Friday, February 27, 2009

Bromo I'm in Love

Rabu, 2 Juli 2008
Setelah 3 tahun di Malang, akhirnya aku menginjakkan kakiku di Gunung Bromo. Aku ikut anak AMKS Mandastana yang sedang kedatangan tamu dari jauh. Nikki Law dari Hongkong dan Andy Barker dari Inggris. Setelah Nikki dan Andy diajak ke Pantai Bale Kambang dan makan di warung acil (Rindang Dandam), sayang banget kan kalau gak berkunjung ke salah satu obyek wisata andalan Jatim yang banyak memikat hati turis mancanegara itu?!

Kami ke Bromo nyarter ELF. 14 orang + 1 supir. Gak semua anak Mandastana ikut. Selain mereka, bubuhan ‘Latik Kelambu’ juga ikutan. Berangkat dari Mandastana jam 1 malam. Kami ambil rute lewat Purwodadi (Pasuruan). Sesampainya di sana, walau gak hari libur ternyata banyak wisatawan yang datang. Lokal maupun mancanegara. Untungnya Zulis meminjamiku jaket untuk menambah pakaian yang telah kukenakan. ‘’Kurang tebal, Ka!’’ gitu katanya. Soalnya, suhu disana rendah banget! Bisa mencapai 10 bahkan 0 derajat Celcius ketika menjelang pagi. Malu dan bikin repot aja kan kalau sampai kena hipotermia. Jadi gak bisa menikmati pemandangan Mahameru yang indah banget juga ntar!!

Kalau ke Bromo di larut malam, tujuan pertama tentulah menikmati sunrise dari puncak Gunung Pananjakan. Untungnya jalur trekkingnya gampang. Habis mampir di warung yang banyak tersedia di sekitar track menuju puncak Gunung Pananjakan, kami pun nyari posisi yang bagus untuk menikmati sunrise. Erornya, saat matahari udah mulai tersenyum, satu per satu cowok Mandastana dan latik kelambu lepas baju dan berfoto bersama di tepian pagar pembatas. Padahal saat itu udaranya masih dingin banget!! Gak semuanya c lepas baju. Tapi aksi itu menarik hati para turis untuk mengabadikannya lewat jepretan kamera mereka. Karena saat itu kami tuh rame banget, sampai ada turis lokal yang mengomentari kami.
‘’Bubuhan Banjar niy dasar heboh!’’ begitu ucap beliau yang mengenali identias daerah kami dari bahasa yang kami ucapkan.
‘’Bapak Banjar juga?’’ tanya Ka Yongki yang saat itu ada di samping aku, gak ikutan lepas baju.
‘’Gak. Tapi aku pernah tinggal di sana. Makanya aku ngerti.’’

Ketika matahari sudah meninggi, sudah memandang Bromo-Batok dan Semeru dari kejauhan, sudah berfoto-foto di Puncak Gunung Pananjakan juga! kami pun pergi ke tujuan berikutnya, Gunung Bromo. Setelah melewati lautan pasir, duduk sebentar di dekat pura yang menjadi tempat ibadahnya suku Bromo Tengger, mulai nih track yang paling sulit. Tracking untuk melihat kawah Gunung Bromo… Panas, berdebu, jauh lagi! Apalagi saat menaiki anak tangganya yang berjumlah 250 anak tangga. Sambil menghitung, sesekali aku saling melempar senyum atau bertegur sapa dengan bule-bule yang melintas, untuk mengungkapkan rasa capek kami melewati track itu.


Bau belerangnya menyengat banget! Akhirnya, setelah menikmati sebentar pemandangan yang disuguhkan kawah Bromo aku menikmati view lain. Gunung Batok yang berdiri gagah di samping Gunung Bromo, pura Hindu Kesodo di antara lautan pasir, … Lagi-lagi cowok-cowok Mandastana berfoto sambil lepas baju. Lucu c, tapi tetap aja gilani ^.^v Andy, Nikki, Ka Batur, Ka Wandi, … menikmati pemandangan dari sudut lain di puncak Gunung Bromo. Aku sempat ngikutin, tapi akhirnya kembali gara-gara sempat takut terpeleset -> jatuh ke lereng ketika melewati daerah yang sempit (makanya turis jarang ke sana). Tapi ternyata setakut-takutnya aku, Ka Yongki dan Ka Zaki akhirnya mengakui bahwa mereka agak takut ketinggian. Jadi, mereka ngajakin untuk segera turun gunung.

Gak seperti waktu naik, aku dengan mudahnya menuruni setiap anak tangga sambil berlari. Beruntung, kami berhasil menawar harga yang murah (25 ribu) untuk menaiki kuda menuju parkiran. Itu pertama kalinya aku naik kuda. Kalau melihat orang c kayaknya gampang. Tapi ternyata susah, nakutin lagi! Aku pun gak pintar-pintar amat untuk menyuruh kudaku berlari. Jadi aku memilih ngobrol d sama penarik kuda yang usianya beberapa tahun di atasku. Seorang pemuda suku Bromo Tengger.

