Thursday, October 15, 2015

Berwisata ke Bukit Matang Kaladan

Riam Kanan di musim kemarau dan diselimuti kabut asap.
View dari Bukit Matang Kaladan
Bukit Matang Kaladan terletak di Desa Tiwingan Lama, Kecamatan Aranio, Kabupaten Banjar, Provinsi Kalimantan Selatan. Simpelnya, bukit ini berada di area dermaga bendungan Riam Kanan yang berjarak sekitar 25 kilometer dari Kota Banjarbaru. Aku berkesempatan ke bukit ini kemarin, bersama kawan-kawan kuliah. Tidak sulit untuk menemukan jalur untuk naik ke bukit ini. Puncaknya bahkan terlihat dari area parkir kendaraan. Tinggal tanya dengan tukang parkir atau masyarakat sekitar, mereka pasti akan menunjukkan arahnya.



bersama kawan-kawan yang merasa hidupnya kurang piknik :p
Bukit Matang Kaladan mungkin bukan tempat yang asing bagi anak muda Kalimantan Selatan yang hobi naik bukit. Buktinya, saat aku kesana kemarin banyak anak muda (usia sekolah dan kuliah) yang mengisi libur tahun baru hijriah di bukit ini. Beberapa yang kusapa di mesjid saat beristirahat bahkan bilang mereka berasal dari Kandangan dan Barabai. Bela-belain benar pikirku mengingat disana pun banyak bukit-bukit indah yang asik untuk dikunjungi.

Kalau jarang naik bukit/berolahraga mungkin akan sedikit shock dengan kemiringan lerengnya yang lebih dari 45°. Tapi syukurnya jalur menuju puncak sudah difasilitasi dengan undakan dan tali/rotan yang dibentangkan agar memudahkan pengunjung untuk mendaki. Lama pendakian? Tergantung stamina. Kemarin aku tidak memperhatikan.Tapi kutaksir sekitar 30-45 menit.

Bukit Matang Kaladan bisa dibilang obyek wisata alam yang murah meriah. Cukup membayar retribusi sebesar Rp 3.000 (eh, ini belum biaya parkir kendaraan, ya...) ditambah stamina yang prima dan beberapa botol air mineral, kita bisa menikmati keindahan bendungan Riam Kanan tanpa perlu menyewa kelotok (perahu bermesin).

Untuk mencapai bukit ini ternyata bisa ditempuh melalui dua jalur. Kami mengetahuinya dari pemilik satu-satunya warung yang ada di puncak bukit Matang Kaladan (iya, disini juga ada warung loh meski tak sebesar yang ada di Bukit Batas). Biar tidak penasaran, pulangnya kami melalui jalur yang dimaksud. Benar saja, jalur ini meski lebih jauh, tidak bisa melihat view bendungan Riam Kanan, melewati kebun karet penduduk, tapi landai dan jalurnya bisa dilewati oleh sepeda motor. Cukup mengikuti jalan setapak yang ada, lalu ketika bertemu jalan setapak yang sudah permanen (di semen), belok kanan menuju ke pemukiman.

Jika dilihat dari maraknya foto-foto yang beredar di media sosial, kegiatan tourism di Kalimantan Selatan tak kalah menggeliat seperti daerah lainnya di Indonesia. Seringkali peningkatan ini tidak dibarengi dengan kesadaran untuk semakin menjaga kelestariannya. Membuang sampah sembarangan dan vandalisme adalah contoh yang paling banyak dilakukan. Miris saat melihat banyak sampah berserakan di sepanjang jalur pendakian hingga ke puncaknya. Padahal, sudah tersedia tempat untuk mengumpulkan sampah jikalau malas membawa turun botol dan bungkus makanan yang dibawa ketika naik. Edukasi mengenai kedua hal ini memang melelahkan. Setidaknya kita tidak turut melakukannya.

view dari Bukit Matang Kaladan
Jalur melewati kebun karet penduduk
Ibarat pepatah suku pribumi Amerika,
"We don't inherit the earth from our ancestors. We borrow it from our children. Take care of the earth and earth will take care of you."
"Kita tidak mewarisi bumi dari leluhur kita. Kita hanya meminjamnya dari anak keturunan kita. Rawat bumi ini, maka ia akan merawat kita."

Sebenarnya sempat memfoto jalur pendakian baik lewat jalur pendek yang menguras tenaga dan jalur panjang nan landai melewati kebun karet penduduk. Tapi apa daya, memori card kamera digitalku lagi musuhan sama laptop dan kabel datanya hilang. Jadi mesti cari pertolongan pihak ketiga dulu supaya hasilnya bisa ditransfer.

