Sunday, January 23, 2011

Ceritaku (si Lajang vs si Menikah)

Menjadi lajang (jomblo pula!) di tengah-tengah sahabat dan teman-teman yang sudah memiliki pasangan (sudah menikah atau masih berpacaran) kadang bikin gigit jari. Apalagi kalau mereka sedang berpolah layaknya dunia milik mereka berdua yang lain numpang aja.


Tapi, asiknya jadi lajang tuh bisa jadi pemerhati. Belajar dari apa yang telah dialami orang lain. Pembekalan gitu deh.

Menghadapi menstruasi
Si Lajang: stres gak ketulungan kalau siklusnya gak teratur, apalagi kalau telatnya lama. Alamat sekali dapet guling-guling gak karuan akibat nyeri haid.
Si Menikah: Lempar pembalut ketika si palang merah datang tepat waktu karena berharap untuk sembilan bulan ke depan tak perlu menggunakannya *terutama bagi yang baru menikah

Datang ke resepsi perkawinan atau hajatan semacamnya
Si Lajang: siap-siap bikin jawaban bagus menghadapi pertanyaan kawan-kawan, “Kapan nyusul?”
Si Menikah (belum punya anak): pasti akan nyari temennya yang belum merit untuk bertanya, “Lu datang sendirian?” sembari menggandeng tangan pasangannya, bikin si Lajang ngiri & berniat gantung diri di pohon lombok sepulang dari resepsi. Padahal dia juga menghindar dari temen-temen yang udah punya momongan biar gak iri karena belum dipercaya Tuhan jadi ortu.
Si Menikah (udah punya anak):
bertanya ke si Menikah (belum punya anak), “Kapan niy tekdung? Betah banget berduaan?!”
bertanya ke si Lajang, “Masih sendiri aja lu? Mau aku comblangin sama temenku?” hahaha… I like this point! :p

Dinas luar kota
Si Lajang: santai aja. Lama juga gak apa. Lumayan, gak perlu ngantor.
Si Menikah: pinginnya pulang mulu! Kalau udah ketemu pasangan esoknya curhat dengan teman, “Kemaren kami gak pakai pengaman! Siap-siap beli test pack nih….” (pengalaman di prajabatan).

Pingin traveling
Si Lajang: kapan pun bisa, asal duit ada & gak bentrok jam kerja.
Si Menikah: “hmmm…. pasangan ngebolehin gak ya? dia mau ikut gak ya?” atau kalau udah punya anak, “Duh, trus anakku gimana?”

Belanja ini itu (termasuk nabung)
Si Lajang: beli baju, buku, tas, apapun yang dipinginin kadang tanpa pikir panjang langsung dibeli (dan masih bisa menyisihkan uang yang lumayan banyak untuk ditabung).
Si Menikah: beli beras, lauk, sayur mayur, pampers, susu, jajan si kecil, ….. (lah, kok tekor sih?! >.<”).

Waktu yang dijalani
Si Lajang: masih bisa leyeh-leyeh, hang out, menjalankan hobi, begadang gak jelas.
Si Menikah: ngurus keperluan suami, beres-beres rumah, begadang buat menyusui si baby & ganti pakaiannya yang basah karena pipis.

Selain hal-hal di atas, ada juga sih cerita tentang temen yang belum lama menikah tapi harus bercerai lah, yang long distance karena pasangannya bekerja di kota yang berbeda lah, yang ini lah, itu lah. Jadi, si Lajang bisa belajar banyak dari si Menikah. Si Menikah pun jadi bisa ngemong sahabat & temennya yang masih lajang. Persahabatan si Lajang dan si Menikah pun jadi lebih erat & berwarna.

*Hei, is it about my life?! MG!!

Thursday, December 16, 2010

Bikin Lupa Waktu & Lupa Hobi Lainnya

Aku dan ading lagi seru-serunya bikin prakarya dari kain flanel. Niatnya sih iseng-iseng berhadiah. Siapa tau ada yang tertarik tuk pesan (baca: BELI) baik satuan ataupun dalam jumlah banyak (buat wedding souvenir misalnya). Ada yang gantungan kunci, gantungan HP, juga bross imut (sahabatku sih order kantong HP! semoga request ini dapat segera terpenuhi).

Saking asik menggunting dan menjahit prakarya ini, bikin lupa waktu! Bikin tambah malas ngerjain kerjaan (yang sebenarnya numpuk ^.^v) & bikinku lupa sama niat untuk kembali giat menulis (kapan bisa jadi penulis niy jadinya kalau begini terus?! hiks!)

Yach, inilah beberapa hasil karyaku juga ading. Ada yang mau pesan?! ^_^


Wednesday, September 8, 2010

it just about Books

Aku menikmati setiap tangis, tawa, umpatan, dan senyuman yang kukeluarkan ketika membaca sebuah buku.Ketika membaca aku bisa menjadi diri sendiri. Ketika membaca aku bisa belajar menjadi orang lain. Ketika membaca aku menjadi berpikir, merenung, mengingat, dan merasakan.