Gak lama kemudian kawan-kawan seangkatanku di Geografi ngajakin untuk liburan, ke Bromo!
‘’Yach, sayang banget! Aku malas ikutan coz barusan dari sana.’’
Alasanku itu sempat diprotes kawan-kawan.
‘’Kemarin kan kamu pergi sama kawan-kawan sesama Banjar. Sekarang kan sama kami. Jadi ceritanya pasti beda,” begitu kata mereka. Apalagi aku tuh personil cewek yang jarang banget gak ikutan kalau Geography Error Adventure travelling.
Tapi tetap saja aku bilang ‘’gak!’’ Kalau ngajakinnya ke tempat lain (Pulau Sempu misalnya), ayoh!! Walau gak banyak yang ikutan, 20 Juli mereka pergi ke Bromo.

Kenapa posting ini kuberi judul ‘’Bromo I’m in Love’’?! Soalnya aku jatuh cinta dengan cowok yang selama perjalanan itu duduk di sampingku. Dia yang menjagaku dan gak membiarkanku jauh dari sisinya (daripada hilang dimakan keramaian wisatawan, susah nyarinya!! ^.^v). Mungkin saat itu adalah satu-satunya kenangan indahku bersamanya. Karena setelah itu, semuanya berakhir sebelum sempat kami mulai T.T


About Mounth Bromo

Gunung Bromo (dari bahasa Sansekerta: Brahma, salah seorang Dewa Utama Hindu), merupakan gunung berapi yang masih aktif dan paling terkenal sebagai obyek wisata di Jawa Timur. Gunung Bromo mempunyai ketinggian 2.392 meter dpl, berada dalam empat wilayah, yakni Kabupaten Probolinggo, Pasuruan, Lumajang, dan Kabupaten Malang.

Bentuk tubuh Gunung Bromo bertautan antara lembah dan ngarai dengan kaldera atau lautan pasir seluas sekitar 10 kilometer persegi. Gunung Bromo mempunyai sebuah kawah dengan garis tengah ± 800 meter (utara-selatan) dan ± 600 meter (timur-barat). Sedangkan daerah bahayanya berupa lingkaran dengan jari-jari 4 km dari pusat kawah Bromo. Selama abad ke-20, Gunung Bromo meletus sebanyak tiga kali, dengan interval waktu yang teratur, yaitu 30 tahun. Letusan terbesar terjadi pada 1974, sedangkan letusan terakhir terjadi pada 2004.


Bagi penduduk Bromo, suku Tengger, Gunung Brahma (Bromo) dipercaya sebagai gunung suci. Setahun sekali masyarakat Tengger mengadakan upacara Yadnya Kasada atau Kasodo. Upacara ini bertempat di sebuah pura yang berada di bawah kaki Gunung Bromo utara dan dilanjutkan ke puncak gunung Bromo. Upacara diadakan pada tengah malam hingga dini hari setiap bulan purnama sekitar tanggal 14 atau 15 di bulan Kasodo (kesepuluh) menurut penanggalan Jawa.

Thursday, February 26, 2009

Angin Puting Beliung

Akhir-akhir ini sering banget terjadi bencana angin puting beliung. Walau aku anak geografi, tapi hal-hal yang seperti ini aku benar-benar angkat tangan deh. Gak paham blas!! Gak kepikiran juga kenapa pas ikut mata kuliah meteorologi dan klimatologi aku gak bertanya tentang angin puting beliung, tornado, dkk :’’( Jadi, darpada penasaran aku browse aja via Mr. google dan menemukan informasi yang menurutku cukup untuk menjelaskan tentang angin puting beliung.

Bencana alam angin puting beliung itu bersifat lokal, tapi sanggup mengangkat atap rumah dan memporak-porandakan permukiman. Hal ini disebabkan karena kecepatannya hingga 120 km/jam, dan berlangsung antara 1-5 menit. Pergerakan angin akan lebih cepat sampai ke daratan jika di wilayah daratan memantulkan panas dan bertanah lapang tanpa bebukitan. Gedung-gedung di perkotaan dan tanah tandus lapang menyumbang terjadinya angin itu.

Adapun ciri - ciri dari angin puting beliung, yaitu:
- Terjadi terutama di daerah yang kurang vegetasi dan kota yang banyak gedung-gedung penyebab panas di daratan
- lebih sering terjadi pada peralihan musim kemarau ke musim hujan
- lebih sering terjadi pada siang atau sore hari, tapi terkadang pada malam hari
- Awan itu ketebalannya bisa mencapai 9 kilometer, dan puncak awan bisa berupa es. Ciri-ciri selanjutnya, sesaat sebelum kejadian puting beliung, biasanya berembus angin sepoi yang berasa dingin disekitar tempat kita berdiri.
- Kejadiannya singkat, antara 3 hingga 10 menit, setelah itu diikuti angin kencang yang kecepatannya berangsur melemah.
- Terjadi di tempat dengan radius jangkuan 5 hingga 10 km.