Ceritaku lainnya di Riam Kanan:
- Berkunjung ke Desa Rantau Bujur eps. Bukit Kapayang
- Berkunjung ke Desa Rantau Bujur eps. Voluntourism
- Bukit Batas

Thursday, July 23, 2015

Gua Batu Sawar



Gua Batu Sawar terletak di Desa Salak, Kecamatan Birayang, Kabupaten Hulu Sungai Tengah. Gua ini belum terlalu populer sehingga cukup sulit menemukan gua ini jika pergi tanpa ditemani penduduk lokal atau teman yang pernah kesana. Simpelnya, gua ini belum dikelola oleh penduduk agar dapat menjadi obyek wisata yang menghasilkan.
Gua Batu Sawar, Desa Salak, Kec. Birayang, Kab. Hulu Sungai Tengah
Aku sebenarnya sudah lama ingin ke Gua Batu Sawar. Libur hari raya Idul Fitri kemarin akhirnya kesampaian juga, dengan Yadi, Dayat, dan Ifit yang kami kenal melalui komunitas Backpacker Satayuhnya Barabai sebagai pemandunya.
Kami pergi menggunakan sepeda motor. Trip menggunakan sepeda motor memang lebih disarankan agar bisa memarkir kendaraan tidak jauh dari kaki bukit menuju gua. Dari Kota Barabai ambil jalan menuju Kecamatan Birayang. Sampai perempatan pasar Birayang, tanya saja penduduk sekitar jalan menuju Desa Batu Tangga. Perjalanan menuju Desa Salak cukup mengesankan karena sesekali di kiri jalan kita disuguhi aliran sungai berbatu yang masih jernih, juga sebuah bendungan yang pada hari libur cukup ramai didatangi penduduk untuk berwisata.
Memasuki Desa Salak, tidak jauh dari Poskesdes akan ada jalan setapak yang disemen di sebelah kanan jalan. Jalan setapak bersemen itu akan berakhir di jembatan ayun kecil yang menghubungan dengan jalan setapak di seberangnya. Sampai di titik trekking pertama, sepeda motor bisa diparkir kemudian perjalanan dilanjutkan dengan berjalan kaki menembus belukar. Yap, jalur menuju Gua Batu Sawar memang akan menguras tenaga. Terutama bagi yang rempong seperti aku. Penggunaan sarung tangan dan tali temali disarankan agar memudahkan perjalanan karena melewati jalur menanjak dan menurun yang curam atau terjal.

     
          Jika bau menyengat kotoran kelelawar mulai tercium maka mulut gua sudah dekat. Berhubung belum banyak gua yang pernah kumasuki, memasuki Gua Batu Sawar yang memiliki ruangan besar dengan tumpukan bebatuan dan langit-langit yang tingginya entah berapa puluh meter membuatku terkesima.
pintu masuk gua batu sawar
Gua Batu Sawar terdiri dari dua ruangan besar. Ruangan pertama memiliki dua lubang besar di langit-langitnya sehingga sinar matahari dapat masuk dan menerangi gua. Bebatuan yang ada pun berukuran besar-besar berwarna kuning dan hijau. Ruangan kedua cahayanya remang-remang. Masuk ke ruangan kedua disarankan untuk menyalakan senter agar tidak terpeleset saat berjalan di bebatuan yang diselimuti kotoran kelelawar. Bagian ujung ruangan terdapat lubang besar (mulut gua) yang mengarah ke tebing. Dari sana kita akan disuguhi pemandangan alam Pegunungan Meratus diselingi kebun atau ladang yang diolah oleh penduduk kampung.

