Sunday, September 18, 2016
Jatuh Cinta Kepadaku Itu Mudah, Seandainya Kamu Mau
Saturday, October 15, 2011
Confusion on Satnight (Remembering You)
Aku mulai dilanda kegalauan (hahahaa....). Maka, kurangkailah entah apa namanya yang akan tersaji di bawah ini. Aku sendiri kurang yakin apakah ini perasaanku yang nyata atau hanya sekadar mengarang cerita. Kubiarkan saja, mumpung jemariku sedang rukun dengan sudut otak yang mendektekan kata-kata.
Remembering You (again)
Membicarakanmu entah kenapa tak pernah ada bosannya bagiku. Mungkin karena di semestaku kau lah yang terindah meski tak tergapai. Sesekali kita beriringan. Sesekali aku melihatmu di sudut jalan. Namun, tak pernah lagi mata kita berpandangan. Tak lagi sungging senyum terkembang. Hanya seribu diam yang ada. Mungkin, bagimu, aku tak lagi nyata.
Banyak yang datang dan pergi, bahkan tak kembali. Beberapa kusesalkan, beberapa kubiarkan. Tentunya banyak dari mereka kuharapkan tetap tinggal atau kembali suatu hari. Karena tanpa mereka, aku bukanlah siapa-siapa. Tanpa mereka, aku merana mengenangmu.
Teruntuk dirimu, aku masih di sini, berharap kamu kembali. Kurindu tatapanmu yang angkuh namun ramah. Kurindu tawa sinismu yang terdengar renyah. Kurindu senyummu, kurindu genggaman tanganmu. Aku rindu menjadikanmu alasan kebahagiaanku.
Confusion on Saturday night:
Dear someone… Could I to be with you?!
Friday, September 23, 2011
My Dreams to be True on Him
Obrolan kami awalnya hanya berupa informasi lowongan kerja berlanjut saling tanya kabar. Saat aku tanya sekarang dia ada di Malang atau di Lombok, dia bilang sekarang ada di Yogya, melanjutkan kuliah ke jenjang S2 di UGM. Wah, aku bahagia sekaligus iri mendengarnya. Saat lulus kuliah, aku juga berniat serupa. Tapi kondisi saat itu belum berpihak padaku untuk melanjutkan studi. Aku kembali ke Banjarmasin, ikut tes CPNS, lulus, dan akhirnya menjadi guru geografi di SMAN 10 Banjarmasin.
"Aku dapat beasiswa, Ka. Ambil jurusan manajemen bencana."
Mendengar jurusan yang dia ambil, aku langsung surprise. Rasa iriku semakin besar. Aku bahkan menangis. Itu adalah jurusan yang aku idam-idamkan jikalau melanjutkan ke jenjang S2. Sayangnya, ketika sudah berstatus guru PNS, rasanya peluang untuk mendapatkan izin studi di jurusan ini cuma impian belaka karena setahu aku seorang guru hanya bisa mengambil studi kependidikan. Magister Pendidikan Geografi atau Magister Pendidikan IPS. Kuharap aku salah. Kuharap guru pun mendapat izin untuk studi di Magister Manajemen Bencana, jurusan yang sampai saat ini masih langka di Indonesia. Jurusan yang bekerja sama dengan perguruan tinggi di Belanda sehingga berkesempatan juga untuk studi di sana. Bahkan kabarnya, mahasiswanya pun dibimbing agar bisa mendapatkan beasiswa S3 di Jerman. Belanda, Jerman, jika berkesempatan studi di luar negeri, kedua negara itu adalah yang pertama-tama akan kupilih.
Well, apapun ending dari keinginanku untuk melanjutkan studi ke jenjang S2, aku bahagia mendengar kabar darinya. Paling tidak, jika aku tidak bisa mendapatkannya, seseorang yang dekat denganku bisa mendapatkannya, juga sukses menjalaninya.
Good luck, bro. I pray for you. I pray the best for us.
Tuesday, March 10, 2009
I Dreamed him
Apakah sering bermimpi indah tentang dia, cowok yang aku suka juga termasuk? Kalau iya, aku jadi bingung sebenarnya apa rencana-Mu dibalik mimpi-mimpi itu? Apakah ketika saatnya tiba Engkau akan menyatukanku dengannya? I hope so…
Perkenalan kami berlangsung begitu cepat. Perasaan itu pun datang begitu cepat. Tapi begitu cepat juga dia pergi. Meninggalkan rasa yang tidak terhapus olehku, entah sampai kapan.
Kehadirannya membuatku bahagia. Membuatku lupa rasanya patah hati. Tapi ternyata aku kembali terluka. Kalimat itu meluluhlantakkan perasaanku.
– Kamu gak akan kuat bersamaku. Sebaiknya kita akhiri saja, mumpung belum kita mulai –
Aku mengerti saja tidak apa maksud kalimat itu. Yang aku pahami, cowok berwatak keras itu masih tinggal di palung hatiku. Entah aku berada di sudut mana di dalam pikirannya.
Dedicated to Kk Menyebalkan
Lagi-lagi aku memimpikanmu
Thursday, February 26, 2009
Kisah Si Lajang
Aku lajang yang beruntung. Bekerja sebagai staf pengajar di sebuah SMA berstandar internasional (PNS) dan bimbingan belajar terkemuka membuat hidupku terbilang mapan. Beruntungnya lagi, bagi orang tuaku, umurku yang hampir seperempat abad ini tidaklah mengkhawatirkan apabila masih berstatus lajang, bahkan tidak punya pacar! Padahal, mamaku menikah di usia yang cukup belia. 18 tahun.
Kalau diusut lebih lanjut, tidak hanya aku gadis berumur lebih dari 22 tahun yang masih lajang di keluargaku. 1, 2, 3, 4, …, ternyata ada 7 orang! Bahkan 3 diantaranya hampir berumur 30 tahun.
