Sunday, July 31, 2016

Mendaki Halau-halau, Menjarai tapi Rami!

memasuki Kampung Kiyu
“Let us live with our customary forest. We know how to manage and protect it properly and we do not destroy it. We, the Kiyu Dayak, and our forest belong together. To destroy the forest is to destroy our existence. We want to continue to manage our forests sustainably, as we have done for many generations, according to the culture we have in herited from our ancestors. (Biarkanlah kami hidup bersama hutan adat kami, kami tahu cara yang arif dalam menjaga hutan adat kami, kami bukanlah peladang berpindah, pengrusak hutan-hutan. Kami masyarakat Dayak Kiyu adalah satu, rusaknya hutan berarti berakhirnya kehidupan kami. Kami ingin hutan tetap lestari. Biarkan kami hidup secara turun temurun sesuai dengan budaya kami yang kami warisi dari nenek moyang kami terdahulu)”.[1]


Mudik hari raya Idul Fitri kali ini amat berkesan bagiku. Sejenak melupakan tugas-tugas kuliah dengan berlibur di kampung halaman, berkumpul dengan orang tua, saudara, keluarga besar, juga teman-teman kesayangan. Makin seru ketika diajak untuk mendaki Halau-halau, titik tertinggi yang ada di Provinsi Kalimantan Selatan setelah Idul Fitri. Meski bukan anak gunung, pengalaman naik gunung selalu menjadi unforgetable moment bagiku. Hipotermia di Panderman. Baper di Penanjakan-Bromo. Kedinginan di Ijen. Itu saja sih pengalamanku naik gunung. Selebihnya pengalaman mendaki kudapat dari naik bukit* yang memang banyak terdapat di rangkaian Pegunungan Meratus. Capek tapi seru!

Pegunungan Meratus terletak di antara 115°38’ BT – 115°52’ BT dan 2°28’ LS – 20°54’ LS, seakan-akan membelah Provinsi Kalimantan Selatan menjadi dua, membentang sepanjang ± 600 km² dari arah tenggara dan membelok ke arah utara hingga perbatasan Kalimantan Timur. Pegunungan ini berada di wilayah 8 kabupaten di Provinsi Kalimantan Selatan, yaitu: Hulu Sungai Tengah (HST), Hulu Sungai Utara (HSU), Hulu Sungai Selatan (HSS), Tabalong, Kotabaru, Tanah Laut, Banjar dan Tapin.
Pegunungan Meratus merupakan kawasan berhutan yang bisa dikelompokkan sebagai hutan pegunungan rendah dengan keanekaragaman hayati yang tinggi. Beberapa vegetasi dominan, yaitu: Meranti Putih (Shorea spp), Meranti Merah (Shorea spp), Agathis (Agathis spp), Kanari (Canarium dan Diculatum BI), Nyatoh (Palaquium spp), Medang (Litsea sp), Durian (Durio sp) Gerunggang (Crotoxylon arborescen BI), Kempas  (Koompassia sp), Belatung (Quercus sp).
Berdasarkan tipe penutupan lahan, lahan di kawasan Pegunungan Meratus dapat dibagi menjadi tiga, yaitu: Hutan Dataran Tinggi (+ 11.345 ha), Hutan Pegunungan (+ 26.345 ha) dan Lahan Kering tidak Produktif (+ 8.310 ha). Sedangkan berdasarkan pengamatan okuler, sebagian besar tataguna lahan di sekitar hutan lindung Pegunungan Meratus adalah areal perladangan, hutan sekunder hingga semak belukar serta perkebunan rakyat.
Lokasi kawasan hutan yang sebagian besar menjadi hulu Daerah Aliran Sungai (DAS) menjadikan Pegunungan Meratus sebagai kawasan resapan air yang sangat penting bagi Provinsi Kalimantan Selatan. Akan tetapi, kondisi lereng pegunungan yang cukup terjal dan jenis tanah yang peka erosi menjadikannya memiliki nilai kerentanan (fragility) yang tinggi. Oleh karena itu, kawasan hutan Pegunungan Meratus harus dipertahankan sebagai hutan lindungdan dijauhkan dari perusakan.[2]