Buku adalah gudang ilmu. Buku adalah cakrawal pembuka ilmu pengetahuan. Tapi tak usah mikir yang berat lah! Bagiku buku adalah media hiburan karena aku suka membaca buku.


Aku suka buku yang berisi cerita petualangan (terutama traveling/backpacking ke berbagai tempat di bumi ini), seperti Naked Traveler (1-2), Honeymoon with My Brother (1-2) atau yang fiksi seperti Negeri van Orange, Edensor, Travelers Tale. Aku juga menyukai kisah drama (terutama metro pop seperti novel-novelnya Ninit Yunita --karena kalau teenlit kayaknya udah gak sesuai sama umurku lagi-- ^.^v), komedi (seperti buku-bukunya Raditya Dika dan Ferdiriva Hamzah), yang ngajak mikir seperti buku-bukunya Dan Brow atau Supernova-nya Dee, mengajak berkhayal seperti Harry Potter atau Twilight, atau merenung (semacam Chicken Soup lah!). Tapi, selain yang berbentuk novel aku juga suka kok baca komik (such as Detective Conan, Doraemon, Tintin, Gober Bebek, serial cantik, serial misteri) dan majalah (National Geography, majalah mode, dkk). Yang aneh, aku gak suka baca buku yang bahasanya sastra banget seperti buku-bukunya Shakespere (gitu ya tulisannya) dan Layla Majnun. Ntah kenapa otakku gak nyambung dan bikin boring! (^.^v). Yah, setiap orang memang punya selera masing-masing dalam memilih buku bacaannya. Sebagai seorang Muslim, tentunya Al-Qur'an dan buku tentang agama juga jangan ditinggalkan.

Jika aku membaca buku yang menurutku bagus, aku akan terhanyut ke dalam kisahnya. Jika itu buku pelajaran, aku akan menyerap banyak ilmu pengetahuan. Jika itu buku kisah-kisah, maka aku akan larut menjadi bagian dari kisah itu. Jika buku itu membosankan, lumayan untuk nepuk nyamuk atau membuatku yang sulit tidur ini jadi mengantuk (^.^v). Buku adalah salah satu barang berharga dalam hidupku.

Sunday, August 22, 2010

My New Family: Angkatan XL

Selain kawan sekamar, keluarga baruku diprajabatan adalah angkatan XL (baca: 40). Angkatan ini terdiri dari para ibu hamil, juga suami yang istrinya sedang hamil. Tidak semuanya sih (termasuk aku). Tapi bisa dibilang separuh anggota angkatan ini dalam kondisi seperti itu.

Awalnya sih cukup sulit mengenal mereka satu persatu. Aku orangnya memang cukup supel, tapi pelupa dalam hal mengingat nama. Bahkan, di hari terakhir prajabatan pun kadang ada saja 1-2 orang yang namanya tertukar atau sulit kuingat. Walaupun begitu, aku menyayangi mereka. Kami adalah tim yang kompak. Tim yang gokil. Tim yang kadang agak urakan.


Aku menikmati hari-hariku selama prajabatan bersama mereka. dr. Haryadi, ketua angkatan XL yang bertugas di wilayah terpencil nun jauh di Paramasan yang sering gak tegaan (atau underpreasure?!) sama para ibu hamil, Pa Dhe yang imut kayak Semar (^.^v) si juara kelas, guru Zuhdi idola para wanita angkatan XL, Kobet si calon pengantin baru, Ratih si bungsu yang sedang hamil, juga kawan-kawan lainnya. Aku menikmati kebersamaan dengan segala suka-duka, susah-senang yang kami jalani bersama ini.

-buka puasa bersama-

Angkatan 40…. Angkatan XL! Ekstra anggotanya, ekstra bodinya, ekstra lulusnya!!

Sunday, August 8, 2010

Prajabatan: Let's sing

Tak terasa prajabatan sudah berlalu dua minggu yang lalu. Euphoria pasca prajabatan pun sepertinya telah sirna. Well, let’s sing lagu-lagu angkatan XL :)


Nasib Prajabatan
(diadaptasi dari lagu Pambantangan)

Matan di dinas.. Maninting tas hirang di tangan…
Atasnya putih bawahannya hirang.. Awal hari baganti minggu…
Siang dan malam.. Waktu hari baganti hari…
Istilah urang lagi palatihan.. Kada talapas wan Pa Mian…

Panas hujan kada manjadi papantangan
Kada hiran tatap dirasaakan..
Maantri makan sambil barami-ramian
Akhirnya sampai kakanyangan…

Inilah nasib.. Manjadi urang prajabatan…
Lamun nasib sudah ditantuakan…
Insya Allah lulus brataan…

---
-No Title-
(diadaptasi dari lagu Stasiun Balapan)

Di pelatihan prajabatan, Cindai Alus yang jadi kenangan
Dikau dan diriku…
Ketika.. pertama bertemu…
Di pelatihan prajabatan, akhirnya kita kan berpisah
Dikau dan diriku…
Tak terasa jatuhlah air mataku…
Dah.. dadah kawan… Dah Slamat jalan……

My Parent & My Lonely

Day 2 @ night on Prajabatan

Harusnya aku ingat, beginilah abah. Semenjak beliau menyuruhku membawa sendiri koper dan barang bawaanku lainnya ke kamar (di lantai 2 pula!), harusnya aku sadar saat itu abah melepasku selama 2 minggu prajabatan ini layaknya ketika aku pergi ke Malang ketika kuliah dulu, dengan sebuah harapan aku akan menjalaninya dengan easy going, tanpa mengeluh. No phone, no SMS yang isinya menyangkut keluhan atau pulang (ketika weekend) dan kemanjaanku lainnya (semisal kamar yang bernyamuk, seprai yang usang -miang-).