Betah? Sebenarnya tidak juga. Gak laku? Gak tuh! Terlalu pemilih? Let we see…
----------
Mas Dian. 28 tahun. Wartawan di sebuah harian surat kabar di Kota Malang. Kami berkenalan saat aku magang jadi wartawan di sana. Kami sempat hang out beberapa kali (aku gak suka pakai istilah ngedate karena bagiku saat itu kami tidak sedang berkencan). Makan, nonton, dan rekreasi. Betenya, selalu dia yang menentukan kami akan makan apa dan dimana, nonton film apa, dan akan pergi kemana. Kalau selera kami sama sih oke. Sayangnya tidak!
Dia suka makan masakan pedas. Jadi, kalau gak di rumah makan Padang ya kami makan di warung-warung yang dia sudah tahu betul menu dan seberapa pedasnya masakan yang tersaji di tempat itu. Sedangkan aku? Sebiji cabai rawit saja dijamin membuat perutku langsung terasa perih. Aku benci film horor, film yang banyak pembunuhan sadisnya, thriller gitu lah! Eh, tanpa bertanya terlebih dahulu padaku dia langsung menyodorkanan tiket 21 dengan film bergenre seperti itu. Dia bilang drama romantis itu hiperbolis. Bilang saja mengajakku nonton thriller dengan harapan aku akan berteriak ketakutan lalu memeluknya sepanjang film berlangsung. Berharap dengan pelukan itu aku akan merasa terlindungi oleh sang pangeran. Sayangnya, bukannya ketakutan aku malah ketiduran.
Dia bukan Arema sih. Tapi tetap saja dia tinggal di Malang, bukan di Banjarmasin. Jadi, kalaupun kami punya selera yang sama, dia tetaplah bukan pilihan untuk hatiku berlabuh. Aku tidak pernah berniat tinggal di Malang selain untuk kuliah. Lulus kuliah ya aku pulang ke Banjarmasin.
Kenapa aku oke saja dia ajak hang out? Entahlah. Mungkin sebagai refreshing setelah aku menjalani rutinitas kuliah dengan tugas yang setumpuk, berbagai kegiatan organisasi ekstra kampus yang kuikuti, dan magangku sebagai wartawan yang melelahkan. Ketiga hal itu mengharuskan aku pintar-pintar membagi waktu agar kuliahku tidak keteteran. Jadi, bisa ditebak kan apa jawabanku saat Mas Dian nembak? Right!
“Sori, Mas. Hidupku bukan untuk menjalankan pilihan orang lain.”
----------
Arya. 24 tahun. He’s my first love. Pacarku semasa SMA.
Setelah putus hubungan kami tetap terjalin dengan baik. Kalau sedang berkomunikasi, kadang kami bisa SMS-an dari jam 10 malam sampai larut. Untill after midnight. Isi SMSnya? Cerita tentang tugas kuliahku yang setumpuk, seberapa seru dan melelahkannya organisasi ekstra kampus yang kuikuti, tugas sebagai wartawan magang yang membuatku menemui banyak hal yang tidak terkira, banyak hal lah! Lebih banyak aku yang bercerita. Rian tetap seperti dulu, lebih suka menjadi pendengar yang menyebalkan. Cerita tentang dia paling hanya seputar kegiatannya berlatih futsal, pementasan teater, dan penggarapan film indie. Itupun disampaikan layaknya sekilas info.
Selain SMS-an, kalau bertemu kami tetap jalan bareng sih. Kadang beramai-ramai, kadang hanya berdua. Gak jauh beda dari masa pacaran kami yang berjalan sekitar setahun. Bisa dibilang kami tuh menjalin hubungan teman tapi mesra.
Hey, I’m a single girl. Jadi boleh dong kalau hang out atau ngedate dengan siapa pun, termasuk dengan mantan pacar? Sedangkan Arya? Sepertinya dia masih asyik dengan dirinya sendiri. Tidak sedikit gadis yang dipacarinya minta putus akibat sifatnya yang cuek dan terkesan gak betahan. Kalau bete sama pacarnya itu, kalau gak dia diamin berhari-hari ya dia jalan sama cewek lain.
“It’s over!” itu katanya.
Tidak banyak yang berubah dari dirinya setelah kami putus. Entah kenapa dia tetap ada saat aku perlu seseorang untuk curhat. Satu hal yang masih dilakukannya sampai sekarang adalah…
Kalau dia tiba-tiba kirim SMS setelah sekian lama (bahkan setelah tidak satu pun SMS dariku dia balas), itu artinya dia sedang jomblo. Kalau aku ada di Banjarmasin, itu artinya dia perlu seseorang untuk diajak makan, nonton, rekreasi, atau sekadar berbincang.
Aku mencintainya. Dia tahu itu. Kami pun punya selera yang sama. Tapi ternyata itu belum cukup untuk membuatnya berkata,
“Kita jadian lagi, yuk!”
Atau kata-kata sangat gak romantis yang diucapkannya saat nembak aku,
“Kau tahu kan aku mau ngomong apa?”
Tidak lama setelah aku lulus kuliah dan kembali ke Banjarmasin gantian Rian yang pergi ke Malang untuk mengambil gelar master di bidang hukum kenotariatan. Sebelum pergi aku sempat bertanya kepadanya,
“Adakah yang mau kamu katakan kepadaku?”
Dia tersenyum lalu berkata, ”Let it flow.”
----------
Selain Rian dan Mas Dian sebenarnya masih ada lagi sih tapi… sudahlah! Aku lagi enjoy berkarir.mengisi waktu senggangku dengan belajar masak dan menjahit, mengisi hari liburku dengan travelling, dan tentunya menghadiri pesta pernikahan sahabat atau kawan-kawanku yang satu-persatu meninggalkan masa lajangnya. Beberapa bahkan sudah memiliki anak.
“Kapan merit, Rin?”
“Aku tunggu undangan perkawinanmu loh!”
“Aku harap kamu sudah menikah sebelum aku punya anak kedua.”