Jum’at malam (8/7) Sari, Rima, Hendra, dan Ryan sampai ke rumah (Barabai) disusul Arinal dan Arifin. Mereka rombongan dari Banjarmasin yang akan ikut ke Halau-halau. Tak lama setelah kedatangan mereka, kawan-kawan dari Barabai yang akan menemani kami ke Halau-halau berkumpul di rumahku untuk membicarakan teknis keberangkatan besok pagi. Siapa yang jalan di depan, tengah, belakang, juga siapa yang bawa tenda, logistik, dan keperluan lainnya. Rencananya kami akan pergi selama 3 hari meski tidak menutup kemungkinan menjadi 4 hari, tergantung kondisi saat pendakian nanti.
Jam 8 pagi keesokan harinya kami kembali berkumpul di rumahku. Perjalanan ke Kampung Kiyu akan ditempuh sekitar 1 jam perjalanan menggunakan sepeda motor. Total 15 orang yang berangkat. Andry, Arif, Fani, Budi, Rizky, Ocay, Jaraw, Kai, Sari, Rima, Hendra, Ryan, Arinal, Arifin, dan tentunya aku. Kak Asul, Yudi, dan Atus tidak bisa ikut karena ada acara keluarga. Begitu juga adikku dan Didiel yang tidak bisa ikut karena senin harus kembali masuk kerja.

Barabai – Kiyu – Sungai Karuh (Sabtu, 9 Juli 2016)
proses pembuatan gelang simpai
Perjalanan kami sempat terhambat karena motor Andry mogok ditanjakan menuju Kampung Kiyu. Kondisi jalan yang tidak mulus dan berbukit-bukit memang mewarnai perjalanan menuju Kampung Kiyu yang merupakan titik awal pendakian menuju Halau-halau. Sambil menunggu motor Andry diperbaiki, kami beristirahat di rumah Rudi/Dinur, pemuda setempat yang juga guide pendakian ke Halau-halau. Dinur dan saudaranya juga pintar membuat gelang simpai loh. Kami pun menyempatkan diri untuk dibuatkan gelang simpai yang terbuat dari alang am dan rotan. Setelah makan siang dan sholat Zuhur barulah pendakian kami mulai. Saat berada di rumah Dinur, jam tangan Andry yang memiliki pengukur ketinggian menunjukkan angka 91 mdpl.

Gelang simpai merupakan anyaman khas Dayak Meratus yang bisa digunakan pria dan wanita. Pembuatan gelang simpai umumnya langsung dibuat di tangan sehingga jika ingin melepas, gelang harus dipotong terlebih dahulu. Gelang simpai biasanya merupakan salah satu bukti pernah menginjakan kaki di Pegunungan Meratus. Bahan bakunya adalah serat tanaman pakis (biasa disebut Alang Am) yang tumbuh di dalam hutan Pegunungan Meratus. Selain digunakan untuk aksesoris, gelang ini konon dipercaya membawa keberuntungan dan melindungi dari gangguan makhluk halus. Anyaman ini merupakan simbol hubungan atau keterikatan yang menjalin secara bersamaan dan melengkapi satu sama lain yang tidak ada putusnya.
Wilayah Balai Kiyu berada di kawasan kaki pegunungan Meratus sebelah utara, sepanjang Sungai Panghiki dan kaki Taniti (bukit) Calang. Balai Kiyu merupakan satu wilayah adat seluas ±7.632 hektar pada DAS Alai. Secara administratif termasuk dalam wilayah Desa Hinas Kiri, Batu Kambar, Kecamatan Batang Alai Timur, Kabupaten Hulu Sungai Tengah, Provinsi Kalimantan Selatan. Kondisi hutan adat yang ada di wilayah masyarakat adat Balai Kiyu, secara fisik cukup bagus dan kaya akan keragaman hayati. Saat ini sebagian kondisi hutan Adat di Balai Kiyu sedang dalam proses pemulihan. Sebelumnya, kawasan yang merupakan Hutan Adat Kiyu ini menjadi wilayah konsesi perusahaan pengusahaan hutan PT. Daya Sakti. Eksploitasi oleh perusahaan tersebut menyebabkan rusaknya hutan adat. Sejak 1987 perusahaan sudah tidak lagi beroperasi di wilayah Kiyu dan Kabupaten HST setelah berhasil diusir keluar oleh masyarakat.[1]

Perjalanan dimulai dengan menyeberangi jembatan ayun (gantung). Pada awal pendakian ini, jalur yang dilewati sudah berupa jalan yang disemen meski tidak seluruhnya masih dengan kondisi bagus. Kata kawan-kawan, jalur yang kami lewati saat naik merupakan jalur yang relatif baru. Lebih landai meski sedikit lebih jauh dibanding jalur yang relatif lama (pulangnya kami lewat jalur lama, selain lebih curam jalan setapaknya pun lebih sempit).