Tanda - tanda yang mendahului :
- Satu dua hari sebelumnya udara pada malam hari hingga pagi hari terasa panas/pengap
- Sekitar jam 10 pagi terlihat awan cumulus (awan berlapis-lapis). Diantara awan tersebut ada satu jenis awan yang mempunyai batas tepinya sangat jelas berwarna abu-abu menjulang tinggi seperti bunga kol (awan cumulunimbus).
- Selanjutnya awan tersebut akan cepat berubah warna menjadi hitam gelap.
- Jika ranting pohon bergoyang, maka hujan dan angin kencang akan datang.
- Terasa ada sentuhan udara dingin di sekitar tempat kita berdiri.
- Biasanya hujan yang pertama kali turun adalah hujan yang tiba-tiba deras, apabila hujannya gerimis maka kejadian angin kencang jauh dari lingkungan kita berdiri.
- Terdengar sambaran petir yang cukup keras, yang merupakan pertanda hujan lebat dan angin kencang akan terjadi.
- Pada musim penghujan, jika 1 hingga 3 hari berturut-turut tidak ada hujan, kemungkinan hujan deras yang pertama kali turun akan diikuti oleh angin kencang baik yang termasuk dalam kategori puting beliung atau angin kencang yang memiliki kecepatan lebih rendah.


Dirangkum dari blognya Irmanator (Irmante Astalavista) dan Tony A. Wijaya.
Sumber:
* Rudy Teguh Imananta
Pusat Gempa Nasional - Pusat Sistem Data dan Informasi Geofisika
Badan Meteorologi dan Geofisika (BMG)
Jl. Angkasa I No 2, Kemayoran Jakarta Pusat
* website pelajaran dari NASA tentang badai tropis.

Lajang - Menikah

Saat aku dinyatakan menjadi penggemarnya Lajang – Menikah oleh facebook, aku sempat digodain sama Mas Eddy, wartawan sebuah harian dimana waktu SMA aku pernah sekolah jurnalistik dan part time di sana, yang lagi chatting sama aku via facebook.

Pertama aku lihat Lajang – Menikah pas buka situsnya Okke ‘’Sepatu Merah’’ (aku suka banget sama novelnya yang berjudul ‘Istoria da Paz, Perempuan dalam Perjalanan’. Saat itu lagi ada lomba cipta jawaban ‘FAQ’. Aku tertarik aja pingin ikutan. Pingin nyumbang cerita tentang si lajang ^.^v Sayangnya, aku telat! Lombanya ditutup tanggal 14 Februari, aku baru baca 20 Februari. Akhirnya cuma bisa jadi fan di facebooknya dan pengikut di blognya :’’(

Pas chatting Mas Eddy kasih saran to aku. Kenapa kamu gak nulis aja Rin. Dasarnya kan sudah ada, tinggal dikembangin. Aku memang bercita-cita menjadi penulis novel (belum atau gak kesampaian ya?!). bikin novel kelihatannya gampang. Tapi pas dikerjain, kenapa ya bikin novel yang ceritanya asik itu susah?! Apa resep JK. Rowling ya jadi bisa nulis Harry Potter setebal 999 halaman?! Nulis 100 halaman aja aku jungkir balik!! Ujung-ujungnya paling jadi cerpen. Kalau gak ya novel mini :’’( Aku juga gak pede sama tulisanku. Makanya, kalau gak kukonsumsi sendiri paling sahabatku yang baca!

Entah kenapa malam Senin kemarin aku serasa dapat wangsit. Berhubung gak bisa tidur, iseng aja nulis di belakangnya lembar data base Geografi 2004 yang sedang kukumpulin biar walau udah pisah sama kawan-kawan kami masih bisa saling kontak. Tanganku mengalir menulis kata-kata yang terangkai di otakku. Setelah sekian lama (aku sampai lupa kapan terakhir kali bikin cerpen), tata…!! Akhirnya gak sampai 2 jam jadi deh cerpen berjudul ‘Kisah Si Lajang’.

baca: ‘Kisah Si Lajang’

Kisah Si Lajang

Namaku Rina. Umur 24 tahun.

Aku lajang yang beruntung. Bekerja sebagai staf pengajar di sebuah SMA berstandar internasional (PNS) dan bimbingan belajar terkemuka membuat hidupku terbilang mapan. Beruntungnya lagi, bagi orang tuaku, umurku yang hampir seperempat abad ini tidaklah mengkhawatirkan apabila masih berstatus lajang, bahkan tidak punya pacar! Padahal, mamaku menikah di usia yang cukup belia. 18 tahun.