Gals, kenapa malah kalian sih yang ribut? Keluargaku fine saja tuh dengan statusku sebagai single happy.
“Kalau mau menikah jangan asal pilih suami. Kata orang Jawa, lihat 3Bnya. Bibit, bebet, bobot. Masalah jodoh Allah yang paling tahu. Mintalah petunjuk dari-Nya agar dipersatukan dengan orang yang tepat diwaktu yang tepat,” Mamaku justru mengatakan itu. Abahku juga. Julakku juga. Acilku juga. Bahkan kai dan niniku pun mengatakan hal yang sama. Beruntunglah aku dan 6 gadis lajang lainnya di keluargaku yang gak perlu hidup dengan tuntutan untuk segera menikah.
----------
Hari ini umurku tepat 25 tahun.
Aku pernah berharap di usia inilah aku menikah. Aku sudah pintar memasak, pintar menjahit (aku perlu lemari yang lebih besar untuk semua pakaianku!), yach, walau masih kurang suka mencuci piring.
Hari ini menjadi hari Minggu yang membahagiakan buatku.
Sejak lepas tengah malam satu-persatu sahabat dan kawanku mengucapkan selamat ulang tahun. Via telepon, SMS, e-mail, facebook, via apapun deh yang bisa membuat mereka menyampaikan ucapan selamat ulang tahun padaku (termasuk datang ke rumah dengan membawa kado ulang tahun). Tapi yang membuatku sangat bahagia adalah kedatangan sepasang suami-istri (dan ketiga anaknya yang menunggu dengan harap-harap cemas di teras rumah).
Keluarga Rian? Aku memang dekat dengan keluarganya. Tapi Rian hanya dua bersaudara. Rian pun masih di Malang, dalam proses menyelesaikan tesisnya. Lalu siapa?
“Rina belum terikat dengan pemuda mana pun kan?” tanya Sang Mama kepada orang tuaku, terkhusus kepadaku.
“Belum, Ma.”
Well, semenjak kenal aku memang memanggil Sang Mama dengan sebutan “Mama”. Akupun pernah berharap beliau akan menjadi mamaku. Mama mertuaku. Tapi harapan itu sempat kukubur dalam-dalam. Rasanya seperti ingin menjangkau bintang apa daya tangan tidak sampai. Bintang itu berjuta tahun cahaya jauhnya dari bumi. Sedangkan tanganku sepenggalah saja tidak sampai (^.^v). Kedatangan keluarga itu ke rumahku tepat di hari ulang tahunku untuk membicarakan hal yang sangat serius benar-benar memekarkan harapan itu lagi.
“Kami kesini dengan harapan dapat meminang Rina untuk anak kami, Rahman,” beitu kata Sang Abah.
Ka Rahman. 26 tahun. Eksekutif muda yang karirnya sedang melejit. Hobi olahraga (sama kayak Rian), cakep (Rian jelek!), santun (Rian tuh agak urakan, tapi keduanya sama-sama gokil), sholeh (Rian juga c!).
Kisah kami berawal di Malang, 3 tahun yang lalu. Saat itu kami sedang sama-sama berjuang agar judul skripsi yang kami ajukan diterima. Aku kuliah di jurusan geografi, Ka Rahman di jurusan teknik industri, di perguruan tinggi yang berbeda. Kami dikenalkan oleh seorang kawan. Kawan kami itu bilang seperti ini waktu itu,
“Kalian kan satu daerah. Karena sebelumnya tidak saling kenal, alangkah baiknya kalau kalian menjadi saling kenal.”
Hubungan kami baik dan cukup akrab. Apalagi kawan kami itu begitu niat menjodohkan kami. Tapi lama-kelamaan hubungan kami hambar. Mungkin Ka Rahman tidak merasa cocok denganku, padahal disaat yang bersamaan aku jatuh cinta kepadanya. Terasa konyol jika aku menutup hatiku hanya karena berharap dapat bersatu lagi dengan Rian. Aku bahkan membuang jauh harga diriku dengan mengatakan “Aku mencintai Kakak” pada seorang pemuda yang baru kukenal sebulan. Tapi cintaku tidak berarti baginya. Bahkan sampai 2 tahun setelah kejadian itu.
Beruntung, aku sempat berkenalan dengan adiknya. Kami menjadi akrab karena sering saling curhat. Ketika ada kesempatan, kami pun menyempatkan untuk bertemu. Makan, nonton, hingga akhirnya aku berkenalan dengan kedua orangtuanya. Mungkin adiknyalah yang bilang bahwa sampai saat ini aku masih lajang. Masih menanyakan keadaannya. Masih mencintainya.
“Bagaimana, Rin?” tanya orang tuaku. Tanya orang tua Ka Rahman.
Walau tidak berucap sepatah kata pun, aku yakin orang tuaku dan orang tua Ka Rahman tahu jawabannya. Pipiku yang bersemu merah dan senyum bahagia yang kusunggingkan malu-malu menjadi tandanya.
“Rina mau menikah dengan Ka Rahman.”
“Alhamdulillah.”
Wednesday, January 28, 2009
Kangen
Berada di dekat Kk…
Ngobrol ma Kk…
Bahkan untuk sekadar menghirup asap rokok yang Kk kepulkan
Semoga Kk merasakan hal yang sama
Wednesday, January 7, 2009
Wednesday, December 24, 2008
Sunday, December 14, 2008
Tuesday, December 2, 2008
What can I do to Make You Love Me?

Itu membuatku sedih, karena belum tentu kamu juga memikirkanku
Itu membuatku senang, karena meyakinkan bahwa aku benar-benar mencintaimu
Tapi, masihkah ada tempat spesial untukku di hatimu?
Kamu bilang aku tak akan kuat bersamamu
Aku tak akan kuat jika sendirian di sini. Tanpamu
Mungkin caraku mencintaimu sederhana:
Mengirimkan bait-bait cinta, sekotak kue coklat…
Menyunggingkan senyum termanis yang bisa wajah berjerawatku tampilkan…
Dan selalu mendoakan kebahagiaan untukmu.