Setelah cukup penat mendaki, kita akan melihat pondok peristirahatan di lokasi yang cukup luas dan datar. Lokasi ini bernama Puncak Peniti Ranggang. Sinyal telepon selular masih bisa didapat di lokasi ini meski terbatas (setidaknya bisa untuk berkirim SMS dan telepon). Selain mendapati jalur menuju puncak Halau-halau, di Peniti Ranggang ini kita juga mendapati jalur menuju Desa Juhu* yang merupakan desa dengan lokasi tertinggi di Kalimantan Selatan.
salah satu pohon besar yang sering jadi
latar berfoto di pendakian Halau-halau
Perjalanan kembali dilanjutkan. Mendaki dan menuruni bukit, memasuki hutan tropis Pegunungan Meratus dengan pepohonan yang beragam jenis, termasuk melewati padang paring (kumpulan pohon bambu), serta menyeberangi beberapa sungai kembali menjadi jalur yang harus dilalui. Meski ketinggian Halau-halau hanya 1901 mdpl (Panderman 2045 mdpl, Ijen 2799 mdpl, Semeru 3676 mdpl yang tahun kemarin mereka daki, dan Rinjani 3726 mdpl yang pada bulan Mei tadi mereka daki), jalur menuju puncak Halau-halau tidak bisa dianggap remeh. Normalnya, pendakian ditempuh dalam 4 hari. Kampung Kiyu – Sungai Karuh, Sungai Karuh – puncak (PP). Lama waktu tempuh tentu tergantung stamina masing-masing. Karena kami start dari Kiyu sudah kesiangan (sekitar jam 1), aku baru mencapai Sungai Karuh sekitar jam 8 malam. Saat itu aku bahkan sempat berucap: cukup sekali ini naik ke Halau-halau. Capeknya pakai banget!!


Meski masih suasana lebaran, ternyata banyak yang memanfaatkan libur lebaran ini untuk naik ke Halau-halau. Ada yang mendaki dalam rombongan kecil (sekitar 4 orang), sedang (sekitar 10 orang), serta kami  yang mendaki dalam rombongan besar (15 orang). Untungnya di Sungai Karuh kami mendapat tempat yang nyaman untuk mendirikan tenda. Tenda sudah berdiri, acara memasak makan malam pun dimulai. Lapar!!

Sungai Karuh – Penyaungan (Minggu, 10 Juli 2016)
Camp Sungai Karuh merupakan pos/shelter 1 pada jalur pendakian ini. Kita bisa mendirikan tenda juga mendapatkan air bahkan membersihkan diri (mandi) di sungai yang mengalir tidak jauh dari lokasi camp. Terdapat sebuah pondok sederhana yang dapat dimanfaatkan sebagai tempat berkumpul dan beristirahat (di pendakian kami kemarin, sebagian lantai pondok sudah dalam kondisinya mengenaskan/jabuk).
air terjun Sungai Karuh
Kata kawan-kawan, jika musim pendakian (terutama saat agustusan) akan ada beberapa warung makanan yang buka disini. Berada di Sungai Karuh tentu sayang melewatkan kesempatan menikmati keindahan air terjunnya. Entah berapa tepatnya ketinggian air terjun ini. Mungkin sekitar 80 meter. Meski tergolong waterfall addict, sebelumnya aku tidak terpikir bisa sampai ke air terjun ini mengingat jauhnya lokasi dan perjuangan untuk mencapainya. Alhamdulillah, akhirnya aku berkesempatan menikmati langsung air terjun Sungai Karuh yang merupakan salah satu ikon pendakian Halau-halau. Selain berfoto, kami menyempatkan diri membuat video ucapan selamat ulang tahun untuk South Borneo Travellers** yang ke-3.

behind the scene video ucapan ultah 3 tahun SBT
Selesai sarapan dan beres-beres, pendakian dilanjutkan. Pada pendakian hari sebelumnya aku sempat ragu bisa sampai ke puncak mengingat betapa ngos-ngosannya aku trekking untuk mencapai Sungai Karuh. Setelah kakiku dipijat dan istirahat yang cukup, bismillah, pendakian hari kedua pun kami mulai tanpa ada seorang pun yang tinggal di Sungai Karuh. Jam 10 pagi perjalanan menuju puncak dilanjutkan.
Ulalaaaa… baru trekking sebentar kami sudah dihadapkan dengan tanjakan yang seakan tak habis-habisnya. Jalur pendakiannya memang lebih melelahkan dibandingkan jalur Kiyu-Sungai Karuh. Pohon berukuran besar pun semakin banyak terlihat. Selain hutan tropis yang heterogen, lebat, dan berlumut karena lembab, melewati sungai, menyisir jurang, melewati jalur yang turun naik tetap menjadi jalur yang harus kami lalui di pendakian hari kedua ini. Capek pakai bangetnya jadi dua kali lipat!