Kalau diusut lebih lanjut, tidak hanya aku gadis berumur lebih dari 22 tahun yang masih lajang di keluargaku. 1, 2, 3, 4, …, ternyata ada 7 orang! Bahkan 3 diantaranya hampir berumur 30 tahun.

Betah? Sebenarnya tidak juga. Gak laku? Gak tuh! Terlalu pemilih? Let we see…
----------

Mas Dian. 28 tahun. Wartawan di sebuah harian surat kabar di Kota Malang. Kami berkenalan saat aku magang jadi wartawan di sana. Kami sempat hang out beberapa kali (aku gak suka pakai istilah ngedate karena bagiku saat itu kami tidak sedang berkencan). Makan, nonton, dan rekreasi. Betenya, selalu dia yang menentukan kami akan makan apa dan dimana, nonton film apa, dan akan pergi kemana. Kalau selera kami sama sih oke. Sayangnya tidak!

Dia suka makan masakan pedas. Jadi, kalau gak di rumah makan Padang ya kami makan di warung-warung yang dia sudah tahu betul menu dan seberapa pedasnya masakan yang tersaji di tempat itu. Sedangkan aku? Sebiji cabai rawit saja dijamin membuat perutku langsung terasa perih. Aku benci film horor, film yang banyak pembunuhan sadisnya, thriller gitu lah! Eh, tanpa bertanya terlebih dahulu padaku dia langsung menyodorkanan tiket 21 dengan film bergenre seperti itu. Dia bilang drama romantis itu hiperbolis. Bilang saja mengajakku nonton thriller dengan harapan aku akan berteriak ketakutan lalu memeluknya sepanjang film berlangsung. Berharap dengan pelukan itu aku akan merasa terlindungi oleh sang pangeran. Sayangnya, bukannya ketakutan aku malah ketiduran.

Dia bukan Arema sih. Tapi tetap saja dia tinggal di Malang, bukan di Banjarmasin. Jadi, kalaupun kami punya selera yang sama, dia tetaplah bukan pilihan untuk hatiku berlabuh. Aku tidak pernah berniat tinggal di Malang selain untuk kuliah. Lulus kuliah ya aku pulang ke Banjarmasin.

Kenapa aku oke saja dia ajak hang out? Entahlah. Mungkin sebagai refreshing setelah aku menjalani rutinitas kuliah dengan tugas yang setumpuk, berbagai kegiatan organisasi ekstra kampus yang kuikuti, dan magangku sebagai wartawan yang melelahkan. Ketiga hal itu mengharuskan aku pintar-pintar membagi waktu agar kuliahku tidak keteteran. Jadi, bisa ditebak kan apa jawabanku saat Mas Dian nembak? Right!

“Sori, Mas. Hidupku bukan untuk menjalankan pilihan orang lain.”
----------

Arya. 24 tahun. He’s my first love. Pacarku semasa SMA.

Setelah putus hubungan kami tetap terjalin dengan baik. Kalau sedang berkomunikasi, kadang kami bisa SMS-an dari jam 10 malam sampai larut. Untill after midnight. Isi SMSnya? Cerita tentang tugas kuliahku yang setumpuk, seberapa seru dan melelahkannya organisasi ekstra kampus yang kuikuti, tugas sebagai wartawan magang yang membuatku menemui banyak hal yang tidak terkira, banyak hal lah! Lebih banyak aku yang bercerita. Rian tetap seperti dulu, lebih suka menjadi pendengar yang menyebalkan. Cerita tentang dia paling hanya seputar kegiatannya berlatih futsal, pementasan teater, dan penggarapan film indie. Itupun disampaikan layaknya sekilas info.

Selain SMS-an, kalau bertemu kami tetap jalan bareng sih. Kadang beramai-ramai, kadang hanya berdua. Gak jauh beda dari masa pacaran kami yang berjalan sekitar setahun. Bisa dibilang kami tuh menjalin hubungan teman tapi mesra.

Hey, I’m a single girl. Jadi boleh dong kalau hang out atau ngedate dengan siapa pun, termasuk dengan mantan pacar? Sedangkan Arya? Sepertinya dia masih asyik dengan dirinya sendiri. Tidak sedikit gadis yang dipacarinya minta putus akibat sifatnya yang cuek dan terkesan gak betahan. Kalau bete sama pacarnya itu, kalau gak dia diamin berhari-hari ya dia jalan sama cewek lain.

“It’s over!” itu katanya.

Tidak banyak yang berubah dari dirinya setelah kami putus. Entah kenapa dia tetap ada saat aku perlu seseorang untuk curhat. Satu hal yang masih dilakukannya sampai sekarang adalah…

Kalau dia tiba-tiba kirim SMS setelah sekian lama (bahkan setelah tidak satu pun SMS dariku dia balas), itu artinya dia sedang jomblo. Kalau aku ada di Banjarmasin, itu artinya dia perlu seseorang untuk diajak makan, nonton, rekreasi, atau sekadar berbincang.

