin, lumayan banyak yang pesan. Yeyee…
Oich, setiap pieces media pembelajaran yang terjual Rp 1000,- aku sumbangkan ke @koinuntukbanua. Semoga bisa bantu pendidikan adik-adik/anak-anak bangsa. Amin.
| Reaksi: |
Subscribe to:
Posts (Atom)










