Sunday, January 25, 2015

Basecamp Buku Meratus

BERIKAN AKU SATU BUKU maka AKAN KUBUMIKAN MIMPIKU

Basecamp Buku Meratus terletak di Kampung Cabai, Desa Patikalain, Kecamatan Hantakan, Kabupaten Hulu Sungai Tengah. Basecamp Buku Meratus merupakan perpustakaan mini sekaligus tempat belajar bagi anak-anak di Kampung Cabai dan sekitarnya. Keberadaan Basecamp Buku Meratus diharapkan menjadi sarana untuk menimbulkan minat baca dan menambah pengetahuan anak-anak di wilayah Pegunungan Meratus (terutama Desa Patikalain) agar tidak kalah dengan anak-anak di wilayah perkotaan.

Basecamp Buku Meratus sendiri berdiri atas prakarsa Ichunk, salah seorang teman jalan-jalanku di komunitas Backpacker Satayuhnya Barabai yang juga salah seorang penggiat Gradasi Hijau. Saat keinginannya ini di share ke kawan-kawan melalui sosial media, alhamdulillah disambut dengan baik hingga akhirnya diadakanlah penggalangan donasi buku, alat sholat, juga uang untuk pembuatan rak buku, pembelian papan tulis, dan perbaikan tempat yang saat ini menggunakan musholla Ar-Rahim. Banyak yang berkontribusi dalam penggalangan donasi ini. Tidak hanya dari Barabai, Kandangan, Banjarmasin, Banjarbaru, Martapura, tapi juga kawan-kawan dari luar daerah.
Aku pertama kali berkunjung saat peresmian berdirinya Basecamp Buku Meratus pada hari Minggu, 16 November 2014. Saat itu aku pergi kesana bersama keluarga, kakak-kakak Coin a Chance! Banjarmasin, kawan-kawan Piknik 28, dan kawan-kawan Backpacker Satayuhnya Barabai untuk mengantarkan donasi buku dan uang yang dititipkan ke kami untuk diserahkan kepada pihak pengelola. Saat itu akses jalan kesana masih cukup sulit meski bisa dilewati dengan kendaraan roda empat. Alhamdulillah, pada kunjungan kami berikutnya sekitar dua minggu kemudian, kondisi jalan sudah beraspal sampai ke Kampung Cabai tempat Basecamp Buku Meratus berada.


foto narsis saat peresmian Basecamp Buku Meratus :D
Meski tidak sulit untuk menemukan lokasi Basecamp Buku Meratus, bagi yang pertama kali kesana (terutama bukan orang Barabai) mungkin akan sedikit kebingungan. Letaknya memang cukup jauh dari Kota Barabai, sekitar 1 jam perjalanan. Patokannya adalah obyek wisata air panas Hantakan (banyu panas). Sesampainya di depan gerbang banyu panas, jangan belok/masuk gerbang tapi lurus saja, ikuti jalan beraspal karena masih akan melewati beberapa kampung, huma (ladang di perbukitan), hutan yang ditumbuhi pohon durian, rambutan, pampakin, dan pepohonan lainnya. Selain itu, mata kita juga akan dihibur dengan pemandangan sungai-sungai yang mengalir di sepanjang tepi jalan. Sangat menyenangkan dan menenangkan meski di musim hujan kita harus waspada karena ada beberapa ruas jalan yang rawan longsor.

Kampung Cabai terletak di penghujung aspal. Meskipun demikian, bukan berarti Kampung Cabai menjadi kampung terakhir yang dihuni jika kita pergi kesana. Masih beberapa pemukiman dan balai adat Dayak Meratus lagi bisa kita temui meski mendatanginya perlu pengorbanan (ceritanya ada di postingan berikutnya).

Kembali ke cerita tentang Basecamp Buku Meratus….
Kegiatan belajar di Basecamp Buku Meratus sudah berjalan meskipun untuk perpustakaan, pendataan buku yang dilakukan oleh relawan dari perpustakaan daerah Kab. Hulu Sungai Tengah yang turut membantu berdirinya Basecamp Buku Meratus ini belum selesai sehingga buku-buku donasi belum semuanya dapat dipajang. Para relawan rutin datang ke Basecamp Buku Meratus untuk mengajari anak-anak disana membaca, berhitung, menggambar, dan mengaji. Pengetahuan agama juga diberikan mengingat banyak dari mereka merupakan muallaf yang masih perlu banyak bimbingan dalam beribadah. Sesekali, pengelola dan relawan Basecamp Buku Meratus juga mengadakan kegiatan yang menghibur dan menambah keakraban satu sama lain seperti makan bersama dan lomba-lomba.



Foto-foto kegiatan di Basecamp Buku Meratus



Penggalangan donasi untuk kegiatan di Basecamp Buku Meratus terus berjalan meski tidak lagi seheboh yang pertama. Saat ini, pengelola berkeinginan untuk membuatkan anak-anak Basecamp Buku Meratus celana dan rok panjang yang nantinya dipakai untuk belajar mengaji dan praktik sholat. Keinginan ini muncul karena saat ditanya mengapa mereka selalu bercelana/rok pendek saat datang ke Basecamp Buku Meratus, anak-anak itu dengan polos menjawab mereka tidak punya celana/rok panjang.
Belum banyak yang bisa kubantu, namun aku bahagia bisa menjadi bagian dari Basecamp Buku Meratus. Perjalanan Basecamp Buku Meratus memang baru dimulai. Tentu semua berharap aktivitas di Basecamp Buku Meratus terus berjalan dan nantinya berganti estafet dikelola oleh anak-anak Kampung Cabai Desa Patikalain yang awalnya belajar disana. Aamiin.