Aku ingin menjadi tempat kamu menangis, tertawa, dan bermanja
Akan kusediakan bahuku, waktuku, dan jiwaku untuk itu.
Tak banyak cara yang kutahu untuk menunjukkan rasa cintaku kepadamu
Adakah cara lain yang kamu mau?
Aku tak menjamin tak akan ada rasa sesal mencintaiku.Aku tidaklah sempurna
Tapi aku ingin kita sama-sama merasa sempurna dengan saling mencintai
nb: terinspirasi dari lagunya b*witched 'What can I do to Make You Love Me?'
dedicated 4 Kk "Menyebalkan"
Friday, November 21, 2008
Chatting
Aisha memang cewek yang gila chatting. Setiap ngenet, dia pasti chatting. Ntah pakai YM, MIRC, skype, google chat, atau apalah yang bisa dipakai buat chatting! Nah, setelah sukses dengan penelitiannya mengenai kehidupan para gay untuk tugas psikologi abnormalnya, untuk tugas akhir metodelogi penelitian, dengan mantap Aisha menyatakan ingin meneliti mengenai para pengguna cyber sex yang menggunakan jalur MIRC.
Amelia dan Sindy sempat mengungkapkan rasa heran mereka. Mereka bahkan menyuruhnya berkali-kali mempertimbangkan hal ini.
“Sha, kamu yakin? Sebaiknya jangan deh.”
“Sha, aku sendiri akan mempertimbangkan masak-masak kalau ingin melakukan penelitian ini. Apalagi kamu? Gak pantas! Gak cocok. Kamu pasti akan menemukan hal-hal gak kamu kira sebelumnya,” Amelia sangat serius mengingatkan Aisha perihal ini.
“Gals, aku tuh calon psikolog. Bagiku ini tantangan. Mengetahui kenapa mereka melakukannya, seberapa sering, apa untungnya, sebanyak informasi yang bisa kudapatkan deh.”
Aisha kalau sudah berniat memang gak bisa dicegah. Kalau dia ingin es krim ya dia akan beli atau minta dibeliin es krim. Begitu juga kalau dia ingin mentraktir Amelia dan Aisha makan. Maka mereka akan pergi ke warung, pujasera, kafe, atau rumah makan yang menyediakan makanan empat sehat lima sempurna.
Tapi yang namanya Aisha tetaplah Aisha. Dia gak mau meladeni ajakan seperti itu jika sedang chat sendirian. Cewek ‘jilbaber’ seperti Aisha termasuk ’keren’ berniat meneliti hal seperti ini. Oleh karena itu, harus ada Amelia atau Sindy atau kedua di sampingnya. Selain biar ada yang membantunya membalas godaan birahi lawan mainnya (soalnya, loadingnya untuk hal yang satu ini kayak pentium 1), biar ada kawan buat ketawa juga menanggapi birahi via dunia maya ini.
Seperti yang mereka lakukan saat ini. Berhubung internetan di rumah sekarang sudah gak semahal dulu, mereka pun jadi jarang ke warnet. Apalagi kalau di rumah bisa sambil nyemil dan menghangatkan diri dalam selimut tebal.
Amelia senyam-senyum. Dia merebut keyboard dan menulis balasan.
Yang terakhir itu Sindy yang menulis.
Excellent. Gak nyangka Aisha bisa menuliskan kata-kata yang terakhir itu. Amelia dan Sindy takjub sejenak melihatnya.
Mereka merapatkan selimut karena malam semakin larut dan dingin semakin menggigit tulang. Jangankan chatting di malam hari (dingin pula!), di siang hari saja ada banyak yang nafsu untuk melakukan cyber sex.
Well, kisah selanjutnya sebaiknya disensor. Yang pasti, chatting dengan si co_genit tadi berlangsung sekitar 30 menit. Entah di seberang sana dia benar-benar menghayatinya atau sama seperti mereka, menuliskan kata-kata menggoda sambil tertawa cekikikan. Satu persatu dari mereka menanggapi hasil chatting tadi.
“Ternyata hari gini ada juga yang bercyber sex sesopan itu,” Aisha yang pertama memberikan komentartar.
“May I open your dress?” Amelia mengucapkan kata-kata itu dengan penuh penghayatan.
“May I open my pants now?” kali ini Sindy yang mengucapkan. Mereka bertiga kembali tertawa cekikikan.
Aisha kini duduk manis bersama Amelia di depan komputernya. Chatting. Sindy gak ikutan karena sedang pergi dengan Randy.
“Ini cowok, pengkhayal tingkat tinggi rupanya,” Amelia berkomentar.
“Oon atau pura-pura oon sih cowok ini?! Atau kita salah tanggap?! Mengira dia mau bercyber sex padahal ngegombal doank?!”
Cukup lama mereka menunggu. Mungkin cowok ini ilfil karena mereka terlalu banyak tingkah. Tapi ternyata…
Mereka tersenyum senang. Chatting pun berlanjut.
Aisha sudah mendapatkan beberapa responden dari beberapa kali chatting. Diantaranya bahkan ada yang sempat ketemu lagi beberapa kali. Ada yang setiap ketemu ngajakin ML, ada juga yang kadang ngajakin ngobrol doang.
Hari ini Aisha berniat mengakhiri penelitiannya. Dengan bahan yang sudah terkumpul, dia merasa penelitiannya sudah cukup untuk menyelesaikan tugas akhir Metode Penelitian yang sebenarnya masih lama dikumpulkan. Amelia dan Sindy sedang kursus aplikasi SIG. Karena kesepian, kali ini dia nekat chatting sendirian.
Baru saja on line sudah ada yang menyapanya.
“Tentu saja aku gak lupa sama cowok sesopan kamu,” Aisha membatin. Dia tersenyum sendiri mengingat chatting pertama mereka. Andai Amelia dan Sindy ada di sini, mereka pasti bersemangat sekali untuk menggodanya.