Aku mencintainya. Dia tahu itu. Kami pun punya selera yang sama. Tapi ternyata itu belum cukup untuk membuatnya berkata,
“Kita jadian lagi, yuk!”

Atau kata-kata sangat gak romantis yang diucapkannya saat nembak aku,
“Kau tahu kan aku mau ngomong apa?”

Tidak lama setelah aku lulus kuliah dan kembali ke Banjarmasin gantian Rian yang pergi ke Malang untuk mengambil gelar master di bidang hukum kenotariatan. Sebelum pergi aku sempat bertanya kepadanya,
“Adakah yang mau kamu katakan kepadaku?”

Dia tersenyum lalu berkata, ”Let it flow.”
----------

Selain Rian dan Mas Dian sebenarnya masih ada lagi sih tapi… sudahlah! Aku lagi enjoy berkarir.mengisi waktu senggangku dengan belajar masak dan menjahit, mengisi hari liburku dengan travelling, dan tentunya menghadiri pesta pernikahan sahabat atau kawan-kawanku yang satu-persatu meninggalkan masa lajangnya. Beberapa bahkan sudah memiliki anak.

“Kapan merit, Rin?”
“Aku tunggu undangan perkawinanmu loh!”
“Aku harap kamu sudah menikah sebelum aku punya anak kedua.”

Gals, kenapa malah kalian sih yang ribut? Keluargaku fine saja tuh dengan statusku sebagai single happy.

“Kalau mau menikah jangan asal pilih suami. Kata orang Jawa, lihat 3Bnya. Bibit, bebet, bobot. Masalah jodoh Allah yang paling tahu. Mintalah petunjuk dari-Nya agar dipersatukan dengan orang yang tepat diwaktu yang tepat,” Mamaku justru mengatakan itu. Abahku juga. Julakku juga. Acilku juga. Bahkan kai dan niniku pun mengatakan hal yang sama. Beruntunglah aku dan 6 gadis lajang lainnya di keluargaku yang gak perlu hidup dengan tuntutan untuk segera menikah.
----------

Hari ini umurku tepat 25 tahun.

Aku pernah berharap di usia inilah aku menikah. Aku sudah pintar memasak, pintar menjahit (aku perlu lemari yang lebih besar untuk semua pakaianku!), yach, walau masih kurang suka mencuci piring.

Hari ini menjadi hari Minggu yang membahagiakan buatku.

Sejak lepas tengah malam satu-persatu sahabat dan kawanku mengucapkan selamat ulang tahun. Via telepon, SMS, e-mail, facebook, via apapun deh yang bisa membuat mereka menyampaikan ucapan selamat ulang tahun padaku (termasuk datang ke rumah dengan membawa kado ulang tahun). Tapi yang membuatku sangat bahagia adalah kedatangan sepasang suami-istri (dan ketiga anaknya yang menunggu dengan harap-harap cemas di teras rumah).

Keluarga Rian? Aku memang dekat dengan keluarganya. Tapi Rian hanya dua bersaudara. Rian pun masih di Malang, dalam proses menyelesaikan tesisnya. Lalu siapa?

“Rina belum terikat dengan pemuda mana pun kan?” tanya Sang Mama kepada orang tuaku, terkhusus kepadaku.
“Belum, Ma.”

Well, semenjak kenal aku memang memanggil Sang Mama dengan sebutan “Mama”. Akupun pernah berharap beliau akan menjadi mamaku. Mama mertuaku. Tapi harapan itu sempat kukubur dalam-dalam. Rasanya seperti ingin menjangkau bintang apa daya tangan tidak sampai. Bintang itu berjuta tahun cahaya jauhnya dari bumi. Sedangkan tanganku sepenggalah saja tidak sampai (^.^v). Kedatangan keluarga itu ke rumahku tepat di hari ulang tahunku untuk membicarakan hal yang sangat serius benar-benar memekarkan harapan itu lagi.

“Kami kesini dengan harapan dapat meminang Rina untuk anak kami, Rahman,” beitu kata Sang Abah.

Ka Rahman. 26 tahun. Eksekutif muda yang karirnya sedang melejit. Hobi olahraga (sama kayak Rian), cakep (Rian jelek!), santun (Rian tuh agak urakan, tapi keduanya sama-sama gokil), sholeh (Rian juga c!).

Kisah kami berawal di Malang, 3 tahun yang lalu. Saat itu kami sedang sama-sama berjuang agar judul skripsi yang kami ajukan diterima. Aku kuliah di jurusan geografi, Ka Rahman di jurusan teknik industri, di perguruan tinggi yang berbeda. Kami dikenalkan oleh seorang kawan. Kawan kami itu bilang seperti ini waktu itu,
“Kalian kan satu daerah. Karena sebelumnya tidak saling kenal, alangkah baiknya kalau kalian menjadi saling kenal.”