mulut gua di ruangan kedua
       


empat gadis cilik yang bersama kami di gua batu sawar
Saat itu, tidak lama setelah kami sampai di Gua Batu Sawar ada pengunjung lain yang datang. Tidak tanggung, pengunjung lain itu adalah empat orang gadis cilik yang kutaksir baru duduk di kelas 4-5 SD tanpa didampingi orang dewasa. Aku jadi teringat ketika naik ke puncak Ambilik di Desa Batu Panggung, Kecamatan Haruyan. Saat itu kami dipandu oleh anak-anak SD melewati tebing curam dan terjal yang membuatku hampir menangis, padahal anak-anak itu naik dan turun Bukit Ambilik dengan santainya, bahkan sambil berlarian (._.”). Mungkin karena Bukit Ambilik, termasuk juga Gua Batu Sawar ini adalah lokasi bermain mereka, sampai orang tua mereka pun tidak khawatir ketika mereka bermain ke tempat berbahaya seperti ini.
Berkat media sosial seperti facebook dan instagram, Gua Batu Sawar mulai dikenal anak-anak muda di Kalimantan Selatan yang suka petualangan. Sayangnya, tidak semua yang datang ke gua ini berperilaku ramah lingkungan. Coretan hasil vandalisme dapat dilihat dengan jelas di dinding dan batu dalam gua. What a stupid do! Jangan dicontoh yaa…
Sebenarnya hari itu selain ke Gua Batu Sawar kami juga ingin bertandang ke Bukit Batu Kincir di Desa Nateh yang lokasinya tidak jauh dari Gua Batu Sawar. Berhubung stamina sudah terkuras, belum makan siang, dan hari semakin sore, kami mengurungkan niat untuk kembali mendaki. Setelah membersihkan diri di sungai dan mampir di warung untuk makan siang, kami pun kembali ke Kota Barabai. Semoga selalu diberi kesehatan agar bisa kembali mengeksplorasi keindahan kampung halaman tercinta.
Bukit Batu Kincir yang tepat berada di belakang *tapi udah kecapekan*

Bukit Batas, Riam Kanan




Bukit Batas mungkin sudah tidak asing di telinga para pejalan di Kalimantan Selatan. Bukit yang menawarkan pemandangan waduk Riam Kanan ini memang eksotis. Jika hari cerah, kita dapat melihat sunrise dan sunset dari puncaknya. Saat berkemah di sana pun kita dapat menikmati ribuan bintang-bintang di langit karena lokasinya memang jauh dari gemerlap lampu-lampu kota.


Bukit Batas terletak di Desa Tiwingan Baru, Kecamatan Aranio, Kabupaten Banjar. Dari Kota Banjarmasin bisa ditempuh dengan kendaraan roda empat dan dua sekitar 1,5 jam perjalanan ke arah Kota Banjarbaru. Sampai di bundaran Banjarbaru, ambil arah ke SPN kemudian ikuti saja jalan rayanya sampai akhir karena ujung jalannya berada di dermaga penyeberangan menuju desa-desa yang tersebar di sekitar waduk yang resminya bernama Ir. P.H.M. Noor ini.
Aku pertama kali ke Bukit Batas setahun yang lalu, tepatnya pada 1 – 2 Agustus 2014. Bersama kawan-kawan dari South Borneo Travellers sebanyak 25 orang kami berkemah semalam di sana. Untuk kedua kalinya pada 3 September 2014 bersama kawan-kawan Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP) Geografi Kota Banjarmasin tapi tidak menginap. Terakhir sebelum bulan puasa kemarin, tepatnya 23 – 24 Juni 2015 bersama adik, pacar, dan beberapa teman.

kemping seru with SBTers

Dalam setahun Bukit Batas memang banyak perubahan. Dulu, saat masih jalur lama (memutar), trekking santai ke puncak bukit ditempuh dalam waktu sekitar 2 jam. Di jalur yang sekarang (lewat kampung), waktu tempuh trekking jadi lebih singkat hampir separuhnya. Sebelum Bukit Batas menjadi primadona, jika ingin berkemah di puncak harus membawa peralatan dan perbekalan sendiri. Sekarang ada beberapa penyelenggara open trip siap mengakomodasi apabila ingin berkemah disana. Jika tidak kuat trekking, tinggal hubungi ojek untuk diantarkan ke puncak dengan ongkos Rp 50.000 sekali jalan. Apabila tidak ingin ribet bawa perbekalan dan perlengkapan kemping pun sekarang tersedia persewaan terpal dan warung yang stand by 24 jam bagi mereka yang ingin bermalam di Bukit Batas. WC darurat pun tersedia dan air untuk bilas bisa dibeli di pemilik warung yang menyediakan air bersih dalam botol-botol mineral berukuran 1 liter.
Bukit Batas, 3 September 2014
Saat lagi ramai-ramainya, Bukit Batas bisa dipenuhi oleh lebih dari 500 orang. Terutama pada malam minggu dan hari libur. Inilah yang membuat penduduk kampung membentuk pengelola Bukit Batas agar tetap terjaga dari tangan-tangan pengunjung yang tidak ramah lingkungan. Namun, berdasarkan hasil obrolanku dengan bang Fakhry dari CAMP outdoor rent, salah satu penyelenggara open trip Bukit Batas, popularitas Bukit Batas akhir-akhir ini agak berkurang. Mungkin karena sekarang banyak bermunculan lokasi berwisata lainnya, baik di sekitar waduk Riam Kanan, Mandiangin, dan wilayah lainnya di Kalimantan Selatan yang tidak kalah nge-hits dan kekinian untuk didatangi.
Sayangnya, saat kami berkemah di sana, cuaca sedang kurang bersahabat. Tidak bisa melihat sunset dan sunrise, bahkan pagi sebelum kami kembali ke dermaga hujan sempat turun dengan derasnya. Bukit Batas yang diselimuti kabut seakan berubah menjadi Silent Hills. Hahahaa…