Untuk donasi dan info lebih lanjut tentang Basecamp Buku Meratus
CP: Ichunk Lestari (085346625379, 085753056147)

Eits, ceritaku belum selesai…
Sebelumnya aku ada bilang kan kalau di perjalanan menuju Basecamp Buku Meratus tersaji banyak pemandangan indah? Jadi jangan kuatir jika kawan-kawan ingin berkunjung ke Basecamp Buku Meratus sekalian berekreasi karena kami pun melakukan hal serupa.

Ada beberapa obyek wisata yang dilewati dalam perjalanan menuju Basecamp Buku Meratus. Beberapa diantaranya adalah Pagat Batu Benawa, Manggasang, Banyu Panas Hantakan, Taguran Kuyang (karena letaknya dekat dengan Taguran Hantu jadi kami namai saja Taguran Kuyang), Taguran Hantu, dan rumah seni Balai Ramang. Meski tidak langsung terlewati, tapi Balai Ramang mudah dijangkau dari Basecamp Buku Meratus karena lokasi Kampung Ramang bersisian dengan Kampung Patikalain. Cukup berjalan kaki dengan trek sedikit menanjak sekitar 10 menit kita akan sampai di rumah bambu berarsitektur unik yang dibangun oleh Pak Bambang sebagai tempat belajar dan berkesenian bagi anak-anak di Kampung Ramang.

Berikut foto-foto obyek menarik yang dilewati ketika berkunjung ke Basecamp Buku Meratus
*lokasi diurut dari yang terdekat ditempuh dari Kota Barabai

Pagat Batu Benawa
photo taken by Pach Ru Raji Manggasang
Banyu Panas Hantakan
 
makan ikan goreng/bakar di rumah makan Mama Ila, Banyu Panas Hantakan


Taguran Hantu
Taguran Kuyang (namanya seram tapi obyeknya bagus bingit)
di Balai Ramang bersama Pak Bambang Sujianto
reuni kecil alumni SMPP 28 - SMAN 7 Banjarmasin :D

Friday, April 4, 2014

Angsana Beach Clean Up

Long weekend. Kalau lihat tanggal merah berjejer langsung deh mikir liburan beberapa hari akan di rumah saja (baca novel, bersih-bersih, berkebun, doing nothing) atau pergi ke suatu tempat. Awalnya sih mau liburan ke Barabai (ceritanya si wali kelas pulang kampung sekalian ngajakin siswa-siswanya satu kelas berwisata). Tapi apa mau dikata, uang yang ditabung sedikit demi sedikit eh diambil sampai habis sama mereka entah untuk keperluan apa (semoga untuk bayar tunggakan sekolah). Galau. Ini dia tak enaknya tidak punya teman untuk ngebolang rame-rame atau berdua saja. Kalau pergi sendirian, bingung mau kemana karena bakalan terlihat seperti orang hilang.

Sebenarnya aku tahu kalau pendaftaran untuk ikut kegiatan Angsana Beach Clean Up sudah ditutup Selasa (25/3) kemarin. Tapi dicoba saja, siapa tahu masih ada seat kosong. Rezekiku kali ya…, siangnya aku di telepon Al yang mengabarkan bahwa ada peserta yang batal ikut sehingga ada seat kosong. Horaaayyyy… Angsana, aku datang!!!

Pantai Angsana, Kab. Tanah Bumbu


Sabtu, 30 Maret 2014
Pagi itu rombongan dari Banjarmasin berkumpul di depan RSUD Ulin untuk berangkat bersama naik ELF. Selain kami, ada juga peserta Angsana Beach Clean Up yang pergi dengan transportasi lainnya baik rame-rame, berdua atau sendirian. Menariknya, peserta kegiatan ini tidak hanya berasal dari Banjarmasin. Ada yang dari Banjarbaru, Kandangan, Balangan, Pelaihari, Kuala Kapuas, Batulicin, juga Bandung dan Magelang. Keren!! Kalau teman-teman dari luar Kalimantan Selatan saja peduli, jangan sampai kita malah jadi penyebab kerusakan lingkungan obyek wisata di banua kita sendiri.
Berangkat jam delapan pagi, kami sampai di pantai Angsana pada pukul satu siang. Pantai Angsana terletak di desa Angsana, 192 Kilometer dari Banjarmasin. Untuk menuju pantai, kita akan menyusuri jalan perkebunan kelapa sawit sepanjang ± 9,5 Kilometer dengan kondisi jalan yang cukup bagus.




Seperti pantai di selatan Pulau Kalimantan lainnya, pantai Angsana berelief dangkal. Enak buat main air karena tak perlu kuatir diterjang ombak besar dari Laut Jawa yang akan tiba-tiba datang. Breaker zone-nya jauh. Jadi entah dimana gulungan ombak yang bergantian datang menerpa itu terbentuk. Di kejauhan terlihat bagang-bagang* milik nelayan berdiri dengan gagahnya. Airnya tidak secoklat pantai Takisung atau Batakan karena memang tidak banyak sungai yang bermuara disana. Sungai kecil yang terlihat olehku saat itu juga kering sebelum bertemu dengan bibir muaranya.