Puff, ternyata Amelia dan Sindy telah memberikan pengaruh buruk dengan menjadikan cewek alim kayak Aisha menjadi genit dan sok manja.
“Olala….”
Muncul gambar dari seberang sana. Rupanya co_genit kali ini menggunakan web cam.
Aisha shock, kaget, stres. Bukannya mengarahkan web cam ke wajah, co_genit malah meletakkan web cam gak jauh dari pangkuannya. Dia refleks mematikan komputer karena co_genit dengan cepat membuka resleting dan memperlihatkan ‘adik kecilnya’.
”Astagfirullah hal’azim. Ya Allah, apa selama ini aku telah melakukan hal yang sangat fatal?!” air mata Aisha mengalir di wajahnya. Secepatnya dia mengambil wudhu lalu melakukan shalat tobat.
Aisha benar-benar shock, kaget, dan stres. Dia gak menyangka hal itu akan terjadi tadi. Sebelumnya, gak ada satupun respondennya yang melakukan hal itu. Apalagi dia memang belum pernah melihat yang begituan.
Aisha jadi sering diam dan melamun. Walau melamun, dari mulutnya sering keluar lantunan dzikir. Amelia dan Sindy jadi bingung dan khawatir. Apalagi tugas akhir metode penelitiannya yang hampir selesai gak disentuhnya sama sekali. Ini bukan Aisha, cewek alim yang cantik, tekun, dan jenius yang mereka kenal. Mereka jadi berpikir Aisha sedang depresi atau mulai mengidap gangguan kejiwaan.
“Sha…,”
Aisha menangis. Dia lalu menceritakan kisah chattingnya dengan co_genit.
“Han, napa tia ja ku (tuh kan, apa aku bilang),” mendengarnya, Sindy langsung memelototi Amelia yang hampir ketawa ngakak. “Sori.”
“Gak apa. Kamu benar. Seharusnya aku mendengarkan kalian. Aku…,” Aisha kembali menangis.
“Sha, kami juga nangis melihat ‘adik kecilnya’ cowok yang bukan suami kami. Tapi kamu jangan kayak ini terus dong. Kalau mau, kita nangis bersama saja.”
“Maksudnya?”
“Kemarin sore sepulang kuliah, kami ngenet di area hotspot MIPA. Selain kami, ada sepasang kekasih yang juga lagi ngenet. Tiba-tiba saja muncul seorang bapak di hadapan kami. Kami gak tahu dia siapa. Mungkin orang kampung yang masuk ke area kampus. Yang pasti, bapak itu pengidap parafilia1,” air muka Sindy menunjukkan rasa shock yang gak kalah besar dengan Aisha.
“Saat itu dia hanya memakai sarung. Lalu dia melakukan aksi ekshibisionisme2 di hadapan kami. Kami teriak, menutup laptop, lalu pergi dari sana. Sepasang kekasih itu juga. Gak nyangka aku bakal jadi korbannya!”
Mereka kemudian terdiam lama sebelum akhirnya Aisha bersuara.
“Sekarang baiknya bagaimana? Aku selesaikan penelitian cyber sex, membuat tugas akhir dengan masalah yang lebih wajar, atau meneliti ekshibisionisme yang sempat menimpa kalian?”
“Kamu tuh ya Sha, gak jera-jera juga!”
“Bukankah hal gila sudah sering menimpa kita?! Lagian aku belajar ini dari kalian kok,” Aisha kini mulai bisa tertawa lagi.
“Bagaimana kalau kita beli es krim. Sambil menunggu hal gila berikutnya yang akan menimpa kita?!”
“Setuju!” gak lama kemudian mereka terlihat dengan lahap menyantap sekotak es krim yang dibeli di toko gak jauh dari kontrakan.
Jablai
Malam ini cukup romantis karena langit sedang bertaburkan bintang. Tetapi gak berlaku bagi penghuni kontrakan di Jalan Jombang IC No. 23A. Amelia dan Sindy sedang menyelesaikan tugas kuliah mereka di ruang tamu, berkawankan notebook. Sedangkan Aisha, asik dengan novel Islami yang baru dibelinya.
Tugasnya yaitu membuat perencanaan pengembangan suatu wilayah. Tidak langsung terjun ke lapangan sih, tetapi melakukan analisis menggunakan beberapa jenis peta dengan daerah yang sama. Entah kenapa tugas ini mereka dapatkan di mata kuliah Geografi Regional Indonesia, bukan di mata kuliah Geografi Pengembangan Wilayah!
Peta-peta itu (peta administrasi, peta penetapan fungsi jalan, peta pengembangan kawasan prioritas, peta sebaran pemukiman, peta hirarki kota-kota, dan peta rencana sistem pusat-pusat) dioverlay agar menghasilkan peta baru yang disesuaikan dengan pengembangan yang direncanakan. Untungnya mereka cukup terampil menggunakan program SIG seperti Arc GIS, Map Info, dkk walau masih tingkat pemula sehingga gak perlu mengerjakannya secara manual.
“Sha, siapa tuh di depan pagar jam segini?” Amelia melihat cowok, entah siapa, memandangi kontrakan mereka.
Aisha pun mendatangi cowok tersebut lalu bertanya, “Cari siapa, Mas?”
“Cari kalian.”
Aisha memandang cowok itu dari ujung kepala hingga kaki, meneliti dengan tajam untuk menemukan hal yang gak beres dari cowok itu. Cowok itu menggenakan sweater coklat dengan dalaman t-shirt putih yang ukurannya sedikit lebih panjang dan celana jins biru panjang.
Cowok itu berumur sekitar 25 tahun. Tingginya lumayan, wajahnya pun gak bisa dibilang jelek. Gak ada yang aneh, kecuali wajahnya yang terlihat linglung walau sepertinya baik-baik saja.
“Cari kami? Memangnya ada apa?”
“Mau kenalan.”