Bukit Batas Berkabut
foto bareng sebelum pulang (^_^)
Semoga Bukit Batas terus menjadi tempat yang indah dan asyik untuk dikunjungi baik bersama teman, sahabat, maupun orang-orang tersayang. Tidak hanya Bukit Batas, semoga obyek-obyek lainnya di wilayah waduk Ir. P.H.M. Noor semakin banyak dikenal dan menarik banyak wisatawan untuk mengunjunginya.

Tuesday, January 27, 2015

Berkunjung ke Rumah Seni Balai Ramang

Senang rasanya saat melihat/mendengar Balai Ramang akhir-akhir ini cukup sering diekspos media cetak dan siaran radio lokal. Jadi teringat waktu berkunjung kesana pada 1 Januari 2015 kemarin. Saat itu belum banyak yang tahu mengenai keberadaan rumah bambu dengan arsitektur unik ini. Kami sendiri tahu setelah Ichunk (pengurus Basecamp Buku Meratus) memajang fotonya saat berada disana sebagai DP BBM-nya. Ichunk sendiri saat itu mengaku baru tahu keberadaan rumah seni ini. Padahal, ternyata Pak Bambang Sujianto (yang membangun Balai Ramang) sudah setahun ini tinggal disana.
burung dari sabut kelapa hasil karya anak-anak Kampung Ramang

Rumah seni (Balai Ramang) terletak di Kampung Ramang, Desa Patikalain, Kecamatan Hantakan, Kabupaten Hulu Sungai Tengah. Balai Ramang difungsikan tidak hanya sebagai tempat untuk berkesenian, tetapi juga sebagai tempat belajar bagi anak-anak Kampung Ramang. Pada sore atau malam hari banyak anak berkumpul disana untuk belajar bersama untuk membuat prakarya, belajar memainkan gitar, atau membahas pelajaran sekolah.

Pak Bambang sebelumnya bekerja dan berdomisili di Jakarta. Saat kutanya kenapa memilih tinggal di desa yang jauh dari keramaian, beliau menjawab, “Wong urip iku kudu urup. Aku sudah lama hidup di kota besar mengejar materi. Jadi, sekarang waktunya aku mendekatkan diri pada Tuhan, caranya dengan membantu penduduk kampung ini agar bisa hidup tanpa harus bergantung dengan apa yang disediakan oleh alam,” Kurang lebihnya begitu kata beliau saat bercerita pada kami.
Perjalanan ke Balai Ramang bisa ditempuh dengan kendaraan bermotor sekitar 1 jam dari Kota Barabai dengan kondisi jalan yang bagus. Patokannya adalah obyek wisata air panas Hantakan (banyu panas). Sesampainya di depan gerbang banyu panas, jangan belok/masuk gerbang tapi lurus saja, ikuti jalan beraspal karena masih akan melewati beberapa kampung, huma (ladang di perbukitan), hutan yang ditumbuhi pohon durian, rambutan, pampakin, dan pepohonan lainnya. Selain itu, mata kita juga akan dihibur dengan pemandangan sungai-sungai yang mengalir di sepanjang tepi jalan. Sangat menyenangkan dan menenangkan meski di musim hujan kita harus waspada karena ada beberapa ruas jalan yang rawan longsor. Sampai di Kampung Cabai, kendaraan bisa dititip parkir di Basecamp Buku Meratus dilanjutkan berjalan kaki sekitar 10 menit ke Balai Ramang. Jika bingung, bisa bertanya dengan penduduk karena Pak Bambang sudah dikenal oleh masyarakat disana.
kolam ikan indukan
Selain Balai Ramang, Pak Bambang yang sewaktu muda pernah menjadi atlet gulat ini juga membuat kincir air yang digunakan sebagai pembangkit listrik bagi rumah-rumah yang ada di Kampung Ramang karena listrik memang belum menjangkau daerah ini. Sinyal operator telepon seluler pun hampir tidak ada. Pak Bambang juga membuat beberapa kolam ikan yang salah satunya sudah menjadi kolam ikan indukan untuk kolam lainnya. Beliau juga berencana untuk mengelola kebun dengan metode hidroponik di sekitar kolam. Semuanya dimanfaatkan untuk menjadi sarana belajar bagi masyarakat di Kampung Ramang dan siapa pun yang ingin berkunjung kesana.