Bersih. Indah. Ombaknya pun bergulung dengan ramah dan tenang. Pemandangan itu sepintas bisa terlihat di pantai yang sekarang jadi obyek wisata primadona Provinsi Kalimantan Selatan. Tapi kalau diperhatikan dengan seksama, sampah berserakan dimana-mana. Plastik berisi tomat-nya pentol, gelas-gelas plastik air mineral, bungkus rokok, bungkusan nasi bungkus, bahkan popok bayi! Miris. Kepopulerannya justru mendegradasi pantai yang juga terkenal dengan keberadaan terumbu karangnya. Tak salah jika South Borneo Travellers mengadakan kegiatan Angsana Beach Clean Up demi menyelamatkan pantai ini.






Malamnya, seluruh peserta berkumpul di posko untuk penyuluhan tentang terumbu karang. Penyuluhan ini penting agar masyarakat dan wisatawan turut menjaga kelestariannya. Meskipun sambil terkantuk-kantuk (efek obat yang aku minum karena terserang alergi), aku berhasil  mengikuti kegiatan sampai selesai tanpa tertidur (tekilip iya! :p). Kegiatan malam itu ditutup dengan pengumpulan tanda tangan para peserta kegiatan Angsana Beach Clean Up sebagai aksi nyata lainnya terhadap kepedulian dalam menjaga pantai Angsana khususnya dan lingkungan pada umumnya.



Jika berniat bermalam di Pantai Angsana para pengunjung tidak perlu kuatir. Ada beragam alternatif penginapan bisa dipilih. Ada resort/hotel (kurang tahu apa jenis penginapannya) yang tentunya dilengkapi kamar mandi dalam, terdapat juga penginapan sejenis bedakan yang disiapkan oleh warga, tenda, atau seperti kami yang malam itu tidur dengan menggelar tikar di pendopo yang terletak tak jauh dari areal parkiran. Tapi, banyaknya wisatawan yang saat itu datang silih berganti membuat stok air untuk melakukan kegiatan MCK cukup sulit didapat meski toilet umum banyak disediakan oleh penduduk di sekitar pantai (mandi bayar Rp 5.000, BAB bayar Rp 3.000, buang air kecil/ganti pakaian Rp 2.000).

Minggu, 31 Maret 2014
Berkunjung ke Pantai Angsana tidak lengkap jika tidak melihat keindahan bawah lautnya. Meskipun tidak bisa berenang, aku tak kalah bersemangat untuk ikut snorkeling demi melihat terumbu karang dan nemo (clown fish) yang selama ini hanya kulihat di televisi. Untung ada teman yang sama-sama tidak bisa berenang dan pertama kali snorkeling. Jadi di laut nanti kami bisa belajar snorkeling (dan kelelep) bersama. Hahaha…
Banyaknya wisatawan yang ingin menikmati bawah laut Pantai Angsana menyulitkan kami untuk mendapatkan akomodasi ke spot snorkeling. Panitia tak kehabisan akal. Kami di drop ke Pantai Bunati yang terletak tidak jauh dari Pantai Angsana. Disana lah kami menyewa kapal dan alat untuk snorkeling. Bahkan, kami bisa menikmati keindahan bawah laut Angsana tanpa dibatasi waktu. Kami boleh snorkeling sepuasnya!! Seru kan…





Ini pertama kalinya aku snorkeling. Meski cukup kesulitan membiasakan diri menggunakan snorkel, aku berhasil melihat terumbu karang, nemo, dan biota laut lainnya. Awesome! Jadi pingin snorkeling lagi di Angsana dan di tempat lainnya juga. Hehehe…
Foto-foto underwater ini hasil jepretan teman-teman South Borneo Travellers



Kegiatan Angsana Beach Clean Up ditutup di siang hari dengan penyerahan beberapa tong sampah donasi dari Disporbudpar Prov. Kalimantan Selatan dan SMK Sandhy Putra Telkom dan tentunya foto-foto bersama. Bagian lain yang menyenangkan dari kegiatan ini adalah meskipun para peserta telah kembali ke aktivitas masing-masing, silaturahim yang terbentuk tetap berlangsung. Jadi, Angsana Beach Clean Up tidak hanya menjadi ajang kepedulian terhadap lingkungan tapi juga untuk menambah persahabatan. Semoga Angsana Beach Clean Up tidak perlu lagi diadakan dalam artian pantai Angsana kembali menjadi pantai yang bersih, indah, dan menyenangkan untuk didatangi.
  
*bagang = tempat penangkapan ikan, umumnya berupa pondok-pondok di tengah laut dengan bentangan jaring di bawahnya.

Friday, July 5, 2013

Lombok Day 2

Lombok! Gak bosan rasanya pergi ke pulau yang satu ini. Banyak view menarik hati yang bisa dilihat dan didatangi dengan mudah. Ingin rasanya liburan di Lombok kali ini diisi dengan petualangan ala bocah petualang. Tapi... karena perginya dengan krucil-krucil, terutama Putri dan adikknya, si Asyifa yang ikut berlibur bersamaku dari Banjarmasin, keinginan menjadi bolang harus diurungkan. Repot pastinya mengajak serta kedua anak itu untuk hiking, trekking, panas-panasan pula! Semoga pas ke Lombok untuk ketiga kalinya nanti hal yang gak bisa kulakukan di trip to Lombok kali pertama dan kedua bisa kuwujudkan. Aamiin.