Pada jalur ini kita juga akan melewati lokasi yang bernama Jumantir. Disini terdapat aliran sungai kecil yang dapat kita gunakan untuk keperluan memasak, wudhu/berseka, dan mengisi botol air minum yang sudah kosong. Pohon-pohon yang tumbang atau berukuran besar menjadi lokasi yang banyak dimanfaatkan untuk beristirahat sejenak. Untungnya kami beriringan dengan pendaki lainnya. Perjalanan hari itu jadi semakin ramai karena ada teman mengobrol lebih banyak. Sesekali kami juga berpapasan dengan pendaki lain yang telah sampai puncak atau penduduk yang pulang dari berburu.
Pendakian kami terhenti di sekitar Simpang Tiga Haraan. Titik ini merupakan persimpangan jalan menuju Halau-halau dari jalur Kiyu (HST) dan Loksado (HSS). Pendakian kami terhenti karena ada hal yang kalau dilogikakan tidaklah masuk akal. Meski kejadian seperti ini mungkin tidak sering terjadi, berada di hutan, gunung, pedalaman Kalimantan pula, sering kali memang menyimpan hal-hal yang sulit diterima dengan akal sehat. Salah seorang anggota kami hilang. Saat aku sampai disana, waktu menunjukkan sekitar pukul 3 sore. Pencarian dilakukan hingga hari mulai gelap. Kami bermalam di Penyaungan, tidak jauh dari Simpang Tiga Haraan untuk kembali melanjutkan pencarian pada esok hari.
Camp Penyaungan merupakan lokasi yang dijadikan pendaki tempat beristirahat bahkan berkemah. Penyaungan merupakan lokasi terakhir untuk mendapatkan sumber air. Ketinggian lokasi camp Penyaungan sekitar 1310 mdpl. Suhu dingin terasa di tempat ini. Jika di camp Sungai Karuh aku yang tidak terlalu tahan dengan suhu dingin bisa tidur hanya menggunakan sleeping bag tanpa mengenakan jaket, menjelang petang, di Penyaungan aku sudah berkostum lengkap (jaket dan kaos kaki, malamnya ditambah mengenakan sarung tangan) untuk menghalau dingin :D

ngecamp di Penyaungan
Kami menghibur diri sambil berdoa supaya anggota kami yang hilang tidak mengalami hal-hal yang tidak diinginkan dan sesegera mungkin dapat ditemukan. Kami juga memutuskan untuk mengakhiri pendakian. Puncak gunung tidak akan lari kemana-mana. Kapan-kapan masih bisa didaki. Namun kehilangan teman merupakan pukulan berat untuk kami.

Penyaungan – Sungai Karuh (Senin, 11 Juli 2016)
Tidak jadi ke puncak, kami membagi rombongan menjadi dua kelompok. Kelompok pertama tetap tinggal di Penyaungan sambil melakukan pencarian. Sisanya kembali ke camp Sungai Karuh sambil mencari lokasi yang terdapat sinyal telepon seluler untuk menghubungi kawan-kawan yang ada di Barabai. Untunglah meski telah kehabisan logistik dia dapat ditemukan dengan kondisi sehat. Sekitar pukul 11 malam, rombongan kami telah kembali lengkap berkumpul di camp Sungai Karuh, ditambah Kak Asul, Dodon, Yudi, Ichunk, dan kakaknya Rudi yang menyusul kami setelah dapat info bahwa kami kehilangan seorang anggota.

Sungai Karuh – Kiyu – Barabai (Selasa, 12 Juli 2016)
Setelah sarapan dan berkemas, kami melanjutkan perjalanan pulang. Kami sempat beristirahat (ngopi-ngopi) di pondok yang ada di Peniti Ranggang. Dari Peniti Ranggang, perjalanan pulang kami sempat diwarnai hujan. Untungnya hujan tidak turun terlampau lama dan lebat.