“Kenalan? Malam-malam begini? Besok atau lusa memangnya gak bisa?!” lalu entah mengapa otak Aisha memerintahkan untuk lari, masuk ke kontrakan, lalu menutup pintu dan tirai jendela dengan wajah pucat.
Untungnya sejak jam delapan tadi Aisha sudah mengunci pagar. Tadi turun hujan yang cukup lebat. Malam dingin dan becek gini tentunya orang-orang malas keluar rumah atau melakukan aktivitas bertamu. Makanya, cowok itu gak bisa masuk ke halaman kontrakan. Rupanya secara gak sadar itu merupakan firasat akan terjadi sesuatu yang mengejutkan.
“Ada apa Sha, kamu kenapa jadi pucat gitu?”
“Cowok itu siapa?”
“Gak tau. Orang gila mungkin. Dia cari kita, ngajakin kenalan, jam 09:20 malam,” jawab Aisha sambil melihat jam dinding.
“Orang gila?” dengan takut-takut Sindy memandang keluar dari balik tirai. “Dia masih di depan pagar.”
“Kamu takut sama orang gila Sha?” tanya Amelia heran sambil ikut-ikutan memandang cowok itu dari balik tirai.
“Secara, calon psikolog juga manusia. Kalau ketemunya di rumah sakit jiwa aku masih bisa berpikir tenang, tapi gak kalau ketemunya di depan kontrakan malam-malam gini, ngajak kenalan lagi! Masih lumayan kalau dia gila, kalau ternyata psikopat?” Aisha benar-benar shock dibuatnya.
“Lia, jangan keluar! Di luar sepi. Kalau dia ngapa-ngapain gimana?” larang Sindy yang ikut-ikutan shock.
“Telepon Kak Fajar atau Randy, terserah siapa buat ngusir cowok itu. Pokoknya supaya cowok itu pergi dari sini,” pinta Aisha sambil menyerahkan ponselnya. Meminta Amelia atau Sindy menghubungi kekasih mereka.
“Biar kutelepon Kak Fajar. Kontrakannya kan lebih dekat daripada rumah Randy, tentu dia bisa lebih cepat datang,” Amelia pun menghubungi kekasihnya.
Gak sampai sepuluh menit Kak Fajar datang bersama kedua sahabatnya. Ketika mereka datang, cowok itu masih berdiri di depan pagar kontrakan. Mereka pun akhirnya mengajak cowok itu duduk di teras lalu mengobrol. Amelia, Sindy, dan Aisha mendengarkan dari dalam.
Cowok itu bernama Rizal. Pernah kuliah di sebuah universitas swasta tapi gak selesai. Sekarang kerja di sebuah toko elektronik di Pasar Besar (siapa yang tahu dia berkata jujur atau bohong). Entah apa lagi yang mereka bicarakan karena terdengar kurang jelas dari dalam.
Sepuluh menit kemudian Brian dan Angga berhasil mengajak Rizal pergi dari kontrakan.
“Ternyata kamu takut juga ya Sha sama orang gila,” kata-kata itu pun terucap dari mulut Kak Fajar.
“Tadi Amelia, sekarang kakak. Kalian emang solmet ya. Seiya-sekata banget!” ucap Aisha dengan nada kesal. Kak Fajar memandang Amelia dengan heran.
“Tadi aku bilang hal yang sama lalu Aisha bilang calon psikolog juga manusia. Kalau ketemunya di rumah sakit jiwa dia masih bisa berpikir tenang, tapi gak kalau ketemunya di depan kontrakan malam-malam gini, ngajak kenalan lagi! Masih lumayan kalau dia gila, kalau ternyata psikopat?” Amelia menirukan kata-kata Aisha.
Kak Fajar tertawa kecil. “Maaf ya Sha kalau ucapan kakak tadi bikin kamu kesal.”
“Yang penting sekarang dia sudah pergi. Puff, semoga dia gak datang lagi!” komentar Sindy sambil kembali mengerjakan tugas Geografi Regional Indonesia-nya.
“Kakak pulang ya. Kalau ntar ada apa-apa hubungi aja,” Amelia mengangguk, kemudian mengantar kekasih tercintanya sampai depan pagar.
Minggu pagi…
Entah kenapa Aisha, Sindy, dan Amelia bermalas-malasan. Biasanya pagi-pagi sekali mereka jogging di seputaran kampus lalu menuju pasar Minggu untuk membeli sarapan.
Amelia, masih tidur lelap di depan tipi sambil memeluk boneka monyet kesayangannya. Sepertinya tadi malam dia baru memakan apel beracun dan hanya akan terbangun ketika mendapatkan kecupan di kening dari sang pangeran. Di sampingnya terdampar Sindy, masih dalam proses menyadarkan diri dari tidurnya yang bertaburkan mimpi indah. Dia bermimpi bertualang bersama Randy, kekasihnya, mengelilingi dunia menggunakan kapal pesiar yang sangat mewah. Sedangkan Aisha, menonton Sponge Bob dengan posisi ulat bulu dalam balutan kepompong alias selimut tebalnya.
Tadi malam memang hujan, sesaat setelah adzan Magrib berkumandang sampai Subuh dengan intensitas mati enggan hidup gak mau.
Hujan…
Teduh...
Hujan…
Teduh…
Hujan…
Teduh…
Akhirnya mereka menghabiskan malam Minggu menonton beberapa buah film yang mereka sewa dari rental langganan. Kebetulan saat ini mereka bertiga sedang libur bulanan dari yang namanya sholat. Jadi, bangun siang pun gak masalah.
“Mbak Aisha, mbak Sindy, mbak Amelia…. Susu segarnya datang nih…,” panggil Pak Wito, tukang susu segar langganan mereka dari depan pagar.
“Ya Pak, tunggu sebentar…,” jawab Aisha sembari memasang jilbabnya lalu berlari keluar.
“Mbangkong (bangun kesiangan) ya mbak?”