Kali ini bersama Inggit dan bayinya (Umar), Inggar, Hammad, Sofia dan Atiya, dan pastinya Mbak Umi, Putri, dan Asyifa, kami pergi ke pantai Krandangan di daerah Senggigi. Pantainya yang berair jernih (emang di Lombok ada pantai yang airnya keruh kayak di selatan Kalsel kah?!) dan sepi membuat kami leluasa bermain air dan mengabadikan keindahannya dalam bentuk jepretan kamera. Anak-anak juga aman berenang karena terdapat karang yang menghalangi debur ombak besar langsung menerpa bibir pantai.
Sambil menikmati pemandangan dan angin pantai Krandangan, kami pun tak lupa menikmati lezatnya salah satu makanan khas Lombok yaitu sate bulayak. Nyamm... nikmat!!


Tak cukup hanya menikmati keindahan pantai Krandangan, kami melanjutkan ke obyek berikutnya yaitu Bukit Malimbu. Bukit Malimbu sering dijadikan wisatawan sebagai tempat berfoto. Dari sana, kita bisa melihat pemandangan laut lepas, pesisir pulau Lombok, tiga gili (Gili Trawangan, Gili Air, Gili Meno), bahkan Gunung Agung yang berada di seberang (Pulau Bali).


Destinasi terakhir kami hari ini adalah Taman Narmada. Taman Narmada terletak di Desa Lembuak, Kecamatan Narmada, Kabupaten Lombok Tengah. Taman ini terletak sekitar 10 km di timur kota Mataram dan memiliki luas keseluruhan sekitar 2 hektar.
Menurut catatan sejarah, Taman Narmada dibangun tahun 1727 oleh Raja Mataram Lombok, yakni Anak Agung Ngurah Karangasem. Pemilihan nama Narmada juga tidak lepas dari agama Hindu yang dianut oleh raja dan rakyat pada masa itu. Narmada diambil dari kata Narmadanadi, nama sebuah anak Sungai Gangga di India yang dianggap suci oleh umat Hindu.
Dulu, taman ini digunakan sebagai tempat upacara Pakelem yang diadakan pada bulan Oktober-November. Selain tempat upacara, Taman Narmada juga digunakan sebagai tempat peristirahatan keluarga raja pada musim kemarau. Uniknya, desain Taman Narmada ini merupakan replika dari Gunung Rinjani, gunung tertinggi di Pulau Lombok, di mana puncak Gunung Rinjani di Taman Narmada direfleksikan dengan keberadaan Pura Kelasa di puncak, kemudian kolamnya ibarat Danau Segara Anak.

 Hal menarik yang bisa dilihat di Taman Narmada ini adalah sebuah bangunan yang disebut Balai Petirtaan yang sumber airnya berasal dari Gunung Rinjani dan merupakan pertemuan antara tiga sumber mata air, yaitu Lingsar, Suranadi, dan Narmada. Karena mata airnya berasal dari Gunung Rinjani dan tempat pertemuan tiga sumber mata air, maka air yang ada di Balai Petirtaan dipercaya dapat menjadikan orang yang meminum dan membasuh mukanya dengan air yang ada disana akan awet muda. Hmm.. jadi ingat dengan mata air yang ada di candi Jolotundo, Seloliman, Mojokerto, Jawa Timur yang dipercaya memiliki khasiat yang sama.

Hari sudah sore dan anak-anak terlihat sudah sangat lelah (tante dan bunda-bundanya juga!). Kami pun kembali ke rumah yang berada di Desa Sedayu, Kediri, untuk beristirahat, recharge tenaga untuk berwisata di keesokan harinya.

Wednesday, January 30, 2013

Loksado (with them)

 LOKSADO! Sore replanning. Malam approving. Besok paginya traveling! Demi menghibur hati karena beberapa kali berencana untuk rekreasi/liburan bareng batal, meski dadakan nekat juga pergi ke Loksado dengan ketiga abege yang tidak lain adalah muridku.
finally, jadi juga ke Loksado

Here we are!



mom & her sons or sister & her brothers?!

Wednesday, September 26, 2012

Mewujudkan Impian


Sabtu, 22 September 2012.
Hari itu aku mengundang Kak Rei menjadi pengisi kegiatan Sharing Kepenulisan Klub Mading SMATEN yang berada di bawah binaanku. Sudah pukul dua belas siang dan Kak Rei belum juga datang. Sebelumnya, aku mengirim pesan pendek pada Kak Rei yang dibalasnya...
maket SMATEN karya siswa
                  Sudah dekat.
Well, mungkin sebentar lagi. Aku kembali menunggu kedatangan penulis buku Travellous dan Travelove ini di lobi sekolah.

God! Kak Rei datang naik ojek!!
“Sori, Kak. Aku lupa bilang jangan bawa mobil karena gangnya sempit!”