bendungan dan kincir air untuk pembangkit listrik bagi Kampung Ramang
Untuk pendanaa segala pembuatan balai, kincir, dan kolam, selain dari kantong pribadi Pak Bambang juga mendapat bantuan dari kawan-kawannya. Pak Bambang berharap Balai Ramang bisa menjadi tempat belajar bagi siapa pun dan beliau akan sangat senang jika ada yang bersedia menjadi volunteer untuk membantu kegiatan disana.
Pak Bambang Sujianto ternyata alumni SMPP 28 Banjarmasin (sekarang SMAN 7 Banjarmasin).
Bertemu dengan satu almamater sekolah di tempat yang jauh itu menyenangkan :)

Backpacker Satayuhnya Barabai bersama Pak Bambang Sujianto

Sunday, January 25, 2015

Berkunjung ke Desa Rantau Bujur (eps. Volunteering)

cerita sebelumnya di episode Bukit Kapayang

Listrik di Desa Rantau Bujur hanya didapat dari pukul 6 sore –6 pagi. Sinyal operator telepon seluler pun nyaris tidak ada. Ada, tapi hanya di satu sudut yang letaknya lebih tinggi dari wilayah lainnya di Desa Rantau Bujur ini sehingga kalau ingin menelepon/menerima SMS harus pergi kesana.
Untuk sementara lupakan mengutak-atik ponsel untuk sosial media. No BBM, path, instagram, facebook, bahkan telepon dan SMS. Malam itu dilewati dengan berbincang dengan Pak Mukeri dan guru-guru yang membantu istri beliau menyiapkan makan malam untuk kami. Tentang kondisi sekolah dan siswa-siswanya, juga kondisi masyarakat dan pelayanan medis yang terbatas. Kami pun melewati malam dengan bertukar cerita untuk mengenal lebih banyak antara yang satu dengan yang lain karena tidak semuanya sudah saling kenal dan pernah travelling bareng. Keterbatasan kali ini menambah keakraban kami karena tidak ada yang asik sendiri dengan ponselnya.

Rabu, 21 Januari 2015.
Bangun pagi dan bersiap untuk pergi ke sekolah. Agenda kami pagi itu adalah berkunjung ke SDN Rantau Bujur dan SMPN 4 Aranio untuk kegiatan bakti sosial. Buku hasil donasi dari Indomedia dan teman-teman lainnya kami serahkan ke guru/petugas perpustakaan. Sambil membagikan permen coklat dan beberapa paket alat tulis ke kelas-kelas, kami bertukar cerita, membuat games/tebak-tebakan, juga penyuluhan kesehatan untuk para siswa.

antusias mendengarkan Kak Yusuf memberikan penyuluhan
mengenai cara mencuci tangan yang baik
Kak Hendra dan Kak Dwi sedang menceritakan pengalaman
mereka travelling kepada adik-adik SMPN 4 Aranio
 Senang rasanya melihat mereka antusias dengan kedatangan kami. Meskipun lokasi desa ini terpencil, tapi anak-anaknya memiliki semangat yang tinggi untuk bersekolah, minimal menuntaskan WAJAR DIKDAS 9 tahun. Memang tidak banyak anak yang melanjutkan ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi karena fasilitas pendidikan di desa ini hanya sebuah SD dan SMP negeri. Untuk melanjutkan ke SMA/sederajat dan jenjang yang lebih tinggi mereka harus pergi meninggalkan desa. 
Aku ingin ke Jakarta supaya bisa pergi ke Ancol dan Monas. Kata seorang siswa yang kami minta menceritakan keinginannya akan pergi kemanakah jika dia travelling suatu saat nanti
SDN Rantau Bujur dan SMPN 4 Aranio berada pada lingkungan yang sama karena dulunya memang merupakan sekolah satu atap. Terdapat 6 rombel di SDN Rantau Bujur dan kondisinya masih sangat bagus. Sedikit berbeda dengan kondisi SMPN 4 Aranio. Lantai di beberapa ruang kelas terlihat pecah-pecah. Cukup mengganggu pemandangan meski tidak mempengaruhi aktivitas belajar mengajar. Semoga kondisi lantai kelas ini mendapat perhatian dari dinas pendidikan mengingat saat ini di sekolah tersebut sedang dilakukan pembangunan WC sekolah.