“Ya begitulah tempat pelatihan. Kada senyaman hotel pank,” begitu isi SMS abah.
Soal pulang, mama juga serupa dengan abah, “Jangan mikir pulang dulu pank, jalani ha hulu!”

Ntah apa ortuku itu akan mengatakan hal yang sama jikalau ading yang sedang prajabatan, mengingat ketika KKN mereka memperlakukan kami berbeda.
Padaku: “Rin, kalau KKN ntar pilih aja lokasi yang paling jauh. Kapan lagi kamu bisa ke sana gratisan kalau gak pas KKN.”
Ading: “Kalau bisa kamu pilih lokasi KKN yang paling dekat! Ada kan lokasi KKN yang di Malang aja?!”

I’m a 24th women. Aku seorang cewek yang mandiri (walau manja ^.^v). Bukan lagi anak mami!
Sejurus dengan itu, yeah, I feel lonely. Disini aku memang punya banyak kawan. Aku akrab dengan ketiga kakak sekamarku. Aku bisa berinteraksi dengan kawan prajabatan lainnya (angkatan XL dan angkatan lainnya).

Tapi, coba kita cek:
Kawan sekamarku: K Antung sudah bersuami. K Iin malah sudah punya putra berusia 2,5 tahun. K Karin, walau belum bersuami tapi punya pacar. Jadi, dikala senggang mereka punya sum1 spesial untuk dihubungi. K Zul juga terlihat selalu sibuk dengan ponselnya kalau break. Begitu juga dengan kedua kawan yang setiap kegiatan di aula duduk di sampingku (K Lia dan Aya). Minimal, kalau mereka lagi gak bisa bertelponan dengan suami, mereka bisa ngobrol dengan jabang bayinya. Aku?!

Inilah caraku mengeluarkan keluh kesahketika tak ada yang bisa kuajak bicara. Writing anything that I want.

Someone yang Mirip Sum1

Iya tu Rin yang bikin geregetan.. Qt nie susah banget jatuh cinta.. Lha koq pas jatuh cinta lagi malah g jelas gini.. Haha.. Ya nasiiib..

Begitu isi SMS sahabatku semasa kuliah ketika kami saling curhat tentang cowok. Curhatannya para jomblowati, para Srikandi yang sedang mencari cinta.

Kalau di flashback, cerita ini bermula ketika aku mengikuti prajabatan pada 7 Juli 2010..

Siang itu aku diantar abah ke LEC. Secara, bawaanku berupa 1 koper, 1 ransel tangan, dan 1 ransel punggung. Mana sanggup aku bawa itu semua pakai motor. Aku juga gak tau dimana letak LEC. Lagian, pikirku bawa motor juga gak bakal kemana-mana.


Aku sekamar dengan K Antung, K Iin, dan K Karin. Ketika pembagian kelompok, K Iin dan K Karin satu kelompok di angkatan 37, K Antung di angkatan 38, aku di angkatan 40. Angkatan 40 termasuk spesial di prajabatan kali ini. Spesial karena di angkatan inilah dikumpulkan para ibu-ibu yang sedang hamil, sekitar 15 orang (tiap angkatan terdiri dari 40 orang). Jadi, siap-siap mengklasifikasi saja kalau kenalan dengan yang lainnya (terutama dengan cowok) bahwa aku bukan salah satu dari mereka. I’m still single. Kalau gak, turun lah pasaranku. Sirnalah harapanku untuk cari pasangan selama prajabatan (^.^v).

Shocking day untukku hari itu adalah adanya seorang cowok yang mirip dengan si Kk. Postur tubuhnya, kulit putihnya, sorot matanya, senyumnya. Pas kenalan, sama narsisnya pula! (dia yang pertama ngajakin aku kenalan, loh. Hahaa…). Dia lebih tua 2 tahun dari Kk, orang Palembang (sedangkan Kk orang Rantau), lulusan salah satu PTS di Yogya (kalau Kk PTS di Malang), and well, sudah married & have a little cute daughter (batal ngecengi deh ^.^v). Walau gak satu kelompok, aku dan K Zul cukup akrab selama prajabatan. Kadang aku curhat sama dia (termasuk tentang si Kk yang wajahnya mirip dengannya). Sebagai yang lebih muda, kadang aku diusilin sama dia :”(

Selain K Zul, selama prajabatan berlangsung ternyata ada lagi seorang cowok yang wajahnya mirip dengan seseorang yang pernah kukenal. Argh! Kug dunia ini terasa sempit ya?!