Ya, aku lupa mewanti Kak Rei untuk cukup naik motor ke sekolah. Gang Gandapura, letak SMAN 10 Banjarmasin ini berada jalannya memang hanya selebar 2,5 meter. Kak Rei mungkin tidak pernah membayangkan ada SMA di ibukota provinsi yang letaknya nyempil di pinggiran kota dan masuk gang sejauh 1 km yang melewati perkampungan dengan penduduk yang sebagian besar bermatapencaharian sebagai petani atau penggunting bawang. Sekolah tempat aku mengajar sejak awal 2010 ini juga dikenal sebagai sekolah mewah alias MEPET SAWAH. Tiga penjuru sekolah berbatasan dengan sawah. Penjuru satunya lagi? SUNGAI! Mepet sawah, sekaligus mepet sungai.
foto bareng Ka Andrei Budiman
Sempat harap-harap cemas jika kegiatan siang itu tidak banyak siswa yang berhadir. Namun, alhamdulillah respon anak-anak cukup menggembirakan. Menulis dan membuat mading memang bukan aktivitas yang banyak disuka siswa SMA 10. Terbukti, tahun kemarin dari semua kelas yang mendapat jadwal untuk memajang mading kelas buatannya, hanya dua kelas yang mengumpulkan. Klub mading sendiri hanya sukses membuat mading yang diperuntukkan untuk lomba. Open rekrutmen anggota klub mading yang sasaran utamanya adalah siswa kelas X pun nyatanya lebih banyak dihadiri siswa kelas XI dan XII.

“Dulu, impianku ada tiga. Bikin film, pergi ke Eropa, dan menulis buku. Padahal, sewaktu SMA aku hanya anak biasa. Aku bukan anak orang kaya, bukan siswa pintar, di kelas pun aku duduk di pojok paling belakang. Tapi aku berusaha supaya bisa mewujudkannya. Akhirnya, satu per satu impianku itu terwujud.”

Impian. Kata itulah yang membuat Kak Rei bisa dikenal sebagai travel writer seperti sekarang. Membawaku kembali ke ingatan bahwa aku memiliki impian untuk menjadi seorang penulis. Aku ingat, waktu SD aku pernah menulis cerpen yang cerita tentang persahabatan seorang anak dengan alien (terinspirasi dari film IT dan sejenisnya). Aku juga pernah menulis cerpen tentang action hero yang terinspirasi dari tokoh-tokoh super hero yang kartun selalu menjadi tayangan favoritku kala itu. Memasuki masa puber (SMP-SMA), genre tulisanku pun berubah menjadi teenlit. Tak hanya cerpen, kadang aku pun menulis puisi (yang kebanyakan bercerita tentang kegalauan abege labil. Hahaa…).

salah satu opini yang diabadikan kawan untukku :D
Membuat mading bukan hal asing bagiku. Sejak SMP, jika kelasku mendapat giliran membuat mading, aku pasti jadi salah seorang seksi sibuknya (meski artikelnya hasil guntingan atau copas majalah/buku. Hehee..). Sewaktu SMA, selain mendirikan klub mading SMAVEN, aku juga pernah menjadi tim kreatif buletin sekolah (yang hanya sukses terbit 2 kali karena dana yang minim). Pasca mengikuti sekolah jurnalistik Radar Banjarmasin, aku juga cukup aktif mengisi kolom Radar Muda, setahun lamanya. Sewaktu kuliah, juga sempat bergabung di UKM Penulis UM. Namun, selain tulisanku di Radar Muda (beberapa opini di B.Post juga), tulisan lainnya hanya dibaca kawan-kawan (kalau yang di blog, dibaca orang-orang yang kupaksa untuk baca blogku atau nyasar nemu blogku! :p).

Siang itu, sosok Kak Rei menjadi motivasi tersendiri bagi anggota klub mading untuk terus meraih impiannya. Meski dengan kerjaan yang sepertinya gak ada habis-habisnya, sharing hari itu pun kembali menjadi motivasi bagiku untuk kembali berusaha mewujudkan impian yang belum menjadi kenyataan.

Sunday, September 2, 2012

Lombok: Liburan Irit (^o^)v

Lombok. 3-8 Juli 2012.
*Lama ga ngeblog, belum basi buat diceritakan, kan? hee..*

Sudah sedari kuliah aku ingin menginjakkan kaki ke pulau yang dikelilingi pantai-pantai indah ini. Berawal dari rencana Unit Kegiatan Mahasiswa Penulis (UKMP) yang akan melakukan penelitian kecil-kecilan di Senaru di tahun kedua kuliah yang batal sampai menjadi seorang guru, baru keinginan itu tercapai.

Sebenarnya sejak dua tahun lalu sudah ada rencana untuk berlibur ke Lombok. Tapi, ada saja halangan. Prajabatan lah, workshop lah. Untungnya tahun ini liburanku hanya diisi dengan rapat panitia MOS dan beberapa waktu sebelumnya Tazani, adik tingkatku semasa kuliah yang asal Lombok namun sedang studi di Yogyakarta mengontakku via BBM.

"Kak, liburan ini jadi ke Lombok? Bulan depan aku pulang bareng teman-teman."

Dapat kabar begitu dari Tazani tanpa pikir panjang aku langsung hunting tiket via internet! Meski harga tiket lumayan mahal karena memasuki holiday season, tapi karena harganya masih masuk akal, tak lama kemudian itinerary reservation ticket pun sudah di tangan. Kalau bukan holiday season mana bisa aku liburan. Namanya juga guru!