kondisi ruang kelas di SMPN 4 Aranio
lapah tapi rami ya ini pang :)
tunjukkah coklatnya!!
Cukup lama kami berada di sekolah. Anak-anak SDN Rantau Bujur amat bersemangat mendengarkan penyuluhan kesehatan mengenai cara mencuci tangan yang benar yang disampaikan dengan gaya yang kocak oleh Kak Ucup yang berprofesi sebagai perawat. Belum puas di dalam kelas, dilanjutkan dengan duduk lesehan di teras kelas yang akhirnya diikuti oleh siswa dari kelas 1 – 6. Siapa yang bisa memperagakan cara mencuci tangan yang benar mendapat hadiah permen coklat buatan Kak Dwi yang memang memiliki usaha pembuatan kue dan coklat (nah Dwi, kurang apa lagi kakak mempromosikan Rumah Tieka Coklat di blog ini. Diskon lah kalau kakak pesan wadai/coklat :D).
senang bisa berbagi cerita bersama mereka
Halo Indonesia! Kami siswa-siswa SDN Rantau Bujur
pesta durian
Kegiatan berlanjut dengan hunting durian! Sayang, tahun ini tak banyak durian yang bisa didapat di desa ini. Untungnya, selain durian desa ini juga menyuguhkan buah-buahan lainnya seperti rambutan, kapul, dan ramania (gandaria). Buah yang disebut terakhir bahkan tak pernah dilupakan Steven di waktu makan tiba. Penuh semangat, Steven membuat cacapan ramania sebagai pengganti sambal terasi untuk menu pelengkap makanan yang dimasak oleh istri pembakal. Nasinya dari beras gunung, ikannya didapat dari sungai/waduk Riam Kanan, sayurannya sayur organik dari hasil kebun penduduk desa. Tanpa malu-malu tak sedikit dari kami yang nambah nasi dan lauk saking berasa nikmatnya.
 Waktu menunjukkan pukul 2 siang. 1 jam lagi kami akan dijemput kelotok carteran kami kemarin di dermaga. Sebelum pulang, ada lagi yang akan kami berikan kepada Pak Mukeri selaku pambakal yaitu papan nama kepala desa untuk dipasang di depan rumah dan papan nama desa untuk dipasang di dermaga. Senang rasanya melihat dermaga Desa Rantau Bujur kini bisa mengucapkan selamat datang bagi siapapun yang berkunjung kesana.

penyerahan papan nama desa kepada Pak M. Mukeri Pambakal Rantau Bujur
Semoga lebih banyak lagi perhatian dari berbagai pihak bagi Desa Rantau Bujur dan desa-desa lainnya di wilayah waduk Riam Kanan. Perbaikan akses jalan darat agar mudah dilalui menggunakan kendaraan bermotor, peningkatan fasilitas pasokan listrik, jaringan komunikasi telepon seluler, kesehatan (termasuk kendaraan seperti speedboat agar masyarakat bisa mendapat penanganan medis serius dengan cepat), pendidikan, dan semua yang menjadi hak mereka sebagai warga negara Indonesia.
Banyak pengalaman dan cerita menarik yang kami bawa pulang. Kegiatan kali ini bahkan menjadi pemicu semangat kami untuk melakukan kegiatan serupa di tempat lainnya. Voluntourism itu menyenangkan, kawan! Tidak hanya mendapatkan pengalaman menyenangkan saat berjalan-jalan, tapi juga perasaan nyaman karena dapat membantu sesama yang memerlukan bantuan.
Atas terlaksananya kegiatan ini, kami mengucapkan banyak terima kasih kepada Pak M. Mukeri selaku Kepala Desa Rantau dan istri, amang Anshari (guide), guru-guru SDN Rantau Bujur dan SMPN 4 Aranio, masyarakat Desa Rantau Bujur, dan para donatur atas sumbangan buku, uang, tenaga, serta dukungannya.
see you on next voluntourism with South Borneo Travellers
Gunung Pahiyangan dari kejauhan
Tepat jika ada yang menyebutkan bahwa… When you travel, there are always stories to tell, places to see, things to do, people to meet, and memories to remember.