“Iya Pak. Tadi malam begadang sih,” Aisha mengambil tiga botol susu segar berukuran sedang. “Terimakasih Pak.”
“Sama-sama Mbak. Permisi…,” Pak Wito pun berlalu.
“Permisi…,” ucap seorang cowok. Saat itu Aisha berniat keluar lagi untuk menutup pagar karena tadi, dengan membawa tiga botol susu hal itu susah untuk dilakukannya.
Deg! Rizal…
Jantung Aisha langsung dag-dig-dug.
“Tenang Sha. Dia hanya seorang cowok pengidap schizofrenia,” akhirnya Aisha mendatangi Rizal yang telah berada di depan teras mereka.
“Ada apa, Mas?”
“Aku belum dikeloni (belai) istriku. Mbak mau gak ngeloni aku?”
“What?!” Aisha shock sesaat. Ngeloni?! Emang aku bojo (istri) mu! Namun akhirnya Aisha berhasil menguasai diri. Lima belas menit kemudian Aisha masuk ke kontrakan.
“Kebetulan kamu sudah bangun. Gantian gih, kamu yang sekarang keluar hadapin Rizal,” Amelia yang sedang dalam tahap akhir melipat selimutnya langsung memandang keluar, menembus jendela kaca yang tirainya setengah terbuka.
“Jadi, yang di luar itu Rizal? Kok bisa?!”
“Memangnya kamu pikir siapa? Gih, bantuin Sindy. Aku sudah ngaku-ngaku sama Rizal punya anak dua, kelas dua SD sama TK nol besar.”
“Kalau Sindy?”
“Punya hobi kawin cerai. Sekarang saja dia sudah menjalani perkawinannya yang kelima.”
“Skenarionya kenapa bisa aneh gitu?”
“Dia bilang dia belum dikeloni sama istri yang notabene belum pernah dimilikinya. So, sekarang dia pingin cari istri biar selalu ada yang ngebelai.”
“Jablai ni ceritanya…,” Amelia tertawa kegeliaan. “Ya udah, aku panggil bala bantuan dulu, cuci muka dulu, baru bantuin Sindy menghadapi Rizal,” Amelia dengan cepat mengambil ponsel. “Yank, Rizal datang lagi tuh. Hurry up, sebelum aku bilang kalau aku punya penyakit kelamin gara-gara sering ML dengan cowok sembarangan!”
Kali ini Fajar datang sendirian. Rada bingung dengan instruksi mendadak dan aneh dari kekasihnya, akhirnya Fajar tertawa ngakak setelah Amelia menceritakan penyebabnya.
“Aku senang kalau kalian benar-benar solmet. Tapi jangan kayak ini. Tadi Amelia, sekarang kakak yang tertawa. Kalau memang aku ada bakat jadi pelawak, ntar ingatkan aku buat ikutan audisi kampus Extravaganza,” Aisha mengeluh pasrah.
Mereka berempat akhirnya menghadapi Rizal bersama-sama. Cukup lama Rizal berada di kontrakan.
Naluri Aisha sebagai calon psikolog pun keluar. Dia sudah bisa meyakinkan dirinya bahwa Rizal bukanlah seorang psikopat. Berbagai pertanyaan dilontarkannya untuk membaca kejiwaan Rizal. Untungnya, Rizal dengan senang hati menjawab setiap pertanyaan. Kadang jawabannya nyambung, kadang gak mengena sedikit pun. Bahkan sempat-sempatnya Aisha mentes kepribadian Rizal menggunakan tes Wartegg.
Amelia juga mengajak Rizal bernyanyi bersama. Amelia meminta Fajar bermain gitar dan dia sendiri memainkan biolanya. Ternyata suara Rizal gak mengecewakan bagi seseorang yang mereka deteksi mengidap schizofrenia. Rizal bahkan meminta mereka mengiringinya menyanyikan lagu favoritnya.
Kau yang bilang aku terbaik untukmu
Kau yang bilang aku malaikat cintamu
Itu bohong… itu palsu
Itu bohong… itu palsu
Rizal terlihat begitu menghayati. Ditambah alunan musik yang dihasilkan dawai biola Amelia, lagu Malaikat Cinta versi akustik ini terdengar sangat menyayat hati bagi orang-orang yang suasana hatinya touching banget dengan lagu ini.
Kemudian datang seorang bapak yang mengaku orang tua Rizal. Mereka akhirnya mengobrol banyak dengan beliau. Beliau juga memohon maaf karena putranya sudah mengganggu bahkan sempat membuat mereka takut.
Cowok itu benar bernama Rizal, tapi gak benar kalau dia kerja di sebuah toko di Pasar Besar. Yang benar adalah dulu dia pemilik salah satu toko yang berada di Pasar Besar. Ternyata, Rizal sedang mengalami gangguan kejiwaan akibat shock ditinggal tunangannya menikah dengan cowok lain.
Sebenarnya psikiater sudah meminta agar Rizal dirawat di rumah sakit. Tapi ibunya tidak mau berpisah dengan Rizal. Dia merasa kasihan kalau Rizal harus berada di sana, bagai terkurung di penjara. Dengan berkumpul bersama keluarga, menikmati kasih sayang mereka, dan menemukan seorang cewek yang bisa membuatnya jatuh cinta lagi, beliau berharap Rizal bisa kembali normal kejiwaannya.
Pantas saja lagu Malaikat Cinta-nya Kapten itu dinyanyikannya dengan penuh penghayatan. Ternyata lagu itu memang touching banget dengan perasaannya.
Sakit karena cinta itu memang bisa membuat orang menjadi gila!