Selain Tazani, aku punya sahabat di Kediri, Lombok Tengah, bernama Inggit. Inggit adalah teman pertamaku di Volcano Community (sebutan untuk jurusan kami), begitu juga aku adalah teman pertamanya Inggit. Meski tidak sekelas, kami sering ngrumpi atau jalan bareng bersama teman-teman se-genk lainnya. Hmm... tapi tahun ini bukan tahun yang tepat untuk menjadikan Inggit travel guide selama di Lombok karena dia sedang hamil muda. Jadi, jika obyek yang akan kukunjungi tidak memungkinkan Inggit untuk ikut maka Inggar, Baskoro, dan Afifi yang bertindak sebagai supirlah yang akan menemaniku berwisata.

- at Malimbu -


Meski harga tiket PP Banjarmasin - Lombok saat itu cukup mahal tapi ongkos yang kukeluarkan saat itu cukup irit karena tidak sedikutpun aku keluar biaya untuk penginapan (nginap di rumah Inggit). Panas (Bahasa Lombok: makan) di rumah Inggit (paling keluar duit buat jajan), transport Inggit yang beliin bensin (nasip jadi tuan rumah :p), disewain cidomo tuk keliling kampung, sampai oleh-oleh pun Inggit yang beliin (sampai aku gak enak hati, hehe..). Dodol nangka buatan emak dan Inggar yang aku bantu bungkusi pun ternyata dibikin sebagai oleh-oleh untuk aku bawa pulang ke Banjarmasin. Lucky me! Hahaa...

"Kak, lusa kami mau ke Gili Trawangan. Kakak mau ikut?" ajak Tazani via BBM sambil menanyakan aku sudah jalan kemana saja selama di Lombok. Tazani tinggal di Tanjung, Lombok Utara.

Sudah di Lombok, gak bakal lah aku nolak diajak ke Gili Trawangan. Diantar Inggar, kami pergi ke Lombok Utara lewat Pusuk (jalur tengah). Di Pusuk Pass, kita bisa melihat banyak monyet nangkring di pinggir jalan. Oleh karena itu, daerah ini juga menjadi salah satu obyek wisata andalan di Lombok Utara selain Tiga Gili, Gunung Rinjani, air terjun sendang gile, dan lainnya.

"Mau berhenti dulu buat foto-foto, Mbak?" tanya Inggar kepadaku, kalau-kalau ingin berfoto dengan para monyet hutan Pusuk. Aku menolak. Tanpa bermaksud meremehkan para monyet hutan Pusuk, berwisata dan berfoto dengan para monyet sebagai obyeknya bukanlah hal asing bagiku. Aku sudah sering melakukannya di Pulau Kembang, pulau sedimen yang lokasinya tak jauh dari pasar terapung Kuin.

Sampai di Pelabuhan Bangsal, aku bergabung dengan Wangsa, Dian, Deni, Gofar, Benny, Roji, Dody, dan kawan-kawannya. Tazani gak ikut karena ada urusan yang harus diselesaikannya di Tanjung. Makin merasa jadi yang tertualah aku di rombongan ini (Tazani aja lebih muda tiga tahun dari aku, apalagi Gofar, adiknya dan kawannya! *tepok jidat*).






Selama di Gili Trawangan, lagi-lagi tak banyak biaya yang dikeluarkan. Menginap dan makan di rumah Dodik, nyebrang ke dan dari Gili Trawangan pun kami gratisan karena ada anak salah satu kapten kapal Gili Trawangan di rombongan kami (Roji). Pingin deh sering-sering liburan kayak ini :p

Alat transportasi di daratan Gili Trawangan cuma dua: cidomo dan sepeda. Agar dapat view yang bagus untuk melihat sunset, kami menyewa sepeda untuk sampai di sisi pulau lainnya. Ternyata, bersepeda menyisir pantai bukan ide yang bagus untuk orang yang sudah lama tidak gowes, tanpa pemanasan pula! Capeeeekkk.......banget!! Tapi terbayarkan karena selain pantainya, sunsetnya juga indah banget!

Karena kami sekumpulan orang kere (selain aku yang lain adalah mahasiswa) dan gak bisa berenang, diving bukanlah tujuan kami ke Gili Trawangan. Bagiku, Dian, dan Deni cukuplah melihat keindahan pulau dari daratan dan berfoto-foto (tak ketinggalan cuci mata lihat bule-bule seleweran). Bagi Gofar, Wangsa, dkk cukuplah dugem bareng bule sampai Subuh karena ini bukan pertama kalinya mereka ke Gili Trawangan. Sedang bagi Dodi dan Roji, bisa kembali ke pulau mereka sebelum menjadi mahasiswa perantauan (mereka MABA) pastilah melegakan.

- at pantai Tanjung Aan -

Lihat sunset di Malimbu, nongkrong di Udayana, beli songket di Desa Sade, jadi baby sitter buat Sofia dan Atiya di pantai Tanjung Aan, gowes sampai paha ngilu di Gili Trawangan, ah, masih kurang karena sebenarnya aku pingin banget melihat perkampungan suku Sasak di Senaru dan berfoto dengan Gunung Rinjani sebagai latarnya. Tapi apa daya. Aku harus kembali ke tanah Borneo. Hanya bisa melihat Rinjani dari balik jendela pesawat menyisakan keinginan untuk kembali kesana. Someday.