sebelum hujan turun (at pondok Peniti Ranggang)
Sama seperti di perjalanan turun dari Penyaungan ke Sungai Karuh, lagi-lagi lututku cidera sehingga memperlambat perjalanan kami. Thanks God, kawan-kawan tetap menghiburku selama perjalanan. Mereka bahkan tak jera mengajakku untuk kembali mendaki Halau-halau. Aku yang sempat berujar jera pun jadi ingin kembali lagi ke sini, tentu dengan persiapan yang lebih baik agar tidak lagi mengalami cidera. (o^.^o)v


katanya ini jalur bekas perusahaan kayu yang pernah beroperasi di Kiyu
beristirahat di rumah Rudinur sebelum pulang ke Barabai
Kata kawan-kawan yang sudah pernah ke puncak (Halau-halau), trek dari Penyaungan menuju puncak lah yang paling berat meski waktu tempuhnya tinggal 1-1,5 jam perjalanan lagi. Jika dari Kiyu sampai ke Penyaungan puncak gunung tidak terlihat akibat lebat dan tingginya pepohonan, pepohonan di jalur menuju puncak lebih rendah sehingga puncak gunung dan pemandangan di sekitarnya dapat terlihat. Apabila kita merujuk pada peta, gunung tertinggi di Kalimantan Selatan bernama Gunung Besar. Penamaan Halau-halau konon menurut kepercayaan Suku Dayak Meratus karena gunung ini merupakan tempat dihalaunya roh-roh penganut ilmu hitam agar tidak mengganggu manusia.
Penyaungan tingginya sekitar 1310 mdpl dan Halau-halau ketinggiannya 1901 mdpl. Fiuh, masih hampir 600 meter lagi! Bukit Batas saja ketinggiannya tidak sampai segitu. Terbayang bagaimana beratnya pendakian mencapai puncak. Trek menjadi berat karena tanjakan yang dilalui semakin curam. Oleh karena itu, disarankan tidak membawa banyak barang saat pendakian ke puncak. Bawa seperlunya saja. Sisanya bisa ditinggal di Penyaungan demi kenyamanan saat mendaki ke puncak.
Beberapa waktu lalu, ketika Ega (woodywoodfvcker) ke Halau-halau, dia sempat mengukur ketinggian puncak menggunakan GPS. Saat pengukuran dilakukan, didapat ketinggian Halau-halau tidak mencapai 1901 mdpl, hanya 1765 mdpl. Sedangkan menurut wikipedia, ketinggian Halau-halau adalah 1892 mdpl. Kami tidak bisa turut mengukur ketinggian Halau-halau karena tidak sampai ke puncak. Diperlukan pengukuran lebih lanjut tentang ketinggian Halau-halau. Jika memang ketinggiannya tidak lagi 1901 mdpl, perlu dilakukan penelitian lebih lanjut mengenai penyebabnya.
Oh ya, tidak afdol ke Halau-halau jika tidak bertemu pacat (lintah). Katanya sih begitu. Kalau melihat saja sih lumayan. Tapi kalau digigit?! Ntah kenapa saat itu hanya aku yang digigitnya, padahal aku memakai sepatu dan celana panjang (yang lain pakai sendal gunung dan celana pendek!). Untungnya bukan musim hujan sehingga jumlah pacat yang ada saat itu tidak banyak. Selain pacat, ada lagi hewan yang sering bikin heboh kalau kemping di hutan. Katikih atau salimbada (Lasius fuliginosus). Semut besar satu ini kalau menggigit sakitnya bikin nyeri. Salimbada lebih sering terlihat di malam hari, terutama di sekitar lokasi kita memasak. Pagi hari pun semut ini sering bikin heboh sehingga harus berhati-hati jika membuka tenda, kalau-kalau permukaan tanah di sekitar tenda yang kita dirikan merupakan jalur aktivitas semut ini.

Ada banyak lagi keanekaragaman hewan dan tumbuhan yang ada di jalur pendakian ke Halau-halau. Selain melakukan pendakian memang ada baiknya jika diikuti dengan kegiatan penelitian, ntah mengenai kondisi fisik, keanekaragaman hayati, juga kehidupan masyarakat suku Dayak yang tinggal di wilayah Pegunungan Meratus. Semoga dengan ramainya pendakian ke Halau-halau selain memperkenalkan keindahan Pegunungan Meratus juga membuat kita semakin termotivasi untuk mengeksplorasi dan menjaga kelestariannya.


*Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), gunung adalah bukit yang sangat besar dengan ketinggian lebih dari 600 meter.
**South Borneo Travellers (SBT) merupakan wadah untuk saling berbagi atau bertukar informasi tentang potensi wisata dan budaya yang ada di Indonesia, khususnya di Kalimantan Selatan. Sharing informasi ini terutama melalui media sosial dan juga kopdar SBTers. SBT terbentuk pada 25 Juli 2013.

Referensi:
[1] Andy Syahruji. 2009. Forests for the Future: Indigenous forest management in a changing World. Chapter 5: The Kiyu Dayak Indigenous Community, Meratus, South Kalimantan.
[2] Yasir Al Fatah & Betty Tio Minar/LPMA. 2004. Menggali Kearifan di Kaki Pegunungan Meratus.

No comments:

Post a Comment