Hubungan kami baik dan cukup akrab. Apalagi kawan kami itu begitu niat menjodohkan kami. Tapi lama-kelamaan hubungan kami hambar. Mungkin Ka Rahman tidak merasa cocok denganku, padahal disaat yang bersamaan aku jatuh cinta kepadanya. Terasa konyol jika aku menutup hatiku hanya karena berharap dapat bersatu lagi dengan Rian. Aku bahkan membuang jauh harga diriku dengan mengatakan “Aku mencintai Kakak” pada seorang pemuda yang baru kukenal sebulan. Tapi cintaku tidak berarti baginya. Bahkan sampai 2 tahun setelah kejadian itu.

Beruntung, aku sempat berkenalan dengan adiknya. Kami menjadi akrab karena sering saling curhat. Ketika ada kesempatan, kami pun menyempatkan untuk bertemu. Makan, nonton, hingga akhirnya aku berkenalan dengan kedua orangtuanya. Mungkin adiknyalah yang bilang bahwa sampai saat ini aku masih lajang. Masih menanyakan keadaannya. Masih mencintainya.

“Bagaimana, Rin?” tanya orang tuaku. Tanya orang tua Ka Rahman.

Walau tidak berucap sepatah kata pun, aku yakin orang tuaku dan orang tua Ka Rahman tahu jawabannya. Pipiku yang bersemu merah dan senyum bahagia yang kusunggingkan malu-malu menjadi tandanya.

“Rina mau menikah dengan Ka Rahman.”
“Alhamdulillah.”

Friday, February 20, 2009

Yudisium

Malang, 18 Februari 2009
Dresscode mayoritas mahasiswa Geografi angkatan 2004 hari itu adalah atasan putih, bawahan hitam, pakai jas almamater, dan pakai dasi. Gak cuma Geografi c. Jurusan lain di FMIPA juga gitu. Soalnya hari itu kami yudisium :)

Bagi jurusan Geografi angkatan 2004 sendiri yudisium kali ini merupakan yudisium yang kedua. Semester kemarin sudah ada beberapa kawan yang lulus. Puncaknya di semester ini. Masih ada c beberapa kawan yang belum bisa lulus. Masih berjuang dengan skripsi (semangat ya gals!!) , bahkan ada yang masih berkutat dengan beberapa mata kuliah (u… tuh, nang rajin lah kuliah!!) :)


Acara yudisium belum dimulai kami yang ngumpul di depan GKB udah mulai berfoto bersama. Kalau udah lulus, pulkam, kapan lagi coba bisa kumpul kayak gini?! Aku pulang ke Banjar, Inggit ke Lombok, Yovi ke Palembang, ada yang pulang ke Madura, Kediri, Jombang, …, oich! Darwin berencana pulang ke Sumbawa atau ngikut Cusnah ke Situbondo ya?! Loh, kok jadi ngegosip!! ^.^v

Gak banyak mahasiswa FMIPA yang bisa lulus ‘dengan pujian’. Rata-rata 1 prodi 1. Alhamdulillah, di Geografi ada 2 mahasiswa yang lulus ‘dengan pujian’. Ada juga yang lulus dengan double degree. Keren banget rasanya, kuliah +- 5 tahun punya gelar 2, S.Pd dan S.Si. Tapi sayangnya semua mahasiswa Geografi pemain tunggal (ngutip kata Kajur ^.^v). Soalnya jurusan kami cuma punya 1 prodi, Pendidikan Geografi!

Sempat ada ‘human error’ pas Kajur kami membacakan nama-nama mahasiswa yang diyudisium. Awalnya c aku gak nyadar. Tapi pas kawan-kawan mulai ribut, aku baru ngeh. Ternyata Kajur gak nyebutin nama anak-anak Off K! Mungkin nama mereka ada di halaman berikutnya dan Kajur lupa membacanya. Terlalu bersemangat melepas mahasiswanya yang bandel-bandel ini mungkin ^.^v (maafin semua kesalahan kami ya, Pak…)

Selesai yudisium, ngecek transkrip nilai di fakultas trus foto bareng lagi sama kawan-kawan. Semuanya merasa bahagia banget karena sudah melewati mata kuliah yang paling banyak rintangan (bikin nangis, BT, …). Gals, keep contack yap!! Buat kawan-kawan yang belum bisa lulus semester niy, kudoakan kalian menyusul di semester depan. Jangan patah semangat. Banzai!! Haram manyarah waja sampai kaputing mun jar urang Banjar ti!! ^_^

Tanam Nyamplung dan Bakau di Pantura

Sabtu, 12 April 2008
Setelah sarapan bersama di HIMA Geografi UNNES, kami bersiap gtg Kab. Kendal to acara bakti lingkungan. Kami berangkat menggunakan bus (jadi ingat waktu kunjungan peserta kongres IMAHAGI ke lab. alam Paris). Perjalanan sekitar 1 jam buat beberapa dari kami tertidur. Di perjalanan kami sempat bertemu razia motor. Sempat mengganggu perjalanan kami c, apalagi motor yang dikendarai panitia ada yang ‘kena’ (motor siapa tuh?! ^.^v). Tapi persoalannya hanya karena STNK motor sedang diperbaharui, so pas pak polisi minta to diperlihatkan gak ada. Kebetulan, motor yang kena itu berasal dari luar Jawa!!