*semua foto merupakan dokumentasi dari South Borneo Travellers

Berkunjung ke Desa Rantau Bujur (eps. Bukit Kapayang)

Kecamatan Aranio (3o9’34’’ LS – 3o17’58’’LS dan 115o7’50” – 115o5’13”) merupakan salah satu kecamatan yang berada di Kabupaten Banjar, Provinsi Kalimantan Selatan. Kecamatan ini melingkupi 12 desa (diurut dari lokasi kantor desa yang paling dekat ke yang paling jauh menuju kantor Kecamatan Aranio), yaitu: Aranio, Tiwingan Lama, Tiwingan Baru, Belangian, Paau, Kalaan, Artain, Benua Riam, Bunglai, Apuai, Rantau Bujur (20 km), dan Rantau Balai. Desa-desa ini berada di sekitar waduk Ir. P. H. M. Noor yang lebih dikenal dengan sebutan waduk Riam Kanan.
Aku akan bercerita mengenai kunjunganku ke Desa Rantau Bujur bersama kawan-kawan yang tergabung dalam South Borneo Travellers. Kunjungan yang bermakna dan sangat menyenangkan. Sebab, selain untuk travelling (namanya juga komunitas jalan-jalan), kedatangan kami ke desa ini juga untuk melakukan bakti sosial.

Selasa, 20 Januari 2015.
Pukul sembilan pagi kami berkumpul di dermaga Riam Kanan. Bang Deddy, Adit, Al, Rama, Hafiz, Fandy, Ega, Dayat, Ucup, Donny,Roew, Hendra, Aal, Stevan, Zaini, Enoy, Sari, Halimatus, Dwi, Nanda, Denina, Netya, Ka Ardi beserta istri (Ka Erna) dan anak bungsunya yang berumur 5 tahun (Azzam), dan tentunya aku. Kami menuju Desa Rantau Bujur menggunakan kelotok yang sudah kami pesan beberapa hari sebelumnya.

kelotok inilah yang mengantar jemput kami
berfoto dulu di depan dermaga desa *belum ada plang nama desa*
makan kuaci menambah keakraban selama diperjalanan
Ada kelotok yang berfungsi sebagai taksi air dari dermaga Riam Kanan menuju Desa Rantau Bujur. Pagi dari desa dan sore hari dari dermaga Riam Kanan. Meskipun Desa Rantau Bujur bisa didatangi lewat jalan darat, tapi jauh lebih nyaman jika menuju desa ini melalui jalur air. Hal ini menjadikan kelotok sebagai alat transportasi vital bagi warga jika akan bepergian ke luar desa.
Perjalanan dengan waktu tempuh 2 jam membuat kami menikmati banyak pemandangan yang disuguhkan oleh waduk Riam Kanan. Keramba-keramba nelayan Riam Kanan, pemukiman penduduk, bukit-bukit yang sekarang menjadi destinasi travellers lokal seperti Bukit Batas, Bukit Batu, dan Bukit Atawang, aktivitas warga, juga sapi-sapi yang merumput di daratan/pulau-pulau kecil di area waduk Riam Kanan. Sungguh mempesona.

Bukit Batu
 Sampai di wilayah Desa Apuai kelotok mulai meninggalkan waduk dan masuk ke jalur sungai. Tak lama kemudian sampailah kami di Desa Rantau Bujur. Horeee… Kedatangan kami disambut gembira Pak M. Mukeri, Pambakal (Kepala Desa) Rantau Bujur. Rumah beliau lah yang menjadi tempat bermalam kami selama di Desa Rantau Bujur.
“Mana foto kita kemarin?” tanya Pak Mukeri pada teman-teman yang sebelumnya sudah pernah berkunjung ke Rantau Bujur.

foto kunjungan sebelumnya
Kunjungan mereka saat itulah yang akhirnya membawa kami datang ke tempat ini untuk trekking ke Bukit Kapayang dan membawa sedikit buah tangan. Buah tangan berupa buku-buku untuk perpustakaan sekolah, papan nama desa untuk dipasang di dermaga, papan nama kepala desa untuk dipasang di depan rumah, sekardus permen coklat dan beberapa bungkus paket alat tulis yang akan dibagikan kepada siswa-siswa saat kami berkunjung ke sekolah. Oleh karena itu, kami mengkategorikan trip kali ini sebagai voluntourism*.
Setelah beristirahat, sholat, dan makan siang, kami pamit pada Pak Mukeri untuk pergi ke Bukit Kapayang. Ditemani perang (amang) Anshari yang bertindak sebagai guide dan rinai hujan, kami pergi ke Bukit Kapayang dengan bersemangat dan penuh warna. Sumpah! Saat itu aku mengenakan jas hujan warna biru, Adit mengenakan jas hujan warna kuning, Azzam mengenakan jas hujan warna pink, payung yang kami gunakan untuk melindungi diri dari hujan juga warna-warni. Penuh warna, kan? :D