Tuesday, June 3, 2008
Karena Aku Sayang Kamu
Tahun ini…
Tahun depan…
2 tahun lagi…
Tahun-tahun berikutnya…
Wednesday, March 12, 2008
Maaf Jika Aku Datang di Waktu yang Tak Tepat
Aku punya kisah, tentang seorang cewek yang mulai menata cintanya lagi
Tapi ternyata saat cinta itu datang, kisahnya berulang seperti dulu
Bedanya, kali ini dialah si pendatang
Dia jadi bingung
Jahat kalau dia meminta si cowok memilihnya karena dia pernah merasakan sakitnya dikhianati
Tapi dia juga sulit melepaskannya karena harus kembali kehilangan orang yang dia cintai
Lagi-lagi cinta tidak adil kepadanya
Hanya satu jawaban yang bisa didapatkannya:
Cinta itu beda dengan keinginan untuk memiliki
Saat memiliki nanti, kuharap cinta juga mengiringiku
Malang, Maret 2008
Karena Kamu Cinta Aku dan Dia
Ketika kamu mencintai aku dan dia, apa yang harus aku lakukan?
Gak mungkin aku memintamu meninggalkannya
Tapi susah bagiku memintamu pergi dariku
Harus bagaimana aku?
(ketika kisah cintaku berulang, seperti yang lalu)
Malang, Maret 2008
Tuesday, March 4, 2008
Menagih kado ultah
Walau terlambat dan sudah sangat-sangat lama,
Boleh aku tagih puisiku?
Itu juga kalau kata-katanya masih ada di file otak kamu
Thursday, February 7, 2008
Diam itu gak selalu emas
karena bisa saja dalam diam, kamu telah melukai hati orang lain
membunuhnya jiwa orang lain yang menyayangimu, yang kamu sayangi
hanya karena diammu
Diam itu gak selalu emas
karena dengan suaramu, ada seseorang
atau banyak orang yang bisa terus hidup
karena dirimu
jangan kamu diam terus
katakan, sepatah kata saja jika mulutmu terlalu kaku tuk berucap
katakan
aku mencintaimu
please, tinggalkan aku
atau katakan
maafkan aku
karena itu lebih baik daripada diammu
Thursday, January 31, 2008
Toke! Tokke…!!*
“Kenapa, Sha?” tanya Amelia.
“Ada toke, hiks!” jawab Aisha dengan keadaan shock. Seumur-umur ini pertama kalinya dia melihat secara langsung mahkluk yang bernama toke.
Kenapa Aisha tau bahwa yang dilihatnya ini adalah toke? Karena yang dia tau toke tuh sepupuan sama cicak, cuma badannya hijau dan berukuran jauh lebih besar. Kenapa toke itu bisa berada di sana? Mungkin dia masuk dari ventelasi kamar mandi yang terhubung langsung dengan dunia luar karena kedinginan. Gak mungkin kan dia masuk karena ingin mengintip cewek mandi?!
“Kya, toke! Takut…!” teriak Sindy gak kalah shock. Dia langsung menggeliat-geliat kayak cacing kepanasan karena jijay dengan penampakan toke yang bisa jadi sebenarnya adalah seorang pangeran tampan yang kena kutuk nenek sihir.
“Amelia, usir toke itu dong. Aku gak berani ke kamar mandi nih,” pinta Aisha.
“Iya, kamu kan berpengalaman dengan binatang-binatang jijay. Tolong ya,” Sindy ikut meminta.
“Kalau yang kamu maksud itu ular, laba-laba, dan kodok peliharaanku di rumah, mereka tuh gak jijay tau!” protes Amelia setengah marah karena Sindy sudah berani mengejek piaraan kesayangannya. “Lagian kayak kamu gak tau saja, aku meliat cicak besar dikit saja teriak-teriak apalagi cicak raksasa kayak itu! Kya…!” Amelia ikut menggeliat-geliat.
“Trus bagaimana? Aku sikat gigi di bak cuci piring saja deh!” masih dengan perasaan ngeri Aisha mengambil perlengkapan mandinya untuk diungsikan sampai tuh toke pergi.
1 jam kemudian.
“Masih ada gak?” tanya Aisha yang mengendap-endap di belakang Amelia.
Amelia membuka pintu kamar mandi perlahan.
“Krek…,” Amelia lalu mengangguk, pertanda toke masih merayap di kamar mandi.
2 jam kemudian.
“Masih?” kini Sindy yang mengintai penampakan sepupu cicak itu. Sindy mengangguk, tertanda si toke masih standby di kamar mandi mereka.
Pas kena giliran Aisha yang mengintai dia sudah KO duluan di depan tipi.
04:20 WIB
“Kya…!” teriak Aisha memecah kesunyian.
“Ada apa Sha, subuh-subuh sudah teriak?” tanya Sindy menghampiri.
“Si toke masih ada di sana,” Aisha menunjuk ke arah dinding kamar mandi.
“Kya…! Pagi ini aku gak mau mandi kalau dia masih di sana!” jerit Sindy ketika si toke bertoke ria ketika memandang mereka berdua.
Aisha mengurungkan niatnya untuk mandi. Dia langsung pergi sholat Subuh, wudhu di kran cuci baju. Sindy juga.
“Bangun tidur ku terus mandi. Tidak lupa menggosok gigi, syalalalala…,” Amelia yang masih tidur saat insiden subuh tadi keluar kamar mandi dengan riang gembira sambil menggusap-usap kepalanya yang basah dengan handuk.
“Amelia, apa kabar si toke? Dia sudah gak ada di kamar mandi yah?” tanya Aisha heran sekaligus takjub. Terakhir kali dia ngecek si toke masih ada di kamar mandi walau dengan posisi yang berbeda.
“Memang si toke masih ada di dalam ya? Aku lupa kalau tadi malam ada toke di dalam,” Amelia pun kembali ke kamar mandi untuk ngecek keberadaan si toke.
Amelia keluar kamar mandi dengan hati teriris dan hampir menangis.
“Mama, aku mandi diintipin toke…!”
“Heran, Amelia mandi sambil tidur apa jadi toke segitu besarnya dia gak liat,” komen Sindy yang karena si toke gak pergi-pergi akhirnya kuliah gak pakai acara mandi.
*kisah ini merupakan bagian dari novelku yang belum selesai