Awalnya kupikir daerah yang akan kami tanami nyamplung dan bakau tuh gak jauh dari pinggir jalan. Ternyata, harus masuk kampung cukup jauh dan melewati persawahan dengan jalan yang cukup kecil (untung bus kecil bisa masuk!). Setelah melewati (kalau gak salah) dua desa, akhirnya kami sampai di Desa Kartika Jaya. Sebelum melakukan penenaman pohon, kami ramah tamah dan penyuluhan dulu di kantor desa. Ada Pak Kades, bapak dari dinas lingkungan hidup Kab. Kendal, pemuda Muhammadiyah, kawan” akper, dan adik” dari SMK setempat. Waktu menanam bakau pun kami dibantu kawan” dari Teknik Lingkungan UNDIP.

Sekitar jam 11, kami menyebar, tanam pohon nyamplung. Sambil bawa” bibit (anak) pohon, cari” lubang yang sudah disediakan terlebih dahulu untuk diisi nyamplung. Ada juga kawan” yang menggali lubang sendiri, pinjam cangkul milik warga. Kami pun sempat duduk” dulu di rumah warga. Melepas lelah sekalian cuci” tangan-kaki yang kotor habis bercocok tanam (dikasih minum juga!). Aku sempat main ke pekarangan belakang rumah itu. Sempat lihat” daerah rawa bakau desa tersebut juga. Sempat teringat daerah berawa-rawa di kampung (Kalimantan). Di sekitarnya, terdapat banyak tambak ikan. Gak jauh dari tambak” itulah pantai utara berada…

Sebelum tanam pohon” bakau, kami ishoma dulu. Setelah itu baru diajari cara menanam bakau. Gampang kok, kayak menanam pohon biasanya. Baca bismillah, buat lubang untuk menanamnya, buka bajunya (polibagnya maksudnya), trus masukkan anak bakau yang sudah kita siapkan tadi sambil diajak ngobrol. Disayang” gitu deh biar dia punya semangat tuk terus hidup walau setelah kita tanam mungkin kita gak akan bertemu dia lagi ^.^v Tapi hati”, jangan sampai akarnya patah”. Kasian kan coz akar merupakan media dia mencari unsur hara dalam tanah :)

Oon! Dunk”!! Awalnya aku mikir pantai dan hutan mangrovenya tuh kayak di Madura/pantai selatan Jawa (contoh, Balekambang). Berada di sekitar estuarium dengan tanah berpasir. Tapi ternyata benar” tanah berlumpur. Cukup dalam pula (di galangan dalamnya lumpur mulai selutut sampai hampir sepinggang). Sebenarnya lebih enak berenang c, jadi gak harus berkubang lumpur. Tapi, berhubung aku lagi ‘M’, terpaksa gak nyebur deh!! Padahal pingin banget!! Ibarat putri duyung menjelma jadi manusia yang rindu banget berenang di air (o^.^o)v

Pantai utara yang kami datangi ini ternyata plus minus pantai selatannya Kalimantan c. Airnya coklat coz tanahnya berlumpur. Dekat muara sungai juga. Pantainya bisa terlihat dari tambak” yang kami tanami bakau. Tapi, yang namanya menanam pohon di pantai/genangan air tuh ternyata sangat sulit dibandingkan menanam pohon di darat. Penuh perjuangan deh!! Dari tepian tambak anak” bakau dilarutin pakai lanting bambu berukuran kecil. Selain itu, kami pun harus mengoper anak” bakau itu secara manual. Dibawa” melewati galangan lumpur. Capek tapi seru banget!! Menyenangkan banget deh walau harus berkotor” dan berbasah” ria. Gak rugi aku ikutan coz boringku di PPL-an bisa hilang ^.^v Suasana akrab antar anggota IMAHAGI, panitia, dan orang” yang ikut serta kegiatan bakti lingkungan ini pun jadi terasa banget. So, pas kegiatan berakhir, walau capek, tapi bahagia banget. Walau kegiatan itu sempat memakan korban c. Ada yang kakinya luka (lumayan parah), sampai yang tergores” dan terluka kecil (termasuk tangan dan kakiku).