Kata bapak ketika aku pamit pulang, "Pertama datang kakinya dua. Nanti kalau datang kesini lagi kakinya empat." Bersama pasangan hidup maksud beliau. Amin. Amin. Amin. Karena pasti asyik honeymoon di Gili Meno, yang katanya tempat favorit buat honyemoon diantara Gili lainnya :p

Trims tuk Inggit sekeluarga. Aku seperti menjadi bagian dari keluarga kalian. Jadi tak apa kan nanti nginap di rumah lagi? Ngerepotin kalian lagi? hehee... Trims juga tuk Tazani, Gofar, inak, mamik. Kalau ke Lombok Utara lagi tak apa kan ya aku numpang nginap? :D

*Belajar menenun ternyata alternatif untuk meluruskan tulang belakang. Soalnya, punggung diikat supaya tetap duduk tegak!

Friday, March 30, 2012

SMA untuk Mereka (Cerita dari Sungai Pembunuhan)

Sungai Pembunuhan. Sayang, aku lupa menanyakan kenapa kampung yang terletak di Tinggiran II Luar, Kecamatan Tamban, Kabupaten Barito Kuala tersebut dinamakan demikian. Aku sendiri baru mengetahui keberadaan kampung ini ketika ada penduduknya muncul di reality show Orang Pinggiran dan IndonesiaKu yang ditayangkan di Trans7. Padahal, letaknya persis di seberang Pulau Kembang, salah satu obyek wisata andalan Kalimantan Selatan yang cukup sering kudatangi.

Sabtu, 17 Maret 2011 lalu aku menginjakkan kaki disana, ditemani kedua muridku (AG dan Ade). Aku berencana menemui Acil Niah dan Iwan, anaknya, yang menjadi tokoh di reality show Orang Pinggiran dan IndonesiaKu, serta mengetahui kondisi Kampung Pembunuhan. Survei kecil-kecilan Koin untuk Banua (komunitas peduli pendidikan anak Banua yang kudirikan bersama kawan-kawan) sekalian nge-bolang. Aku tidak berani menjanjikan apa-apa kepada mereka, tapi semoga kunjunganku kesana ada manfaatnya bagiku, kedua murid yang kuajak, juga mereka.

Ditemani kedua muridku (AG dan Ade), kami sempat sangsi bisa sampai disana tanpa mengalami kesulitan. Pagi sebelum berangkat, aku goggling untuk mencari peta daerah setempat tapi nihil. Untungnya, aku kontakan dengan Mas Budi, salah seorang kru Trans7 yang memberiku alamat acil Niah. Sebelum sempat menyeberang di pelabuhan feri Kuin yang terletak tidak jauh dari makam Pangeran Suriansyah (Raja pertama Kerajaan Banjar), Pak Arul yang juga penduduk Sungai Pembunuhan menjemput kami di pelabuhan kelotok yang terletak persis di seberang makam Pangeran Suriansyah. Sepeda motor kami taruh di parkiran makam dan mulailah kami nge-bolang.

Waktu tempuh untuk mencapai Sungai Pembunuhan dengan naik klotok tidak sampai sepuluh menit. Di tengah perjalanan, kami bisa melihat monyet-monyet Pulau Kembang menyambut para wisatawan yang datang untuk mengunjungi mereka. Setelah hanya melihatnya jika berkunjung ke Pulau Kembang, akhirnya aku menginjakkan kaki juga di kampung yang banyak penduduknya mendirikan rumah panggung di atas sungai dan antar rumah dihubungkan dengan titian dari kayu ini.

Kami diantar Pak Arul langsung ke rumah Acil Niah.

“Iwan di sekolah,” kata Imay, adik Iwan yang paling besar, kelas 4 SD.

Acil Niah lalu mengantar kami ke sekolah Iwan, SMPN 3 Tamban, yang berjarak sekitar tiga menit berjalan kaki. Selain menemui Iwan, sekalian saja aku mengobrol dengan guru-gurunya, mumpung mereka masih berada di sekolah.


Berdasarkan cerita guru-gurunya, secara akademik Iwan standar lah. Tidak menonjol, tidak pula berada di urutan bawah. Namun, Iwan menonjol di bidang seni. Iwan piawai menciptakan lagu juga bermain drama/teater. Iwan ingin sekali bisa ikut sanggar drama, namun apa daya, di Tinggiran II Luar tidak ada tempat semacam itu. Oh ya, lagu ciptaan Iwan pernah dibeli oleh band asal Medan seharga dua juta untuk satu album. Iwan juga menyanyikan beberapa bait lagu ciptaannya di hadapan kami. Lagu ciptaannya itu mengingatkanku akan band ST 12 atau Kangen Band karena nadanya yang Melayu mendayu-dayu.


“Uangnya dipakai buat bayar hutang, membaiki rumah, dan modal jualan,” jelas Iwan saat kutanya dia gunakan untuk apa uang hasil penjualan lagu ciptaannya itu.