kecil-kecil begini Azzam sering trekking loh
Untuk menuju Bukit Kapayang kami harus menyeberangi sungai yang di musim hujan ini menjadi lebar dan dalam. Hal kocak namun menegangkan pun terjadi saat kami turun ke kelotok (yang ukurannya jauh lebih kecil dibanding kelotok yang membawa kami dari dermaga). Aku yang tidak bisa berenang langsung pucat, takut kelotok oleng dan terbalik. Ditambah Dwi yang parnoan dan histeris saat menaiki kelotok membuatku tambah takut hingga duduk terdiam tanpa berani bergerak. Hahahaha… untungnya histeriaku hilang saat kelotok mulai melaju membelah sungai. Sampai di seberang, perjalanan dilanjutkan dengan berjalan kaki. Hujan membuat jalur yang kami tempuh menjadi becek bahkan tergenang.
kelotok yang membawa kami menyeberang menuju Bukit Kapayang


foto bareng dulu sebelum memulai trekking.
warna-warni jas hujan dan payung menambah semarak trekking kami
“Semoga tidak ada pacat (lintah),” ucapku dalam hati. Doa anak sholehah terkabul (hehehee…). Tak satu pun dari kami yang melihat/digigit lintah. Tapiiii…. tak satupun dari kami yang terbebas dari butuh bujang (ada yang tahu apa Bahasa Indonesia/bahasa latinnya rumput yang kepala/butiran buahnya suka nempel ini?!). Banyak bingit!! Azzam yang biasanya enjoy naik bukit/gunung kali ini merenggek minta hambin (gendong) ke abahnya. Meski demikian, ada saja yang rela rebahan di rumput demi bisa mendapatkan foto dengan gaya andalannya setiap kali travelling. Alhasil, butuh bujang tidak hanya nempel di celana tapi juga baju dan jilbab. Hahahaa…

diperjalanan menuju Bukit Kapayang
foto-foto jalan terus sebagai kenangan sewaktu trekking
Alhamdulillah, saat berada di Bukit Kapayang hujan reda. Kami pun bisa berfoto-foto dan menikmati pemandangan tanpa harus mengenakan jas hujan dan payung. Bahkan, puncak Gunung Pahiyangan yang awalnya tertutup kabut pun berangsur dapat terlihat. Senang rasanya bisa melihat gunung ini dari dekat.

Gunung Pahiyangan dari Bukit Kapayang
Menurut informasi yang didapat, Gunung Pahiyangan ini berbentuk segi delapan sehingga jika dilihat dari sisi manapun bentuknya akan sama. Puncaknya yang datar menambah eksotika gunung hingga kami menjulukinya table mountain. Gunung ini memiliki beberapa mandin (air terjun) dan telaga. Salah satu adalah mandin pantan. Jika debit air terjun ini sedang banyak, air yang jatuh akan membentuk tiga aliran hingga terlihat seperti tirai. Namun kali ini kami hanya sampai Bukit Kepayang karena untuk ke mandin pantan masih harus trekking sekitar 1,5 jam lagi.


Tidak banyak yang pernah naik ke puncaknya. Ketiadaan informasi mengenai koordinat, ketinggian gunung, dan kondisi jalur ke puncaknya membuat gunung ini semakin menarik (untuk dipandangi). Teman-teman yang sebelumnya kesini pun hanya sampai mandin Pantan. Ke mandin pantan saja memakan waktu berjam-jam, apalagi ke puncak. Nanti lah aku kesana, tapi lewat google earth saja :p

Gunung Pahiyangan
Sekilas tentang Desa Rantau Bujur.
Status/klasifikasi =  desa swasembada
Jarak dari kantor desa ke kantor kecamatan di Aranio = 20 km
Luas wilayah = 314 km2
Jumlah penduduk (2011) = 807 jiwa (3 jiwa/km2)
Jumlah Rukun Tetangga = 3 RT
Jumlah sekolah = 2 buah (SDN Rantau Bujur dan SMPN 4 Aranio)
Pelayanan medis = 1 buah puskesmas pembantu
(sumber: Kecamatan Aranio dalam Angka Tahun 2012)

*Voluntourism, volunteer tourism, volunteer travel, volunteer vacations = travel which includes volunteering for a charitable cause --- berwisata sambil melakukan kegiatan dengan sukarela di tempat yang dikunjungi).
**semua foto adalah dokumentasi SBTers.

bersambung ke episode Volunteering