Ada perjumpaan pasti ada perpisahan. Sesampainya di UNNES, istirahat sebentar, dinner, semuanya bersiap pulang ke komisariat/rumah/daerah masing” (T.T). Sedih banget coz kapan lagi yach aku bisa kumpul sama mereka?! Curhat”, ketawa bareng, foto rame”, rapat sambil nyuruh anak” cowok supaya gak merokok, rapat sampai tengah malam (bahkan Subuh), dengar gosip antar anggota cinlok, berorganisasi sambil menambah sahabat dan menambah ilmu dengan fun, …

Aku senang banget masuk IMAHAGI. Walau harus keluarin duit pribadi to pergi ke Yogya, ke Semarang, …. Capek selama perjalanan, masuk angin dan maag (penyakit akutku nih!!), semuanya terbayar karena di IMAHAGI aku mendapatkan keluarga baru. Keluarga yang hangat. Semoga IMAHAGI terus seperti ini. Amin.

Hidup mahasiswa!! Hidup Mahasiswa Geografi Indonesia!!

akhir dari Touring Barat Jawa Timur

Sabtu, 3 Mei 2008
Road to Magetan


Setelah sarapan kami berkumpul di rumah Adip. Kami akan pergi ke Sarangan. Tapi obyek utama c bukan telaganya yang terkenal itu, tapi air terjunnya. Karena perginya lewat Ponorogo, kamipun melewati desa” di pegunungan. Pemandangannya indah… tapi menegangkan!! Mungkin lebih menegangkan dari perjalanan ke Cangar. Aku takjub banget. Kok bisa ada pemukiman yang ramai banget di atas gunung. Agropolitan gitu deh. Sepantauanku c lebih ramai daripada Pujon. Terbentang kebun” yang ditanami berbagai sayuran, seperti bawang, kubis, dan wortel.

Berhubung keuangan kami selama perjalanan ini ngepas banget, kawan”ku yang sebelumnya sudah pernah ke sana membawa kami melewati jalan yang gak umum dilewati wisatawan. Lewat pemukiman penduduk gitu d supaya gak bayar karcis masuk ke obyek wisata Telaga Sarangan ^.^v. Sesampainya di Telaga Sarangan, kami lewat doank. Sepulangnya dari air terjun, baru kami mampir. Trus, daripada jalan kaki terlalu jauh, kami baru akan memarkir motor di parkiran terakhir, sekitar 1 km gitu lah dari air terjun.

Mengingat kakiku yang terluka akibat kecelakaan, kawan” rada khawatir aku gak bisa maksimal tracking ke air terjun. Galih bahkan ujung”nya menawarkan diri, kalau aku gak kuat tracking, dia bersedia menggendong aku :) Ternyata, pas tracking Tama malah berucap:
“Aku mau nyerah tapi malu sama Farin. Dia yang kakinya luka aja kuat naik, masa aku yang gak kenapa-napa gak kuat jalan sampai ke air terjun.”


Wajar c Tama bilang gitu coz tanjakannya lumayan bikin capek bagi yang gak terbiasa naik gunung. Dingin lagi!! Aku ngos”an, bahkan sesekali dituntun biar gak kehilangan keseimbangan. Apalagi aku orangnya gak kuat dingin (ini yang bikin aku gak mau lagi ikutan naik gunung. Daripada kena hipotermia lagi!!). Hidungku langsung ‘padak’, serasa mu pilek :”(

Sambil menikmati air terjun dari pondokan gak jauh dari air terjun, kami menikmati hidangan berupa sate kelinci yang banyak dijual di daerah sana. Ini pertama kali aku makan sate kelinci. Rasanya?! Aneh. Apalagi aku sempat jijay pas ada potongan daging yang masih ditempeli beberapa helai bulu kelinci. Hiiyy!!

Setelah foto” di dekat air terjun dan makan sate kelinci, kami turun. Hujan orografis sepertinya akan turun di daerah itu. So, kami gak berlama-lama di Telaga Sarangan yang jauh lebih besar dibandingkan Telaga Ngebel. Selain ada jasa penyewaan bebek”an, di sana juga ada jasa penyewaan speadboat. Aku melihat Telaga Sarangan kayak sedang melihat Sungai Martapura/Barito di musim hujan. Soalnya saat itu arusnya besar. Apalagi kalau dilewati speadboat. Sama kayak di Telaga Ngebel, saat itu airnya pasang. Di beberapa bagian hampir melewati batas cekungan, siap” tumpah ke jalanan.

Setelah dari Sarangan, kami main ke rumah Galih. Rencananya c mau makan lele peliharaan Galih. Tambaknya terletak di samping rumahnya. Lumayan luas lahannya. Apalagi setelah dihidangkan ternyata menggiurkan banget. Kami pun makan dengan lahapnya (o^.^o)v. Sayang, Ike, Arifah, dan Tama gak ikutan coz harus pulang. Sedangkan aku, rencananya setelah bermalam mingguan baru akan diantar ke rumah Arifah. So, aku bisa ngopi (itu kawan” Co dink, malam itu aku gak ngopi, melainkan minum susu hangat) dulu di alun” Kota Madiun sambil melihat keramaian orang bermalam mingguan di sana.