Bagi yang belum tahu kisah si Iwan, sepulang sekolah Iwan biasanya jualan aksesoris perempuan seperti ikat rambut dan bando keliling kampung. Berjalan kaki 10-20 km menjajakan jualan sudah biasa bagi Iwan. Tapi, sudah beberapa hari Iwan libur jualan. Selain untuk mempersiapkan diri mengikuti ujian sekolah, Iwan sedang kehabisan modal.



Selain berbincang dengan keluarga dan guru-guru Iwan, aku juga diajak Pak Arul bertemu dengan ibu Muzakkir. Suami beliau lah (Pak Muzakkir) yang selama ini menghubungkan warga kampung dengan kru Trans7. Saat itu Pak Muzakkir sedang berada di Jakarta, makanya istri beliaulah yang menceritakan banyak hal tentang pendidikan dan kondisi sosial kampung tersebut.

Selain berbincang di rumah beliau, Bu Muzakkir yang menutupi kehidupan keluarganya dengan berjualan makanan untuk sarapan (seperti buras dan lontong) membawaku bersilaturahim ke rumah Lini, siswi kelas XII MA Nurul Khair, Subarjo. Menurut cerita bu Muzakkir, rumah orang tua Lini pernah mendapat janji akan dibedah saat mendapat kunjungan dari orang kabupaten karena kondisinya yang memang memprihatinkan. Tapi, sampai sekarang hal itu belum terealisasi.

Tidak seperti kebanyakan anak usia SMA di kampung tersebut, Lini cukup beruntung karena tetap bersekolah. Padahal, orang tuanya hanya buruh tani yang penghasilannya kadang tidak dapat mencukupi kebutuhan sehari-hari.

“Karena dia ingin sekali sekolah, maka apapun kami usahakan demi dia,” begitu kata orang tuanya.

Alasan mengapa banyak anak di kampung ini tidak melanjutkan ke jenjang SMA/sederajat sebenarnya tidak hanya karena masalah ekonomi. Tidak adanya SMA/sederajat di kampung tersebutlah faktor utamanya. Tidak seperti SD atau SMP negeri yang berlokasi di kampung tersebut, SMA/sederajat terdekat dari kampung tersebut berjarak sekitar 1 jam perjalanan mengenjot sepeda, itu pun dengan kondisi jalan yang tidak karuan.

“Jarang sepeda Lini benar-benar bersih akibat jalan yang berdebu di musim kemarau dan berlumpur di musim hujan,” begitu curhat ibunya.

Selain MA Nurul Khair, pilihan terdekat lainnya adalah menyeberangi Sungai Barito, yaitu bersekolah ke Banjarmasin. Namun, tidak semua penduduk sanggup menyekolahkan anaknya ke sana. Selain karena biaya sekolah di Banjarmasin yang cukup tinggi (sebagai pembanding, untuk iuran komite di sekolah Lini Rp 30.000/bulan, SMA tempatku mengajar termasuk yang termurah di Banjarmasin, Rp 90.000/bulan), mereka harus memperhitungkan ongkos klotok pergi pulang ke sekolah yang berkisar Rp 70.000 – Rp 80.000/bulan, belum uang perjalanan menuju sekolah (karena SMA yang berada di sekitar sana tidak ada yang terletak di pinggir sungai), serta uang jajan. Sedikitnya Rp 600.000/bulan harus disisihkan jika ingin menyekolahkan anak mereka ke Banjarmasin.

Perjalanan ke Banjarmasin sebenarnya bisa dilakukan lewat jalan darat, yaitu memutar cukup jauh melewati jembatan yang ada di Banjar Raya (dekat pelabuhan Trisakti). Pilihan ini tentu juga sulit karena sarana transportasi yang mereka miliki terbatas. Hal-hal inilah yang memberatkan bagi pendudukan kampung yang mayoritas berada di bawah garis kemiskinan untuk menyekolahkan anak mereka ke jenjang SMA/sederajat.

.Aku yakin, anak-anak di kampung ini memiliki semangat yang tinggi untuk bersekolah. Aku sempat bertanya kepada Iwan, kalau dia memiliki kesempatan untuk bersekolah ke Banjarmasin, bagaimana cara dia mengusakan untuk pergi pulang ke sekolah.

“Aku akan bersepeda ke sekolah, Kak. Tidak apa jauh, yang penting aku sekolah.”
“Jika tidak bisa bersekolah ke Banjarmasin?”
“Aku ikut sekolah paket atau sekolah terbuka yang ada di Tamban. Jadi, aku tetap bisa sekolah dan jualan.”

Ah, ingin sekali aku menunjukan kepada murid-muridku yang sering membolos atau kurang perhatian saat mengikuti pembelajaran betapa beruntungnya mereka karena bisa bersekolah dengan fasilitas yang layak. Bukankah merugi jika menyiakan ilmu yang diberikan oleh para pendidik serta jerih payah orang tua demi membiayai pendidikan kita?

Sungai Pembunuhan bukanlah kampung terpencil yang berpenduduk sedikit dan sulit didatangi. Sinyal telepon seluler yang memungkinkan anak-anaknya mengakses jaringan internet untuk ber-facebook-an saja dapat mudah diterima. Selama disana, aku tidak kesulitan ‘berselancar’ dengan Blackberry-ku Sangat disayangkan bukan jika anak-anak yang memiliki semangat begitu tinggi untuk menuntut ilmu seperti mereka harus putus sekolah karena ketiadaan biaya dan sarana/prasarana?